Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Seorang Istri?


__ADS_3

Seorang pria duduk di depan sebuah Cafe terlihat sedang menikmati minuman yang ia pesan, matanya fokus mengarah ke layar ponselnya. sesekali terlihat bibirnya berucap tanpa suara seperti membaca sebuah mantra.


Pria dengan penampilan kerennya, celana jeans sobek-sobek, kaos putih polos dibalut dengan jaket kulit hitam. Rambut acak tak beraturan, tapi terlihat cocok dengan wajah tampannya.


"Lo ngilang ke mana aja, Bro?" tanya seorang pria yang baru datang dan duduk di depannya.


"Ada pekerjaan penting yang harus gue selesaikan," jawabnya datar.


"Kerjaan apaan? Nyokap lo aja hampir tiap hari nanyain keberadaan lo ke gue!" kesalnya.


"Bilang aja gak tau, susah amat."


"Woi! Lo ngapain sih komat-kamit nggak jelas udah kaya dukun aja lo, mau santet orang lo?"


"Ya," jawab pria itu singkat.


"Hah, serius lo? Siapa emang?"


"Orang kepo yang duduk di depan gue," ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari benda pipih di tangannya.


"Anj!r, sembarangan aja kalau ngomong!"


"Makanya jangan banyak ngomong lo! Ganggu orang lagi fokus aja."


"Baca apaan sih? Lo pelit amat sama teman."


Duar.


Mendengar suara ledakan, kedua pria itu yang tak lain adalah Zidan dan Andre mengedarkan pandangan mereka mencari sumber suara.


Netra Zidan menangkap sosok seorang wanita yang sangat familier baginya. Sosok yang pernah membuat hatinya berbunga-bunga, namun juga yang telah mematahkan hatinya.


Zidan bangkit dari duduknya, meraih kunci motornya dan meletakkan selembar uang merah di atas meja.


"Mau ke mana, Lo?" tanya Andre.


"Ada urusan, ini buat bayar minuman gue," ucapnya lalu berjalan ke arah parkiran.


Zidan mengeluarkan uang 2000an, memberikannya kepada tukang parkir lalu memakai helmnya dan melajukan motornya.


Zidan menepikan motornya mendekati wanita tersebut. Terlihat wanita itu sedang marah-marah entah kepada siapa.


"Ada yang bisa gue bantu?" tanyanya.


"Siapa ya?" tanya Lathifa.


"Apa lo butuh bantuan? Motor Lo kenapa?" ulang Zidan sekali lagi.


"Ban belakangnya pecah," jawab Lathifa.


Zidan memarkirkan motornya di dekat motor Lathifa lalu turun tanpa membuka helmnya.


"Coba sini gue lihat," ucap Zidan memeriksa ban motor Lathifa.


"Motor lo harus dibawa ke bengkel untuk diganti bannya," terang Zidan.


Namun nampaknya Lathifa tidak fokus dengan apa yang dibicarakan pria di depannya itu. Lathifa menatap lekat penampilan Zidan.


Pria jangkung dengan tubuh tinggi berisi, dengan setelan celana jeans sobek-sobek, kaos putih polos dibalut dengan jaket kulit hitam lengkap dengan helm full face berwarna merah-putih-hitam senada dengan motornya.


Lathifa terlihat berpikir, di mana ia pernah berjumpa dengan pria di depannya? Pria itu terlihat sangat familier di matanya.


"Woi! lo dengerin gue ngomong nggak sih?" kesal Zidan.


"Eh, Ehm ... Mas bilang apa tadi?"


"Motor lo harus dibawa ke bengkel."


"Aduh, gimana ya? Mana aku lagi buru-buru."


"Mau gue antar?" tawar Zidan.


"Eh nggak perlu Mas, nanti ngerepotin, Mas." Lathifa merasa ragu namun ia juga harus cepat sampai di kampus.


"Udah gak usah takut! Gue bukan orang jahat kok."


Lathifa menatap lekat ke arah Zidan, menilai apakah ucapan pria itu dapat di percaya.


"Entar motor lo biar teman gue yang mengurusnya. Lagian tempat ini jauh dari bengkel," ujar Zidan.


"Eh, tunggu dulu! Sepertinya aku kenal sama suara, Mas deh."

__ADS_1


"Masa sih? Salah orang kali lo."


"Yakin! Beneran deh, coba Mas buka dulu helmnya!"


Zidan membuka kaca helmnya dan mengedipkan satu matanya kepada Lathifa.


"Tuh kan! Kak Zidan mah jahil," kesal Lathifa.


"Kakak ke mana saja selama hampir dua bulan ini?"


"Ntar aja nanyanya. Ayo! Buruan gue antar. Katanya buru-buru lo."


Dengan ragu Lathifa mengiyakan ajakan Zidan karena ia harus mengejar waktu. Meskipun dihatinya masih merasakan perih karena ucapan Zidan waktu itu.


Zidan menghubungi Andre untuk mengurus motor Lathifa, lalu mereka berdua menaiki motor dan pergi dari tempat itu.


Di tengah perjalanan, di dalam sebuah mobil mewah terlihat dua pria berpakaian rapi lengkap dengan dasi dan jas berwarna hitam.


Raiyan dan Alwi yang saat itu akan menuju tempat pertemuan, tanpa sengaja berpapasan dengan Zidan yang berboncengan dengan Lathifa.


"Sepertinya itu di depan istri muda kamu, Al," ucap Raiyan.


"Terus aku harus ngapain? Palingan dia mau berangkat ke kampus," ucap Alwi tanpa menoleh ke arah Raiyan.


"Tapi itu dibonceng sama cowok, Al! Masa kamu diam saja sih."


Alwi yang tengah sibuk dengan ponselnya mengangkat kepalanya lalu matanya melihat ke arah dimana Raiyan menunjuk keberadaan istrinya.


Alwi menatap ke arah dua orang pria dan wanita tengah berboncengan motor sport merah bercorak hitam-putih yang melintas di depannya.


Alwi memfokuskan pandangannya, memastikan apakah benar wanita itu adalah istrinya.


"Biarkan saja dia," ucap Alwi dengan raut wajah yang susah untuk dibaca dan kembali fokus kepada ponselnya.


"Yakin kamu akan membiarkannya? Jangan kasih kendor, Al! Nanti kalo istrimu di ambil orang menyesal kamu. Secara kan, Lathifa itu masih muda, cantik, dan senyumnya itu loh, manisnya MasyaAllah," ucap Raiyan berniat menggoda sahabat sekaligus bosnya itu.


Plak.


Alwi menimpuk kepala belakang sahabatnya. "Ghadul bashar! Jaga mata kamu!" tegas Alwi.


"Ck, iya-iya pelit amat, sama sahabat sendiri."


"Makanya cepat kamu cari istri, kamu tidak capek selalu kabur dari tante Sofi?"


"Apa kamu masih berharap kepadanya?" tanya Alwi.


"Hmm."


"Kamu tahu kan, tradisi di keluargaku? Kemungkinan besar dia juga sudah dijodohkan dengan pilihan orang tuanya."


"Sebelum janur kuning melengkung, masih bisalah ... akan aku perjuangkan cintaku! Walaupun sekedar menyebut namanya di setiap sepertiga malamku. Semoga keajaiban akan segera datang."


"Tapi, dia baru saja lulus SMA, Rai. Kamu mau disebut pedofil?" tanya Alwi, tanpa mengaca kepada dirinya sendiri.


"Kagak sadar dirinya juga pedofil," ucap Raiyan lirih.


"Kamu bicara apa?"


"Enggak, nggak ada."


...*****...


Setelah selesai dengan kuliahnya, seperti biasa, Lathifa akan mampir ke Hafa Resto untuk membantu ibunya.


Walaupun statusnya sudah menjadi seorang istri dan tinggal di rumah suaminya. Lathifa masih sering membantu ibunya mengelola restoran.


Sebenarnya, uang pemberian dari suaminya lebih dari cukup untuk menghidupi dirinya dan ibunya, namun restoran ini satu-satunya harta yang ditinggalkan oleh almarhum ayahnya.


Jadi, sebisa mungkin Hana masih mempertahankan untuk menjalankan amanah dari suaminya itu. Apalagi ada banyak keluarga yang menggantungkan nasibnya dari Hafa Resto.


Lathifa terlihat sibuk di belakang meja kasir, ia tersenyum ke arah dua orang pemuda yang baru masuk dan melambaikan tangan ke arahnya.


"Hai, apa kabar Cil?" sapa Andre.


"Alhamdulillah, baik. Kabar Kak Andre gimana?" tanya Lathifa.


"Baik. Lama nggak ketemu, kapan lo ikut tanding lagi, Cil?"


"Mau pesan apa Kak?" tanya Lathifa mengabaikan pertanyaan dari Andre.


"Udah insaf dia, tak perlu susah-susah ikut balapan, minta sama suaminya aja langsung dikasih berapa pun yang dia mau," ucap Zidan.

__ADS_1


"Wah, dengar-dengar suami lo orang tajir ya Cil. Pengusaha keturunan Arab ya," ucap Andre tak dihiraukan oleh Lathifa.


Lathifa memanggil salah satu karyawannya untuk menggantikannya. kemudian ia berjalan ke arah meja yang berada dipojok ruangan diikuti kedua pria yang berjalan di belakangnya.


Mereka duduk melingkar di kursi masing-masing. Lathifa memanggil salah satu waiters yang sedang lewat dan memesankan minuman serta beberapa camilan untuk kedua pria di depannya.


Mereka bertiga mengobrol membahas banyak hal. Zidan meminta maaf atas perkataannya waktu itu, Lathifa pun memaafkannya. Toh, tidak ada gunanya mengungkit masa lalu.


"Gue ke toilet dulu," pamit Andre berjalan meninggalkan meja mereka.


Di saat bersamaan, dari arah pintu masuk terlihat Alwi diikuti Raiyan di belakangnya berjalan ke arah meja Lathifa.


Alwi datang untuk menjemput Lathifa karena permintaan Anisa. Anisa mengatakan bahwa Lathifa tidak membawa motor karena ada orang bengkel yang mengantarkan motor ke rumahnya dan Anisa tidak bisa menjemput Lathifa.


Niat hati ingin menjemput istri mudanya, seketika ia urungkan karena melihat gadis itu tengah asyik bercanda dengan seorang pria.


Tanpa berkata, Alwi memutar tubuhnya dan hampir saja Raiyan menabraknya jika refleksnya kurang bagus.


"Buset dah ... sial*n! Kalau mau balik ngomong dong!" kesal Raiyan.


Alwi tak menghiraukan Raiyan. Ia terus berjalan ke luar menuju tempat di mana mobilnya terparkir dan langsung masuk ke dalam mobil.


Raiyan bergegas mengejar bosnya, dan ikut masuk ke dalam mobil.


"Katanya mau jemput istri mudamu?" Raiyan memasang seat beltnya melihat Alwi sudah bersiap melajukan mobilnya.


"Enggak jadi," ucap Alwi singkat.


"Tapi, Lathifa tadi masih ada di dalam, Al."


"Dia bukan anak kecil, Rai. Dia bisa pulang sendiri."


"Tapi Al-"


"Diam! Berisik kamu!" seru Alwi.


Raiyan memilih diam melihat wajah bosnya yang tidak bersahabat.


Alwi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di rumah dan meredakan emosinya.


Entah apa yang terjadi dengan dirinya, Alwi bingung kenapa ia merasa tidak suka melihat istri mudanya itu tertawa lepas di depan pria lain.


...*****...


Lathifa turun dari motor Zidan. Tadi Lathifa ingin pulang naik taxi, namun Zidan memaksa untuk mengantarkannya pulang sebagai tanda permintaan maafnya.


Lathifa melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah suaminya. ia mengucapkan salam, dan bergegas menuju kamarnya.


"Dari mana kamu?" Suara berat Alwi menghentikan langkah Lathifa.


Lathifa menoleh ke arah Alwi. "Dari restoran."


"Restoran atau pacaran?" sindir Alwi.


"Apaan sih, enggak jelas banget," ucap Lathifa kemudian melanjutkan langkahnya.


"Ingat status kamu Lathifa!" teriak Alwi.


Lathifa kembali menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap suaminya.


"Memangnya status apa? Aku kan masih pelajar." Lathifa menautkan alisnya bingung.


"Kamu itu seorang istri, Lathifatunnisa!"


"Aku tahu jika statusku seorang istri? Terus apa masalahnya dengan statusku?" ucap Lathifa dengan menekankan kata status.


"Kalau kamu sadar akan statusmu, kamu tidak akan merendahkan dirimu dengan berduaan bersama seorang laki-laki selain suami kamu."


"Apa maksud Anda?"


"Kalau kamu tidak menginginkan pernikahan ini, bilang padaku! Aku pasti akan menceraikanmu jika kamu menginginkan hal itu."


Tubuh Lathifa membeku, otaknya sibuk mencerna perkataan suaminya itu.


"Pantaskah disebut sebagai seorang istri jika di luar sana sibuk bermesraan di atas motor bersama pria lain? Bahkan tanpa rasa malu duduk berduaan dan tertawa lebar di depannya." Alwi bangkit dari duduknya, lalu melangkah ke arah Lathifa.


"Belajarlah tentang agama lebih dalam lagi kepada Anisa!" Alwi berlalu melewati istrinya begitu saja.


'Istri? Istri apa? Istri pajangan? Istri di atas kertas?' gerutu Lathifa di dalam hati.


Ingin sekali Lathifa berteriak dan memaki suaminya itu, namun ia takut jika Anisa akan mendengar teriakannya.

__ADS_1


'Kenapa Anda menuntut aku untuk menjadi seorang istri yang shalihah? Sedangkan Anda sendiri tak pernah menganggap aku sebagai seorang istri.'


__ADS_2