
Selama bis itu melaju beberapa menit, mata dan bibir para penumpang lain masih berkomat-kamit seperti dikerumuni semut api.
Barulah ketika supir menyorotkan matanya tajam ke kaca bis menatap para penumpang, bibir-bibir itu satu-per satu berhenti berkicau dan mereka kembali tertidur.
Bis itu terus melaju menembus kegelapan hingga akhirnya sampai di perkotaan. Perempuan itu kemudian mengeluarkan suaranya meminta sang sopir berhenti. "Pak. Nanti di depan sana saya turun yah."
"Di mana neng?" Tanya sang sopir.
"Di depan toko keramat itu pak. Nanti lihat saja plang tokonya, ada tulisan 'Toko Keramat'."
Sopir itu pun memperlambat laju bisnya sambil memperhatikan jalan dengan seksama agar toko keramat itu tidak sampai terlewat.
Namun sepanjang jalan dia mengemudi, matanya tak kunjung melihat ada toko yang bertuliskan 'Toko keramat'.
"Neng, masih jauh yah tokonya?" Tanya sang supir seraya terus melebarkan kelopak matanya di antara remang-remangnya lampu-lampu jalan.
"Sebentar lagi kok pak. Paling sekitar 5 meter lagi."
Sopir itu terus melaju sampai tiba-tiba perempuan itu berseru, "Pak! Stop! Saya turun di sini."
Sang supir pun segera mengerem mendadak lalu menegakkan lehernya melihat ke sekitar.
"Lha! Toko keramatnya mana neng?" Tanyanya seraya melihat ke bangunan-bangunan di pinggir jalan.
Tapi tanpa menjawab, perempuan itu turun sambil menenteng beberapa tasnya. Sang kernet juga turun menuju bagasi diikuti oleh perempuan itu.
Si kernet membuka bagasi bis itu lalu perempuan itu mengambil sebuah ransel hitam.
Setelah itu dia berjalan dan berdiri di pinggir jalan dan bilang ke sang supir, "Pak, ini toko keramatnya. Lihat saja plangnya."
Sang sopir melihat ke plangnya namun tidak membaca tulisan keramat.
Melihat ekspresinya yang bingung dan menyangka kalau perempuan itu sedikit miring, perempuan itu berkata lagi, "Hanya tulisannya saja pak yang dibalik karena toko ini keramat pak. Toko keramat, tulisan pun keramat. Pemiliknya bernama Keramat."
Namun sang supir merasa aneh dan tak memperpanjang dialognya lagi. Dia hanya tersenyum lalu melajukan bisnya kembali.
Bis itu terus melaju hingga hari mulai terang.
__ADS_1
Lalu ketika cahaya matahari memantul ke kaca bis, beberapa penumpang merasa terganggu hingga akhirnya membuka mata.
Indra melihat ke jam tangannya dan waktu menunjukkan pukul 7 pagi.
"Bet! Maribet! Udah bangun belum? Ayo buka matamu! Sebentar lagi kita sampai. Jangan sampai kamu ditinggal dan dibawa raun-raun!" Seru Indra yang duduk dua kursi di belakangnya.
"Hei! Sebelum kamu bangun, mataku udah melek duluan." Balasnya berbalik badan.
Setengah jam kemudian Maribet berseru ke sang sopir. "Pak. Turun di sini pak. Turun di sini."
Saat bis itu berhenti, Indra dan teman-temannya segera turun sambil menenteng ransel masing-masing.
Sedangkan Indra meminta sang kernet membuka pintu bagasi untuk mengambil ranselnya.
Begitu bagasi itu terbuka, Indra segera mengambil ransel hitam yang terlempar jauh ke dalam, lalu dia menghampiri teman-temannya yang sudah duduk menunggunya di pinggir jalan.
Kemudian mereka naik ojek menuju kos-kos an.
*********
Bau tak sedap menguasai tempat sempit itu dan sangat menyesakkan dada. Sampai dia sendiri pun ingin muntah karena bau kentutnya sendiri seperti bau telur busuk.
Namun karena posisinya sedang berjongkok dengan konsentrasi penuh, terpaksa dia menahan muntahnya sampai bau busuk itu hilang dengan sendirinya terbawa angin.
"Hah... leganya." Ucapnya ketika semua kotoran di usus besarnya keluar.
Kemudian dia membasuh bokongnya dan salurannya lalu berdiri mengenakan celananya.
Ketika dia keluar, salah satu temannya yang sibuk dengan ponselnya berseru, "Hei Indra! Sekalian aja mandi geh!"
"Ntar lagi ah! Males nih. Masih ngantuk." Jawabnya seraya meneruskan langkahnya menuju dinding dan bersandar di situ.
"Dasar jorok!" Balas temannya yang terpaksa beranjak memanfaatkan kekosongan kamar mandi sebelum antrian mulai.
"Ya udah, Mending aku mandi duluan. Habis itu cari makan."
Sementara dia mandi, Indra yang masih bersandar di dinding perlahan tertidur ketika asyik bermain dengan ponselnya. Semakin lama matanya semakin berat seperti terhipnotis hingga akhirnya dia merayap di lantai membiarkan ponselnya menyala.
__ADS_1
Lalu ketika orang itu selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, dia melihat Indra merayap dan mengeluarkan iler yang sangat bau di lantai. Ilernya tampak seperti genangan kencing kucing dan dia masih memegang ponselnya.
Maka pelan-pelan tapi pasti, orang itu melancarkan pikiran isengnya dengan mengambil ponsel di tangannya lalu merekam dirinya bersama dengan tetasan iler yang keluar memanjang dan mengental seperti lendir.
Usai merekamnya selama tiga puluh detik, jari-jemarinya kemudian bergerak lincah mengirimkan itu pada pacar Indra.
Namun begitu itu terkirim, cepat-cepat dia menghapusnya agar tidak ketahuan lalu pergi dengan senyum sumbringah.
"Hahaha... pasti habis ini ceweknya illfeel. Hahahaha...."
Kemudian dia memakai pakaiannya cepat-cepat dan pergi segera.
"Sebelum si Indra bangun, aku udah harus pergi. Karena kalau tidak, aku bakalan ketahuan. Soalnya bibirku ini susah diajak kompromi. Suka keceplosan kalau ngelihat korban keisenganku sebelum 3 jam setelah beraksi. Tapi pasti habis itu, ceweknya bakalan menjauh. Hahahaha....."
Dia berjalan mengendap-endap melewati Indra yang masih merayap dengan mulut yang dibanjiri lendir iler.
"Wah! Ilernya makin banyak aja. Bisa-bisa dia mandi iler nanti." Ucapnya pelan.
*********
Lalu tak lama setelah si Sarjoni pergi, mendadak Indra membuka matanya karena seekor cicak yang tiba-tiba jatuh ke mukanya. Dia kaget karena rasanya seperti tertampar. Dengan gerakan cepat dia mengibaskan cicak itu sampai terpental ke tembok.
"Ih! Dasar cicak sialan! Ganggu orang tidur aja!" Ungkapnya kesal sambil mengusap iler yang menempel di sisi mulutnya dengan tangannya.
Kemudian dia melihat ke lantai dan heran melihat genangan ilernya. "Alamak! Banyak banget."
Lalu dia menarik beberapa lembar tissue dan mengelapnya.
"Habis ini, aku langsung mandi sajalah. Kayaknya aku sudah bau ketek." Ucapnya lalu mencium keteknya. "Alamak! Baunya udah kayak bau terasi."
Maka dia membuka kaosnya, lalu menuju kamar mandi.
Guyuran air yang dingin pun meluncur jatuh bersama dengan keringat di tubuh. Setiap guyurannya begitu menyejukkan lapisan kulit.
Kemudian dia mengambil sabun dan menggosok-gosokkannya ke seluruh bagian tubuhnya sampai seluruhnya berbusa. Menyikat kaki dan kukunya dengan sikat kain sambil sesekali bersiul-siul.
**********
__ADS_1