
Kemudian keduanya pergi mengambil jalannya masing-masing. Tono masuk ke kamar mandi dan duduk di WC, sedangkan istrinya masuk ke kamar. Di sana dia berkonsentrasi penuh memikirkan keputusan apa yang harus diambilnya sekitar dua jam lagi. Terkadang dia melihat-lihat ke langit-langit rumah seraya berpikir keras seolah jawabannya ada di situ.
"Duh... gimana nih? Waktunya sudah sangat singkat. Kalau aku pergi, aku pasti di damprat sama bini. Tapi kalau aku diam di sini, aku nggak dapat uang. Hadeh...nyari kerja susah amat."
Tak lama temannya Rahmat meneleponnya, "Ton, gimana? Kamu jadi ikut nggak? Tadi aku udah ngomong sama Indra, Bambang, Maribet, Jono, dan Sarjoni. Kami udah siap-siap ke pelabuhan nih. Kamu jadi ikut kan? Dah ngomong sama kapten belum?"
"Duh... gimana yah Mat? Aku dilema nih. Aku galau."
"Alah! Laga lu! Ngomong udah kayak perempuan! Dilema, galau, lebay tahu!"
"Aku serius Mat. Bantuin aku dong."
"Kan kamu bisa ngomong langsung sama istrimu. Beri dia penjelasan. Lagi pula kita melaut cuma 8 bulan. Nggak nyampe satu tahun. Ya udah, buruan! Kami tunggu!"
Dengan muka yang sangat terbebani, dia memutuskan percakapan itu lalu menarik nafas panjang sebelum mengungkapkan keputusannya pada istrinya.
Kakinya sangat ragu melangkah namun dia terpaksa karena kebutuhan yang sangat mendesak. Jauh di dalam hatinya ada kesedihan yang dalam yang dia tutupi dengan sekuat tenaga karena tidak bisa menyaksikan kelahiran anaknya. Dia malu menunjukkan airmatanya sehingga istrinya sering salah sangka dan menduga kalau suaminya tidak begitu merindukan kelahiran anaknya.
Kesedihannya semakin dalam ketika dia melihat istrinya melihat-lihat pakaian bayi di dalam keranjang pakaian.
"Sus..." Dia memanggil istrinya dengan lembut dan duduk di sampingnya.
"Aku sudah putuskan akan pergi melaut. Kita butuh uang untuk persalinan. Kita juga butuh makan. Sangat sulit mencari pekerjaan di darat. Kamu sendiri tahu hal itu."
"Tapi ini anak pertama kita. Masa kamu tega sih tinggalin dia. Siapa yang akan berdoa saat dia sudah lahir? Hah?"
"Aku tahu. Tapi kita juga butuh uang. Kamu nggak bisa melahirkan tanpa uang. Setelah anak kita lahir, kita bisa saling video call. Mengertilah."
__ADS_1
"Terserah kamu sajalah. Lakukan saja apa yang menurutmu baik. Aku capek ngomong sama kamu."
Dia membuang mukanya dan tak mau melihat muka suaminya setiap kali suaminya memohon pengertiannya. Maka dengan berat hati, Tono akhirnya pergi ke rumah salah satu temannya tempat mereka berkumpul.
Di atas sepeda motor butut itu, hatinya terus galau dan sedih yang sangat dalam. Tak malu dia menangis selama sepeda motor itu terus melaju membawanya ke tujuan.
Sesampainya di sana, dia menghapus airmatanya dan mengipas matanya agar warna merah di matanya bisa segera hilang. Dia juga mengatur cara bicaranya dan nada suaranya sebelum menemui teman-temannya.
Setelah merasa diri siap, dia segera pergi dan langsung bergabung dengan teman-temannya.
"Lama amat sih Ton!" Bosen nih nungguin kamu!" Ucap Maribet.
"Iya. Iya maaf."
Mukanya masih lesu dan dia hanya membiarkan yang lainnya mengutarakan keluh kesahnya.
Dua menit berlalu sejak dia duduk menyendiri, tiba-tiba Maribet bangkit dan menyuarakan agar segera pergi. "Udah! Udah! Mendingan kita segera cabut geh! Ayo! Ayo!"
Ada yang memanggul beras, mie instan, air, sayuran, minyak , dan berbagai jenis alat pancing.
Ketika memundak sekarung beras, kaki Tono tiba-tiba tergelincir karena lututnya yang mulai lelah. Beras itu jatuh menimpa kakinya dan dia berteriak kesakitan. Beberapa temannya segera meninggalkan barang bawaannya dan berlari menolongnya.
"Hati-hati dong Ton. Kalau udah capek, istrirahat dulu. Jangan dipaksain. Toh kita sampai sore di sini." Ucap Rahmat seraya memindahkan karung beras yang menimpa kakinya.
Namun dia diam saja sambil memijit-mijit kakinya.
"Aku lihat mukamu kayaknya menanggung beban berat deh Ton. Kamu kepikiran yah sama anakmu yang sebentar lagi akan lahir? Jangan dipikiri terus Ton. Ingat! Jadi pelaut itu harus tangguh. Hanya pria tangguh yang akan bertaruh di lautan."
Tono kemudian mengerahkan kekuatannya dan memaksakan diri untuk memundak karung beras itu ke dalam kapal. Tapi Rahmat mencegatnya. "Udah nggak usah! Biar saya saja yang bawa. Kamu bawa barang-barang yang ringan saja."
__ADS_1
"Tidak Mat. Seperti katamu, seorang pelaut harus tangguh. Ini tidak seberapa dibanding badai yang sering kita hadapi. Lagi pula keseleonya nggak begitu parah kok. Lihat! Kakiku masih sangat kuat berdiri. Bahkan berlari pun aku masih sanggup."
"Ya sudah terserah kau sajalah."
Sambil menahan sakit, dia mengangkat karung beras itu dan menaruhnya di pundaknya lalu berjalan memasuki kapal. Raut mukanya menyiratkan rasa sakit tapi dia terus berjalan tertunduk agar mukanya tak dilihat yang lain.
Dia terus mengangkat semua barang bersama yang lain sesuai perintah sang kapten.
Adapun Indra, sejak tadi telah mengamatinya namun tak punya kesempatan untuk bertanya padanya karena sang kapten selalu menyuruhnya melakukan pekerjaan yang lain di bagian mesin kapal.
**********
Ketika matahari hampir terbenam, semua kebutuhan dan keperluan mereka telah selesai mereka masukkan ke kapal. Lalu beberapa dari mereka mendekati sang kapten untuk meminjam uang.
Tono pergi lebih dulu menemui sang kapten di ruangannya.
Dia mengetuk pintu dan berbicara dengan sopan, "Pak, aku boleh pinjam uang tidak? Soalnya minggu ini istriku akan lahiran."
"Berapa?" Jawab sang kapten.
"Lima juta saja pak."
Dalam benaknya jumlah itu memang tidak cukup. Tapi jumlah itu adalah jumlah pinjaman yang sudah cukup besar untuk setiap ABK cumi. Tapi dia berpikir, "Nanti kalau sudah beberapa bulan di laut, aku bisa mengajukan pinjaman lagi."
Mendengar jumlah yang begitu besar, sang kapten awalnya menolak. Dia beralasan kalau dia mungkin akan kabur setelah mendapatkan uang itu seperti para ABK yang lain yang nasibnya kini menjadi buronan. Sang kapten juga bilang kalau hasil tanggakapannya mungkin tidak akan bisa membayar pinjaman itu.
Tapi karena dia terus memohon mendesak sang kapten, hati sang kapten pun belakangan lunak dan memberikan pinjaman itu.
"Ya sudah, besok pagi akan aku transfer."
__ADS_1
Tono lalu pergi dengan hati yang lega dan menyampaikan terima kasihnya yang besar pada sang kapten.