Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 14


__ADS_3

Selama tiga hari Indra merasa terkurung di rumah tak bisa pergi kemana pun. Selama itu, dia selalu mengorek, menguliti kulit lukanya yang sudah kering agar terlihat sedikit lebih baik. Selama itu juga, ibunya sering mengeluh dan marah-marah karena bebannya semakin bertambah. Tugas mengangkut air, kini dilakukan olehnya.


Karena begitu bosan dan jenuh, Indra terpaksa berbohong pada ibunya kalau dirinya sudah lebih baik dan lebih sehat.


Saat itu di desanya sedang musim panen padi setelah desa tetangganya. Karena sangat ingin punya uang, dia memaksa dan nekat pergi meskipun masih dilarang oleh ibunya.


Setelah sarapan dan mempersiapkan bekal serta sabitnya, dia berpura-pura terlihat kuat di depan ibunya agar lebih meyakinkan.


Maka pagi itu, dia dan Soni berjalan kaki selama hampir dua jam ke sawah seseorang. Jalanan itu sedikit menurun dan berkelok-kelok.


Sesampainya di sana, mereka dan si pemilik sawah duduk beristirahat sejenak sambil meneguk secangkir kopi hangat yang telah disiapkan sebelumnya di dalam termos oleh si pemilik sawah.


Barulah ketika waktu menunjukkan jam 9 pagi, mereka mulai mengayunkan sabit mereka, menyabit tangkai biji-biji padi itu dan menumpukkannya di satu tempat. Mereka menyabitnya sampai mendapat beberapa tumpukan.


Kemudian mereka mengangkat tumpukan-tumpukan padi itu ke satu tempat di mana si pemilik sawah siap membanting-bantingnya sampai seluruh bulir-bulir padi itu lepas dari tangkainya.


Di sana belum ada mesin. Sehingga mereka masih memakai cara yang tradisional, yaitu membuat sebuah meja dari bambu, dan di situlah tangkai-tangkai padi itu dibanting-banting sampai seluruh bulirnya lepas.


Hari itu cukup panas walaupun masih pagi. Matahari terasa cepat naik ke tempatnya meski belum waktunya.


Bekas-bekas luka yang belum kering itu terasa bertambah gatal karena terkena debu-debu padi dan goresan daunnya yang tajam.


Karena berlumpur, dia juga menggulung lengan bajunya juga celana panjangnya. Juga karena adanya pacet. Agar dia bisa mengambil dan mematikannya.

__ADS_1


Indra selalu melihat lukanya setiap kali itu terasa perih.


********


Lalu ketika waktu menunjukkan jam 11 pagi, si pemilik sawah berseru menyuruh mereka beristirahat.


"Hei, ayo istirahat dulu! Ayo ngopi dulu!" Serunya memanggil kedua bocah yang masih menyabit dan mengumpulkan tangkai-tangkai padi.


Dengan senang hati mereka langsung meninggalkannya dan menjatuhkan sabitnya tepat di samping tumpukan padi itu.


Lalu mereka mencari tempat yang teduh di bawah atap terpal yang dibuat oleh si pemilik sawah. Seteguk demi seteguk kopi panas itu diminum perlahan sambil merasakan sejuknya tiupan angin yang mengeringkan keringat.


Sewaktu mereka sedang duduk santai, tiba-tiba sesuatu yang hitam dan besar tampak menempel di kaki Indra.


Ketika dilihat itu ternyata pacet yang hampir kenyang menghisap darah di kakinya.


Tanpa rasa takut dan jijik, dia menarik pacet itu dan meletakkannya di atas lukanya, supaya pacet itu menghisap darah kotor di lukanya.


Pacet itu dibiarkan bertambah gemuk menghisap darah di lukanya. Namun begitu pacet itu kenyang, dia langsung menggilasnya dengan batu sampai seluruh tubuhnya pecah dan hancur.


"Coba kau periksa seluruh tubuhmu, siapa tahu anak-anak pacet masih ada yang nempel." Seru Soni.


Maka Indra membuka bajunya dan memperlihatkan punggungnya pada Soni, "Coba lihat! Ada yang masih nempel nggak?"

__ADS_1


"Aman. Nggak ada." Jawab Soni.


Lalu dia melihat kakinya dan melirik ke bagian dalam celananya, memasukkan tangannya dan meraba-raba, namun tidak ada satupun yang menempel.


Ternyata pacet yang ditakutkan itu justru menempel di pantat Soni. Yang satu sudah gemuk sedangkan yang satu lagi masih kecil dan kurus. Pacet itu naik ke tubuhnya saat dia menyabit padi di tempat yang basah dan berlumpur. Dia tidak merasakannya karena sangat fokus bekerja.


Ketika pantatnya tiba-tiba gatal, dia dengan cepat memasukkan tangannya dan mulai menggaruk. Tapi saat telapak tangan dan jarinya menyentuh permukaan itu, sesuatu yang kenyal dan menggelikan terasa.


Spontan dia langsung berteriak sambil mencabut pacet yang telah menempel kuat di kulit pantatnya. Teriakan yang bercampur takut dan jijik itu semakin kuat dibunyikan saat dia melihat pacet itu menggeliat-geliat di tangannya.


Maka dengan cepat dia melempar pacet itu sangat jauh.


"Kenapa dibuang? Harusnya dimatikan!" Tutur Indra.


"Ah.... ! Aku jijik!"


Kemudian dia menanggalkan celananya dan bilang, "Tolong cek! Masih ada atau nggak?"


"Masih. Ada satu, sudah lumayan besar." Jawab Indra.


"HAH!? TOLONG AMBIL! CEPAT!" Bentaknya.


Indra pun langsung mencabutnya dan menggilasnya lagi dengan batu sampai hancur.

__ADS_1


Namun saat kehebohan itu terjadi, si pemilik sawah pergi meninjau sawahnya yang lain di sekitar itu, sehingga dia tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua.


__ADS_2