
Hari terus berganti, rasa gatal di tubuhnya semakin hari semakin parah hingga terasa seperti terbakar. Kulit tangan dan telapaknya ikut melepuh sampai rasa sakit itu sulit terabaikan dan sangat menyiksa.
Dia pergi menangis dalam kesendirian, sebab dia malu pada ABK yang lain, khawatir dia akan dipanggil lemah.
Di sana dia merenung dan mengingat kembali hari pertama dia melaut. Hatinya begitu takjub dan ada perasaan gembira yang sulit terlukiskan tatkala pertama kalinya dia melihat ikan-ikan besar melompat indah di dalam lautan, yang bagaikan maha karya yang indah. Luasnya laut sejauh mata memandang, membuat pikiran terbuka lebar. Namun saat-saat seperti itu, dia begitu merindukan ibunya.
Air matanya semakin deras mengalir tatkala rasa rindunya tidak bisa diungkapkan. Dia mengambil ponselnya dan melihat tidak ada sinyal di tengah laut, yang membuatnya semakin sedih dan terbebani.
Sudah lebih dari tiga bulan berlalu sejak dia meninggalkan daratan. Dan ada banyak hal yang ingin dia ceritakan tapi tidak bisa.
Ketika sang kapten kapal memeriksa setiap ABKnya, dia melihat Indra tidak ada di sana. Maka dia memanggil salah satu ABK dan menanyakan keberadaannya,
"Hei, kemari! Di mana Indra? Kenapa dia tidak memancing?"
"Dia sedang sakit pak." Jawabnya sedikit takut sebab dia juga ABK yang baru.
"Kenapa tidak izin sama saya?" Bentak sang kapten.
ABK itu semakin takut ketika sang kapten meninggikan suaranya sampai dia tak berani menatap wajah sang kapten.
"Ya sudah! Kembali bekerja!" Perintah sang kapten lalu pergi mencari Indra.
__ADS_1
Ketika sang kapten melihat dia sedang sibuk dengan luka di telapak tangannya, sang kapten berkata, "Kenapa kamu? Tangan kamu luka ya? Itu biasa. Nanti lama-lama kamu akan kebal. Kenapa tidak izin sama saya?"
"Maaf pak." Jawabnya tertunduk.
"Ya sudah. Istirahat saja, tapi besok kembali bekerja. Tidak ada hari libur di kapal ini. Senin sampai minggu tetap bekerja. Paham!"
Kemudian sang kapten pergi darinya.
Selama beberapa waktu dia selalu mengerahkan kesanggupannya untuk memancing meski ada keinginan untuk berhenti. Luka di tangannya semakin bertambah karena terkena pancing dan senar pancingnya. Sebab mereka masih menggunakan cara manual.
Setiap kali dia menarik senar pancing, dia harus menahan rasa sakit demi mengambil setiap cumi yang tersangkut. Hingga dalam hati dia bertekad, "Setelah kontrakku habis, aku nggak akan melaut lagi."
Tidak ada obat yang bisa dia olesi selain daya tahan tubuh, satu-satunya yang dikerahkan untuk melawan penyakit.
Selama dia menjadi pelaut, hampir setiap malam ibunya selalu mendoakan keselamatannya.
Namun selama masa-masa sulit itu, perlahan seiring waktu luka di tangannya mulai membaik dengan sendirinya, juga gatal-gatal di tubuhnya. Belakangan tubuhnya mulai terbiasa dengan air laut.
Selama delapan bulan masa kontrak itu, Indra terus bekerja keras, bahkan lebih keras daripada para seniornya meski ada rasa jenuh. Sampai hasil tangkapannya menjadi yang paling banyak di antara ABK yang lain.
Tapi sebelum masa kontrak itu selesai, sang kapten akan memindahkan kapalnya ke laut Merauke. Mereka akan berlayar selama hampir satu minggu sampai tiba di laut merauke dan menjala. Lalu kapalnya akan pergi ke tempat yang sedikit dalam di mana cumi banyak ditemukan.
__ADS_1
Selama beberapa bulan, mereka akan menjala laut Merauke, yaitu antara februari sampai april.
Sang kapten sangat mengawasi setiap gerak-gerik para ABKnya. Jika ada yang bermalas-malasan, sang kapten akan membentaknya dan memakinya.
Ketika sang kapten turun, semua ABK mulai sibuk dengan jalanya. Mulai jam 6 sore, setiap jala sudah harus terlempar ke tengah laut dan menanti sampai cumi terperangkap di situ.
Waktu mereka sedang menjala, tiba-tiba turun hujan yang lebat, para ABK itu pun kocar-kacir mengambil jas hujan dan mengamankan cumi hasil tangkapan mereka.
Sewaktu lari, Indra berpikir dalam hati, "Mudah-mudahan kapten suruh kami istirahat."
Hujan, disertai angin kencang dan ombak itu membuat tubuhnya semakin menggigil. Namun permohonan hatinya ternyata tidak terjawab.
Mereka diperintahkan memakai jas hujan dan tetap memancing.
Selama di tengah laut, Indra tak pernah memberi kabar pada keluarganya sebab tidak ada sinyal.
Hal itu membuat kakaknya khawatir tapi tak tahu harus bagaimana. Mungkin hanya harapan yang disertai doalah yang mendamaikan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja.
**********
Hari pun terus berganti, suka dan duka menjadi pelaut berbekas dan tersimpan di memorinya. Tanpa terasa masa kontraknya habis. Sang kapten pun memutuskan meninggalkan laut Merauke pada bulan 3 sebab selama itu, cuaca tidak memihak mereka.
__ADS_1
Badai, angin kencang, dan gelombang tinggi, membuat tangkapan mereka sepi hingga sang kapten memutuskan meninggalkan laut Merauke dan kembali ke Jakarta.
Selama lebih dari 20 hari mereka berlayar meninggalkan laut Merauke. Cuaca buruk dan badai memperlambat pelayaran mereka. Karena setiap kali ada badai, sang kapten akan meminggirkan kapalnya di pulau-pulau terdekat karena tak ingin mengambil resiko.