
Dua bulan berlalu, sejak kejadian malam itu, Lathifa tidak pernah lagi melihat keberadaan motornya. Entah di mana suaminya itu menyembunyikan motornya.
Alwi yang awalnya cuek akan rencana Anisa untuk membelikan sebuah mobil untuk Lathifa. Namun, keesokan harinya dan tanpa persetujuan dari kedua istrinya, Alwi sendiri yang memilih dan membeli sebuah mobil mewah untuk istri mudanya itu.
Alwi memanggil guru privat mengemudi untuk Lathifa dan syarat utamanya haruslah seorang wanita.
Selama Lathifa belum benar-benar bisa mengendarai mobilnya sendiri, Alwi menyuruh pak Ahmad untuk selalu mengantar jemput Lathifa ke mana pun dia pergi lalu melaporkannya kepada Alwi.
"Mbak, tolong bilangin sama suami, Mbak. Biarkan saya memakai motor dulu untuk sementara," ucap Lathifa.
"Suami kamu juga kali, Fa."
"Ah, Mbak Nisa mah gitu ... Mbak tega lihat saya selalu jadi pusat perhatian setiap hari?" kesal Lathifa.
"Dinikmati saja, Fa! Kapan lagi kamu dijadikan seperti cinderella? Setiap saat ada yang mengantar jemput kamu." Anisa terkekeh kecil.
"Mbak ...."
"Sudah-sudah jangan cemberut gitu, nanti cantiknya kabur dari wajah kamu karena takut."
"Mbak Nisa mah, bercanda terus. Saya malu Mbak, selalu diejek teman-teman." Lathifa menyusun piring-piring yang baru ia cuci di atas rak.
Lathifa merasa kesal atas perlakuan suaminya itu, karena ia merasa selalu diawasi dan tidak bisa bebas melakukan kegiatannya.
Namun tidak bagi Anisa, Anisa merasa senang akan perubahan suaminya kepada madunya tersebut.
Alwi sejak kemarin pergi ke Mesir untuk urusan bisnis selama satu minggu. Tentu saja ditemani oleh Raiyan yang selalu setia mendampinginya setiap kali Alwi melakukan perjalanan bisnis.
Meskipun ayahnya masih bisa menghandle perusahaan di Mesir, namun Alwi rutin berkunjung ke negara piramida tersebut setidaknya dua atau tiga kali dalam satu tahun.
"Sudah selesai, Fa?" tanya Anisa sibuk memasukkan beberapa barang untuk di bawa ke restoran.
"Sudah, Mbak. Mbak bawa apa?"
"Ini ada oleh-oleh buat ibu dan anak-anak, Fa."
Selesai sarapan, Lathifa dan Anisa bersiap pergi ke Hana Resto untuk menghabiskan weekend dengan membantu Hana di restoran.
"Kita pakai mobil kamu saja ya, Fa. Sekalian saya ingin melihat kemajuan mengemudi kamu," ucap Anisa.
"Tapi Mbak, saya masih grogi."
"Pelan-pelan saja. Kan, ada saya di sebelah kamu, Fa."
"Baiklah Mbak," ucap Lathifa pasrah.
Lathifa duduk di belakang kemudi, ia terlihat fokus, sesekali Anisa memberikan sedikit arahan kepada Lathifa. Anisa menyuruh Lathifa untuk merilekskan tubuhnya.
Sesampainya di depan Hafa Resto, mereka segera keluar dari mobil dan bergegas untuk masuk ke dalam restoran.
"Kemampuan mengemudi kamu semakin bagus, Fa. Mungkin sebentar lagi mas Al akan mengizinkanmu membawa mobil sendiri," puji Anisa.
"Saya masih harus banyak belajar, Mbak."
"Jangan menyerah, kamu sudah berusaha. Ingatlah! Usaha tidak akan pernah berkhianat, Fa."
__ADS_1
Anisa bersikeras ingin membantu di restoran, ia tidak ingin hanya duduk dan mengamati saja.
Lathifa tidak ingin membuat madunya itu kelelahan. Maka dari itu, ia meminta Anisa untuk menjaga di meja kasir. Tak mungkin menyuruhnya untuk menjadi seorang waiters.
Restoran terlihat begitu ramai, membuat Lathifa dan semua karyawan sibuk melayani para pengunjung.
"Maaf, Mbak. Apakah saya bisa bertemu dengan pemilik tempat ini?" tanya sosok laki-laki yang berdiri di depan meja kasir.
Anisa menatap lekat orang di depannya, seorang pria berbadan tinggi, gagah, rahang tegas dengan jambang yang sedikit lebat menghiasi wajahnya.
Pria berpeci putih dengan setelan baju koko dan celana kain hitam. Di sebelahnya berdiri seorang wanita dengan pakaian syar'i lengkap dengan cadar menutupi wajahnya.
"Maaf, ada keperluan apa Anda mencari pemilik tempat ini?" tanya Anisa sopan.
"Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan beliau, Mbak."
"Maaf, Mas. Apakah Anda sudah membuat janji dengan beliau?" tanya Anisa.
"Belum Mbak. Katakan saja bahwa Rusdi keponakannya ingin bertemu."
"Mohon tunggu sebentar, Mas."
Anisa memanggil Lathifa yang kebetulan melintas di dekat mereka.
"Fa! Sini!" ucap Anisa sedikit keras.
Lathifa menoleh dan mendekat ke arah meja kasir. "Ada apa, Mbak?"
"Ini ada orang mencari ibu. Katanya, keponakan dari pemilik tempat ini," ucap Anisa menunjuk sepasang suami istri di depannya dengan ibu jarinya.
Pyar.
Lathifa menjatuhkan nampan beserta isinya setelah melihat wajah orang tersebut. Rahangnya mengeras, ingatan beberapa tahun silam melintas di depan matanya.
Suara benda jatuh mengalihkan perhatian semua orang di dalam restoran menatap ke arah mereka.
"Mau apa kamu ke sini? Pergi!" teriak Lathifa.
"Fa!" Anisa panik melihat perubahan wajah Lathifa yang memerah karena menahan emosi.
Hana datang menghampiri mereka karena mendengar adanya keributan.
"Ada apa ini?"
"Budhe," panggil Rusdi.
Hana menengok ke arah suara yang memanggilnya. "Ru-rusdi."
Tubuh Hana bergetar, ia mundur dua langkah ke belakang. Sekilas ingatan buruk beberapa tahun silam yang ingin ia kubur dalam-dalam berkelebat memenuhi isi kepalanya.
"Budhe." Rusdi mendekat ingin menyalami tangan budhenya.
"Berhenti!"
Rusdi menghentikan langkahnya, hatinya sakit melihat budhenya menolaknya. Entah kesalahan sebesar apa yang telah dilakukan Rendi adiknya kepada keluarga budhenya, sehingga membuat mereka trauma hanya dengan melihatnya saja.
__ADS_1
Wajah Rusdi dan Rendi memang sangat mirip, bagaikan pinang di belah dua. Yang membedakan adalah kulit wajah Rusdi yang lebih bersih dan terawat.
Anisa yang melihat keadaan Lathifa dan ibunya yang tidak baik-baik saja, menyuruh beberapa karyawan untuk membawa mereka naik ke lantai dua.
"Mbak, tolong bersihkan pecahan gelas ini ya! Hati-hati jangan sampai melukai tangan kamu," ucap Anisa kepada salah satu karyawan.
Anisa mengajak Rusdi dan istrinya untuk duduk disalah satu meja dan memesankan minuman untuk mereka.
"Maaf, Mas. Sebaiknya kalian datang lain kali saja!" ucap Anisa.
"Maaf, jika kehadiran kami menyebabkan kekacauan di tempat ini," ucap Rusdi penuh penyesalan.
"Maaf sebelumnya, apakah Mas ini kakaknya Rendi?"
Rusdi terkejut. "Mbak mengenal adik saya?"
"Hmm, sebenarnya saya hanya mengenal Rendi dari cerita bu Hana dan Lathifa. Sekali lagi saya minta maaf, bukan maksud saya untuk ikut campur dalam urusan keluarga kalian. Hanya saja, sebaiknya masalah ini dibicarakan lain waktu setelah ibu Hana merasa lebih tenang."
"Mbak saya hanya sebentar di negara ini, lusa saya dan istri saya harus kembali ke Dubai. Karena saya hanya diberikan izin cuti hanya beberapa hari saja," jelas Rusdi.
"Maaf Mbak, saya menyela. Jika boleh, tolong Mbak bujuk budhe Hana ya, kami ingin menyelesaikan masalah ini sebelum kembali ke Dubai," ucap istri Rusdi.
Anisa terlihat berpikir sejenak. "Sebentar ya, Mbak. Saya coba dulu bicara dengan ibu Hana, semoga ibu Hana mau menemui kalian."
...*****...
Ruangan dengan luas 9 m² itu terasa panas walaupun AC sudah dinyalakan dengan suhu terendah. Mereka duduk di atas lantai hanya beralaskan hamparan karpet berwarna hijau dengan ukuran 2x3 meter.
Ruangan tanpa meja ataupun kursi di dalamnya. Hanya ada sebuah televisi menempel di dinding, ruangan yang biasanya digunakan untuk berkumpul para karyawan di malam hari setelah selesai bekerja.
Hana duduk di tengah di antara Lathifa dan Anisa, di seberang Rusdi dan istrinya duduk bersebelahan berpegangan tangan saling memberikan semangat.
Setelah 30 menit lamanya mereka hanya duduk diam tanpa pembahasan apa pun. Rusdi memutuskan untuk memulai membuka suaranya.
"Budhe. Rusdi minta maaf atas nama adik dan ibuku." Rusdi menatap Hana.
Hana memalingkan wajahnya, ia tidak ingin menatap wajah Rusdi karena takut tidak bisa mengontrol emosinya.
'Seberapa besar luka yang Rendi goreskan di hati budhe? Hingga membuat budhe enggan hanya sekedar untuk melihat wajahku,' batin Rusdi.
"Bhude, pakdhe Hadi dimana? Rusdi ingin bertemu pak dhe."
Anisa melirik Lathifa sekilas, lalu ia menatap Hana yang wajahnya semakin memucat dengan mata yang berkaca-kaca.
"Untuk apa Om ingin bertemu dengan bapak?" tanya Lathifa.
"Om ingin meminta maaf kepada bapakmu Thif, bapak ada di mana?"
"Bapak tidak ada di sini!" ketus Lathifa.
"Lalu di mana bapakmu, Lathif?" tanya Rusdi tidak sabar.
"Sampai kapan pun, Om tidak akan pernah bisa bertemu dengan bapak!"
Hana menggenggam tangan Lathifa, mengisyaratkan agar putrinya tidak terbawa emosi.
__ADS_1
Rusdi menautkan alisnya bingung. "Apa maksudmu?"