
Pria itu berhasil menjual hampir seluruhnya dan hanya menyisakan sedikit barang dagangannya.
Karena hari mulai gelap, pria itu menggulung tikarnya dan memasukkan semua perlengkapannya ke dalam peti. Satu per satu orang-orang juga telah bubar dari situ.
Tono yang tak punya teman saat itu menyingkir ke tempat yang sepi. Di sana dia berpikir, "Kayaknya enak juga kerja jadi tukang obat. Tinggal pandai-pandai bicara, obat dijamin laku. Apa aku melamar aja yah jadi tukang obat kalau sudah tak melaut lagi? Tapi aku nggak punya pengalaman meracik selain meracik racun tikus. Gimana dong?"
Lalu pria paruh baya itu beserta kedua anak buahnya lewat dari hadapannya, masing-masing memundak sebuah peti tempat penyimpanan barang-barang mereka.
Tono berada di tengah kebimbangan saat melihat mereka berjalan perlahan menjauhinya.
Barulah ketika mereka berada kira-kira lima puluh meter darinya, Tono beranjak dan memanggil pria paruh baya itu lalu berlari menghampirinya.
"Pak, aku boleh tanya satu hal tidak?" Tanya Tono.
"Apa?"
"Boleh nggak aku bekerja jadi tukang obat bersama bapak?" Tanya Tono ragu.
"Hah? Apa? Nggak salah? Ngapain kamu jadi tukang obat?"
"Yah... Cari duitlah pak." Jawab Tono ragu.
"Hei, jadi tukang obat itu repot dan melelahkan. Setiap hari kami harus berpindah-pindah tempat. Dari pasar yang satu ke pasar yang lain. Pundak ini juga harus kuat mengangkat peti yang seperti peti mati ini nih." Ucapnya sambil menepuk peti yang ada di atas pundaknya.
Lalu dia berkata lagi ,"Mulut kami juga harus diasah dan dilatih berbicara dengan cepat sampai berbusa seperti terkena detergen. Meski begitu, terkadang barang yang kami jual belum tentu laku. Yah...itu karena orang-orang berpikir itu hanya obat gosok biasa."
"Tapi yang aku lihat malah sebaliknya pak." Jawab Tono dengan polos.
"Itu cuma kebetulan saja. Lagipula aku tidak menerima karyawan lagi dek. Berapa aku harus membayarmu? Obat yang saya jual juga murah-murah. Memangnya kamu nggak punya pekerjaan?"
"Ada pak. Maksudku tahun depan."
__ADS_1
"Tahun depan?" Respon pria itu tak habis pikir.
"Oalah dek... Dek... Hari ini kami malah harus pergi meninggalkan tempat ini dan mencari lokasi lain. Kau ini ada-ada saja. Kamu nggak punya kerjaan?"
"Ada sih pak. Aku sedang melaut dan selesai tahun depan. Setelah itu aku tak ingin melaut lagi dan ingin kerja di darat saja."
"Oh gitu. Maaf yah dek. Tapi aku nggak bisa bantu. Udah dulu yah dek. Petinya berat nih." Balasnya karena dia masih memundak peti itu lalu pergi menyusul kedua anak buahnya.
Tono pun kembali lesu dan pergi dari tempatnya mencari teman-temannya.
Dia berjalan sekitar seratus meter lagi sampai akhirnya bertemu dengan mereka.
Dari jauh dia mengomel, "Nah, tuh mereka. Kayaknya lagi senang-senang. Sialan! Senang-senang nggak ngajak-ngajak."
Dia pun segera menghampiri mereka. Dilihatnya mereka sedang minum-minum.
"Hei, kalian senang-senang nggak ngajak-ngajak yah." Ujarnya kesal sembari mencari tempat duduk yang kosong.
Usai meneguk minumannya, dia melihat mereka dan sadar kalau tidak semua teman-temannya ada di situ.
"Lho, si Indra mana?"
"Mungkin ke pasar." Jawab Sarjoni.
"Ke pasar? Memangnya masih ada pasar yang buka malam-malam begini?"
"Entahlah."
"Ngapain dia ke pasar?"
"Beli pakaian dalam. Kau tahu kan dia cuma punya dua? Cuci kering tiap hari!"
__ADS_1
"Oh gitu, kasihan..."
Mereka minum-minum di tempat itu ditemani semangkuk mie instan, sampai malam semakin larut dan si pemilik warung akhirnya menyuruh mereka untuk segera pulang.
"Sudah! Sudah! Pulang! Pulang! Kalian minum-minum lama sekali. Mata mengantuk, mau tutup tapi kalian tidak pergi-pergi. Jam sebelas sudah. Ayo, ayo, cepat bayar!"
"Iya mama. Jangan marah-marah nanti cepat tua. Berapa semuanya?" Tanya Rahmat.
"Tiga ratus ribu."
Mendengar itu, mereka masing-masing langsung merogoh saku mereka dan membayar sesuai yang mereka minum.
"Ini mama. Saya tambahin sepuluh ribu biar mama nggak cemberut lagi." Ujar Rahmat.
"Ya sudah. Besok kalau minum-minum lagi, jangan larut malam begini. Mengerti?" Ujar si pemilik kedai.
"Iya mama" Jawab mereka semua.
Mereka pun segera beranjak dan kembali ke kapal.
Ketika mereka tiba di kapal, mereka melihat Indra dan Maribet sibuk mencoba baju-baju dan celana baru.
Satu per satu dari mereka pun mulai bercanda meledek mereka. "Cie-cie... Ada yang baru nih."
"Ada wewangian aroma terapi nih."
Tapi Indra dan Maribet membalas ledekan mereka dengan ledekan, "Iri? Bilang bos!"
"Udah! Udah! Ayo kumpulin! Tar mereka makin iri lagi." Sambung Maribet.
Mereka segera menggulung semuanya dan memasukkannya ke dalam kantong plastik besar.
__ADS_1
Lalu usai mengepak semuanya, mereka kembali ke kamar masing-masing dan tidur.