
"Sus, aku udah pinjam uang dari kapten. Mungkin besok siang aku bisa kirim." Sambung Tono.
"Wah... Untunglah kau cepat berpikir. Soalnya kebutuhan kita banyak sekali. Belum lagi hutang ada di mana-mana. Uang yang kamu tinggalkan untuk persalinan kemarin nggak cukup. Makanya aku ngambil pinjaman on line. Kamu tahu? Setiap hari aku pusing selalu ditagih dengan kasar. Untuk menutupinya, aku harus gali lubang di mana-mana. Gali lubang, tutup lubang. Rasanya bibirku semakin doer dan lidahku makin panjang setiap hari mengarang cerita supaya orang-orang mau meminjamkan uangnya padaku. Kalau tidak, mungkin aku nggak gali lubang lagi, tapi gali kuburku sendiri karena nggak tahan lagi!"
"Iya aku paham. Makanya setiap hari aku selalu kepikiran dan kerja keras. Oh yah, kamu udah makan belum?"
"Belum. Ini kan masih jam 5 sore, belum waktunya makan malam."
"Oh iya. Aku lupa kalau kita beda waktu 2 jam. Di sini sudah jam 7 malam."
"Oh gitu. Trus kamu lagi ngapain?" Tanya istrinya.
"Lagi teleponan samamu lah. Masa ditanya lagi. Oh yah, nanti kita lanjutin lagi yah Sus. Abang pergi dulu."
"Iya. Awas yah! Jangan sampai macam-macam di luar sana! Kalau sampai itu terjadi, aku santet kamu." Balas istrinya.
"Iya. Iya."
Lalu dia mematikan teleponnya dan segera keluar menyusul ABK yang lain.
Namun saat dia keluar, dia tidak mendapati mereka satu pun di sana. Tidak ada yang nongkrong di sekitar itu, tak satu pun.
"Pada kemana nih anak-anak? Cepat banget hilangnya." Gumamnya.
Dia terus berjalan keluar dari pelabuhan menuju tempat yang ramai.
Sekitar seratus meter dia berjalan, dia melihat kumpulan banyak orang sedang berkeliling.
__ADS_1
"Ada apa'an sih rame-rame?"
Dia mendekat ke sana dan tampaklah seorang pria paruh baya sedang berbicara dengan penuh semangat. Dia memegang mike sambil memperkenalkan suatu ramuan jitu.
Ada juga seorang pria muda berjalan berkeliling mendekati para penonton sambil memegang beberapa macam ramuan dalam botol-botol kecil.
Ada 3 macam ramuan yang dipegangnya seraya memperlihatkannya pada penonton. Satu berwarna hitam, satunya lagi berwarna kuning dan ada serabut akar-akar di dalamnya, sedangkan satu lagi berwarna hijau tua.
Pria paruh baya itu terus berbicara dengan penuh semangat tentang kemanjuran obatnya.
Dengan suara lantang dia berkata, "Ini obat bukan sembarang obat! Ini minyak bukan sembarang minyak!
Ini minyak manjur yang sudah diracik dengan bahan-bahan langka. Oleskan minyak ini, dan segala penyakit hilang! Sembuh! Asam urat, rematik, struk ringan, sampai struk berat, sembuh! Hush! Hilang! Bapak ibu sekalian tidak akan menyesal membelinya. 3 botol hanya seratus ribu rupiah saja. Ayo! Ayo! Jangan sampai ketinggalan. Jangan sampai menyesal. Penyesalan selalu datang terlambat. Apalah arti seratus ribu dibanding kesehatan bapak ibu sekalian."
Sementara dia berbicara, pemuda yang memegang contoh ramuan itu sibuk berjalan keliling dan mengoleskan sedikit di bagian tubuh orang-orang yang memintanya.
Beberapa orang yang mendengarnya percaya dan menjadi takut seperti anak kecil. Namun ada juga yang tak menghiraukannya dan mundur setelah disuruh.
Pria itu terus berbicara menjual ramuan-ramuannya. Sementara itu beberapa penonton mencibirnya dengan mengatakan kalau dia hanya seorang tukang obat dan bukan pesulap. Tidak ada ular dan tidak ada tali yang bisa berubah menjadi ular. Itulah yang ada dalam benak mereka.
Mereka sama sekali tak ingin membeli obat-obatan itu dan hanya menunggu sampai ular besar dikeluarkan dari sebuah peti besar sesuai dengan janji si pria paruh baya itu.
Ada seorang anak kecil yang duduk diam di atas peti besar itu sambil mengamati orang-orang di sekelilingnya.
Ketika beberapa ramuannya habis terjual, pria paruh baya itu menyuguhkan satu hiburan pada para penonton agar mereka tidak bosan. Dia memanggil anak kecil itu berdiri ke tengah lapangan, memakaikan di bahunya selendang dan topi khas dari suatu suku tertentu. Kemudian dia menyetel satu lagu daerah dan menyuruh anak itu menari.
Anak itu menari dengan indah. Tangannya, kakinya, dan seluruh tubuhnya berlenggak-lenggok pas sesuai alunan dan tempo musik itu. Pria itu berjanji akan memamerkan ular besar peliharaannya setelah pertunjukan tarian itu selesai. Itu dilakukannya agar beberapa orang itu berhenti mencibirnya dan menghilangkan keraguan orang-orang bahwa dia bukanlah sekedar tukang obat, tapi juga pesulap.
__ADS_1
Lalu setelah tarian daerah itu selesai, anak itu segera kembali ke tempatnya. Kemudian pria paruh baya itu mengucapkan kata-kata seperti mantra sebelum akhirnya membuka penutup peti itu dibantu oleh anak buahnya.
Pria paruh baya itu menyerukan dengan suara lantang, "Push! Ular Derik
Ular merah, ular kuning, ular hijau, ular biru, ular pelangi
Walau bergerak-gerik
Tapi jangan melukai."
Lalu keluarlah ular besar melilit di tangan si pria paruh baya itu. Dia kemudian mengalungkannya di lehernya sambil satu tangannya memegang lembut kepala si ular.
"Wah... Besar sekali..."
"Ckckck.... Luar biasa...."
"Ih... Dia nggak takut yah... Bagaimana kalau dia dililit?"
Berbagai macam ekspresi diutarakan oleh orang-orang yang melihatnya.
Tapi di antara kerumunan orang itu, Tono tanpa sadar berbicara tanpa dipikir, "Alah...itu ular udah dikasih makan ayam dulu baru dikeluarin. Coba kalau lapar, pasti ditelan deh."
Perkataannya ternyata didengar oleh pemuda yang membantu si pria paruh baya itu dan dia menatapnya sinis setajam samurai.
Pria paruh baya itu melakukan beberapa aksi di depan penonton dan mengatakan kalau ular itu telah dia hipnotis sehingga jinak.
Dia menari-nari dengan si ular. Tangannya meliuk-liukkan ekornya sesuai dengan alaunan musik. Ketika ritme musiknya kuat seperti kibasan atau hentakan, dia menggerakkan ekor ular itu seperti gerakan mematuk.
__ADS_1
Dia menari sambil berputar sesekali selama setengah jam. Setelah penonton merasa terhibur, dia memasukkan kembali ular itu ke dalam peti dan kembali menjajakan dagangannya.