Lelaki Pencari Cuan

Lelaki Pencari Cuan
Part 8


__ADS_3

Ke esokan paginya setelah meneguk secangkir kopi hangat, Indra pamit pulang dari rumah Soni.


"Son, aku balik yah. Lain kali kalau ada kerjaan, kasih tahu aku. Ok?"


"Iya. Gampanglah itu. Nggak sarapan dulu kita? Ibuku udah dadar telor mata ayam yang dibumbui kecap manis dan kecap asin lho."


"Nggaklah. Lain kali aja Son. Dah..."


********


Begitu Indra sampai di rumah dan melepas sepatu barunya, dia langsung menemui ibunya dan menyetorkan sedikit gajinya yang tersisa pada ibunya yang saat itu sedang menggoreng ikan asin.


"Bu, ini gajiku." Tutur Indra sambil menyerahkan sejumlah uang yang digulung-gulung.


"Cuma segini gajimu?" Tanya ibunya sambil membuka gulungan uang itu dan menghitungnya.


"Nggak. Sisanya udah kupakai beli baju dan sepatu."


"Oh...


Ya sudah, sarapanlah. Habis itu kita pergi ke ladang."


"Ah... aku malas. Aku sudah capek."


"Kau ini bagaimana sih? Kalau ladang kita tidak kita kerjakan, dari mana kita makan? Hah? Kerja di ladang orang sangat rajin. Tapi di ladang sendiri malasnya minta ampun.


Ya sudah, ayo makan. Habis makan, ibu langsung ke ladang memetik kopi."


Nasi yang hanya bertemankan ikan asin tanpa kuah sayur itu pun, dimakan dengan lahap karena didorong oleh gurih dan nikmatnya sambal.

__ADS_1


"EGH.....GH...!" Tak lama suara sendawa keras keluar dari mulut wanita itu setelah perutnya kenyang. Lalu dia meminum segelas air dan berkumur-kumur lalu menelannya.


Setelah duduk sekitar 10 menit memroses makanan di lambungnya, wanita itu kemudian beranjak mengambil peralatan taninya, juga ember. Sebelum pergi, dia mengingatkan anaknya lagi, "Jangan lupa menyusul ibu ke ladang!"


"Iya. Iya." Jawabnya bete. Karena jauh di lubuk hatinya dia ingin tidur karena masih lelah.


*********


Di ladang, ibunya melihat biji-biji kopi itu telah memerah dan harus dipetik segera. Jika tidak, maka biji-biji kopi itu akan gugur ke tanah dan busuk. Maka dia menyingkirkan cangkulnya dan mulai memetik biji kopi itu. Semakin siang, matahari semakin menyinsing terik menusuk permukaan kulit dan wajah.


Wajah yang mendongak ke atas ketika tangan berupaya meraih biji kopi di dahan yang tinggi, terpanggang terik matahari sekalipun sudah memakai tutup kepala. Rasanya perih namun itu harus ditahan demi membutuhi hidup.


Cuaca panas itu membuat tubuhnya cepat lelah dan kering. Keringat juga terus berjatuhan. Saat rasa haus telah melanda kerongkongannya, dan dia hendak memuaskan dahaganya, tiba-tiba dia ingat kalau ternyata dia lupa membawa air minumnya. Maka dia naik ke benteng yang lebih tinggi dan berteriak memanggil Indra agar membawakannya segelas air.


"INDRA....!


INDRA....!


Berulangkali dia berteriak memanggil, anaknya tidak menjawabnya karena ternyata dia tidur.


"Kemana anak ini pergi? Dipanggilin dari tadi nggak dengar-dengar. Apa mendadak tuli?" Rasa amarah mulai tergambar di mukanya dan siap diledakkan.


Lalu dia berteriak lagi lebih keras memanggilnya sampai batuk-batuk, tapi hasilnya tetap sia-sia. Ladangnya berada tak jauh dari belakang rumahnya. Maka karena rasa hausnya tak tertahankan lagi, dia pun pulang sambil membawa se ember biji kopi yang telah dipetiknya.


Begitu dia sampai di belakang rumah, biji kopi itu langsung diletakkan di dekat gilingan dan dia pergi ke dapur mengambil segelas air dan langsung meneguknya dengan cepat.


Setelah kerongkongannya dialiri air, wanita itu kembali mengoceh, "Dimana si Indra ini, kenapa tidak datang menyusul!?" Dia lalu berjalan ke ruang depan dan melihat anaknya sedang tidur nyenyak.


"Aduh... aduh... senangnya ini anak. Orang sudah capek panas-panasan di ladang tapi dia malah enak-enakan tidur.

__ADS_1


Indra! Hei! Bangun! Kamu tuh yah, malas.... sekali kerja di ladang sendiri.


Ayo, bangun! Bangun!" Tegur ibunya.


"Aduh... aku malas bu." Jawabnya lemas dengan mata yang masih berat untuk terbuka.


"Kenapa kau malas kerja di ladang kita? Hah? Bentak ibunya.


"Karena nggak ada uang. Sedangkan di tempat lain ada gajinya."


"Jadi yang kamu makan selama ini apa? Hah? Apa itu tidak dibeli dengan uang? Kalau begini terus, mana bisa maju hidup kita nanti!


Ah! Sudahlah! Biar ibu sendiri saja yang kerja di ladang. Udah, kau tidur aja! Tidur! Tidur! Daripada aku terus mengoceh, malu didengar tetangga!" Bentak ibunya lagi lalu pergi ke ladang.


Maka sampai hari sudah sore, dia sendirilah yang bekerja memetik biji kopi itu sampai berisi dua ember penuh, lalu pulang saat hari masih terang.


"Giling biji kopi itu! Cepat! Bentak ibunya.


Dia pun segera menggiling biji-biji kopi itu dengan mesin pengupas kulit kopi yang sederhana sampai seluruh kulitnya lepas dari bijinya.




Sementara sore itu, ibunya segera pergi ke pemandian umum sambil membawa se ember piring kotor untuk dibasuh.


Di kampung tempatnya tinggal, orang-orang di sana masih mandi dan menyuci di tempat pemandian umum. Belum banyak orang di sana yang mempunyai kamar mandi di rumahnya. Dan sekalipun punya, mereka tetap akan menyuci di sana, karena airnya mengalir deras melalui sebuah pancur. Sedangkan di rumah, mereka malas untuk menimba air dari bak mandi.


Setiap sore, Indra juga selalu mengangkut air ke rumah untuk digunakan memasak. Dia akan membawanya di atas kepalanya sebuah ember berbentuk baskom besar yang penuh dengan air.

__ADS_1



Setiap kali dia membawanya di atas kepalanya, airnya akan tumpah sebagian sehingga bajunya basah. Karena itulah cucian ibunya setiap hari selalu banyak. Karena baju yang basah itu akan langsung dia tumpukkan ke ember penampungan pakaian kotor.


__ADS_2