Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 2


__ADS_3

Sesampainya di rumah, dalam kondisi yang masih lelah, bibinya langsung menyuruhnya menyuci piring.


"Indra, kamu cuci piring dulu yah, baru boleh makan. Dan nanti piring kotormu juga harus kamu cuci. Bibi udah capek banget seharian. Yah!"


Dia tak menjawab dan langsung pergi ke dapur menyuci piring. Setelah itu dia membasuh diri, mengganti pakaian, dan turun lagi ke dapur untuk menyantap makan malam.


Namun yang dia lihat hanyalah sedikit nasi dan sayur yang tersisa. Rupanya bibi, dan anak-anaknya telah makan sebelum dia dan pamannya sampai di rumah. Dan pamannya juga telah makan ketika dia sedang mandi dan menghabiskan ikan dan lauk yang lain tanpa memikirkan indra.


Maka mau tak mau dia terpaksa memakannya meski hati ingin membeli makanan yang lain.


"Tidak! Aku harus menghemat uang sakuku yang tersisa sampai akhir bulan nanti." Tuturnya dalam hati.


Namun selagi dia masih makan, pamannya datang menghampirinya dan bilang, "Indra, mulai besok kita tidak akan pulang terlalu sore."


"Kenapa paman?"


"Supaya kamu punya waktu mencari dan mengumpulkan barang-barang bekas di sekitar komplek ini. Lumayan kan uangnya buat tambah-tambah penghasilan?"


"Iya paman."


"Yah sudah, habiskan makananmu dan tidurlah." Ujar pamannya sebelum pergi meninggalkannya.


"Makanan apa yang harus dihabiskan? Toh dari tadi udah habis. Hanya nasi kucing ini, tak butuh waktu lama untuk menghabiskannya." Gerutunya dengan suara rendah.


*********


Malam itu dia berbaring di tempat tidurnya sambil menatap ke langit-langit kamarnya. Menggantungkan harapannya yang tinggi bisa berhasil di kota perantauannya. Sampai akhirnya angan-angan itu membawanya terlelap jauh ke alam bawah sadarnya, membawanya ke suatu tempat yang indah.


Hanya dirinya sendiri yang ada di sana menikmati keindahan alam yang segar dan harumnya udara di sore hari. Di sana dia menatap hamparan langit biru yang luas dan menggantungkan harapannya pada Sang Pencipta.


Mimpi itu membuatnya benar-benar terlelap sampai bibinya harus membangunkannya untuk pergi bekerja esok harinya.


Karena saat itu hari sudah terang, dia pun pergi dengan melewatkan sarapannya seperti sebelumnya.


*********

__ADS_1


Di bengkel, dia mengerjakan pekerjaan yang sama dan selalu mempertahankan kerajinannya agar pamannya senang dan tidak memotong upahnya.


Namun saat jam makan siang tiba, pamannya tiba-tiba datang dan menyuruhnya ketika dia hendak istirahat.


"Indra, tolong bikinin paman kopi. Habis itu, kamu pungut dan kumpulin barang-barang bekas di gang sebelah sana." Dia menunjuk ke luar ke arah tempat sampah di mana beberapa botol plastik dibuang.


Dia hanya tunduk menjawabnya dan cepat-cepat melakukan apa yang pamannya minta supaya dia bisa segera pergi makan siang.


Dia memasukkan semua botol-botol bekas itu ke dalam plastik dan menaruhnya di jok motor pamannya.


**********


Ketika dia makan di kantin, beberapa temannya menegurnya, "Indra, harusnya kamu bilang aja 'Yah paman, nanti akan saya kumpulkan.'"


"Bener tuh ndra. Jaga kesehatanmu. Kamu sering telat makan dan jarang sarapan. Bukannya melebih-lebihkan yah, tapi kalau kamu sakit, aku yakin pamanmu nggak akan peduli padamu."


Dia tetap diam karena semua yang teman-temannya katakan benar. Namun sayang dia tidak punya nyali menolak permintaan pamannya.


Usai makan, mereka segera kembali bekerja agar sang bos tidak mengomel seperti suara radio rusak. Dan Indra melakukan semua tugasnya dengan baik sampai akhirnya jam pulang kerja tiba.


Hari pertama dia memulung, dia mendapat cukup banyak barang-barang bekas. Ada satu pemilik rumah yang memberinya beberapa panci-panci rusak yang terbuat dari aluminium.


"Nah, ini dek. Ambillah."


"Makasih yah bu."


"Iya. iya."


Sementara dia memulung, pamannya sibuk bermain game di ponselnya seraya menunggunya. Lalu begitu karungnya penuh, dia kembali kepada pamannya.


"Ini paman, karungnya sudah penuh." Tuturnya seraya memperlihatkan isinya.


"Mantap! Kalau gitu, langsung kita jual. Ayo!"


Mereka segera pergi ke tempat penjualan barang bekas. Dia memegang karung itu di belakang, sementara pamannya fokus mengendarai sepeda motor memboncengnya.

__ADS_1


Ketika mereka sampai di sana dan menjualnya, pamannya menerima uang yang jumlahnya lumayan dan langsung memasukkan semua uang itu ke sakunya.


Tak ada basa-basi atau sepatah kata-kata penghiburan yang pamannya ucapkan padanya sebagai tanda kalau dia telah bekerja keras. Apalagi uang, mustahil dia terima saat itu karena mereka segera pulang dan pamannya diam membisu sepanjang jalan dengan akal-akalan agar indra tak menyinggung uang hasil penjualan barang bekas itu.


*********


Malam harinya, tiba-tiba ibunya menghubunginya. Di percakapan itu ibunya menasehatinya agar menjadi anak yang baik dan penurut, tidak membuat paman dan bibinya susah.


Ibunya berkata demikian karena mendapat laporan kalau anaknya sangat nakal dan jorok. Sering terlambat bangun dan pemalas. Tak hanya di rumah, tapi di tempat kerja pun begitu.


Anak yang masih remaja itu pun sedih mendengarnya. Hatinya terluka dan ingin menangis tapi dia menahannya.


"Ibu tahu darimana aku seperti itu di sini?"


"Bibimu yang bilang tadi sore. Dia menelepon ibu dan bicara tidak enak tentangmu. Nak, tolonglah, jangan buat bibimu kesal. Harusnya kau bersyukur pamanmu memberimu pekerjaan. Semoga dengan begitu, ekonomi keluarga kita membaik."


Mendengar kata-kata ibunya, hatinya semakin bertambah kesal dan tak mampu lagi membendungnya. Maka dia pergi ke luar agar paman dan bibinya tidak mendengar percakapannya ketika akan berterus terang pada ibunya.


Saat itu juga dia meluapkan semua emosinya dan penderitaannya sehari setelah dia sampai di rumah paman dan bibinya. Dia mengatakan kalau dia diperlakukan seperti babu dan jarang sarapan. Bahkan saat seluruh badan terasa remuk karena lelah, dia tidak bisa langsung istirahat karena bibinya selalu menyuruhnya menyuci piring.


Mendengar anaknya bicara sambil terisak-isak, ibunya pun tak tahan lagi dan memintanya segera pulang.


"Ibu tak habis pikir, tega sekali dia memperlakukan keponakannya seperti babu. Apa dia juga begitu pada orang lain?"


"Tidak." Jawabnya singkat.


"Sudah. Pulang saja. Di sana kau sering kelaparan. Meski kita susah tapi kau tak pernah kelaparan waktu masih di kampung. Kesehatan lebih berharga daripada uang. Kalau terus-menerus begitu, uang yang kamu cari pun tak kan cukup untuk beli obatmu kalau kau sakit. Besok, beli tiket dan pulang!"


"Jangan bu. Tunggulah sampai satu bulan. Sampai aku terima gaji. Kalau aku pulang besok, ongkos darimana? Aku tidak punya uang bu."


"Baiklah. Hanya satu bulan ini saja. Selalu jaga kesehatanmu yah nak di sana?"


"Iya bu."


Kemudian telepon ditutup dan dia segera kembali ke rumah sebelum pintu dikunci dari dalam.

__ADS_1


__ADS_2