Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 35


__ADS_3

Ke esokan paginya, pagi-pagi sekali, Indra terbangun karena perutnya tiba-tiba sakit seperti melilit. Rasa sakitnya sudah tak tertahan sehingga terpaksa dia harus bangun dan berlari ke kamar mandi.


"Pret... ! Pret...! Pretttt...!" Suara kentut terus menggelegar berkumandang seraya dia berlari sambil menahan kuat bokong saluran pembuangannya.


Namun sesampainya di sana, ketika dia membuka celananya, cairan berwarna kuning itu ternyata telah menempel di ****** ********, yang keluar bersamaan dengan kentutnya.


"Ah! Sial! Ini pasti keluar waktu aku tak sengaja kentut. Duh... gimana nih? Malah ini celana satu-satunya...lagi!" Keluhnya.


Tapi karena sakit perutnya semakin berbahaya, dia pun berhenti mengeluh dan segera berjongkok di kloset.


"Pretttttt......


Pret....tttt....


Ktktktktktkk....." Bunyi nyaring terus bergetar di WC berukuran satu meter lebih itu seraya cairan kuningnya terus keluar dari salurannya.


Tanpa disadari, bunyi itu ternyata sampai ke telinga Rahmat si penceramah.


Bunyi itu membuatnya kaget dan bangun. "Suara menggelegar apa itu barusan? Bunyinya seperti guntur yang terjepit batu karang." Ujarnya seraya memfokuskan pendengarannya pada bunyi yang akan menyusul.


Dan benar, baru tiga puluh detik dia berbicara, bunyi yang lebih kuat terdengar berkesinambungan.


"Puttttt...


Putttt...


BUSHHHHH...." Hantaman bunyi yang disertai angin bergelora sampai menggetarkan pintu toilet.


"Itu suara angin busuk atau petir sih?" Tanyanya yang masih duduk di tempat tidur dan masih dalam keadaan bingung.


Kemudian dia melihat ke celah di atas jendela dan tampak bulan masih bersinar terang.


Maka dengan raut wajah kebingunan dia berbicara lagi, "Langit tampak cerah, dan bulan masih memancarkan sinar pijarnya yang indah. Tidak mungkin sebentar lagi turun hujan. Itu pasti bunyi yang lain."


Kemudian dia melihat Indra yang ternyata tak ada di sampingnya saat dia menyibakkan kain sarung yang menutupi bantal.

__ADS_1


Maka seketika dia tersadar dan menyimpulkan kalau bunyi itu adalah bunyi angin busuk yang tak sengaja terdorong dan keluar.


"Mmmm.... Itu pasti si Indra yang lagi bertapa di WC. Dia pasti makan yang macam-macam nih.


Beginilah, kalau dikasih tahu susah amat." Tuturnya lalu beranjak menuju kamar mandi.


Ketika sampai di sana, dia menggedor-gedor pintunya sambil berteriak, "'Ndra? Kamu nggak papa kan? Kamu lagi bog yah?"


Indra yang sedang nged'en pun menjawabnya dengan nada bergetar karena dikuasai rasa mules yang hebat. "Bisa diam nggak? Perutku sakit banget nih."


"Kamu makan apa tadi sampai bisa mules begini?"


"Angin...." Jawabnya gemetar.


"Lha! Angin jangan dimakan dong. Makanya kamu buang gas melulu dari tadi. Pencemaran udara tahu nggak!?"


"Diamlah Mat!"


"Ya udah. Habis itu langsung minum obat. Ganggu orang tidur aja. Padahal lagi enak-enaknya mimpi ketemu bidadari. Eh... gara-gara ledakan gasmu, bidadarinya kabur."


Indra pun bisa berkonsentrasi penuh di atas jongkokan WC sampai seluruh cairan kuningnya habis dari salurannya.


Rahmat yang sudah pergi itu pun mencari-cari persediaan obat miliknya di setiap tempat penyimpanan. Mulai dari kotak obat, lemari, sampai ke seluruh kantong tas miliknya. Namun tak satu pun obat yang dia cari ditemukan.


Belakangan dia ingat kalau dia pernah menyelipkan satu kapsul mencret di bawah tempat tidurnya. Maka dia segera membalik kasurnya dan mengambil kapsul itu.


Tapi ketika kemasannya dilihat, tertulis tanggal bahwa kapsul itu ternyata sudah kadaluarsa. Sambil tepuk jidat dia berkata,


"Yah.... kapsulnya udah kadaluarsa. Malah ini satu-satunya lagi!


Nih kapsul aku beli kalau nggak salah empat tahun yang lalu deh. Pantesan aja udah kadaluarsa."


Kemudian dia berpikir sejenak tentang solusinya.


Namun seraya detik-detik waktu terus bergulir, dia tak kunjung menemukan solusinya.

__ADS_1


"Ya udahlah. Tunggu hari terang saja baru bisa beli obat.


Tahan dulu yah ,'Ndra." Ucapnya lalu kembali berbaring.


Baru berbaring sebentar, mulutnya sudah mengeluarkan suara dengkuran keras. Sementara itu Indra terus meringis mules luar biasa. Angin bahorok yang terhimpit saluran pembuangan pun terus berkumandang membelah udara di ruangan selebar satu meter itu.


Begitu melilit dia menekan perutnya dengan kuat sampai seluruh sisa cairan kuningnya terkuras habis.


Lalu usai menyiram dan membersihkan bokongnya, dia keluar dengan berjalan lemas dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Tangannya tak sengaja menampar mulut Rahmat dan menutupnya ketika dia sedang mendengkur.


Dia yang tertidur pulas itu pun belakangan sesak nafas dan akhirnya bangun. "Ah....! Sial! Ngapain sih nih anak nyumpel mulut aku." Ujarnya kesal sambil melempar tangan Indra.


Indra yang sudah tidur nyenyak itu pun tak merasakannya dan tak mendengar celotehannya lagi.


"Udah tangannya bau! Nempel tepat di mulutku pula! Tuh tangan dicuci pakai sabun nggak sih habis dari toilet?"


Dengan kesal dia mengelap mulutnya dengan bajunya sambil sesekali meludah. "Ih....! Jorok banget sih!"


Namun seolah merasa belum puas, dia bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membasuhnya.


Sambil mengomel, dia menyabuni mulutnya hingga berbusa dan menggosoknya dengan kuat.


Lalu usai menyiram dan membersihkan seluruh busa, dia berkaca untuk memastikan seluruh permukaan mulutnya sudah bersih.


"Sekarang permukaan bibirku sudah bersih bersinar. Harum semerbak bagai bunga yang bermekaran di padang. Bahkan seandainya hari terang, lebah pasti akan hinggap untuk menghisap madu, karena aroma bunga pada sabun ini mampu mengundang lebah-lebah madu.


Tapi... Eits...! Jangan! Masa lebah yang mencium bibir seksi ini?! Sudahlah! Hari masih gelap. Mending aku lanjut lagi tidurnya." Ucapnya seraya melihat dirinya di cermin.


Namun saat dia berbalik badan, Indra ternyata telah berdiri tepat di belakangnya karena hendak masuk lagi ke toilet. Rahmat yang tiba-tiba melihatnya, kaget setengah mati sampai nyaris terjatuh. Jantungnya terasa lepas dari tubuhnya hingga dia berdiri dengan tubuh yang kaku karena kaget luar biasa.


"Minggir! Aku mau bog nih. Buruan! Nanti tumpah di sini mau?" Indra menyingkirkannya ke luar kemudian menutup pintu. Tak lama terdengar suara angin yang terhimpit lubang kecil dan menebar bau yang menyengat ke udara


Rahmat yang masih berdiri kaku di balik pintu belakangan sadar ketika bau itu mengalir sampai menusuk ke lubang hidungnya yang terdalam. Bulu-bulu hidung bergetar kaku akibat sambaran gas busuk yang menancap cepat ke permukaan kulit.


Tak tahan dia berjalan cepat kembali ke tempat tidur sambil mengoceh, "Itu anak makan apa sih? Kentut kok baunya kaya kotoran ayam yang sedang mengerami telur. Minta ampun....!!!"

__ADS_1


__ADS_2