Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 43


__ADS_3

Sewaktu malam tiba, Tono bersiap lebih awal mempersiapkan alat pancingnya. Di sana Indra ternyata sudah lebih dulu bersiap dan berdiri di pinggir kapal.


"Tumben lu rajin Ton! Biasanya kamu berlambat-lambat." Tegur Indra.


"Yah.... itu dulu. Sekarang gak lagi."


"Oh gitu. Baguslah." Balasnya sambil mengulur-ulur tali pancingnya dan memasang kait-kaitnya.


"Sepertinya aku harus banyak-banyak berguru samamu 'Ndra. Soalnya setiap kali kita melaut, tangkapanmu selalu banyak. Bahkan lebih banyak dari yang lain. Jadi aku mau meniru gayamu memancing. Yah... siapa tahu aja aku ketularan banyak tangkapan cumi."


"Mmm.... iya lah. Terserah kau aja." Balas Indra yang melihatnya sebentar lalu mengulurkan pancingnya ke laut.


Keduanya pun mengulurkan alat pancingnya ke laut dan menunggu seraya satu-persatu ABK yang lainnya datang menyusul dan mengulurkan alat pancingnya ke laut.


Seperti biasa, untuk mengusir rasa bosan, mereka mulai menyalakan rokok dan menghimpitnya di antara kedua bibirnya.


Sedikit demi sedikit batang rokok itu terbakar dan menjadi saksi perjuangan mereka malam itu.


Angin malam pun perlahan bertiup semakin kencang seraya malam bertambah larut. Para ABK itu tampak seperti tak mengenal lelah dan semakin fokus dan serius ketika menarik senar pancing mereka keluar dari dalam laut lalu mengeluarkan satu-persatu cumi yang terperangkap.


"Wah... tangkapanmu lumayan banyak 'Ndra." Tegur Tono sambil melihat embernya yang telah penuh dengan cumi dengan beragam ukuran.


"Tangkapanmu juga banyak." Balas Indra.


"Baru kali ini. Ternyata berguna juga aku mengikuti gayamu."


"Gaya apa'an? Bukan gaya kali! Tapi tepatnya cara memancing!"


"Iya! Itu maksudku. Aku cuma lupa apa namanya."


"Alah! Ngeles aja lu."


Masing-masing ABK mendapatkan tangkapan yang beragam sesuai rejeki masing-masing.


Sepanjang malam itu mereka lewatkan tanpa mengenal lelah dan ngantuk demi pundi-pundi rupiah.


Lalu setelah semalam suntuk itu berlalu, seperti biasa para ABK itu akan menimbang hasilnya dan membuat catatannya sendiri.


Sarjoni yang mendapatkan sedikit tangkapan, mendekati Indra dengan muka yang dibuat memelas.

__ADS_1


"'Ndra. Tangkapanmu kan banyak. Bagi dikit dong. Tangkapanku cuma dapat 5 ekor cumi. Itu pun kecil-kecil kaya upil."


"Idih! Apa urusanku? Enak banget lu! Meski segede upil kek, atau segede debu, itu tetap rejekimu. Jangan mengeluh dan lemas kayak gitu."


"Bagi dikit dong cuminya 'Ndra." Ujar Sarjoni memelas dengan mulut yang dimajukan sedikit.


"Idih! Sok-sok memelas dan manyun segala tuh bibir. Nggak ada! Kemarin waktu aku meminta pinjami boxer, kau kasih aku yang sudah tipis dan berlubang. Sekarang, kau mau minta aku ngasih cumi? Enak banget lu! Tangkap aja sendiri!"


"Jangan gitu dong 'Ndra. Sama teman sendiri jangan pelit." Ujarnya dengan bibir manyun.


"Idih! Nggak salah dengar nih?! Ah! Udahlah! Malas ngomong sama kamu. Udah yah!"


Indra lalu meninggalkannya dan menimbang hasil cuminya.


***********


Hari demi hari para ABK itu gigih dan berjuang keras menguji nasibnya di lautan.


Malam demi malam mereka lalui dengan mata yang tegar sambil menahan dinginnya angin malam.


Hampir setiap hari cumi hasil tangkapan Indra senantiasa lebih banyak dari ABK yang lain. Disusul dengan hasil tangkapan Rahmat, Tono dan 3 ABK yang baru.


Lalu setelah mereka tiba, para ABK itu akan bergotong royong mengangkut mengeluarkan semua cumi yang telah mereka kemas dan memindahkannya ke kapal angkut.


Karena hasilnya berton-ton, biasanya mereka bekerja hingga petang hari.


Saat-saat itu adalah saat yang menyenangkan bagi seluruh ABK. Karena usai itu, sang kapten akan meminggirkan kapalnya ke pelabuhan lalu para ABK itu dapat menghirup udara segar di daratan.


Para ABK itu biasanya akan meminjam uang pada sang kapten untuk mereka pakai selama berada di darat.


Begitu kapal itu akan menyentuh tepi pelabuhan, Tono yang telah lama menahan rasa rindu yang menyesakkan dada segera mengambil ponselnya. Mukanya begitu girang ketika melihat batang-batang sinyal mulai naik di ponselnya.


Lalu dengan lincah, jari-jemarinya langsung menekan nomor telepon yang sudah luar kepala dihafalnya, yakni istri tercinta.


"Tut...." Bunyi klasik yang terus berbunyi namun tak kunjung diangkat.


"Kemana sih si Susi? Di telepon berkali-kali nggak diangkat-angkat juga."Gerutunya mulai kesal sedikit khawatir.


Namun dia terus mencobanya sampai berkali-kali. Saat itu hampir seluruh ABK telah keluar dari kapal mencari keinginannya masing-masing.

__ADS_1


Lalu ketika panggilan ke lima sedang berlangsung, tiba-tiba sang kapten datang menegurnya membuatnya kaget.


"Teleponin siapa? Nggak turun?" Tanya sang kapten sambil menepuk pundaknya dari belakang.


"Ah! Iya pak. Neleponin bini pak." Jawabnya sambil memaksakan senyum.


"Oh. Ya sudah!" Sang kapten lalu pergi meninggalkannya.


Ketika sang kapten sudah jauh, Tono menghubungi istrinya lagi berkali-kali sampai itu akhirnya terjawab setelah panggilan yang ke sepuluh.


"Kamu kemana aja sih Susi? Aku teleponin sampai seratus kali nggak diangkat-angkat."


"Maaf bang. Aku di WC. Perut aku mules. Kayaknya salah makan deh."


"Kok bisa salah makan? Memangnya kamu makan pakai kaki? Kan makan pakai tangan toh?" Balasnya yang masih bercampur kesal.


"Apa'an sih ngomongnya? Bukan itu maksudku. Udahlah nggak usah dibahas lagi. Gimana tangkapanmu? Banyak nggak?" Tanya istrinya yang mulai bete.


"Bukannya kabar suami yang ditanya, sehat atau tidak. Eh... Malah hasil tangkapan yang duluan ditanya."


"Iya. Iya. Maaf. Soalnya karena kebutuhan semakin meningkat, hutang banyak, jadinya otakku hanya mikirin uang, uang, dan uang."


"Gimana anak kita? Dia lahir sehat kan?" Tanya Tono.


"Iya. Dia sehat. Dan mukanya mirip banget sama kamu. Males banget deh." Keluhnya.


"Lho kok gitu? Kamu nggak suka yah samaku? Udah mulai bosan yah?" Perasaan Tono mulai campur aduk menyimpulkan kata-kata istrinya.


"Jangan negatif dulu. Maksudku bukan begitu. Masalahnya, setiap kali aku ngelihat anak kita, aku jadi teringat samamu. Itu membuatku makin sedih. Aku tuh kangen banget samamu. Apalagi saat-saat tersulit itu. Tapi tidak bisa jumpa karena kamu di laut."


"Oh gitu. Jantungku hampir meledak tadi. Aku pikir kamu sudah bosan dan udah punya tambatan hati yang lain."


"Otakmu waras atau nggak sih? Mana mungkinlah! Mana ada laki-laki jatuh cinta dengan wanita yang baru melahirkan! Laki-laki itu mencari perempuan yang hidupnya masih bebas. Tahu nggak? Sudahlah nggak usah dibahas lagi. Tangkapanmu kali ini banyak nggak?"


"Iya lumayan. Itu rejeki anak kita."


"Baguslah. Itu juga karena doa-doaku selama ini. Setiap hari. Makanya kau jangan macam-macam di luar sana. Teruslah kasihi istrimu, keluargamu, supaya rejekimu lancar."


"Iya. Iya." Jawab Tono.

__ADS_1


__ADS_2