Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Rindu


__ADS_3

“Syafakillah, Mbak,” ucap Zahran yang berdiri di samping ranjang Anisa.


“Jazakillahu Khairan, Dek.” Anisa menjawabnya lirih, senyuman manis merekah di wajahnya melihat adik sepupu yang sudah ia anggap seperti adik sendiri baginya.


“Cepat sembuh, Mbak. Apa Mbak Anisa tidak kangen mengomeli aku lagi?” tanya Zahran menggoda, ia mengingatkan kakak sepupunya itu tentang bagaimana Anisa yang sering memarahinya karena keusilan pemuda itu.


“Mbak capek memarahi kamu, kamu sudah dewasa, Dek. Jangan terlalu sering membuat pusing umi dan Abi,” ucap Anisa membuat keduanya melirik ke arah dua orang paruh baya yang tengah duduk di sofa.


Zahran tersenyum memperlihatkan deretan giginya mendengar nasihat kakaknya itu, ia sadar jika sikapnya sering membuat umi Maryam dan ustadz Hamdan harus ekstra sabar menghadapinya.


“Lekaslah menikah jika sudah ada calon, jangan menunda-nunda untuk menyempurnakan ibadah kamu.”


“Iya, Mbak. Tenang saja, nanti aku pasti akan menikah jika sudah waktunya,” jawab Zahran tersenyum menenangkan hati kakaknya, walaupun hatinya sedikit merasa sesak mengetahui bahwa wanita yang sempat membuatnya terpikat ternyata madu dari kakak sepupunya.


‘Andaikan mbak Anisa tahu jika aku pernah tertarik dengan gadis bernama Lathifa, maafkan aku, mbak. Waktu itu aku tidak mengetahui jika gadis itu istri dari suami Mbak.’ batin Zahran pilu.


“Zahra juga datang ingin menjenguk Mbak Nisa,” ucap Zahran mengalihkan pembicaraan.


“Mana?” tanya Anisa lemah.


“Mungkin sebentar lagi sampai, Mbak. Tunggu ya.”


Hari ini semua keluarga besar Anisa berkunjung ke rumah sakit ingin melihat kondisi Anisa, baik keluarga dari pesantren maupun orang tua Alwi.


Semuanya berkumpul tanpa direncanakan terlebih dahulu, meskipun tidak semua keluarganya bisa masuk ke dalam kamarnya secara bersamaan, namun Anisa merasa bahagia bisa melihat keberadaan orang-orang yang ia sayangi hari ini.


“Sayang, aku mau ketemu Dokter dulu,” pamit Alwi kepada Anisa yang masih fokus mendengarkan cerita Zahran.

__ADS_1


“Hmm,” jawab Anisa pelan, ia harus menghemat tenaganya.


“Aku akan segera kembali.” Alwi mengecup kening istrinya sebelum meninggalkan kamar tersebut.


Pintu kamar telah tertutup rapat, Zahran memastikan bahwa Alwi benar-benar sudah keluar.


“Mas Alwi sangat bucin ya, Mbak,” ucap Zahran tersenyum jahil menggoda kakaknya itu. Meskipun kondisi kakaknya sedang lemah, namun sikap jahil Zahran yang sudah mendarah daging tak bisa ia tahan dan sembunyikan.


“Makanya kamu cepat menikah biar bisa bermesraan dengan istrimu,” ledek Anisa membuat Zahran merasa kesal.


Ustadz Hamdan dan umi Maryam yang sedari tadi duduk mengamati keduanya ikut tersenyum melihat wajah kesal Zahran. Sedari tadi pemuda tersebut menghindari pembicaraan seputar pernikahan, namun tetap saja perkataannya berujung membicarakan soal pernikahan.


Anisa pun tersenyum senang melihat wajah Zahran, sudah lama ia tidak bersenda-gurau bersama sepupunya.


“Assalamualaikum ....”


Terdengar suara salam diiringi dengan pintu kamar yang terbuka, tak lama kemudian muncul sepasang suami istri dari balik pintu.


“Kalian sudah datang, ayo masuk, Nak.” Umi Maryam mempersilakan Zahra dan Zain untuk masuk ke dalam.


Zahra memberikan buket bunga ditangannya kepada kakaknya lalu berjalan menghampiri umi Maryam dan ustadz Hamdan diikuti oleh suaminya di belakangnya, mereka mencium tangan umi Maryam dan ustadz Hamdan bergantian dilanjut dengan Zahran.


“Apa kabar, Mbak. Semoga lekas sembuh,” ucap Zahra setelah berada di samping ranjang Anisa.


Anisa tersenyum melihat kehadiran sepupunya yang wajahnya sangat mirip dengannya itu. “Alhamdulillah, terima kasih atas doanya, Ra.”


Zahra tersenyum melihat Anisa yang terbaring lemah di depannya, meskipun bibirnya tersenyum, namun hati Zahra merasa sedih melihat kondisi kakak sepupunya itu.

__ADS_1


Zahra meraih tangan Anisa lalu mengusapnya pelan, ia yakin tangan putih yang tertusuk jarum setiap hari itu pasti terasa begitu kaku. “Mbak Anisa pasti akan segera sembuh.”


Anisa menghentikan tangan Zahra lalu menggenggamnya perlahan. “Aku senang melihat kamu, Ra. Terima kasih sudah menjengukku.”


Tiba-tiba senyum yang sedari tadi menghiasi wajah Anisa perlahan memudar, Anisa melihat sosok Lathifa dalam bayangan Zahra. Begitu besar rindu yang ia rasakan untuk Lathifa, sosok wanita yang ia seret dalam kisah percintaannya dengan sang suami.


“Mbak,” panggil Zahra pelan, ia merasa takut melihat perubahan wajah kakaknya.


“Aku tidak apa-apa, Ra. Hanya saja ....” Anisa mengantungkan kalimatnya, matanya berkaca-kaca menatap langit-langit kamar, ia tahan cairan bening di pelupuk netranya. Anisa tidak mau menitikkan air matanya di depan orang-orang.


“Apa Mbak Anisa menginginkan sesuatu?” tanya Zahra khawatir.


“Aku hanya teringat dengan Lathifa.” Anisa menghela napas begitu berat. “Aku melihatnya dalam diri kamu.”


Mungkin karena rasa rindunya yang teramat besar kepada Lathifa, Anisa terbayang sosok Lathifa dengan melihat Zahra di depannya, karena Zahra seumuran dengan Lathifa.


Zahra yang sudah mendengar tentang cerita pernikahan poligami kakak sepupunya tersebut merasa kasihan dengan kisah mereka. Meskipun dulu dirinya juga menjadi istri kedua dari suaminya, namun kini hanya dirinyalah istri satu-satunya untuk sang suami, yaitu Zain Malik.


Samar-samar Anisa melihat wajah Zahra yang basah oleh air mata. “Kenapa kamu menangis, Ra?”


“Tidak apa-apa, Mbak,” jawab Zahra cepat.


Tangan Anisa mengusap pipi Zahra pelan. “Bolehkah aku meminta tolong padamu, Ra?”


“Apa saja, Mbak. Selagi aku masih mampu untuk memenuhinya,” ucap Zahra lalu tangannya meraih jemari Anisa yang masih menempel di pipinya dan menggenggamnya pelan.


“Berjanjilah, bantu aku, Ra.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2