Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Tragedi


__ADS_3

Dua hari kemudian, setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan oleh Alwi, pagi-pagi sekali Raiyan mengunjungi rumah sakit untuk bertemu langsung dengan atasannya itu.


Alwi berdiri di dekat jendela sengaja menjauh dari tempat istrinya berbaring, di depannya sudah berdiri Raiyan sang sahabat serta asistennya yang setia menemaninya dalam setiap keadaan. Alwi tidak ingin pembicaraan mereka mengganggu Anisa yang tengah beristirahat.


“Aku mendapatkan ini dari mbak Maya, Al. Karyawan yang dulu bekerja lama dengan orang tua Lathifa,” ucap Raiyan sembari menyerahkan selembar foto serta secarik kertas yang menuliskan sebuah alamat.


Alwi menerima lembaran tersebut dan mengamatinya, foto yang menggambarkan dua sosok remaja dengan pakaian seragam sekolah masing-masing. Sang pria dengan seragam putih abu-abunya serta senyum manis di wajahnya tengah menggendong sosok gadis kecil dipunggungnya, gadis dengan seragam merah putih yang juga memperlihatkan senyumannya, terlihat jelas raut kebahagiaan di wajah keduanya.


Deg.


Alwi mengenali sosok pemuda itu, sosok yang pernah menyelamatkan hidup istrinya lima tahun silam.


“Mbak Maya bilang, ini foto terakhir yang mereka miliki, karena Hafiz tidak suka berpose di depan kamera,” ucap Raiyan menjelaskan.


Alwi fokus dengan wajah gadis remaja dalam gendongan Hafiz, meskipun tubuh gadis dalam foto tersebut terlihat lebih berisi dan wajahnya terlihat lebih cubby. Namun Alwi bisa mengenali bahwa gadis itu adalah Lathifa sewaktu kecil.


“Dan ini foto almarhum ayahnya.” Raiyan menunjukkan sebuah foto dari latar ponselnya, ia juga mendapatkannya dari Maya.


“Allahu Akbar.” Alwi semakin terperangah melihat wajah almarhum pak Hadi, masih tersimpan dengan jelas dalam ingatannya sosok yang dulu begitu tenangnya menerima kematian putranya.


5 tahun lalu,


Hari itu langit mendung, awan hitam terlihat bergerombol di atas sana. Udara terasa sedikit dingin karena gerimis kecil yang turun sejak pagi membasahi kota.


Di dalam sebuah cafe terlihat seorang pemuda dengan setelan formalnya, duduk di dekat jendela kaca, matanya fokus dengan laptop yang berada di atas meja.


Ting.


Sebuah notifikasi dari ponselnya mengalihkan perhatiannya, ia melirik dengan ekor matanya layar ponsel yang menyala itu.


Melihat nama yang muncul di layar tersebut, pemuda itu segera meraih ponselnya dan membuka pesan itu.


[Aku sudah selesai, Mas. Aku akan menghampiri kamu ke sana.]


Dengan cepat pemuda itu mengetikan balasan pesan singkat tersebut.


[Biarkan aku yang menjemputmu, tunggulah di dalam gerbang kampus.]


Usai mengirim balasan, pemuda itu memasukkan ponselnya ke dalam kantong jasnya lalu membereskan laptop serta beberapa berkas yang ada di atas meja.


Pemuda itu berjalan ke luar meninggalkan cafe yang sedari tadi menjadi tempatnya menyelesaikan pekerjaannya sembari menunggu istrinya menyelesaikan jam kuliahnya.


Dari seberang jalan, ia melihat seorang wanita berpakaian syar’i tengah berdiri di tepi jalan tengah melambaikan tangannya.


Pemuda itu adalah Alwi, semenjak istrinya mengandung buah hatinya. Ia selalu menyempatkan waktu untuk mengantar jemput istrinya pergi kuliah.


Meskipun usia keduanya masih sangat muda, karena perjodohan dan adat keluarganya, Alwi menikah usai menyelesaikan pendidikan S1-nya sedangkan Anisa masih kuliah di semester terakhirnya.


Alwi berhenti di tepi jalan karena menunggu lampu menyala hijau untuk para pejalan kaki, ia membalas lambaian istrinya dan terus mengawasinya.

__ADS_1


‘Bukannya aku menyuruhnya untuk menunggu di dalam, kenapa keluar?’ tanya batin Alwi.


Ketika Alwi hendak melangkah kakinya, terdengar suara bising klakson mobil dari arah kanannya. Serta terdengar teriakan seseorang beruang kali dengan kata yang sama.


“AWAS MINGGIR, REM BLONG!!”


“AWAS!!”


Sebuah mobil kontainer dengan bok berwarna biru meluncur dengan sangat cepat menuju ke arah bawah.


BRAK!


DUAR!


TIIIIIINNNN!!!!


Suara dentuman keras berhasil mengejutkan seluruh manusia yang sedang beraktivitas di pinggir jalan. Sura itu susul menyusul dengan decitan rem kendaraan, klakson serta riuh suara teriakan orang-orang disekitar.


“Astaghfirullah!”


“Ada tabrakan!”


“Kecelakaan, cepat tolong mereka!”


Mobil kontainer besar itu terperosok menerobos pinggiran jalan, mobil Avanza putih dari arah berlawanan banting setir ke arah kanan. Empat sampai lima mobil dan motor juga saling beradu karenanya.


“Tolong! Tolong!” warga sekitar mengerubungi tempat kejadian.


“Ya Allah Gusti! Tolong ada yang tersangkut di bawah truk!”


“Innalillah, ada yang meninggal!”


Jalanan yang sedikit berbelok dan sedikit menanjak itu memang kerap kali memakan korban jiwa.


Teringat bahwa ia kehilangan sosok istrinya yang sedari tak luput dari pengawasannya. “A-anisa ....”


Alwi memaksa kakinya yang terasa membeku melangkah mendekati kerumunan. Jantungnya berdegup kencang berharap istrinya akan baik-baik saja.


“Korbannya ada wanita hamil, cepat tolong!”


Alwi bergegas mendekati kerumunan asal suara itu, matanya merah berkaca-kaca, tak bisa membayangkan jika wanita hamil itu adalah istrinya.


“Tidak! Tidak mungkin,” gumam Alwi ketika mengenali sosok tersebut.


Alwi berlari menerobos kerumunan untuk mencapai istrinya yang terkapar di jalan dengan darah yang sudah menggenang.


“Mas awas! Jangan mendekati tempat kecelakaan!” Sebuah tangan menghalau Alwi dan memintanya menyingkir ke tepi.


“JANGAN HALANGI SAYA! DIA ISTRI SAYA!” teriak Alwi.

__ADS_1


Kaki Alwi semakin bergetar seiring langkahnya yang semakin mendekati Anisa, bau amis dan anyir semakin pekat di penciumannya.


Cipratan dari genangan air karena hentakan langkah warga yang membantu polisi membereskan keadaan tak lagi bercampur tanah, melainkan sudah berganti dengan darah.


Alwi semakin pucat, air mata tak lagi bisa dibendungnya. Ia tak memedulikan tanggapan orang-orang yang melihatnya menangis. Hatinya remuk tak siap menerima kenyataan.


Alwi berlutut, tangannya meraih wajah istrinya yang terlihat sangat pucat. Ia bawa kepala Anisa dalam pangkuannya.


“A-nisa, bangunlah. Aku disini, Sayang, bangun!” Alwi melihat gamis Anisa yang berwarna silver itu telah bercampur warna merah kecokelatan.


“Sayang, ini aku, suami kamu ... aku disini.” Alwi mengusap pipi istrinya begitu lembut.


Anisa tak sepenuhnya menutup matanya, ia masih memiliki sedikit kesadaran. Bibirnya sedikit bergerak seakan ingin mengucapkan sesuatu membuat Alwi menyadarkan istrinya. “Nis, dengar suara aku, Sayang! Bangun ....”


“Mas,” panggil Anisa begitu lirihnya membuat Alwi terpaksa harus menempelkan wajah mereka.


“Ma ... maaf ....”


“Ssstt, kamu tidak salah apa-apa, bertahan sebentar lagi ya ... sebentar lagi ambulan datang,” ucap Alwi disela tangisannya.


“A-anak kita ...”


“Ssst.. jangan pikirkan itu.”


“U-capkan ma-kasih pada pe-muda yang menolongku,” ucap Anisa tersengal-sengal.


Tak lama kemudian beberapa ambulans tiba dan segera mengevakuasi korban, termasuk Anisa dan membawanya masuk ke dalam ambulans.


“Al! Malah bengong diajak bicara!” tegur Raiyan merasa kesal diabaikan oleh Alwi yang teringat kejadian 5 tahun silam.


“Maaf, aku hanya teringat kejadian waktu itu.” Alwi menghela napas panjang.


“Aku teringat ketika bertemu dengan beliau,” ucap Alwi mengingat sosok mantan ayah mertuanya. “Betapa besarnya hati beliau, bahkan sedikit pun tak menyalahkan Kami. Bahkan menolak uang dari kami.”


“Aku masih teringat jelas, beliau mengatakan ‘Tak perlu menyalahkan siapa pun, semua ini sudah kehendak dari Allah. Kita sama-sama kehilangan anak kita, bapak turut berduka, dan banyak-bayaklah kamu bersabar. Kamu masih muda, insya Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik’.”


Sejenak keduanya terdiam, hingga suara lirih Anisa memecah keheningan.


“M-mas.”


Alwi mendekat, ia belai wajah istrinya. “Sudah bangun?”


“Aku ingin ziarah ke makam ayah Lathifa dan Hafiz,” pinta Anisa membuat Alwi terdiam, ia tidak bisa memberikan jawaban pasti kepada istrinya itu.


“Mas,” bujuk Anisa.


“Nanti aku akan minta izin sama dokter dulu, ya,” jawab Alwi tak tega melihat wajah memohon istrinya.


Anisa tersenyum mendengar jawaban suaminya, meskipun senyumanya tak terlihat jelas karena terhalang masker oksigen di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2