Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 19


__ADS_3

Ke esokan paginya usai memberi kabar pada ibunya, dia keluar dari kamar kos dan melihat dari atas lingkungan sekitar tempat dia tinggal, gang-gang yang kecil dan cukup kumuh. "Aku pikir semua yang tinggal di kota bakalan keren dan maju. Tapi pemandangannya mirip seperti di kampung." Gumamnya.


Kemudian dia keluar dan berjalan lebih jauh, tapi semuanya tampak sama tak ada yang menarik. Hanya rumah yang berdempet-dempet tanpa ada halamannya.


Karena lingkungan itu memiliki banyak sekali gang dan persimpangan, dia sempat nyasar dan lupa dari gang mana dia keluar. Rasa penasarannya terus mendorongnya maju tanpa memperhatikan gang-gang yang dia lewati.


"Dek? Mau ke mana?" Tanya seseorang yang melihatnya kebingungan.


"Saya mau pulang ke gang 27 pak. Lewat mana yah?"


"Wah... ini gang 16 dek. Dari sini lurus aja terus. Jangan lupa hitung gangnya yah. Ntar nyasar lagi sampai ke gang 32."


"Iya pak. Makasih yah."


Maka dia berjalan lurus sambil menghitung gang yang dia lewati dalam hati.


"Mmm... kayaknya gang yang aku lewati tadi ini nih. Bener. Nggak salah lagi. Rumah dan cat dindingnya berwarna hijau."


Dia lupa sewaktu menghitung, seseorang tiba-tiba mengajaknya bicara sehingga hitungannya ambyar. Orang itu bertanya padanya karena dia seperti orang yang tersesat.


Maka sewaktu berjalan semakin dalam, dia tidak bisa menemukan tempat kosnya. Mukanya pun semakin panik dan takut.


"Pak, ini di gang berapa yah?" Tanyanya memberanikan diri pada seseorang yang sedang duduk-duduk di teras rumahnya.


"Wah ini gang 32 dek. Memangnya mau ke gang mana?"


"27 pak."


"Orang baru yah di sini?"


"Iya."

__ADS_1


"Dari mana?"


"Medan pak."


"Oh... Ya sudah. Lurus aja dari sini."


"Makasih yah pak."


Dia pun segera pergi dan menghitung lagi setiap gang yang dilalui.


Sewaktu dia keluar dari kosnya, kakaknya sudah pergi lebih dulu bekerja. Sedangkan dia baru bisa bekerja 3 hari kemudian setelah bertemu orang yang akan jadi atasannya di suatu tempat ibadah.


Maka sampai waktu 3 hari yang membosankan itu berakhir, dia hanya berdiam diri di kamar kos dan dan tak berani keluar jauh-jauh lagi.


Selama belum ada penghasilan, dia dan kakaknya makan seadanya dengan seporsi lauk yang dibagi dua.


******


Sebelum ibadah itu dimulai, mereka saling berkenalan, dan dia diberitahu pekerjaan apa yang nanti akan dia kerjakan.


Dia hanya diam menyimak semua yang orang itu bicarakan padanya seolah sudah mengerti semuanya.


"Tapi kamu belum tahu jalan di sini kan? Nanti kamu akan ditemani karyawan lama selama bertugas jadi kurir." Ujar orang itu yang memperhatikan mukanya cukup terbebani.


*******


Lalu ke esokan harinya sekitar jam 7 pagi, Indra pergi ke rumah atasannya karena atasannya mengajaknya pergi bersama, sebab dia masih belum tahu di mana daerah tempatnya bekerja.


Selama memasuki berbagai gang, dia menandainya, tempat-tempat tertentu yang telah dia lewati dalam hati supaya dia ingat jalan pulang.


Selama 30 menit dia berjalan kaki dan sampai di rumah atasannya dengan bantuan orang-orang yang dia tanyai.

__ADS_1


Tak menunggu waktu lama, dia dan atasannya segera pergi dengan menaiki mobil.


Sepanjang jalan dia mencoba menghafal nama setiap jalan yang dilalui agar esok harinya dia bisa pergi sendiri.


Lalu sesampainya di sana, seorang karyawan dipanggil untuk mengajari Indra tentang pekerjaan yang harus dia lakukan.


Maka orang itu mengajaknya mengepak barang yang akan mereka kirimkan nanti. Barang-barang itu adalah berbagai macam sparepart kendaraan.


Selama menjalani masa training, karyawan itu selalu memboncengnya ke mana pun dia mengantar barang.


"'Ndra, kamu hafalin yah jalan-jalan yang kita lewati tadi. Rambu-rambu lalu lintas juga harus kamu patuhi supaya gak ditilang polisi. Barang-barang yang mau kita antarin ini adalah pesanan pelanggan tetap kita. Jadi nggak usah takut. 'Ntar lama-lama kamu juga akan hafal jalan kok."


"Iya." Jawabnya singkat karena mata dan pikirannya tertuju pada jalan, kendaraan yang ramai, bangunan-bangunan yang berjejer rapat, dan pada bangunan-bangunan tinggi yang tidak ada di kampungnya. Karena sesuatu yang tinggi di kampungnya hanyalah puncak bukit-bukit yang berjajar berbaris.


Ketika mereka sampai, dia sendiri disuruh untuk menyerahkan barang itu sekaligus meminta tanda tangan si penerima di formulir tanda terima juga di invoice yang diserahkan. Itu dilakukan sebagai latihan agar dia pandai berbicara pada orang-orang baru.


Karena selama mereka bekerja bersama, Indra tak banyak bicara. Sehingga karyawan itu menyangka kalau dia sangat pemalu dan tidak pandai berbicara.


Kemudian setelah melakukannya, si karyawan langsung menghampirinya dan memeriksa hasil kerjanya.


"Kau udah minta tanda tangannya di tanda terima, juga invoicenya kan?"


"Yah."


"Mmm... bagus. Jadi setiap kali mengantar barang, lakukan seperti itu. Berikan copyan invoicenya bukan yang asli karena mereka masih berutang. Perhatikan tanggal jatuh tempo di invoice ini. Jadi mereka nanti akan bayar sebelum jatuh tempo itu. Jika tidak, mereka akan ditelepon dan ditagih." Jelasnya dengan semangat.


Setelah itu mereka pergi ke tempat lain dan mengantar barang yang sama.


Sejak pagi sampai siang, mereka hanya mengantar barang ke dua tempat yang jaraknya berjauhan.


Namun sebelum kembali ke tempat kerja, mereka singgah di warung makan karena saat itu sudah lewat jam makan siang dan perut mereka sudah keroncongan.

__ADS_1


Selama mereka makan, keduanya saling mengobrol agar mengenal lebih dekat.


__ADS_2