Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 18


__ADS_3

Satu jam kemudian, mereka tiba di bandara. Dia segera check in lalu menemui ibunya lagi yang duduk menantinya di luar. Di situ ibunya mendesaknya lagi untuk makan karena saat itu sudah sekitar jam 7 malam. Tapi dia tetap tidak mau. Ibunya pun menyodorkan padanya roti untuk nanti dia makan. Tapi dia tetap tidak mau.


Ketika waktu untuk terbang sebentar lagi, dia pun segera masuk ke dalam.


"Nanti kalau sudah sampai, langsung kasih tahu mamak yah." Tutur wanita itu sebelum anaknya turun ke ruang tunggu.


Wanita itu masih duduk di sana menanti sampai pesawat itu terbang. Tapi sudah 15 menit berlalu, pesawat itu tak kunjung terbang.


Karena sudah malam, wanita itu pun terpaksa pulang dan tidak bisa melihat anaknya terbang.


Tapi tak lama setelah itu, sebuah pengumuman dikumandangkan yang memberitahukan bahwa pesawat itu akan delay 2 jam.


Selama itu, Indra hanya duduk seperti orang bodoh menghabiskan waktu dua jam itu. Tidak ada gairah bermain game seperti kebiasaannya, ataupun menikmati cemilan yang diberikan padanya.


Mukanya begitu terbebani seperti mau mati rasanya.


Sementara itu, wanita itu sudah pergi ke loket dengan menumpangi taksi.


Sesampainya di sana, dia beruntung karena masih menemukan angkutan untuk pulang. Tapi angkutan itu masih belum tiba dan harus menunggu selama 30 menit lagi. Tapi angkutan itu tidak langsung menuju kampungnya.


Wanita itu akhirnya meninggalkan kota itu pada pukul setengah sepuluh malam dan menempuh perjalanan sekitar 6 jam.


Waktu itu perasaannya cukup khawatir karena tidak banyak penumpang di dalamnya.


***********


Sepanjang jalan wanita itu tidak tidur sama sekali karena tidak bisa. Lalu setelah melewati pasar, wanita itu memilih untuk turun di situ dan heran mendapati pasar itu sudah ramai saat hari masih sangat pagi.


Di sebuah warung kecil, dia duduk dan memesan secangkir susu hangat. Karena sepanjang perjalanan, dia merasa kedinginan dan masuk angin.


Ketika susu itu sudah diminum dua tegukan, suatu proses dan reaksi kimiawi pun terjadi di dalam perutnya. Hingga suatu gas terdesak dan terdorong untuk mencari jalan keluar.


Tapi wanita itu menahan dan menutup pintu keluarnya serapat mungkin agar suara gas yang berbau itu jangan sampai keluar dan tercium oleh orang-orang yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


Dalam hati dia mengeluh, "Aduh... gara-gara jalan malam, aku jadi masuk angin. Kentut pun sampai ditahan begini. Kalau di rumah, sudah ku ledakkan gas ini sekuat mungkin biar langsung lega."


Kemudian usai menghabiskan minumannya, dia memutuskan pergi ke satu tempat pemandian air hangat untuk menenangkan diri. Maka dia mencari angkot menuju tempat itu dan menempuh setengah jam perjalanan.


Tapi sesampainya di sana, dia mendapati tempat itu masih tutup karena masih sangat pagi.


Akhirnya dia memilih duduk di depan sebuah toko yang masih tutup menunggu tempat pemandian itu dibuka.


Ada orang-orang yang lewat dari depannya dan raut mukanya menyiratkan sebuah prasangka buruk.


Mereka berpikir kalau dia mungkin perempuan yang tidak benar.


Tapi wanita itu berkata dalam hati, "Ah! Persetan orang mau bilang apa. Yang penting aku nggak kenal mereka semua."


Wanita itu terus duduk di sana sampai tempat pemandian itu akhirnya dibuka.


Hari itu dia menjadi pelanggan pertama setelah pintu terbuka.


"Aduh... hangatnya...


Seluruh angin bahorok dan gas busuk bisa langsung keluar di sini tanpa ada yang dengar. Setelah berendam air hangat ini, seluruh peredaran darahku pasti lancar dan masuk angin hilang."


Selama satu jam dia menghabiskan waktu berendam di dalam bak air hangat itu.


***


Adapun kakaknya yang menanti kedatangannya, diliputi rasa cemas yang luar biasa. Sebab Indra tidak memberitahu jika pesawat itu delay.


Sementara dia berdiri di pintu keluar, matanya selalu dibuka lebar setiap kali ada penumpang yang keluar.


Tapi lagi-lagi adiknya tidak ada di sana. Lalu dia melihat ke jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.


"Kemana itu anak? Apa dia tersesat? Tapi aku sudah jelaskan semuanya. Atau apa dia tidak jadi berangkat? Harusnya mereka kasih tahu. Ini sudah jam 12 malam. Seharusnya dia sudah sampai jam 10." Tanyanya dalam hati sekaligus gelisah dan cemas.

__ADS_1


Ingin menghubungi ibunya, tapi dia ragu karena berpikir ibunya pasti sudah tidur. Maka dia memutuskan untuk menunggu satu jam lagi sampai dia benar-benar tiba.


Lalu sekitar 30 menit kemudian, sebuah pengumuman terdengar bahwa pesawat yang terbang dari medan baru saja tiba. Seketika semangatnya pulih kembali dan badannya berdiri tegap menanti adiknya keluar.


Satu persatu penumpang dilihatnya baik-baik agar adiknya jangan sampai terlewat.


Lalu waktu adiknya masih jauh, kakaknya yang melihatnya berkata dalam hati, "Adikku makin hitam selama main-main di bawah terik matahari. Harusnya kalau kulit sudah hitam, jangan pakai baju hitam lagi. Sudah cahaya remang-remang, mata pun jadi makin rabun karena dipaksa melihat dengan jelas."


Begitu dia keluar, kakaknya bertanya tentang keberangkatannya yang sangat lama, "Kenapa kalian sangat lama sekali?"


"Pesawatnya delay dua jam."


"Apa? Kok bisa?"


"Mana kutahu. Aduh... aku lapar sekali."


"Lapar? Kau nggak makan tadi sebelum berangkat?"


"Dari siang aku belum makan."


"Kok bisa? Kan kalian pasti singgah di beberapa tempat makan. Kok bisa kau nggak makan?" Tanya kakaknya tak habis pikir.


"Nggak selera." Jawabnya singkat.


"Nggak selera atau kau takut sakit perut dan sesak berak di pesawat? Iya kan? Hahahaha...." Dia tertawa lebar meledeknya.


"Nggak.


Apa di sini nggak ada tempat makan?"


"Banyak. Tapi pasti sudah tutup. Tahan saja sampai besok pagi."


Mendengar itu dia semakin lemas dan menyesal kenapa dia menolak makan sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2