
Alwi terbangun ketika mendengar suara azan subuh, beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
Alwi terpaku dengan pemandangan yang ada di depan matanya, alis hitam melengkung di atas kelopak mata yang masih tertutup lengkap dengan bulu mata hitam lebat nan lentik, bibir mungil merah alami, hidung yang tidak terlalu mancung namun pas melengkapi wajah cantiknya.
Meskipun tanpa polesan alat make up sedikit pun di wajahnya yang berwarna kuning langsat, dengan sehelai kain yang masih membungkus menyembunyikan mahkotanya. Alwi belum pernah melihat istrinya itu melepas jilbab di hadapannya, juga dalam keadaan tidur sekalipun.
'Cantik.'
"Astaghfirullah, apa yang kamu pikirkan, Al?" ucap Alwi lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Alwi merasakan tangan kananya kebas, dan seperti terbebani sesuatu yang berat, "Ck, berani-beraninya dia menjadikan tanganku sebagai bantal." Alwi menarik tangannya dengan kasar dan mendorong istri mudanya menjauh darinya.
"He-" Alwi mengurungkan niatnya untuk memarahi Lathifa, ia teringat posisi mereka ketika bangun tidur.
Bukan Lathifa yang memeluknya dan menjadikan tangannya sebagai bantal. Melainkan sebaliknya, Alwi memeluk Lathifa begitu erat dan menjadikannya sebagai sebuah guling. Alwi turun dari kasur dan bergegas ke kamar mandi.
Alwi membasuh wajahnya dengan air dingin dan mengusapnya berulang kali. Melihat wajah istri mudanya dari dekat membuatnya teringat akan percakapannya dengan abi Husein dan umi Hanifa kemarin.
Flash back on.
Setelah selesai membahas tentang pekerjaan dengan abinya, Alwi mengantarkan kedua orang tuanya ke bandara.
Abi Husein dan umi Hanifa datang ke Indonesia karena mendapat undangan pernikahan putra dari sahabat abi Husein di Jawa Timur, mereka hanya beberapa hari tinggal di Indonesia.
Dan hal itu sukses membuat Alwi terkejut, namun tidak untuk Anisa. Karena Alwi masih menyembunyikan pernikahannya dengan Lathifa kepada semua keluarga besarnya.
Itulah alasan mengapa tidak ada satu pun keluarga Alwi yang menghadiri acara sakral tersebut.
Mobil yang mereka tumpangi melaju lambat di tengah kepadatan lalu lintas jalanan kota.
Raiyan duduk di kursi kemudi, Alwi duduk di kursi penumpang sebelah kursi kemudi. Sedangkan abi Husein dan umi Hanifa duduk berdampingan di kursi belakang.
Sesekali mereka berbincang membahas hal-hal seputar bisnis dan kehidupan di zaman modern ini.
"Kapan kamu menikah Rai?" tanya umi Hanifa kepada Raiyan.
"Nanti kalau Rai sudah bertemu dengan jodoh Rai, Umi." Raiyan menjawab dengan santai.
Bukannya tidak sopan, cuma Raiyan sudah sering mendengar pertanyaan seperti itu. Maklum, di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, pria itu masih setia dengan status lajangnya.
"Ya nantinya itu kapan? Usia kamu 28 tahun lebih Rai, Alwi saja sudah hampir 7 tahun usia pernikahan mereka," terang Umi Hanifa.
"Coba tanya sama Alwi, Umi," ucap Raiyan sembari melirik ke arah sahabatnya, berharap bosnya itu bisa membantunya menjawab pertanyaan dari ibu bosnya itu. Namun Alwi hanya mengangkat bahunya, tanda ia tidak mau ikut campur.
"Akh," teriak Raiyan merasakan kepalanya ditimpuk oleh bosnya. "Sorry, Bos. Bercanda," ucap Raiyan menyengir tanpa dosa.
umi Hanifa dan Abi Husein hanya tersenyum melihat tingkah kedua laki-laki di depan mereka.
"Jangan menikah hanya karena didesak umur. Menikahlah kalau kamu sudah yakin bahwa dengannya surga akan lebih dekat denganmu. Ingat! Jodoh bukan tentang siapa cepat dia dapat, melainkan memantaskan diri dengan taat hingga mampu mendapatkan jodoh yang tepat," jelas Abi Husein .
"Tuh, benar kata Abi. Abi the best deh, hanya Abi yang bisa memahami Raiyan," ucap Raiyan sambil tersenyum.
"Tapi ... ada tapinya Rai," lanjut Abi Husein .
"Wah, apa itu Bi?" tanya Raiyan antusias.
"Perlu kamu tahu! Sampai kapan pun, kamu tidak akan menemukan dan mendapatkan jodoh, jika kamu tidak ada usaha sama sekali untuk mewujudkannya."
"Kok bisa begitu, Bi?" tanya Raiyan.
"Jodoh itu seperti rezeki juga dalam kehidupan manusia. Jika tidak ada usaha sama sekali untuk mendapatkannya, tidak mungkin langsung ada, atau jatuh dari langit, itu mustahil. Memang jodoh berada di tangan Allah, namun kita diperintahkan untuk berusaha," jelas Abi Husein .
"Oh, begitu ya. Terima kasih ilmunya, Bi." Raiyan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jangan hanya mau enaknya saja! tidak mau berusaha dan menjalani prosesnya, maunya tiba-tiba jodohnya langsung ada di depan mata," ucap umi Hanifa .
"Wah, kalau itu sih ada Umi," ucap Raiyan sambil melirik ke arah Alwi.
"Memang siapa?" tanya umi Hanifa penasaran.
"Tuh, anak Umi yang paling ganteng seantero Mesir, tak hanya sekali, bahkan dua kali," ucap Raiyan, berniat untuk bercanda malah mendapat tatapan tajam dari bosnya itu.
"Apa maksud kamu, Rai?" tanya umi Hanifa .
__ADS_1
"Emh, i-itu maksudnya Alwi enak, Umi. Pertama, tanpa susah-susah berusaha, eh tiba-tiba jodohnya sudah ada di depan mata," ucap Raiyan.
"Terus dua kali itu apa maksud kamu?" ulang umi Hanifa .
"Ya itu, Umi. Emh, Alwi dapatnya jodoh istimewa. Sudah cantik, shalihah, dosen, seorang hafizah pula. Dua kali enaknya tanpa usaha kan, Umi," ucap Raiyan, sesekali ia melirik takut ke arah bosnya.
"Alhamdulillah, kalau itu sih ... sudah rezekinya Alwi, Rai," ucap umi Hanifa .
'Huft' Raiyan menghela napasnya lega. 'Alhamdulillah, syukur selamat. Kalau enggak ... bisa-bisa dipotong gajiku bulan ini,' Raiyan mengelus dadanya, tangan satunya masih fokus memegang kemudi.
Alwi melirik sekilas asistennya itu, ia menahan tawa melihat wajah pucat sahabatnya.
"Al, itu siapa nama gadis yang tinggal di rumah kamu? Umi lupa," tanya umi Hanifa .
"Lathifa," jawab Alwi singkat.
"Oh ya, kalau umi lihat, sebenarnya dia gadis yang baik, cantik, juga masih sangat muda."
Alwi dan Raiyan kembali saling melirik, merasa waswas akan pembicaraan Nyonya besar keluarga Ibrahim itu.
"Umi ingin dia untuk fokus dengan pendidikannya, dan tidak perlu lagi untuk bekerja."
"Maksud Umi apa?" tanya Alwi bingung.
"Tadi, umi sudah berbicara kepadanya, umi menyuruhnya untuk berhenti bekerja dan fokus kepada pendidikannya saja. Dan untuk masalah biaya, umi mau kamu membantunya, kamu bisa, kan?" tanya umi Hanifa .
"Iya Umi," jawab Alwi. 'tanpa diminta pun Al sudah melakukannya, Umi,' lanjutnya dalam hati.
"Dan masalah tempat tinggal, sebaiknya dia tinggal di asrama yang disediakan oleh universitas saja," jelas umi Hanifa .
Lagi-lagi Alwi dan Raiyan saling melirik, seakan sedang berbicara lewat sorot mata mereka. Sesekali menaikkan sebelah alis dan menaik turunkan bahu mereka.
Abi Husein yang sedari awal hanya menyimak pembicaraan istrinya, ternyata diam-diam ia mengamati gerak-gerik kedua pemuda di depannya lewat kaca spion depan. Dan mencurigai ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya.
"Bukan maksud umi untuk mengusirnya, Al. Hanya saja, tidak baik bagi seorang gadis tinggal satu atap dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Juga ada hati istrimu yang harus kamu jaga perasaannya." Umi Hanifa menatap wajah suaminya seolah meminta pendapat akan sikapnya.
Abi Husein menganggukkan kepalannya dan tersenyum.
'Ada hati istrimu yang harus kamu jaga perasaannya. Dan keduanya adalah istri Al, Umi.' Alwi terdiam dan memilih fokus menyibukkan diri dengan ponsel di genggamannya.
Flashback off.
Setelah mengambil wudu, Alwi ke luar dari kamar mandi dan melihat istri mudanya itu masih nyenyak dengan tidurnya.
Alwi berjalan ke luar tanpa ada niat untuk membangunkan istrinya.
Alwi menuju mushalla kecil di samping rumahnya, ia menjalankan kewajibannya kepada Sang Pencipta dan mencurahkan segala kegundahan dalam hatinya kepada Robnya.
Alwi yang merasa masih mengantuk, memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di pojok mushalla dan memejamkan matanya.
Di kamar tamu, Anisa melipat mukenanya dan menaruh mushafnya di atas nakas. Ia kemudian memakai kembali jilbab syar'inya bersiap untuk membuat sarapan.
Sesampainya di dapur, Anisa tidak melihat keberadaan Lathifa.
"Lathifa di mana, Mbok?" tanya Anisa kepada mbok Ijah yang sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.
"Mungkin belum bangun, Mbak. Apa perlu saya bangunkan?" tanya mbok Ijah.
"Tidak perlu, Mbok. Mungkin dia kelelahan, biasanya juga jam segini dia sudah ada di dapur," ucap Anisa.
Akhirnya Anisa membuat sarapan hanya berdua dengan mbok Ijah. Bahkan sampai semua masakan telah tersaji di atas meja, Lathifa belum terlihat ke luar dari kamarnya.
"Apa perlu saya memeriksa mbak Lathif ke dalam kamarnya, Mbak?" tanya mbok Ijah yang telah selesai dengan pekerjaannya.
"Tidak perlu, Mbok. Sebaiknya Mbok Ijah sarapan terlebih dahulu! Nanti jika Lathifa belum keluar, biar saya tanyakan kepada mas Al nanti," ucap Anisa.
"Loh kok sendiri, Mas?" tanya Anisa karena melihat suaminya hanya datang seorang diri.
"Loh, emangnya harus sama siapa, Sayang?" tanya Alwi bingung lalu segera duduk di kursi meja makan.
"Lathifa di mana, Mas? Sejak pagi belum kelihatan," ucap Anisa sembari menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Tidur," jawab Alwi singkat.
__ADS_1
"Maksudnya dia belum bangun?" tanya Anisa tidak percaya.
"Hmm.
"Kenapa tidak dibangunkan, Mas?" Anisa hendak pergi meninggalkan meja makan.
"Mau ke mana, Sayang?" tanya Alwi.
"Membangunkan Lathifa, Mas. Apa lagi?"
"Gak perlu! Nanti juga bangun sendiri, sini duduk tamani mas makan!" perintah Alwi.
"Tapi Mas-"
"Sudah sini duduk! Mungkin dia kelelahan saja, nanti juga bangun sendiri," ucap Alwi tanpa menyadari perubahan raut wajah istrinya karena ucapannya.
Anisa duduk di sebelah Alwi, selama makan tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua.
Usai makan Alwi pamit berangkat ke kantor. Tak lama setelah kepergian suaminya, Anisa bergegas berangkat ke kampus.
Karena terburu-buru serta pikirannya yang sedikit kacau, Anisa melupakan keberadaan Lathifa yang masih tertidur. Ia juga lupa minta tolong kepada mbok Ijah untuk membangunkan Lathifa.
...*****...
Suara dering ponsel berulang kali mengusik pendengaran seorang gadis yang masih pulas dengan tidurnya.
Tangannya meraba-raba ke segala arah untuk mencari keberadaan benda pipih kesayangannya itu.
Setelah menemukannya, tanpa melihat nama yang tertulis dilayar, ia menggeser tombol merah dan mengabaikannya.
Sesaat kemudian ponselnya kembali berdering. Lathifa menggeser tombol hijau dan menempelkannya di telinganya.
'Bangun Lathifa!' teriak suara di seberang sana.
Lathifa segera membuka matanya lebar-lebar. Ia menatap nama yang tertulis di layar ponselnya.
"Mbak Nisa, ada apa?" tanya Lathifa dengan bingung.
'Kamu belum bangun? Jam berapa sekarang, Fa!'
Lathifa menjauhkan ponselnya dari telinganya dan melirik jam dilayar ponsel yang menunjukkan pukul 11.30
"Astaghfirullah, Mbak! Ya Allah aku kesiangan! Gimana ini? Mana ada jam kuliah," panik Lathifa.
Setelah memutus sambungan teleponnya, Lathifa bergegas menuju kamar mandi, ia hanya menggosok gigi dan membasuh wajahnya.
Waktu satu jam tidak akan cukup jika dia harus mandi. Beruntung Lathifa tak harus repot-repot berkutat dengan alat make up, karena dia tidak pernah berdandan.
Lathifa menyambar tas ranselnya, memasukkan beberapa buku materi hari ini, tak lupa ia memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas.
Mbok Ijah yang melihat Nyonya mudanya keluar dari kamarnya, merasa heran dan bingung.
"Mbak Lathif baru bangun? Sarapan dulu, Mbak! Biar mbok siapkan," ucap mbok Ijah.
"Tidak perlu, Mbok. Saya buru-buru, terima kasih," Lathifa mencomot beberapa buah yang tersaji di atas meja makan utama.
Karena akses jalan dari kamarnya untuk ke luar rumah, Lathifa harus melewati ruang makan utama, bukan meja makan bundar yang biasa Lathifa, Anisa dan Alwi gunakan sehari-hari. Ruang makan utama yang hanya digunakan setiap keluarga besar Ibrahim sedang berkunjung.
Lathifa melajukan motornya sedikit kencang, panas terik matahari disiang hari tak berpengaruh baginya.
Duar.
Motor Lathifa oleng kehilangan keseimbangannya, beruntung dengan cekatan Lathifa berhasil mendapat keseimbangan motornya kembali.
Lathifa menepikan motornya lalu turun mengecek ban motornya.
"Ck, sial. Duh kenapa harus sekarang?" teriak Lathifa membuat beberapa pengguna jalan melihat ke arahnya.
Ban motor belakang Lathifa pecah. Di saat seperti ini, Lathifa malah melampiaskan kekesalannya kepada suaminya.
"Dasar kulkas! Gara-gara dia aku telat bangun! Gara-gara dia semalam aku tidak bisa tidur nyenyak! Gara-gara dia tidak membangunkan aku tadi pagi! Ahh! Dasar kulkas dingin!" kesal Lathifa.
"Ada yang bisa gue bantu?" tanya seorang pria dengan setelan celana jeans sobek dan sebuah jaket kulit lengkap dengan helm full face berwarna merah-putih-hitam senada dengan motornya.
__ADS_1