
Dia tak menghiraukan lagi drama Tono dan Susi. Dengan kecepatan angin dia berlari ke kamarnya dan cepat-cepat memakai baju. Ponsel yang sejak tadi berdering pun tak digubrisnya lagi demi memburu waktu yang seperti bom nuklir.
"Pasti si Jaka dah marah-marah nih karena kelamaan nunggu. Biarin ajalah. Selama ini aku yang sering nungguin dia."
Usai memakai baju, dia mengambil ponsel dan dompetnya lalu pergi.
"Ton! Aku cabut dulu yah!" Teriaknya pada Tono yang sejak tadi sibuk menggendong anaknya di teras rumah.
Indra pun berjalan cepat menuju tempat yang dijanjikan.
Nafas terengah-engah memburu waktu yang telah banyak terlewat.
Namun sesampainya di sana, dia tak mendapati Jack ada di situ.
"Lah! Si Jaka mana? Apa jangan-jangan udah pulang atau belum datang?"
Seraya plangak plongok kiri kanan, tiba-tiba saja perutnya bergemuruh nyaring diguncang oleh rasa lapar yang bergejolak.
"Aduh... laper nih...
Aku cari makan dululah."
Dia pun segera meninggalkan tempat itu dan pergi mencari warung makan. Dia lupa kalau sebelumnya dia ingin menghubungi Jack.
Ketika warung makan itu terlihat dari jauh, ponselnya tiba-tiba berdering lagi.
Cepat-cepat dia mengeluarkannya dari sakunya dan menjawab. "Hallo!"
"Hallo! 'Ndra. Sorry yah. Aku telat. Jalan macet parah nih. Kamu dah di mana?"
"Jadi kamu telat? Wah... Parah...Ini dah jam berapa Jaka? Aku udah dua jam lho nungguin kamu sampai nahan lapar begini. Perjanjian kita 'kan jam 9. Sedangkan sekarang udah jam sebelas. Aku sampai belum sarapan demi mengejar waktu lho. Tapi kamu?"
__ADS_1
"Sorry. Tadi aku dorong gerobak sampah dulu 'Ndra baru ke sana. Lagipula tujuh menit lagi nyampe kok. Makan aja dulu. Tahu sendirilah nyari uang di kota 'kan nggak gampang. Apapun itu saya lakuin yang penting halal. Supaya anak sama bini juga makan rejeki yang halal. Udah dulu yah. Aku jalan dulu."
Perlahan kemacetan mulai terurai, lalu dia melajukan sepeda motornya menuju tempat pertemuan.
Di sana Indra yang dilanda rasa lapar itu, mempercepat langkahnya menuju warung makan. Begitu sampai dia langsung mengambil tempat di dekat etalase makanan supaya bisa memesan lebih cepat.
"Mba, pesan nasinya satu setengah, dengan ikan mujahir, sambel sama sayur asem. Buruan yah mba. Sebelum aku pingsan. Oh yah, satu lagi, es teh manis satu."
Namun saat hendak menyiapkannya, pemilik warung itu tersimpangkan oleh dua orang pembeli yang tiba-tiba datang dan langsung memesan makanan. Pakaiannya rapi seperti orang yang bekerja di kantoran.
"Mba, saya mau pesan. Nasi setengah, pakai ayam goreng, sambel, sama sayur labu ini yah." Ujar salah satunya ramah lalu melempar senyum.
Kemudian yang satu lagi juga memesan hal yang sama lalu mereka duduk bersisian.
Tak berapa lama, makanan mereka pun disajikan di depan mereka.
"Mau minum apa mas-mas ini?" Tanya si pemilik warung ramah.
"Iya mba. Sama."
Wanita itu pun segera menyiapkannya dan menyajikannya di depan mereka. "Ini mas. Silahkan."
Menyaksikan hal itu, Indra pun semakin kesal. Sejak tadi dia mencoba bersabar sambil menahan perutnya yang semakin keroncongan. Rasanya ingin menegur tapi takut dianggap terbawa perasaan oleh orang-orang di sekitarnya.
Maka dengan berat hati dia hanya berkata, "Mba, pesanan saya mana?"
"Aduh. Astaga... Saya lupa. Maaf yah. Tadi pesan apa?" Jawabnya dengan menebar senyum.
"Apa ajalah mba. Terserah mba saja. Yang penting ada nasi, ikan , sayur, dan sambel." Jawabnya datar.
"Oh gitu yah. Baiklah." Jawabnya tidak enak hati.
__ADS_1
Sembari pemilik warung itu menyiapkan makanannya, Indra berkata dalam hati, "Kalau sama cowok ganteng, makanannya langsung datang dalam hitungan detik. Padahal saya sudah memesan lebih dulu. Dasar! Tukang cari perhatian aja."
Mimik wajah kesalnya jelas terlihat khususnya sewaktu melihat kedua pria itu yang sedang bersantap.
Matanya menatap dengan tajam seperti sabit yang melengkung indah.
Tak lama makanannya pun disajikan di depannya.
"Ini makanannya. Mau minum apa?" Ujar si pemilik warung.
"Air putih ini aja mba." Jawabnya datar.
Dia pun melihat makanannya dan semakin jengkel karena nasi di piringnya tidak seperti yang dia mau.
"Nasi setengah, ikan goreng, malah kecil banget lagi. Sayurnya juga dikit. Halah... Halah... Ini sih makanan anak kecil!" Gumamnya dalam hati. Namun karena rasa laparnya tak tertahankan lagi, dia pun terpaksa memakannya.
Sewaktu dia sedang makan, tak sengaja dia mendengarkan pembicaraan kedua pria itu.
"Tim, kayaknya bulan depan aku mau mengundurkan diri deh."
"Lho kenapa? Posisi kamu 'kan udah cukup bagus."
"Bagus di matamu? Aku udah mulai jenuh dengan si bos yang kerjaannya setiap hari marah-marah nggak jelas. Kayak perempuan lagi datang bulan aja. Nggak ada salah apa-apa, tapi main dibentak-bentak aja. Dikira kita pelampiasan emosinya apa?"
"Yah... Gimanalah yah Dul. Sabar aja. Zaman sekarang susah cari kerja. Omelannya diabaikan saja. Masuk kuping kiri, keluar kuping kiri aja. Jangan dimasuki hati. Lihat duitnya aja. Yang penting kamu digaji dengan baik. Masa bodohlah yang lainnya. Karena lebih sakit nggak punya uang dari pada menahan cacian tiap hari."
"Kamu sih enak tinggal ngomong. Mentang-mentang kamu jarang berinteraksi dengan bos."
"Yah... Iya juga sih. Aku bisanya teori. Kalau aku yang mengalaminya, mungkin aku juga bakalan mengundurkan diri. Tapi kalau kamu mengundurkan diri, aku tidak punya teman lagi dong. Kan cuma kamu teman curhatku satu-satunya. Kecuali kamu, semuanya penjilat."
Dia pun terdiam dan memikirkan ulang niatnya.
__ADS_1