
Suasana di dalam ruangan itu sangat menegangkan. Alwi dengan mata tajamnya menatap Raiyan seakan ingin mengulitinya.
Raiyan menelan ludahnya, apalagi melihat bosnya memasang wajah dingin dengan tatapan membunuh ke arahnya.
“Ada apa Bapak memanggil saya?” tanya Raiyan.
“Kamu masih bertanya?” Alwi kembali bertanya dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Raiyan.
Raiyan memutar bola mata malas. “Ada apa? Apa ada masalah? Tumben pagi-pagi Bapak memanggil saya. Jika tidak ada yang penting saya undur diri, mau ke kantin. Saya lapar, belum sarapan.”
“Kamu mau saya pecat? Saya belum selesai bicara, Rai!” marah Alwi.
“Makanya buruan! Dan jangan melihat saya seperti itu! Saya masih normal, istri Anda juga sudah dua,” sewot Raiyan.
Tuk!
Alwi melemparkan bolpoin di tangannya dan tepat mengenai kepala Raiyan.
“Akh! Kenapa kamu? Lagi PMS?” ucap Raiyan sembari mengusap kepalanya yang terasa sakit.
“Duduk!” perintah Alwi.
Raiyan menatap Alwi sekilas, ia memilih untuk duduk di sofa daripada duduk di depan meja Alwi. Raiyan takut akan menjadi sasaran empuk atas kekesalan bosnya yang entah karena sebab apa.
“Ada masalah apa?” tanya Raiyan setelah mendudukkan tubuhnya di sofa.
“Kemarin saya menyuruh kamu membelikan pakaian untuk Lathifa,” ucap Alwi datar.
“Iya. Terus apa masalahnya? Saya sudah membelikan apa yang Anda perintahkan,” jawab Raiyan santai.
“Saya menyuruhmu membeli pakaian! Bukannya baju seperti itu, Rai!” ucap Alwi merasa geram terhadap asistennya itu.
“Bagus kan ... bahkan, hadiahnya bisa menguntungkan di-”
“Dasar kamu ya! Aku tidak menyuruhmu membeli itu! Di mana pikiran kamu, Rai!” Alwi melemparkan bolpoin ke arah Raiyan, namun berhasil di tangkap oleh Raiyan.
“Wow! Sabar, Bos!” Raiyan meletakkan bolpoin di atas meja lalu berdiri bergegas keluar dari ruangan bosnya sebelum mendapat amukan yang lebih parah lagi.
“Dasar asisten kurang ajar!” Alwi mengusap wajahnya dengan kasar, dan beristigfar dalam hati mencoba meredam emosinya.
Tok! Tok! Tok!
“Siapa?”
“Saya Iwan, Pak,” jawab Iwan dari belakang pintu yang tertutup.
“Masuk!”
“Permisi, Pak. Ada jadwal pertemuan dengan perusahaan Sanjaya di Hotel A pukul 10.00,” ucap Iwan setelah melangkahkan kakinya di ruangan bosnya itu.
“Tunda pertemuannya sampai jam 15.00. Saya akan pergi, dan tolong antarkan semua berkas ini ke ruangan pak Raiyan.” Alwi menunjuk tumpukan kertas di atas mejanya.
“Baik, Pak.” Iwan mendekat dan mengambil tumpukan kertas itu. “Saya permisi, Pak.”
Alwi hanya menganggukkan kepalanya. Namun, Alwi menghentikan langkah Iwan yang sudah berada di ambang pintu.
“Tunggu, Wan. Semua berkas itu harus sudah selesai sebelum pertemuan nanti, katakan kepada Raiyan untuk langsung mengantarnya ke lokasi.”
Alwi meraih ponsel di sebelahnya lalu mengirimkan pesan kepada seseorang.
My Lovely
__ADS_1
Mas akan menyusul ke pesantren, nanti kita pulang bersama.
...*****...
“Barang siapa yang tidak mengetahui nilai sebuah kenikmatan ketika ada, maka ia akan mengetahuinya ketika sudah tidak ada (lenyap),” ucap Ustaz Hamdan Athaillah dalam tausiahnya.
Beliau merupakan pemimpin Pesantren Athaillah saat ini, menggantikan ayahnya yang sudah wafat beberapa tahun lalu.
Pondok Pesantren Athaillah merupakan salah satu pondok pesantren terbesar dan terkenal dengan biayanya yang murah dan bahkan banyak memberikan beasiswa kepada santri yang berbakat. Pesantren dengan biaya cukup murah namun berkualitas tinggi.
Pesantren yang sudah berdiri selama 80 tahun, yang didirikan oleh seorang ulama besar bernama Athaillah Al Fath.
Pondok pesantren yang kini berkembang menyediakan sekolah formal, mulai dari MI, MTs dan MA, atas kerja keras cucu dari Alm. Kiai Athaillah Al Fath yaitu Zahran Athaillah.
“Maka dari itu, Ingatlah! Jangan pernah lupa dan selalu ucapkan ‘Alhamdulillah’ atas segala sesuatu yang telah di berkahi Allah kepada kita.” Suara ustaz Hamdan terdengar menggema memenuhi ruangan besar yang berisikan para santriwati dan beberapa jamaah perempuan yang hadir.
Jamaah pria dan wanita memang terpisah, sehingga hanya suaranya saja yang terdengar oleh jamaah wanita di aula utama. Sedangkan jamaah pria berada di Masjid pesantren.
Lathifa membisikkan sesuatu ke telinga Anisa, kemudian dia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar aula tersebut.
“Bahwa sesungguhnya, bahagia itu sederhana. Kita hanya perlu mensyukuri dengan nikmat yang telah Allah berikan.” Suara Ustaz Hamdan masih terdengar samar-samar di telinga Lathifa yang sudah menjauh dari tempat pengajian.
Lathifa melangkahkan kakinya menyusuri jalan mencari keberadaan toilet yang tadi Anisa arahkan kepadanya.
Bruk!
“Aduh ....”
“Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja,” ucap seseorang yang bertabrakan dengan Lathifa.
Lathifa mengangkat wajahnya, dan mendapati sosok pemuda bertubuh tinggi, memakai baju koko putih dan sarung hitam lengkap dengan peci hitam di kepalanya.
“Mbak!” panggil pria itu, namun tidak direspons oleh Lathifa.
“Hai, Mbak! Kamu baik-baik saja?” ulang pemuda itu sedikit mengeraskan suaranya.
“Eh, I-iya Mas. Maaf saya tadi tidak sengaja,” ucap Lathifa setelah tersadar dari lamunannya.
“Alhamdulillah. Apa kamu tidak mau berdiri?” tanya pria itu sopan.
Lathifa melihat sekelilingnya, ia tersadar bahwa dirinya jatuh terduduk di atas tanah. Beruntung hari ini tidak hujan, sehingga tanah di bawahnya kering tidak mengotori pakaian yang ia kenakan.
“Eh, iya Mas.” Lathifa segera berdiri dan mengibaskan pakaiannya dengan tangannya, membersihkan debu yang menempel di bajunya. Wajahnya bersemu merah karena malu.
“Kamu santri baru di sini?” tanya pria itu.
Lathifa menggelengkan kepalanya. “Bukan. Saya hanya ikut menghadiri pengajian bersama kakak saya.”
“Oh, tapi pengajiannya berada di aula utama, kenapa Mbak bisa ada di sini?”
“Saya mencari toilet, Mas.”
“Mbak bisa jalan lurus saja, nanti ada pohon mangga belok kanan. Mbak bisa menggunakan kamar mandi di sana.”
“Baiklah. Terima kasih, Mas,” ucap Lathifa dan berlalu pergi.
Pria itu memandangi punggung Lathifa yang semakin menjauh, gadis cantik dengan berbalut gamis dan khimar syar’i berwarna biru muda.
‘cantik.’
“Astaghfirullah! Ghadul bashar, Za! Jaga pandanganmu!” lirih pria itu lalu menepuk kepalanya sendiri. Dan melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Tepat pukul 12.00 pengajian ditutup dengan dilanjutkan sholat dzuhur berjamaah.
Selesai berjamaah, Anisa berjalan beriringan bersama umi Maryam dan Lathifa, lalu berpamitan kepada umi Maryam. Anisa adalah keponakan dari ustaz Hamdan, ibunya merupakan adik kandung dari ustaz Hamdan, dan beliau memiliki satu lagi adik perempuan, namun adik bungsunya sudah lama meninggal.
“Umi, Nisa pamit dulu, ya. Maaf belum bisa sowan ke Ndalem (Rumah utama tempat tinggal keluarga Kiai pondok).”
“Enggak apa-apa, Nis. Tapi ingat! Lain kali kamu harus sowan ke rumah. Ajak juga suami kamu.”
“Insya Allah, Umi.”
“Siapa gadis cantik ini, Nis?” tanya umi Maryam yang menyadari kehadiran seseorang yang sedari tadi hanya diam di samping Anisa.
“Astaghfirullah! Maaf, Fa. Saya lupa memperkenalkan kamu kepada umi.”
“Kamu itu masih muda sudah pelupa, Nis.”
“Namanya juga lupa, Umi. Penyakit lupa tidak memandang usia, kan.” Anisa terkekeh, dan diikuti oleh umi dan Lathifa.
“Perkenalkan Umi, dia adalah Lathifa, istri-”
“Saya Lathifa, Umi.” Lathifa memotong perkataan Anisa, lalu meraih tangan umi dan menciumnya.
Lathifa tidak bermaksud untuk menyembunyikan statusnya. Namun, ia merasa belum siap untuk memberi tahukan kepada keluarga Anisa. Mengingat reaksi orang tua suaminya tempo hari. Lathifa hanya belum siap merasakan kecewa untuk ke sekian kalinya. Setahunya, hanya orang tua Anisa yang mengetahui tentang pernikahan poligami di antara mereka bertiga.
“Masya Allah ... cantik sekali wajah kamu, lembut seperti namanya.” umi Maryam memuji Lathifa, membuat wajah Lathifa bersemu merah.
“Terima kasih, Umi. Tapi lebih cantik mbak Nisa,” elak Lathifa.
“Semuanya cantik,” lanjut umi Maryam membuat ketiga wanita itu tersenyum.
Di beranda Masjid, Alwi berjalan bersisian dan mengobrol dengan seorang pria yang tadi bertabrakan dengan Lathifa.
“Mas, siapa gadis yang bersama mbak Nisa?” tanya pria itu menunjuk ke arah Ndalem.
Alwi mengarahkan pandangannya sesuai arah yang di tunjuk orang di sebelahnya.
Deg.
Alwi melebarkan matanya, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Tiga orang wanita berbalut gamis lengkap dengan khimar syar’i berbeda warna berdiri di halaman Ndalem.
Alwi terpesona melihat kedua istrinya terlihat tersenyum bahagia, ‘cantik’.
“Siapa namanya, Mas?” tanya pria itu, namun tidak ditanggapi oleh Alwi.
“Mas!” seru pria itu menyadarkan Alwi dari lamunannya.
“Apa?” tanya Alwi menoleh ke arah pria itu.
“Siapa namanya, Mas? Cantik ya.”
“Siapa yang kamu maksud?” tanya Alwi menyelidik, ia menghentikan langkahnya dan menatap tajam wajah tampan pria di sampingnya.
“Itu yang bersama mbak Nisa, Mas! Siapa namanya?”
“Ghadul bashar, Gus!” peringat Alwi.
“Astaghfirullah!” sekali lagi, pria itu beristigfar.
“Dan ingat! Jangan pernah mencoba mendekatinya!” ucap Alwi lalu kembali berjalan dengan langkah lebar meninggalkan pria tadi yang terbengong bingung dengan sikap Alwi.
“Apa maksud mas Al? Kenapa dia semarah itu?” lirih pria itu.
__ADS_1