Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 46


__ADS_3

Ke esokan harinya para ABK yang masih belum puas itu pergi membelanjakan uang mereka di pasar. Mereka membeli rokok, minuman, dan makanan ringan lainnya. Tak lupa mereka juga mengisi pulsa untuk dipakai saat hati sedang bosan.


Selama waktu santai itu, para ABK itu minum-minum di kapal sampai beberapa di antaranya mabuk. Namun ada juga yang sibuk bermain game on line dan tidur-tiduran.


Aktivitas itu terus terjadi setiap malam selama kapal mereka bersandar selama tiga hari.


Lalu setelah tiga hari, sang kapten memerintahkan seluruh anak buahnya untuk memeriksa setiap bagian kapal termasuk bagian mesinnya sebelum kembali lagi ke tengah laut.


Para ABK itu kini kembali menguji nasibnya di lautan.


**********


Ketika malam tiba, semua ABK kembali melempar tali pancingnya ke dalam air dan menunggu keajaiban datang. Saat itu cuaca cukup cerah, tapi tiba-tiba saja langit berubah menjadi hitam dan angin bertiup cukup kencang. Kapal mereka mulai diombang-ambingkan dan seluruh ABK mulai panik sekaligus sibuk menarik tali pancingnya.


Sementara itu sang kapten terus mengerahkan seluruh kemampuannya mengendalikan sirip kemudi melawan badai membawa kapalnya ke pulau terdekat.


Seraya kapal terus melaju, hantaman ombak semakin dahsyat menggoyang kapal mereka. Beberapa ABK yang bernyali kecil belakangan ciut dan mulai menangis sewaktu air laut masuk ke kapal mereka.


Sedangkan yang lain sibuk bekerja agar air tidak masuk semakin banyak.


Belakangan hujan lebat juga turun sehingga memperparah keadaan. Mereka kedinginan namun tidak bisa berteduh.


Sebagian ABK menyelamatkan tangkapan mereka ke tempat penyimpanan agar tak terlempar kembali ke laut karena kuatnya hantaman ombak.


********


Sampai akhirnya, setelah berjuang selama dua jam lebih, kapal mereka bisa selamat dari badai itu dan sampai di pulau terdekat yang tak berpenghuni.

__ADS_1


Di sana mereka semua bernafas lega sambil mengeluarkan air mata.


"Akhirnya kita selamat. Aku takut kita akan tenggelam." Ujar Tono.


Tapi tak ada yang membalas ucapannya dengan kata-kata selain hanya menangis.


Lalu sang kapten keluar dan berkata, "Untuk sementara kita diam di pulau ini sampai badai reda. Jangan ada yang nangis dan sedih lagi. ABK itu harus kuat dan tangguh."


Kemudian sang kapten kembali ke ruangannya lalu menghubungi kapten-kapten kapal yang lain. Dia menanyakan apakah kapal mereka terkena badai atau tidak.


Namun ternyata badai mendadak itu hanya muncul di sekitar mereka.


Kemudian sang kapten memeriksa perkiraan cuaca apakah masih ada badai atau tidak.


Malam itu, usai mengganti baju mereka yang basah kuyub, para ABK itu langsung merebahkan diri di tempat tidur masing-masing karena sangat lelah.


*********


Ke esokan paginya, sang kapten membangunkan seluruh ABK dan menyuruh mereka bersiap karena kapal mereka akan kembali ke tengah laut.


Meski masih dilanda rasa takut, namun para ABK itu tidak dapat mengelak perintah sang kapten.


Kapal mereka kembali ke tengah laut namun kali ini di titik yang berbeda.


Hari itu para ABK masih dilanda rasa cemas sembari melemparkan alat pancingnya sambil sesekali menatap langit.


Indra yang berdiri di samping Tono seraya mengulur tali pancingnya bilang, "Semoga kali ini tidak ada badai."

__ADS_1


"Iya. Aku masih takut. Kita hampir tenggelam."


"Kayaknya langit cerah. Yah... Mudah-mudahan saja tidak ada badai lagi."


Saat mereka berbicara," Sang kapten berseru dari atas kapal pada semua ABK, "Ayo, kerja! Kerja! Kerja! Semangat!"


**********


Hari terus berganti hari begitu juga bulan. Setiap ABK gigih bekerja keras tak mengenal lelah demi mengumpulkan setiap cumi yang akan ditukarkan menjadi pundi-pundi rupiah.


Setelah lima bulan mereka menjala di laut Maluku, sang kapten kemudian memindahkan kapal mereka ke laut Merauke pada bulan ke dua. Mereka akan menjala di sana sampai bulan ke empat lalu kembali ke ibukota.


Karena sesuai perkiraan, pada bulan-bulan itulah waktu yang terbaik untuk menangkap cumi.


Mereka berlayar selama berhari-hari sampai akhirnya tiba di laut Merauke dan kembali menjala.


Namun hari demi hari berlalu, tangkapan para ABK itu tidak pernah memuaskan. Rasanya cumi-cumi enggan tersangkut di kaitnya. Kalaupun ada yang tersangkut, itu hanya 10 atau 15 ekor cumi di setiap senar pancing yang panjangnya berkisar 150 sampai 180 meter itu. Bahkan ada juga yang tidak mendapat apa-apa sama sekali setelah begadang semalam suntuk.


Melihat tak pernah ada hasil yang bagus, sang kapten pun memutuskan untuk kembali ke ibukota meski bulan ke empat belum habis. Atau mereka masih di minggu pertama bulan ke empat.


Maka usai semua ABK merapikan semua perlengkapan pancing, sang kapten segera meninggalkan wilayah itu dan kembali berlayar.


Namun sewaktu mereka pulang, cuaca ekstrem sering terjadi dan badai sering terjadi.


Maka demi menghindari hal buruk terjadi, sang kapten selalu meminggirkan kapalnya di pulau-pulau terdekat setiap kali ada badai.


Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu empat belas hari, kini menghabiskan waktu dua puluh hari akibat cuaca buruk yang sering terjadi.

__ADS_1


__ADS_2