Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 15


__ADS_3

Kemudian mereka mengambil beberapa tanaman liar dan menghaluskannya. Airnya mereka teteskan ke bekas gigitan itu agar rasa gatalnya berkurang dan darahnya berhenti mengalir.


Sejak insiden itu, mereka terus memperhatikan tubuh mereka dengan seksama, waspada jika ada serangan pacet berikutnya.


Tak lama si pemilik sawah datang. "Hei, kenapa kalian sibuk sekali?


Dan kau! Kenapa garuk-garuk pantat macam orang yang cacingan!?" Tanyanya pada Soni.


"Oh, tadi ada pacet. Jadi kami khawatir kalau ada pacet menempel lagi dan menghisap darah kami." Ujar Soni.


"Oh... di sini memang banyak pacet. Itu gara-gara waktu itu si Bob taruh kerbau-kerbaunya di sini."


"Mmm pantes!" Jawab Soni.


"Ya sudah, kita lanjut kerja lagi." Ujar si pemilik sawah.


Mereka pun kembali ke tengah sawah dan melanjutkan penyabitannya. Ada tiga petak sawah yang harus mereka panen, dan semuanya cukup luas.


Seraya terus menyabit, Soni selalu melihat kaki dan tangannya. Karena hal itu, dia menjadi lambat bekerja.


"Hei! Buruan! Kenapa kau lambat sekali?


Aduh..... kalau begini terus aku bisa rugi menggaji kalian!" Seru si pemilik sawah karena Soni belum mengangkut satu tumpukan padi pun untuk dipukul.


"Aish...! Cerewet sekali sih nih bapak-bapak!" Gumamnya.


Kemudian dia menyabit cepat-cepat dan mengantarkan satu tumpukan kepadanya.


Tapi saat dia meletakkannya di depan si pemilik sawah, tiba-tiba dia bilang, "Sudah! Sudah! Kita makan siang dulu."


Betapa sialnya dia karena merasa dikerjai. Muka kesal pun dipampangkannya jelas saat laki-laki itu menyerukan ajakannya. Sedangkan si pemilik sawah diam-diam tersenyum karena telah berhasil mengerjainya.


"Ayo makan! Makan! Istriku memasak daging babi untuk kita makan siang ini. Makan yang banyak supaya tenaga kalian kuat. Oke!" Tutur si pemilik sawah sembari membuka perbekalannya.


Indra dan Soni juga langsung duduk merapat dan mengambil bagiannya. Nasinya disusun menggunung diakibatkan lapar yang bergejolak. Mereka bertiga makan dengan lahap khususnya Indra dan Soni, karena mereka sudah lama tidak makan daging babi.


"Ayo, ayo tambah lagi nasinya. Masih ada satu panci lagi." Ucap si pemilik sawah.


Mendengar itu, Indra mendekatkan piringnya ke panci dan membuka tutup panci itu. Tapi sial, begitu panci itu terbuka, yang terlihat hanyalah beberapa butiran nasi. Laki-laki itu pun tertawa keras karena berhasil mengerjainya.

__ADS_1


"Jadi kau serius mau nambah? Astaga....


Ini. Ambil saja nasi di piringku ini." Tuturnya sambil mendekatkan piringnya ke Indra.


"Nggak usah. Aku sudah kenyang kok. Iya kan Son?" Dia melirik ke Soni seolah mengisyaratkannya agar dia setuju dengan kata-katanya. Namun Soni justru memberikan jawaban yang menjengkelkan.


"Mana aku tahu kau sudah kenyang atau belum. Tapi dari gelagatmu kau terlihat masih lapar. Buktinya kau mau tambah nasi. Sok-sok an main mata lagi! Matamu kelilipan? Hah?" Kata-kata itu terpaksa dia utarakan karena masih kesal pada si pemilik sawah.


***


Seusai makan, mereka menikmati secangkir kopi lagi sambil berbincang-bincang. Di perbincangan itu, Indra mengatakan kalau mungkin dia akan pergi ke ibukota.


Namun si pemilik sawah yang mendengarnya meragukannya.


"Ke ibu kota? Kerja apa kau nanti di sana? Orang yang tamatan sarjana saja banyak yang pengangguran. Sedangkan kau, kau SMA pun tidak tamat kan? Mau kerja apa kau nanti di sana?" Tanya si pemilik sawah.


"Entahlah. Dicoba aja dulu." Jawabnya seraya melayangkan pandangannya ke hamparan langit yang luas, seolah jawabannya ada di sana.


Belakangan matanya terasa berat dan mulai mengantuk disebabkan oleh sejuknya hembusan angin. Maka dia berbaring di atas tumpukan jerami dan memejamkan matanya sejenak.


Namun begitu merasa sedikit nyaman, si pemilik sawah tiba-tiba berdiri dan memerintahkan mereka kembali bekerja.


Soni dan Indra pun terpaksa bangun dan kembali ke tengah sawah dengan langkah yang berat. Mengayunkan sabit dan terus mengumpulkan berkas-berkas padi. Mereka bekerja semakin giat karena mata si pemilik sawah terus mengawasi mereka.


Tumpukan demi tumpukan terus diangkut ke hadapan si pemilik sawah dan dia membantingnya dengan cepat demi mengejar target. Gerakan tangannya sangat cepat dan lincah seperti baling-baling helikopter.


Namun meski demikian, pria itu tetap tidak bisa membanting semua tumpukan padi itu karena dia harus menampi padi-padi dari sekamnya.


Saat hari sudah sore sekitar pukul setengah enam, mereka menyudahi pekerjaan itu dan mengumpulkan semua peralatannya dan menutup bagian yang belum selesai dengan terpal. Lalu si pemilik sawah mengisi biji-biji padi ke dalam karung untuk mereka bawa pulang.


Setelah semuanya selesai, mereka pun pulang, masing-masing memundak satu karung padi yang beratnya sekitar 35 kg.


Mereka berjalan selama dua jam, menanjak dan turun bukit. Terkadang mereka berhenti sejenak melepas lelah setelah menempuh setengah perjalanan.


Keringat mereka terus berjatuhan disertai nafas yang terengah-engah seraya berjalan menanjak dengan beban di pundak. Kaki mereka juga harus kuat menahan bobot tubuh mereka saat menurun di jalan yang sempit agar tidak jatuh.


"Hah... lama-lama aku bisa turun perut dan ambeien nih." Keluh Indra dalam hati.


Lalu karena hari semakin gelap, mereka hanya beristirahat sejenak dan lanjut lagi sampai akhirnya mereka sampai di rumah si pemilik sawah.

__ADS_1


Namun saat mereka pulang, upah mereka belum diberikan karena pekerjaan mereka belum selesai.


**********


"Aduh.... benar-benar tepar dan mau mati rasanya." Keluh Indra di tempat tidur sembari menaikkan kakinya ke atas karena kram dan nyeri luar biasa.


Saat dia hampir terlelap, tiba-tiba ibunya datang menanyakan upahnya.


"Gaji kalian langsung diberikan tidak?" Tanya ibunya.


"Nggak. Karena sawahnya belum selesai. Besok kami masuk lagi."


"Lha! Mana boleh gitu! Selesai kerja, upah harus dibayar! Secara tidak langsung dia memaksa orang harus kerja sama dia lagi besok. Kalau seandainya kamu sakit dan nggak bisa kerja, bagaimana? Siapa yang 'kan minta duitnya?"


"Aduh....


Aku."


"Naik apa kamu ke sana? Hah? Terbang? Rumahnya kan jauh?"


"Aduh... nanti kan bisa minta tolong sama si Soni.


Ah... udahlah. Aku mau tidur."


"Memang susah sekali anak ini diajari! Harusnya kalau sudah selesai kerja, upahnya langsung diminta." Gerutu ibunya. Tapi sementara dia mengomel, tiba-tiba ponsel jadulnya berdering.


"Hallo!" Sapanya lembut pada anak sulungnya.


"Mak, minggu depan si Indra bisa datang ke sini. Seseorang mau menerimanya tanpa harus pakai izazah. Yang penting dia bisa bekerja dengan baik dan jujur."


"Oh yah? Kerja apa?"


"Katanya jadi kurir mengantar barang. Makanya dia harus punya SIM. Jadi kalau bisa, besok kalian pergilah membuat SIM."


"Aduh... darimana uangnya?"


"Besok akan aku kirim."


"Ya udah. Mak akan kasih tahu dia." Ucapnya lalu menutup telepon.

__ADS_1


__ADS_2