
Namun baru satu menit dia memejamkan mata, Susi istri Tono tiba-tiba datang, dia pulang dan membanting pintu dengan keras. Lalu sekitar tiga puluh detik kemudian Tono juga datang. Dia berjalan cepat menyusulnya sambil menggendong anaknya. Pemandangan itu membuat matanya menjadi segar seketika hingga mampu membuatnya bangun dan berdiri tegap. "M! Drama apalagi nih pasutri? Mending aku keluar ajalah." Gumamnya.
Dia pun memutuskan pergi ke pinggiran rel kereta api, tempat biasanya dia nongkrong bersama teman-temannya.
Setelah lima belas menit berjalan menyusuri gang yang sempit, ternyata tak ada satu orang pun yang bisa dia dapati di situ. Yang ada hanya bungkus rokok beserta puntungnya yang berserak di tanah dan beberapa gelas plastik berisikan ampas kopi hitam.
"Anak-anak pada kemana sih? Biasanya pada nangkring di sini? Kok yang tersisa cuma jejak setan ini?" Cletuknya.
Dia melihat ke sekitarnya, namun yang tampak hanyalah dahan yang bergoyang tertiup angin. Sampai tak lama, sebuah kantong plastik tiba-tiba ikut terbang terbawa arus dan mendarat tepat di matanya karena tiupan angin.
"Aish! Sialan! Plastik apa'an nih? Bau banget!" Celotehnya sambil melemparnya.
Karena tak ada apapun di situ, dia pun memutuskan untuk pulang. Sambil berjalan dia berharap agar drama Tono dan Susi sudah selesai. "Semoga tuh pasutri udah baikan. Gimana mau betah di rumah kalau ada pertikaian rumah tangga?"
Dia berjalan dengan kepala tertunduk dan dengan tubuh yang lesu.
__ADS_1
Sampai saat dia mendekati persimpangan gang, seseorang tiba-tiba mengagetkannya dengan menepuk pundaknya dari belakang, "Hei! Ahmad!" Serunya.
Secepat kilat dia langsung berbalik badan menengok orang yang telah membuatnya kaget.
Saat mereka berdua saling melihat, secara spontan orang itu berkata, "Upsss! Maaf. Salah orang ternyata. Aku pikir Ahmad temanku yang bawa kabur pacarku."
Keningnya pun mengerut mendengar cletukannya. Tak habis pikir kenapa satu hari itu dia hanya bertemu dengan orang-orang yang membuatnya jengkel. Namun tanpa membalasnya perkataan orang itu, Indra segera pergi meninggalkannya karena melihat tingkahnya yang belakangan aneh seperti orang gila. "Bisa yah ada orang yang sampai depresi gara-gara ditinggal pacar? Cari aja yang lain. Kan banyak perempuan di luar sana. Heran deh ngeliat orang-orang zaman sekarang." Ujarnya dalam hati.
Lalu sekitar sepuluh langkah dari situ, seorang ibu muda tiba-tiba muncul dari samping jalan berjalan sempoyongan dan menabraknya sampai barang-barang yang dibawanya jatuh berhamburan. Sayuran, dan beberapa buah-buahan keluar dari bungkusnya, begulir dan jatuh ke got.
Tanpa banyak bicara, dia segera memungut yang berserakan itu dan mengumpulkannya kembali ke keranjangnya.
"Makasih yah dek. Maaf yah udah merepotkan." Ujar wanita itu sambil melempar segaris senyum di bibirnya.
Lalu wanita itu segera pergi sambil mengomel, "Aduh... gara-gara nih perut sih... Mules melulu... Heran deh. Dikasih sambal sedikit aja udah merontah-rontah. Padahal kan enak makan mie yang rasanya pedas meledak."
__ADS_1
Dia terus berjalan sambil sesekali mengusap perutnya yang sakit. Tapi tak lama dia berhenti karena merasa ada gas yang harus keluar dari lambungnya. Dia melihat ke sekitar, kiri dan kanan, sepi tidak ada siapapun. Maka dengan hati yang mantap dan bulat, dia siap mengeluarkan gas itu.
"Pretttt...!!!" Suara keras seperti lubang balon yang terhimpit, berkumandang jernih di udara. Namun bukannya rasa lega yang didapat, kepanikan justru bertambah tatkala cairan berwarna kuninglah yang ternyata keluar dan membasahi pakaian dalamnya.
Seketika panik, takut, dan malu sekejap melanda dan menguasainya bagaikan budak. "Ah....Tidak!!!" Teriaknya dalam hati lalu mengambil langkah seribu. Keranjang belanja yang tadinya berat seperti berton-ton, kini terasa ringan bagaikan kapas. Wanita itu menentengnya dengan mudah sambil berlari cepat menuju rumahnya.
**********
Sementara itu, Indra yang semakin bertambah kesal, mempercepat langkahnya agar tak ada lagi yang membuatnya kesal di jalan.
"Mudah-mudahan nggak ada lagi orang aneh." Ucapnya pelan.
**********
Ketika dia sampai di rumah, dilihatnya Tono dan Susi sedang tertawa bersenda gurau. Anaknya juga ada di pangkuan bapaknya.
__ADS_1
Dia terdiam sejenak sambil berucap dalam hati, "Baguslah drama itu akhirnya selesai. Mudah-mudahan tamat dan nggak bersambung. Ini pasutri memang kayak cinta monyet."