Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 53


__ADS_3

Setelah berkendara selama satu jam lebih, mereka akhirnya sampai di kota. Mereka kemudian memarkirkan motornya di depan salah satu tempat pegadaian barang-barang berharga.


Di sana mereka melihat orang-orang sedang mengantri. Ada yang berdiri dan ada yang duduk.


Dalam hati wanita itu berkata, "Ternyata bukan cuma aku saja yang susah dan terlilit hutang. Orang-orang ini pun begitu. Bahkan yang pakai seragam pegawai sipil pun ikut mengantri. Mau menggadaikan cincinnya mungkin dia."


Dilihatnya wanita itu sedang memutar-mutar cincin emas yang melingkar di jari manisnya seolah tak rela itu digadaikan.


"Cincin kawinnya mungkin itu yah? Soalnya macam berat kali dicabut dari jari-jarinya. Cincin kawinku saja sudah lama kujual. Tapi aku tidak pernah seberat itu menjualnya. Soalnya, nanti kan bisa dibeli lagi. Gitu aja susah!" Ujarnya lagi dalam hati seraya memperhatikan wanita itu memainkan cincin di jarinya.


Tak lama setelah beberapa antrian berlalu, seorang wanita datang bersama dengan seorang anak dalam gendongannya.


Karena didorong oleh rasa penasaran, wanita itu mendekatinya dan bertanya, "Mau menggadaikan juga yah bu?"


"Ah, nggak bu. Saya mau minta sisa uang saya saja."


"Sisa uang? Maksudnya?" Tanyanya bingung.


"Jadi kemarin aku menggadaikan cincin kawinku untuk biaya persalinan anakku. Memang sebelumnya kami udah punya tabungan, tapi buat jaga-jaga, siapa tahu ada biaya mendadak, terpaksa aku jual cincin kawin. Aku pikir bisa menebusnya. Tapi karena ekonomi kami cukup sulit, aku nggak bisa bayar bunganya lagi apalagi menebusnya. Jadi terpaksa aku relakan cincin itu tergadai. Jadi aku kemari minta sisa uang hasil gadainya."


"Oh, gitu yah... Pasti rugi sekali yah."


"Iya. Padahal waktu aku beli, harga emas lumayan mahal. Sekarang harga emas turun. Tapi... Yah... Mau gimana lagi, ga ada solusi lain. Semoga kelak ada rejeki buat bisa beli lagi nanti. Kalau ibu mau gadaikan barang juga yah?"


"Oh, nggak. Saya mau tebus barang saya."


"Oh, gitu." Jawabnya singkat.


Dia pun kembali ke tempat duduknya dan menunggu gilirannya.

__ADS_1


Setelah wanita berseragam pegawai sipil itu selesai bertransaksi, giliran wanita itu pun tiba dan dipanggil.


"Ibu Rosdiana." Sebut pegawai itu.


"Yah bu."Jawabnya sembari menghampiri meja pegawai itu."


"Ibu, mau bayar bunganya saja atau mau sekalian tebus barangnya?"


"Mau tebus bu."


"Oh, sebentar yah saya hitung totalnya." Jawabnya lalu melihat layar komputernya dan mulai bekerja.


Sekitar sepuluh menit kemudian, petugas itu memanggilnya lagi lalu menyebut jumlah yang harus dia bayarkan.


"Jumlahnya tujuh juta lima ratus bu." Ucapnya sembari menyerahkan selembar kwitansi pada wanita itu.


Wanita itu kaget mendengarnya karena tak menyangka akan sebanyak itu.


Si petugas pun meminta kembali kwitansi itu dan menjelaskan rincian biayanya.


Namun meski sudah dijelaskan, dia tetap saja berat hati menerimanya namun tetap membayarnya.


Dia kemudian meminta uang itu dari anaknya lalu memberikannya pada si petugas.


Petugas itu pun langsung menghitung uang itu dengan mesin penghitung lalu memberikan cap lunas pada kwitansi itu.


Kemudian dia pergi ke tempat penyimpanan dan mengambil sebuah gelang emas. Itu kemudian diberikan pada wanita itu bersama dengan kwitansinya.


"Ini bu gelangnya. Silahkan dicek kembali." Ujar si petugas.

__ADS_1


Wanita itu pun memeriksanya, melihat secara detail lalu berkata, "Udah pas bu."


"Ya sudah, kalau gitu makasih yah bu." Ujar si petugas.


"Yah, terima kasih." Jawabnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Wanita itu dan anaknya kemudian pergi ke pasar yang lamanya sekitar lima belas menit berjalan kaki dari tempat itu. Mereka menitipkan sepeda motornya pada security yang sedang bertugas di situ.


Sembari berjalan, dia mencurahkan perasaannya pada anaknya yang berjalan di sampingnya. "Syukurlah aku bisa menebus gelang itu. Gelang itu peninggalan mamaku, nenekmu. Terimakasih banyak untuk anakku si Indra yang sudah kirim uang untuk menebus gelang itu. Kalau nggak ada dia, kita akan terus-menerus bayar-bayar bunganya sementara keadaan ekonomi kita sedang sulit."


"Iya. Untunglah." Jawab anaknya singkat.


"Jaga baik-baik gelang itu yah. Jangan sampai dirampok orang dari tasmu. Pegang tasmu erar-erat."


"Iya mak. Jangan khawatir. Gelangnya udah kusimpan di kantung yang paling dalam. Sedalam sumur tetangga."


"Mmm... Nggak usah bercanda jawabnya."


Di pasar, mereka membeli beberapa barang yang telah lama diidam-idamkan.


Mereka sengaja pergi ke tempat di mana baju-baju bekas dijual.


Mereka langsung duduk dan memilih-milih pakaian yang diserakkan di atas tikar. Membongkar dan mengubrak-abriknya dari yang paling dasar sampai ke puncak timbunan pakaian itu.


Satu-persatu dia lebarkan dan dipandang sejenak untuk membayangkan apakah itu cocok untuknya atau tidak.


Mereka pun memborong cukup banyak celana dan baju yang diobral sangat murah.


Setelah itu mereka pergi ke tempat penjualan sepatu dan memilih-milih yang pas sekaligus murah. Mereka membeli masing-masing dua pasang.

__ADS_1


Lalu karena hari mulai sore, dan langit tampak mendung, mereka pun memutuskan pulang meski belum sepenuhnya puas berbelanja.


Mereka hanya membeli setengah kilo ikan untuk dimasak malam harinya.


__ADS_2