Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 55


__ADS_3

Sementara itu anaknya sudah pergi begitu dia menghabiskan kopinya. Dia ke halaman belakang untuk memberi ayam-ayamnya makan. Sembari melempar biji-biji jagung, dia bicara pelan, "Ga terasa nih ayam udah gede aja. Boleh nih tahun baru dipotong. Udah lama nggak makan ayam. Badan udah kurang gizi, kurang asupan protein!"


Tak lama ponselnya berdering kencang. Segera dia meninggalkan ayam-ayamnya dan buru-buru mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. "Oh si Indra." Ujarnya lalu menjawab ponselnya.


"Hallo."


"Hallo. Kalian udah ambil duitnya belum?" Tanya Indra.


"Udahlah. Soalnya hutang sudah mendesak harus dibayar. Kami sudah sering dicegat dijalan gara-gara hutang. Jadi setelah uangnya diambil, uangnya langsung dibagi-bagi buat bayar hutang. Tahu nggak? Sisa uangnya setelah dibagi-bagi, hanya sisa dua ratus ribu rupiah. Itu pun buat belanja kebutuhan pokok besok."


"Apa? Uang sebanyak itu hanya sisa dua ratus? Ckckck..." Jawabnya tak habis pikir betapa besarnya hutang keluarganya.


"Emak mana?" Lanjut tanyanya.


"Tidur. Kau mau ngomong?"


"Iya."

__ADS_1


Segera dia pergi membangunkan ibunya dan memberi ponselnya. "Mak, bangun! Ini si Indra telepon."


Sambil menguap dia bangun dan mengucek matanya lalu mengambil ponsel itu. " Hallo, ada apa Tet?" Tanya ibunya.


"Gimana kabar kalian mak?"


"Baik."


"Hei, ambilkan dulu kopiku itu!" Ujarnya pada anak perempuannya.


Anak perempuannya itu pun berjalan mendekati meja. Tapi beruntung, sewaktu itu diambil dan diberikan, secepat kedipan mata tiba-tiba lalat terbang lebih dulu dan mendarat mulus di bibir cangkir.


Akhirnya kopi yang telah bercampur dengan kotoran cicak itu pun tak jadi terminum. Maka dia membuatkan lagi kopi yang baru dan menutupnya lalu memberikannya pada ibunya yang masih berbicara di telepon.


Setelah percakapan yang panjang itu, Wanita itu kemudian pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Kamar mandi itu berada di halaman belakang rumah.


Sewaktu sampai di sana, dia melihat biji-bijian pakan ayamnya telah habis diserbu oleh ayam tetangga. Bahkan kaleng tempat penyimpanannya sampai terbalik dan kosong.

__ADS_1


Menyaksikan itu, amukan wanita itu mulai berkobar. Dia meledak marah seperti macan yang kehilangan anaknya.


"Hei!" Teriaknya dengan suara penuh ketegangan memanggil anaknya.


Mendengar suara sang emak yang seperti sambaran petir itu, anak perempuannya segera berlari menemuinya.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Kenapa kau tidak jaga ayam makan? Hah?! Kau tengok ini! Tengok kaleng ini! Kosong tak bersisa! Ayam tetangga sudah kenyang makan di sini. Besok ayam kita mau makan apa? Jari-jarimu itulah? Sudah kubilang kan kalau kasih ayam makan itu, harus dijaga! Kalau tidak beginilah jadinya. Ayam-ayam tetangga merajalela makan di sini. Majikannya enak-enakan."


Namun meski wanita itu tegang, anaknya tetap menjawabnya santai memberikan alasan pembelaan.


"Itu gara-gara ada telepon masuk. Aku jadi lupa. Selain itu pas mau turun, mak suruh ambilin kopi. Tapi karena kopinya sudah tercemar, jadi bikin kopi yang baru dulu. Gara-gara itu aku jadi lupa sama pakan ayam." Jelasnya.


"Ah... Sudahlah! Besok kakimu itu saja yang dikasih buat pakan ayam." Celotehnya lagi lalu mengambil kopinya dan pergi duduk di teras rumah. Dia lupa kalau sebelumnya dia ingin buang air kecil. Air seni itu kini seperti tertahan di kantung kemihnya sewaktu emosinya memuncak.


Sedangkan anaknya, ingin melampiaskan kekesalannya pada semua ayam tetangganya, namun takut itu akan menimbulkan pertengkaran.

__ADS_1


Maka dia hanya bisa memendamnya sampai hatinya terasa sesak namun tetap mengucapkan kata-kata ancaman dengan suara pelan.


"Awas! Awas aja! Kalau sampai aku melihat ayam tetangga mondar-mandir di sini lagi, aku tidak akan segan-segan untuk melibasnya. Akan kulibas pakai bambu yang panjang nanti. Tewas, tewas sekalian dah. Kalau tewas tinggal ditanam aja."


__ADS_2