
Saat hari mulai terang, para ABK biasanya tidur setelah bekerja semalam penuh.
Mereka sering melewatkan sarapan karena mata yang begitu berat.
Ketika hendak masuk ke dalam kapal, tanpa sengaja Indra melihat Tono terpaku berdiri menghadap laut. Wajahnya masih lesu seperti saat dia meninggalkan istrinya.
"Kamu kenapa Ton?" Tegur Indra.
"Aku perhatikan mukamu berat.... banget, kaya punya hutang segunung." Sambungnya lagi.
"Kamu nggak bisa paham perasaanku 'Ndra soalnya kau masih lajang."
"Iya. Iya. Aku tahu. Kau rindu sama binimu kan?" Tanya Indra.
"Bukan cuma rindu, tapi khawatir. Biniku udah ambil duitnya belum yah."
"Duit apa?" Tanya Indra.
"Uang yang aku pinjam dari kapten kemarin. Untuk persalinan."
"Memangnya kapten udah kirim?" Tanya Indra.
"Ya iya lah. Kalau belum, ngapain aku tanya uangnya udah diambil atau belum. Kamu ini ada-ada aja deh."
__ADS_1
"Kalau soal uang sih perempuan akan secepat kilat ngambilnya dari ATM. Itu nggak usah diragukan lagi.
Oh yah, dah sarapan belum? Aku lapar nih. Makan yuk! Kayaknya si Budi masak mie instan tuh." Ujar Indra.
"Kamu aja. Aku nggak nafsu makan." Jawab Tono lesu.
"Ya udah. Aku tinggal dulu yah."
Indra segera meninggalkannya dan pergi ke dapur. Di sana beberapa ABK telah makan dengan lahap hingga mereka menambah jumlah porsi mereka berkali-kali.
Ketika Indra sampai di situ, dia melihat panci itu kini menyisakan hanya semangkok kecil.
"Wah, sialan. Kalian habisin semua mienya. Kalau makan mikir-mikir dong. Pikirin yang belum kebagian. Nasi mana Nasi!" Ujar Indra.
"Wah, kalian benar-benar parah."
Meski begitu dia terpaksa memakannya karena tak ada pilihan lain. Dia juga menyeduh secangkir kopi untuk dia minum usai makan nanti. Supaya lambungnya semakin terisi dan bisa cepat nyenyak.
Tapi sewaktu makan, dia teringat pada Tono dan menceritakannya pada orang-orang di situ.
"Hei, coba kalian lihat dulu si Tono. Aku perhatikan mukanya stress.... banget. Apa ada masalah yang dia sembunyikan?"
"Alah... paling dia cemas sama bininya." Jawab Budi si tukang masak.
__ADS_1
"Bener tuh. Tapi kasihan juga sih dia." Sambung Maribet.
"Aku juga dulu pernah begitu. Dua kali malah! Waktu anak pertamaku lahir, aku nggak lihat. Anak ketiga juga. Kalau dipikir-pikir, banyak kok yang begitu. Coba kalian bayangkan para tentara yang diutus berperang. Mereka meninggalkan keluarga mereka bertahun-tahun. Saat mereka pergi, mungkin anaknya masih bayi atau balita. Eh.... pulang-pulang, anaknya udah masuk sekolah.
Sedangkan kita! Kita cuma delapan bulan saja melaut. Memang sedih. Sewaktu kita rindu, kita tidak bisa berbicara dengan mereka. Kapal kita harus bersandar dulu baru dapat sinyal. Itu pun sekali tiga bulan. Yah...dia berharap aja ada badai supaya kapten meminggirkan kapal kita ke pulau terdekat. Supaya dia bisa menelepon bininya." Tutur Rahmat panjang lebar.
"Apa? Badai? Kepalamu badai!" Ujar Indra kesal. Lalu dia berkata lagi, "Kalau ada badai kita nggak bisa kerja. Harusnya kamu berharap cuaca bagus. Kalau sering-sering badai, mau bawa apa kita pulang nanti? Kamu pikir nggak hutang kita banyak? Itu bisa dibayar kalau tangkapan kita melimpah. Kalau ngomong selalu sembarangan deh! Aku ikat pakai karet bibirmu tahu rasa!"
"Maksudku bukan begitu. Aku juga nggak ingin ada badai. Soalnya hutangku sama kapten juga banyak." Jawab Rahmat.
"Karena kau pintar menghibur, lebih baik kau hibur dia sana. Katakan ceramah yang tadi kau ceritakan pada kami untuknya supaya dia nggak sedih lagi." Tutur Indra.
"Iya. Iya." Jawab Rahmat kesal lalu beranjak dengan langkah yang berat.
Rahmat pun pergi dan mencari Tono di sekeliling kapal. Tapi dia tidak menemukannya.
"Pergi kemana tuh anak? Coba aku periksa di dalam deh. siapa tahu di sana." Gumamnya sambil berjalan masuk.
Namun ketika dia memeriksa setiap bagian dalamnya, Tono juga tidak ada. "Tuh bocah menghilang kemana sih? Di luar nggak ada, di kamar juga."Gerutunya.
Lalu dia berkata lagi, "Coba aku pergi ke ruangan mesin, siapa tahu dia bertengger di sana.
Firasatnya ternyata berkata benar. Saat dia turun ke ruangan itu, dia melihat Tono terbaring di dekat mesin dengan mulut menganga.
__ADS_1
Hal itu membuatnya kaget sekaligus panik. Pikiran-pikiran kotor pun bermunculan sebelum dia melihatnya dari dekat.