
Malam harinya saat Tono sampai di rumah, dia berencana ingin secepatnya menemui istrinya mengatakan tentang uang yang dipinjamnya agar hatinya senang. Namun ternyata saat membuka pintu kamar, dia mendapati istrinya sedang tertidur lelap. Melihatnya, Tono tidak tega membangunkannya dan memilih membiarkannya tidur.
Kemudian dia pergi membasuh diri dan berganti pakaian lalu tidur di samping istrinya.
*********
Sementara itu di sisi lain, Indra dan teman-temannya sibuk mempersiapkan pakaiannya ke dalam tas. Indra yang telah kehilangan tas kini tak memiliki cukup pakaian untuk dia bawa melaut.
Akhirnya dengan berat hati, dia terpaksa meminjam pakaian Maribet dan Rahmat.
"Mat, Bet, pinjami aku baju dan celana dong. Aku malas minjam bajunya si Sarjoni. Mulutnya bawel kayak ***** ayam terkena sambel."
"Yah... gimana yah 'Ndra, celanaku cuma 3. Itu pun cuci kering. Kamu sendirikan tahu, baju yang selalu kena air laut lama-lama cepat robek." Jawab Maribet.
"Begitu yah? Kamu Mat? Ada nggak?" Tanya Indra.
"Aku sih ada. Tapi aku nggak bisa ngasih banyak. Yah... paling aku bisa ngasih 2 pasang."
"Aduh... masa dua pasang? Nggak mungkin dong bajuku cuci kering tiap hari. Kalian jangan pelit-pelit dong. Kalau teman lagi susah, harus dibantu. Kalian saja sering aku bantu sewaktu di kapal. Aku sering memberi kalian cumi hasil tangkapanku untuk kalian timbang." Tutur Indra mulai kesal.
"Iya Bet, kamu jangan pelit sama teman sendiri. Kalau dia nggak kehilangan tas, dia nggak akan minjam baju kita." Sambung Rahmat.
"Iya. Iya. Aku pinjami apa yang ada." Jawab Maribet dengan mimik cemberut.
__ADS_1
"Yah jelas kamu pinjami apa yang ada. Mana mungkin kamu pinjami yang nggak ada. Maribet... Maribet... Mari bernalar tepat!" Sambung Rahmat.
Akhirnya mereka membagi pakaian mereka, meminjamkannya pada Indra. Mereka juga memberinya pakaian dalam.
Usai mempersiapkan semua kebutuhan mereka, mereka langsung tidur karena mereka akan berangkat pagi-pagi sekali.
*********
Ke esokan paginya, saat masih sangat pagi, Tono bangun pelan-pelan agar tak mengganggu istrinya yang masih tidur.
Lalu dia pergi ke ruang tengah dan menulis selembar surat sebelum dia pergi beberapa jam lagi.
'Susi... maafkan aku karena tidak bisa ada di sampingmu saat-saat terpenting. Aku sudah berusaha tapi tidak bisa. Aku terpaksa melaut karena kita butuh uang. Hanya delapan bulan. Aku bukannya tidak peduli, tapi sebagai laki-laki aku bertanggung jawab. Tolong maafkan aku kalau keputusanku ini menyakitimu. Aku menulis surat ini karena tak sanggup bicara padamu. Aku juga tidak tega membangunkanmu.
Aku akan berangkat jam 5 pagi. Jaga dirimu baik-baik.
Tono.'
Setelah melipat dan memasukkan suratnya ke dalam amplop, dia kambali lagi ke kamar dan menaruh surat itu di atas bantalnya agar mudah terlihat saat istrinya bangun.
Usai itu dia kemudian mengambil tasnya dan memasukkan pakaiannya pelan-pelan agar tidak menciptakan suara ribut yang bisa membangunkan istrinya.
Lalu setelah dirasa semua beres, dia pergi dan menutup pintu dengan lembut.
__ADS_1
"Dadah... aku pergi yah Sus...
Doakan aku pulang membawa banyak tangkapan." Tuturnya lembut sebelum meninggalkannya.
Dia pergi berjalan kaki sampai ke depan jalan menunggu tukang ojek lewat.
**********
Sekitar lima belas menit sewaktu dia sedang menunggu, dan sedang fokus menatap jalan raya yang sepi, tiba-tiba seseorang dari belakang menepuk pundaknya membuatnya kaget luar biasa. Tono segera berbalik dan semakin kaget karena yang datang itu ternyata istrinya.
"Kamu! Kenapa kamu ke sini? Ini masih sangat pagi. Sana pulang. Nanti kamu masuk angin lho." Ujar Tono dengan lembut.
"Biarkan saja. Yang penting aku bisa melihatmu pergi. Aku sudah baca suratmu dan aku tidak marah. Sewaktu kamu bersiap-siap, sebenarnya aku sudah bangun. Tapi aku berpura-pura supaya kamu fokus. Seharusnya aku mengerti, bukannya memaksakan kehendak." Jawab istinya dengan tenang.
"Kamu tidak kesal? Ataupun marah?"
"Tidak. Aku yang salah. Sudahlah jangan dibahas lagi. Semoga tangkapanmu kali ini berlimpah dari yang kemarin."
Dia kemudian tersenyum padanya agar suaminya tidak merasa terbebani. Belakangan mereka berbalas senyum hingga tanpa sadar mengeluarkan air mata saat perpisahan itu berlangsung.
Tak lama setelah bersedih-sedihan, ojek pesanannya datang. Lalu tanpa mengulur lagi waktu, dia mengucapkan lagi salam perpisahannya lalu naik ke atas motor dan pergi.
Susi melambaikan tangannya sejauh mata memandang sampai akhirnya Tono tak terlihat lagi.
__ADS_1