
Indra yang sejak tadi menyimak kata-kata mereka, mulai mengeluarkan kalimat-kalimat julid dalam hatinya, "Cih! Baru mengalami yang begitu saja udah mau meyerah. Gimana aku? Yang seringkali bertaruh dengan badai demi mencari ikan! Mencari ikan untuk ditukar dengan rupiah? Hari demi hari hanya laut yang mata ini lihat dari pagi sampai pagi lagi. Tidak ada hari libur, cuti atau hari jalan-jalan. Tapi kamu yang duduk di belakang meja, keluhanmu sudah sebesar gunung saja. Tiap bulan kalian menerima gaji yang tetap. Sedangkan aku? Tak dapat ikan, tak dapat uang. Walau telah bertaruh dengan badai sekalipun, gaji bisa diterima kalau ada hasil tangkapan. Gitu aja kamu dah lemah. Gimana kalau di posisiku? Mungkin jadi lemah gemulai."
Tak lama dia bergumam, ponselnya berbunyi lagi, "M.. Si Jaka gledek. Hallo! Posisi di mana?"
"Dah nyampe nih. Posisimu yang di mana?"
"Aku lagi makan di warteg. Jalan kaki aja sekitar satu kilometer."
"Apa?!"
"Nggak usah meninggi gitu dong nada suaranya. Cuaca panas nih. Ntar pita suaranya meledak lho. Satu menit lagi aku ke sana. Tunggu aja."
Setelah mematikan ponselnya, dia memanggil si pemilik warung yang sedang bertransaksi dengan dua pemuda kantoran itu.
"Mba, saya mau bayar."
"Iya. Sebentar yah." Jawab si pemilik warung sambil menghitung uang receh untuk salah satu pemuda itu.
"Nah. Ini kembaliannya. Jangan lupa, besok makan di sini lagi yah." Ujar si pemilik warung sembari melempar senyuman hangat."
"Iya mba. Makasih yah." Jawabnya lalu membalasnya dengan senyuman kecil. Lalu pergi.
Si pemilik warung pun segera menghampiri Indra yang sedang membuka dompetnya.
"Berapa semuanya mba?" Tanya Indra.
"Semuanya lima belas ribu dek."
Kemudian dia mengeluarkan selembar uang bernilai dua puluh ribu dan membayarnya. "Ini mba." Ucapnya sambil menyodorkannya.
Wanita itu pun langsung mengambilnya dan mengembalikan sisa uangnya. "Ini dek. Makasih yah. Besok makan di sini lagi yah." Ujarnya sambil tersenyum ramah.
"Iya." Jawabnya singkat. Namun lain dalam hatinya.
"Apa? Makan di sini? Nggak lagi dong. Makanan pesan hari ini, bulan depan baru nyampe." Celotehnya dalam hati.
__ADS_1
Setelah itu Indra segera bergegas keluar dari sana dan menghampiri Jaka.
***********
"Hei Jack! Kamu lama amat sih. Pasti loketnya udah tutup deh. Ini udah siang banget tahu!"
"Kan tadi aku udah ngomong kalau aku dorong gerobak sampah dulu. Yah udah! Ga usah dibahas lagi. Mendingan kita langsung capcus."
Mereka pun segera melaju menuju loket pembelian tiket mudik.
Agar tak semakin terlambat, Jaka melaju cepat sambil menyalip indah sesekali kendaraan di depannya.
Seperti bebek yang sedang berlenggak-lenggok lincah begitulah Jack memainkan motor matiknya menyalip indah tanpa meleset sedikit pun.
Dengan waktu tempuh tiga puluh menit, berhasil dipangkasnya menjadi dua puluh menit.
Lalu setelah memarkirkan motornya, kedua perjaka itu pun langsung berjalan menuju loket yang masih terbuka.
"Pak, tiket bus menuju sumatera masih ada nggak pak?" Tanya Indra.
"Siborongborong pak. Tarutung Pak."
"Oh, masih dek."
"Harganya berapa pak?"
"Lima ratus ribu dek."
"Saya pesan satu yah pak."
"Atas nama siapa ini dek?"
"Atas nama Indra pak."
Pria itu pun segera menuliskan namanya lalu memberikan tiket itu bersamaan dengan uang diberikan.
__ADS_1
"Nah, Besok bisnya berangkat jam tiga sore yah."
"Iya. Makasih yah pak."
Lalu dia memasukkan tiket itu ke dalam dompetnya lalu pergi.
Namun sewaktu mereka pergi, mereka melihat seorang anak laki-laki muda sedang memundak galon air. Dia tampak kelelahan dan sedikit sulit berjalan.
Tapi dia tetap memaksa meski terlihat seperti menahan rasa sakit.
Terdorong oleh rasa kasihan dan penasaran, mereka berdua pun menghampirinya dan bertanya, "Bang kenapa?" Tanya Jack.
Pemuda itu telah menurunkan galon air itu dari bahunya lalu menjawabnya, "Penyakitku mendadak kambuh bang. Aduh... Sakit banget."
"Memangnya kamu sakit apa?" Tanya Indra.
"Ambeienku kambuh. Mungkin karena sering-sering angkat beban, aku jadi turun perut dan ambeien nih."
"Kenapa nggak pakai gerobak dorong aja bang bawa galonnya?" Tanya Jaka.
"Gerobak dorongnya rusak bang." Dia mulai berkeringat dan itu jatuh mengalir deras. Butirannya besar seperti biji mata ikan.
Mendengar itu, Jack semakin kasihan dan tak tega membiarkannya begitu saja. Maka dia pun berinisiatif menawarkan bantuan.
"Yah udah, sini aku bantu. Galon ini mau dibawa ke mana bang?"
"Ke sana bang. Warung kaki lima itu yang ada di dekat loket itu."
"Waduh. Jauh amat." Jawabnya seraya memandang tempat tujuan.
"Ya sudahlah. Angkat aja. Ngasih bantuan jangan tanggung. Tolongin geh!" Sambung Indra.
"Ya udahlah. Tunggu di sini yah. Aku angkat dulu nih galon air."
"Iya."
__ADS_1
Jack pun mengangkat galon itu lalu membawanya ke tempat tujuan.