
Di perjalanan dia kembali menangis karena begitu sedih.
"Kenapa nangis pak?" Tanya si tukang ojek karena suaranya yang sedikit keras.
"Ah! Nggak kok bang. Mataku cuma kelilipan debu aja."
"Masa? Aku tahu lho pak mana yang kelilipan debu, dan mana yang sedang menangis. Bapak sedih karena berpisah dari istri yah? Kalau boleh tahu bapak mau kemana?"
"Iya. Aku sedih karena nggak bisa melihat istriku melahirkan. Itu anak pertama kami."
"Memangnya bapak mau kemana?"
"Aku pergi melaut cari uang bang. Soalnya di darat susah cari kerja. Aku terpaksa pergi karena butuh uang. Kalau aku nggak pergi, biaya lahiran istriku apa?"
"Wah... yang sabar yah pak. Keputusan bapak memang tidak mudah. Tapi sebagai lelaki, tanggung jawab kepala keluarga nomor satu. Saya juga begitu pak. Siang malam saya terus bekerja demi keluarga. Kerja apa aja, serabutan yang penting halal. Ngojek sampai pagi-pagi begini juga aku jabani pak. Tapi ngomong-ngomong bapak akan melaut ke mana?"
"Ke Maluku bang. Kapal cumi."
"Oh... pasti gajinya besar yah pak. Temanku pulang dari laut bawa uang banyak kemarin."
"Itu tergantung jumlah tangkapannya bang. Kalau tangkapannya banyak, yah duitnya banyak. Kalau nggak, yah enggak. Gaji kerja di kapal cumi sedikit."
"Oh gitu."
"Iya. Belum lagi kalau sering badai atau sakit. Yah... rejeki kita benar-benar ada di tangan Tuhan."
"Oh gitu..."
__ADS_1
"Bang, aku turun di depan warung itu yah." Sambung Tono menyudahi percakapan itu.
Si tukang ojek pun segera memperlambat lajunya lalu berhenti. Kemudian Tono turun lalu membayar ongkosnya.
"Nih bang." Ucapnya sambil menyerahkan selembar uang."
"Makasih yah. Semoga rejeki kita lancar." Ucap si tukang ojek lalu pergi.
Tono kembali memastikan mukanya segar agar tak ada tanda-tanda sedih yang terlihat sebelum berkumpul dengan teman-temannya.
"Hei, udah lama nunggu yah? Sorry yah telat." Sapa Tono sewaktu bertemu dengan teman-temannya.
"Nggak juga. Gimana? Binimu masih marah nggak kau melaut? Atau jangan-jangan kamu pergi diam-diam." Ujar Maribet.
"Nggak. Biniku orangnya sangat pengertian. Dia ngizinin aku pergi dan berharap tangkapanku kali ini berlimpah."
"Yah, mudah-mudahan aja Ton. Anggap itu rezeki anakmu yang akan lahir nanti." Sambung Rahmat.
"Iya. Dah pesan taksi on line belum?" Tanya Maribet.
"Iya udah. Si Sarjoni udah pesan tuh. Sebentar lagi mungkin sampai." Jawab Indra.
Namun di saat yang bersamaan dia mengatakannya, taksi pesanan mereka sampai. Mereka segera mengambil tasnya dan masuk ke dalam taksi.
"Pak, ke pelabuhan yah." Ujar Rahmat ke supir taksi.
Mereka pun dibawa ke pelabuhan. Lalu sesampainya di sana? Mereka segera turun dan cepat-cepat ke kapal. Sang kapten kapal ternyata sudah lebih dulu di sana.
__ADS_1
Lalu setelah semua perlengkapan dan persiapan mereka beres, sang kapten segera melajukan kapalnya meninggalkan sandaran pelabuhan yang sibuk itu.
Mereka mengarungi lautan selama empat belas hari. Selama itu cuaca sangat baik sehingga kapal mereka tidak bersandar di pulau-pulau kecil karena menghindari badai.
*********
Akhirnya mereka tiba di perairan Maluku. Tempat yang banyak sekali cuminya.
Saat malam tiba, semua ABK langsung mempersiapkan alat pancingnya dan melemparnya ke tengah laut. Semalaman mereka berdiri menunggu sampai cumi memakan umpannya dan terjebak di dalam pancingnya.
Satu persatu cumi mereka keluarkan dari tali pancing yang panjang setelah menunggu beberapa saat. Tangan mereka sering terluka sewaktu mengeluarkan cumi itu dari alat pancing.
Setiap ABK menaruh permohonannya sendiri dalam hatinya. Seolah-olah hati mereka berbicara pada lautan luas agar laut menyerahkan setiap cuminya ke tangan mereka.
Ada yang duduk diam selama memancing sepanjang malam. Sembari menghabiskan setiap batang rokok yang terbakar di antara himpitan kedua bibirnya. Setiap asap yang keluar dan menyatu di udara menjadi saksi keheningan dirinya di tengah lamunannya.
Namun tak sedikit juga yang saling berbicara sambil menunggu umpan mereka disantap. Tertawa, dan saling menyampaikan harapan dan keinginan. Mereka juga tak luput dari asap rokok. Seolah-olah itu mereka jadikan teman terbaik di setiap saat.
Sepanjang malam para ABK itu memasukkan dan mengumpulkan cumi tangkapan mereka ke dalam ember yang berisi air. Setiap ABK mempunyai jumlahnya tersendiri sesuai dengan rejeki yang Tuhan berikan pada mereka.
Lalu setelah malam itu berlalu, setiap ABK akan menimbang hasilnya dan menyerahkannya pada sang kapten. Beberapa ABK ada yang ditugaskan untuk menimbang dan membuat catatan.
Ketika melihat salah satu tangkapan temannya sedikit, hanya sepuluh ekor cumi, Indra merasa iba dan memberikan sebagian miliknya itu padanya untuk dia timbang.
"Ini. Aku kasih sebagian punyaku supaya timbanganmu banyak."
"Makasih yah bang." Jawabnya dengan senyum yang lebar.
__ADS_1
ABK itu adalah ABK baru yang belum sepenuhnya mengerti caranya memancing.
Setiap ABK berbaris menunggu gilirannya sampai seluruhnya selesai menimbang.