Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 56


__ADS_3

Ke esokan paginya, Indra tak sengaja bertemu lagi dengan teman sekampungnya Manto di sebuah warung makan. Manto langsung menghampiri Indra begitu dia selesai memesan makanan lalu mengambil tempat duduk.


"Hei, Ndra! Masih di sini rupanya kau. Aku pikir sudah pergi melaut."


"Ah belum. Aku masih di sini. Minggu depan aku mau pulang kampung. Aku mau ngurus KTP. KTP ku hilang."


"Oh gitu. Lama amat minggu depan."


"Yah... Soalnya aku masih ada urusan di sini. Kamu gimana? Sudah dapat kerja yang baru belum?"


"Belum. Masih nyari-nyari. Ngomong-ngomong untung kita ketemu lagi di sini."


"Kenapa rupanya?"


"Yah...Bayarin makananku dong 'Ndra. Nanti kalau aku punya uang, aku ganti deh. Yah. Please..."


"Idih! Enak aja! Bayarlah sendiri! Kalau seandainya kita nggak ketemu, 'kan kau juga yang bayar makananmu."


"Iya sih...


Tapi kas bon sama mbaknya. Kas bon ku sudah banyak 'Ndra. Kalau ditumpuk lagi, puncak gunung everest bisa kalah."


"Alah. Banyak kali gayamu. Berapa rupanya?"

__ADS_1


"Nasi sama ayam bakar, plus nambah nasi, plus es teh manis, ditambah dua gorengan, semuanya jadi tiga puluh lima ribu 'Ndra."


"Astaga! Buset! Aku aja makan pesen telor bulat sama sayur asam doang. Cuma sepuluh ribu. Terus aku harus bayarin punya kamu tiga puluh lima ribu? Gila! Apa kata dunia? Ga ah! Bayar aja sendiri!"


"Ayo dong 'Ndra. Ntar kalau aku punya uang aku bakal ganti."


"Kalau kamu nggak punya uang gimana?"


"Yah gak aku bayar dong. 'Kan aku ngomongnya kalau punya uang."


"Enak banget hidup lu. Kapan kau punya uang? Hah?"


"Mana ku tahu! Tunggu aku kerjalah."


"Mana aku tahu."


"Alah sudahlah. Nih aku bayar. Tapi cuma dua puluh ribu aja. Sisanya kau yang nambahin." Dia pun mengeluarkan selembar uang dari sakunya dan memberikannya dengan muka tidak senang.


"Makasih yah." Jawabnya lalu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri si mbak warung.


"Mbak, ini cicilan kasbon ku yang kemarin yah. Sisanya nanti saya bayar." Ujarnya pada si mba warung lalu pergi.


Sembari keluar, dia menyerukan terima kasih sambil melambaikan tangan pada Indra.

__ADS_1


"Makasih yah 'Ndra."


Namun tanpa dia sadari, omongannya pada si mbak warung itu rupanya terdengar oleh Indra. Maka dia bertanya pada si mbak warung, "Mbak, tadi teman saya itu bayarin makanannya kan?"


"Nggak. Dia nggak makan. Dia cuma minum teh manis aja. Tadi dia bayar hutangnya yang kemarin-kemarin. Banyak banget lho. Saya saja sampai kesal. Kalau orang-orang pada kasbon kayak dia, bisa-bisa warung makan saya tutup. Tahu nggak? Hirosima hancur karena Bom. Tapi Warung hancur karena Bon. Pusing saya. Setiap hari kerjanya ngutang mulu. Heran saya. Tadi sih dia minta makan, tapi saya nggak kasih. Saya cuma ngasih teh manis aja. Itu pun nggak saya tambahin ke kasbonnya dia. Soalnya kalau ditambahi lagi, saya yang pusing. Kasbonnya makin bengkak ntar, penuh-penuhin pembukuan mbak."


"Memangnya berapa kasbonnya mbak?"


"Dua ratus tujuh puluh lima ribu. 'Kan lumayan tuh duitnya dipakai belanja. Trus dia cuma ngasih dua puluh ribu aja tadi. Bisa kebayang nggak itu lunasnya kapan, seandainya dicicil dua puluh ribu gitu? Selain itu, udah tahu hutangnya banyak, harusnya pilih makanan itu yang sederhana dan murah. Ini nggak! Pilih lauknya yang enak-enak. Nggak pernah tuh dia pilih tahu, tempe, ataupun telor kayak pesanan masnya."


"Oh gitu yah mbak. Yah... sudahlah, mau gimana lagi. Yang sabar aja yah mbak. Semoga dia bisa ngelunasi hutangnya secepatnya."


"Hah... Semoga aja." Balas si pemilik warung sambil menghela nafas panjang.


Lalu si pemilik warung kembali ke dapur dan Indra kembali melanjutkan makannya sampai habis.


Usai menghabiskan seluruh makanannya, dia cepat-cepat beranjak dan membayarnya lalu pergi.


"Mbak, ini uangnya yah." Serunya sambil meletakkan selembar uang di atas meja dan dihimpit piringnya.


Dia kembali ke kos nya dan menelepon kakaknya.


Tapi panggilannya tak kunjung terjawab bahkan sampai panggilan yang kelima. Dia pun kesal dan menggerutu. "Susah kali orang ini ditelepon. Aku heran deh. Punya ponsel, tapi apa tidak dibawa kalau pergi? Apa ponselnya disembunyikan di lemari? Di museumkan aja itu ponsel sekalian, supaya nggak bisa dihubungi."

__ADS_1


Maka karena tak tahu harus apa lagi dan mau pergi ke mana lagi, dia pun memilih untuk tidur bermalas-malasan di kamar.


__ADS_2