
Lathifa keluar dari kamarnya dan bersiap untuk pergi ke kampus. Meskipun masih terbayang-bayang dengan kejadian yang menimpanya di kantin sebulan yang lalu, Lathifa berusaha untuk tetap tenang dan mengabaikan penilaian beberapa mahasiswa yang masih menganggapnya bersalah.
Seminggu setelah kejadian itu pun Chaca datang menemuinya dan meminta maaf atas perbuatannya. Mereka kembali berbaikan, meskipun hubungan mereka tidak sedekat waktu bersama dulu. Namun mereka tetap berteman, Lathifa pun sudah memaafkan kesalahan Chaca.
Anisa melihat Lathifa yang sudah rapi dengan setelan trendy remaja masa kini. Ia menatap penampilan Lathifa dari atas sampai bawah.
“Kamu mau berangkat ke kampus sekarang?”
“Iya, Mbak. Kenapa?”
“Boleh saya minta tolong, Fa?”
“Minta tolong apa, Mbak?”
“Antarkan berkas ini ke kantor mas Al, ya!” Anisa menyodorkan sebuah map coklat ke tangan Lathifa.
“Tapi ....”
“Please! Saya buru-buru harus menghadiri seminar di luar kota, Fa.”
Lathifa merasa bingung, ia belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di kantor suaminya, lalu ia menganggukkan kepalanya dengan ragu.
“Terima kasih, Fa. Kamu antar terlebih dahulu sebelum ke kampus, ya. Urgen!”
“Insya Allah, saya berangkat dulu, Mbak.” Lathifa pamit dan menyalami tangan Anisa.
“Tunggu, Fa!” Anisa menghentikan Lathifa karena mengingat sesuatu.
“Apa ada lagi?”
“Enggak. Tapi, kamu yakin mau ke kantor mas Al dengan pakaian seperti itu?”
Lathifa menautkan alisnya. “Ada yang salah dengan penampilan saya?”
“Emm, tidak. Hanya saja-”
“Sudah ya, Mbak. Aku buru-buru.” Lathifa memotong perkataan Anisa dan berlalu meninggalkan Anisa.
“Tapi, Fa! Mas Al pasti akan marah melihat pakaianmu!” seru Anisa namun percuma karena Lathifa sudah menghilang dari pandangannya.
Anisa menepuk keningnya pelan, berharap Lathifa tidak mendapat ceramah dari suaminya masalah pakaian yang Lathifa pakai untuk ke sekian kalinya.
...*****...
Lathifa memarkirkan mobilnya di depan lobi perusahaan suaminya. Namun, seorang security mendatanginya dan menegurnya.
“Maaf, Mbak tidak boleh parkir di sini!” tegur security.
“Saya cuma sebentar saja, Pak."
“Tapi di sini tempat parkir atasan perusahaan, Mbak. Anda bisa parkir di sebelah sana.” Security itu menunjukkan tempat parkir untuk tamu.
“Saya buru-buru, Pak.” Lathifa tetap tidak mau mengalah.
“Tapi, Anda tidak bisa parkir sembarangan di sini, Mbak.” Security itu masih menahan Lathifa.
“Bapak tidak tahu siapa saya? Nanti saya laporkan Bapak biar di pecat dari perusahaan ini.”
“Memangnya Mbak siapa?” tanya security itu santai.
“Saya?” Lathifa bingung ingin menjawab apa, tidak mungkin dia bilang bahwa dia adalah istri ke dua pemilik perusahaan ini. Mertuanya saja tidak tahu bahwa dia adalah menantunya, apalagi orang lain.
“Iya. Mbak siapa?” ulang security itu.
“ Eh, em anu, Pak.” Lathifa mencoba mencari solusi. “Saya adiknya pemilik perusahaan ini, Pak.” Lathifa berusaha meyakinkan security itu.
“Oh ....” security itu mangut-mangut.
Lathifa memanfaatkan keadaan itu untuk berlari masuk ke dalam lobi perusahaan.
“Eh, pak Alwi kan, anak tunggal.” Security itu tersadar telah dibohongi, lalu bergegas mengejar Lathifa. “Mbak! Jangan kabur!”
Perjuangan Lathifa belum selesai. Di lobi, petugas resepsionis melarangnya untuk menemui Alwi karena belum membuat janji. ia di tahan oleh petugas resepsionis dan juga security yang tadi.
__ADS_1
“Tapi ini penting, Mbak. Saya hanya ingin memberikan map ini.”
“Maaf, Dek. Ini kantor bukan mall, jadi silakan Adek pergi. Jangan membuat keributan di sini,” tegur resepsionis tersebut.
Brak!
“Kamu tidak tahu siapa aku?” Lathifa sedikit terbawa emosi karena merasa diremehkan oleh resepsionis di depannya.
“Pak Security, tolong bawa wanita ini keluar!” pinta resepsionis tersebut.
Lathifa memberontak ketika lengannya diseret oleh dua orang security.
“Lepaskan! Jangan menyentuhku!”
“Mbak! Mbak harus keluar dari sini! Jangan membuat keributan, tolong kerja samanya!” ucap salah satu security.
“Lepas!”
Lathifa tetap berusaha memberontak, namun tenaganya kalah oleh dua pria kekar yang memeganginya. Lathifa melihat Raiyan yang hendak memasuki lift.
“Pak Rai! Tolong aku!” teriak Lathifa, namun sepertinya Raiyan tidak mendengarkannya.
“Pak Rai!”
“Mbak, jangan teriak-teriak! Atau kami akan mengusir mbak dengan cara yang tidak terhormat.”
“Pak Rai!”
“Raiyan budek!!!!” teriak Lathifa dengan sisa tenaganya.
Karena teriakannya, semua orang yang berada di lobi menatap tajam ke arahnya termasuk Raiyan yang merasa namanya disebut seseorang.
Raiyan terperanjat mendapati istri muda atasannya itu tengah berdiri di depan pintu lobi dengan kedua lengan yang dipegang oleh security.
Lathifa memberi isyarat dengan matanya kepada Raiyan untuk mendekat. Namun pria itu tidak bisa menangkap maksud dari Lathifa, Raiyan lalu menaik turunkan dagunya.
“Sini!” ucap Lathifa dengan geram, dia merasa malu menjadi pusat perhatian karyawan di perusahaan suaminya. Meskipun tidak seorang pun yang mengetahui akan statusnya.
Raiyan berjalan mendekat ke arah Lathifa, semua orang terheran melihat asisten pemilik perusahaan begitu menurut dengan ucapan gadis kecil di depan mereka.
“Lepas!” Lathifa menepis tangan kedua security yang berada di lengannya.
Lathifa menarik ujung jas Raiyan dan bersembunyi di belakangnya membuat semua mata terheran-heran.
“Aku mau mengantarkan berkas untuk bos kamu.” Lathifa menyerahkan map kepada Raiyan.
“Berikan sendiri kepada pak Al.” Raiyan menolaknya karena merasa kesal dengan Lathifa atas panggilannya tadi.
“Tapi aku buru-buru, Om.”
Lagi-lagi Raiyan dibuat kesal oleh Lathifa. “Berikan sendiri! Itu urusan kamu, kamu yang diberikan amanah, bukan saya!”
Raiyan membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Lathifa. Terpaksa Lathifa harus mengejarnya dan mengikuti pria itu masuk ke dalam lift menuju ruangan suaminya.
“Ini ruangan pak Al, kamu bisa masuk sendiri.” Raiyan ingin pergi, namun tertahan karena tangannya ditarik oleh Lathifa.
“Om-”
“Aku bukan om kamu!” geram Raiyan, membuat Iwan terkejut dan mengangkat kepalanya.
“Maaf. Temani aku masuk ya ....” ucap Lathifa menampilkan wajah imutnya.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!” terdengar suara Alwi dari balik pintu.
Raiyan membuka pintu dan masuk kedalamannya di ikuti oleh Lathifa.
“Ada apa?” tanya Alwi tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas di atas meja kerjanya.
“Ada yang ingin bertemu.”
“Siapa?” tanya Alwi tanpa mengangkat kepalanya.
__ADS_1
“Aku ingin memberikan berkas ini! Malah diusir sama resepsionis di bawah. Dibilang ‘Adek di sini kantor bukan mall ya’ mereka kira aku anak kecil!” gerutu Lathifa dengan suara yang dibuat-buat.
Raiyan ingin tertawa namun ia harus menahannya setelah mendapat tatapan tajam dari Lathifa.
“Pakai acara tanganku diseret-seret sama security segala!” adu Lathifa, berjalan mendekat ke arah meja kerja Alwi.
Mendengar perkataan Lathifa, spontan Alwi mengangkat kepalanya. Ia melebarkan matanya ketika melihat penampilan Lathifa.
Bagaikan api disiram dengan minyak. Hatinya yang bergemuruh mendengar ada orang lain yang menyentuh istri mudanya, Alwi kembali dibuat meradang karena Lathifa memakai pakaian yang menurutnya sangat tidak sopan.
“Apa-apaan kamu!” seru Alwi seketika membuat Lathifa mematung di tempat.
“Pakaian apa yang kamu gunakan? Berpakaian tapi telanjang.”
Bukan hanya Lathifah yang terkejut, namun Raiyan juga tidak kalah terkejutnya mendengar ucapan kasar Alwi kepada istrinya.
Padahal, Alwi tipe orang yang sangat menghormati lawan bicaranya serta menjaga lisannya. Hanya karena cemburu bisa membuatnya lupa akan adab dalam berbicara.
Lathifa mengamati penampilannya, sepatu sneakers dengan celana jeans sobek tidak tembus dan kaos hitam panjang sedikit longgar, pashmina yang melilit di lehernya namun kali ini sedikit menjuntai di depan dadanya, ditambah sebuah tank top rajut yang sedang tren di kalangan anak muda masa kini
“A-apa? Bajuku longgar, dan celananya juga.”
“Pakaian itu lebih pantas untuk digunakan sebagai pakaian dalam bukan di luar, Lathifa!”
“Tapi ini bukan pakaian dalam! ini lagi tren-trennya di kalangan remaja,” sela Lathifa.
“Pakaian kuntilanak jauh lebih sopan daripada pakaian yang kamu pakai sekarang.”
Lathifa melebarkan matanya, tidak percaya dirinya disamakan dengan makhluk tak kasat mata. Sedangkan Raiyan berusaha untuk menahan tawanya.
“Boleh trendi asal masih syar’i! Hargailah dirimu sendiri dengan memakai pakaian yang pantas untuk seorang Muslimah.”
“Tap-”
“Jangan membantah, Lathifa! Cepat lepas baju dalam itu!”
“Nggak mau!” tolak Lathifa.
Alwi menatap tajam ke arah istrinya, lalu beralih ke arah Raiyan.
“Kamu kenapa masih ada di sini?”
“Menunggu Lathifa,” ucap Raiyan tanpa sadar, membuat Alwi semakin melotot ke arahnya.
“Eh, maksudnya menemani Lathifa, dia bilang takut sendirian masuk ke ruangan kamu.”
“Keluar!”
Raiyan bergegas meninggalkan ruangan itu sebelum mendapat amukan dari Alwi.
“Ada apa Pak Rai?” tanya Iwan yang mendapati Raiyan keluar ruangan atasannya dengan wajah menahan tawa.
Iwan mengerutkan alisnya bingung, tidak biasanya Raiyan meninggalkan seorang wanita sendirian di dalam ruangan Alwi.
“Nggak apa-apa, cuma ada orang yang sedang PMS. Kamu lanjutkan kerjaan kamu.” Raiyan kembali dengan sikap profesionalnya.
“Baik, Pak.” Iwan semakin bingung, namun dia tidak ingin mengetahui lebih jauh privasi atasannya tersebut.
Tak lama kemudian, Alwi keluar di ikuti Lathifa yang berjalan di belakangnya.
“Cancel meeting pagi ini!” perintah Alwi kepada sekretarisnya.
“Baik, Pak.” Iwan menatap kepergian atasannya dengan wajah bingung.
Lathifa mengekor di belakang suaminya dengan tetap menunduk. Ia malu karena sepanjang perjalanan semua orang menatap ke arah mereka.
Bagaimana tidak? Seorang gadis yang beberapa sat lalu membuat keributan di lobi perusahaan, dan sekarang berjalan bersama pemilik perusahaan dengan sebuah jas kedodoran yang membungkus tubuhnya.
Alwi mengantarkan Lathifa pergi ke kampus dengan mobilnya meninggalkan mobil Lathifa di parkiran kantor. Mereka terlebih dahulu mampir ke butik membeli gamis untuk Lathifa.
__ADS_1
*Maaf ya, mungkin jika ada yang merasa tersinggung dengan perkataan Mas Alwi tentang cara berpakaian Lathifa. Author tidak bermaksud menyinggung atau apa pun itu. Perkataan Mas Alwi, semata-mata diperuntukkan untuk diri Author pribadi. Terima kasih atas support dari readers semua.