
“Mas capek ya?” tanya Anisa sembari mengusap bahu Alwi dengan penuh kelembutan.
Alwi menatap wajah istrinya, tangannya bergerak menggenggam balik tangan Anisa. “Kalau melihat kamu lelahku hilang, Sayang.”
Anisa terkekeh sembari memukul lengan Alwi pelan tanpa tenaga, rasa hangat menjalar di kedua pipinya menimbulkan semu kemerahan yang terlihat indah di mata Alwi.
“Mas sudah makan?”
“Belum, sengaja menunggu kamu bangun biar bisa suap-suapan sama kamu,” jawab Alwi membuat Anisa tersipu malu.
“Mas ... ih, aneh kamu kalu menggombal begitu,” ujar Anisa berpaling berusaha menyembunyikan wajahnya.
Alwi yang melihat istrinya salah tingkah terkekeh pelan, meskipun Anisa hanya bisa berbaring di ranjangnya, setidaknya Alwi ingin selalu membuat wanitanya itu selalu tersenyum.
Alwi mengatur posisi ranjang agar Anisa bisa setengah duduk, ia lalu mengambil mangkuk berisi bubur yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit.
“Kamu makan dulu, ya. Aku suapin.”
Perlahan Alwi menyendokkan bubur hangat itu ke dalam mulut istrinya, bubur hambar yang menjadi santapan setiap hari bagi Anisa.
“Tidak enak ya?” tanya Alwi melihat istrinya terdiam sambil terus memandanginya.
Anisa menatap lekat wajah suaminya, mengamati setiap garis lekuk wajah pria yang telah menjadi imamnya selama hampir 8 tahun terakhir seakan-akan takut akan melupakan wajah lelaki itu.
“Mas, kamu akan ingat aku terus, kan?” tanya Anisa sangat pelan terdengar seperti sebuah bisikan.
“Kamu bicara apa sih, Sayang. Jangan berbicara yang tidak-tidak.” Alwi merasa takut jika Anisa sudah berbicara ngelantur pastinya akan membahas tentang perpisahan dan kematian.
“Aku lelah, Mas.”
“Habiskan dulu buburnya nanti kamu tidur lagi, ya,” jawab Alwi cepat berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Aku sudah kangen banget sama Allah, Mas. Ingin bertemu dengan-Nya.” Anisa dengan tenangnya mengucapkan kalimat tersebut, bahkan senyum indah terukir di wajahnya. Matanya terpejam seakan tengah membayangkan perjumpaannya dengan sang Penguasa Alam Semesta.
Berbanding terbalik dengan suaminya, Alwi justru semakin merasa tegang dibuatnya. Jutaan rasa takut berkerubung dalam pikirannya.
“Sayang ...” panggil Alwi dengan suara parau.
“Aku ingin bercerita sama Allah, Mas. Ada hamba-Nya yang baik banget, dia mau menerima perjodohan dari guru yang sudah membimbingnya. Keponakan gurunya yang lugu, ia memang sudah jatuh hati sejak lama pada santri di pesantren kakeknya. Bahkan setelah mengetahui bahwa santri itu yang akan dijodohkan dengannya, tanpa merasa malu, keponakan gurunya yang lebih dulu meminta pamannya untuk mengutarakan perasaannya kepada pemuda itu.” Ingatan masa lalu membawa Anisa pada hari bahagianya, ketika Alwi menjabat tangan papanya dan mengucap akad nikah untuknya.
__ADS_1
“Sayang, sudah ...” pinta Alwi yang sudah menahan air matanya.
“Setelah menikah, aku baru tahu kalau pemuda itu terlalu dingin, kaku, dan cuek.” Anisa terkekeh pelan mengingatnya.
“Bahkan dengan jujurnya dia berkata belum bisa jatuh hati padaku di awal pernikahan, meskipun dia memberikan hak-hakku sebagai seorang istri,” lanjutnya.
Anisa terdiam mengingat kenangan masa lalunya, ia yang sedari kecil hidup dan tumbuh besar di pesantren milik kakeknya karena sering ditinggal pergi ke luar negeri oleh kedua orang tuanya.
Anisa yang harus memendam rasa pada salah seorang santri kakeknya yang begitu ia kagumi. Ia hanya bisa menyimpan rasanya seorang diri, karena Anisa tahu bahwa di keluarganya masih memegang erat adat perjodohan untuk anak cucu mereka.
Semenjak ia mengetahui bahwa santri yang dikagumi adalah orang yang dipilih oleh kakeknya sebagai calon suaminya, saat itu pula Anisa mengutarakan isi hatinya kepada sang paman sekaligus guru santri tersebut yaitu ustadz Hamdan.
“Maafkan aku, Sayang,” cicit Alwi dengan suara bergetar, hatinya terasa hancur mengingat momen tersebut.
“Tapi, mungkin Allah masih sayang sama aku. Meskipun harus kehilangan buah hati kita dan aku divonis tidak bisa untuk memiliki keturunan selamanya-” Anisa mengatur napasnya, ia melanjutkan bercerita meski suaranya semakin serak bahkan sesekali hilang.
“Ada hikmah dari musibah tersebut, perlahan si penghafal Alquran itu sedikit luluh. Perlahan pemuda itu mau membuka hati untukku, merangkulku dan sangat perhatian kepadaku,” Anisa bercerita seolah-olah tidak ada Alwi di sisinya.
Sedangkan laki-laki yang sedang dibicarakan oleh Anisa terus meneteskan air matanya, Alwi tak sanggup lagi untuk tidak menangis, ia menangis sebagai bentuk dari penyesalannya.
Memang benar kata orang, penyesalan itu datangnya selalu di akhir. Mungkin tujuannya biar kita memiliki waktu yang lebih untuk belajar, belajar dan mengambil maknanya arti sebuah kehidupan.
“Bahkan dalam ke tidak kesempurnaanku sebagai seorang wanita, pemuda bernama Alwi Husein Ibrahim itu tidak pernah mengucap kata cerai apalagi melukai hatiku dengan perselingkuhan. Mungkin dia menghormati aku sebagai keponakan dari gurunya.”
Alwi meletakkan mangkuk bubur di atas meja, ia genggam jemari mungil istrinya. “Aku bahagia menikah dengan kamu, Sayang. Aku benar-benar sayang dan sangat mencintai kamu.” Mata Alwi sembab oleh air mata yang mengucur deras tanpa bisa ia tahan lagi.
“Jangan terus menerus membohongi hati kamu, Mas. Aku tahu kamu benar tulus mencintaiku setelah aku dirawat di rumah sakit ini, sekitar enam bulan yang lalu,” elak Anisa.
Anisa semakin terbayang kembali pada masa lalu, ia teringat pesan yang sering diucapkan oleh kakeknya sewaktu ia masih kecil dulu. “Benar kata Abah Atha, menikahlah dengan lelaki yang saleh, yang apabila marah tidak pernah memukul, tidak pernah merendahkan meskipun ia tahu betul apa kekuranganku serta lelaki yang amanah dalam menjagaku.”
“Sayang, aku belum sesaleh itu, aku sering sekali menyakiti kamu,” elak Alwi.
“Kamu adalah suami terbaik yang Allah dan Abah Atha pilihkan untukku, Mas. Meskipun aku tahu selama ini kamu hanya menghormati aku, meskipun demikian aku bahagia, Mas. Sekalipun belum lama aku menerima ketulusan cintamu, tapi selama ini kamu selalu berusaha membahagiakan aku semampu kamu. Kamu sudah mencoba yang terbaik, Mas.”
Anisa menangkup wajah Alwi dengan tangan kanannya yang lemas dengan tenaga yang seadanya, ia mendongakkan wajahnya menatap lelaki yang sangat dicintainya itu. “Maka dari itu, aku ingin kamu bahagia dan memintamu untuk menikah lagi dengan perempuan pilihanku sendiri. Aku ingin kalian memiliki anak, dan hidup bersama selamanya.”
“Sayang, sudah cukup ya,” iba Alwi tidak sanggup lagi ia mendengar penuturan dari istrinya.
Anisa tersenyum, memberikan semangat untuk dirinya sendiri. “Akhirnya kamu terlibat dalam perjodohan untuk yang kedua kali, maafkan aku ya, Mas. Aku tahu kamu tidak suka dengan perjodohan, pasti berat bagi kamu.”
__ADS_1
Alwi menangkup wajah istrinya. “Sayang, sudah. Kamu adalah istriku satu-satunya, kamu yang akan menjadi bidadari surgaku kelak,” ucap Alwi dilanjutkan dengan mencium kening Anisa.
Anisa menghela napasnya berat, mengatur oksigen yang akan masuk mengisi paru-parunya. “Setelah kehadiran Lathifa, kamu jadi lebih romantis, Mas. Aku tahu kamu hanya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa cintamu hanya untukku.”
“Ssstt, sudah ya.” Alwi terus berusaha untuk membuat Anisa menghentikan racauannya, ia merasa hancur, tertampar dengan semua penuturan istrinya yang seakan menyudutkannya.
“Kamu tahu, Mas? Hari yang paling membahagiakan buat aku adalah ketika malam itu, saat kamu menolak tidur dengan Lathifa dan mengucapkan kata cinta untukku secara terang-terang. Ketika kamu yang terlihat panik dan menarik jemariku yang terluka bahkan di depan Lathifa dan mbok Ijah, kamu tidak pernah seromantis itu sebelumnya. Apa aku jahat jika seperti itu?”
“Sayang, kamu bukan wanita yang seperti itu.”
“Bahkan aku cemburu kepada Lathifa, gadis itu mampu masuk ke dalam hati dan pikiran kamu dalam waktu yang cukup singkat, sedangkan aku ....”
Anisa memejamkan matanya, menahan sakit yang ia rasakan di kepalanya. Sesaat ia terdiam, lalu Anisa kembali tersenyum tipis. “ Mas, jika aku tiada, kelak kita pasti akan kembali bertemu di surga. Di kehidupan akhirat nanti, tidak akan lagi ada rasa cemburu dan dendam. Yang ada hanya ketenangan dan kebahagiaan bagi semua penduduknya.”
“Nis ...” Alwi tak sanggup lagi menahan perasannya, ia tak dapat melawan ketakutannya apabila malaikat Izrail tiba-tiba menjemput istrinya
“Berjanjilah padaku, Mas!”
Alwi menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak ingin mengiyakan permintaan istrinya itu.
“Pertemukan aku dengan Lathifa untuk terakhir kalinya, Mas. Aku ingin meminta maaf karena telah menyeretnya dalam kehidupan kita,” pinta Anisa penuh harap.
“Sayang, fokuslah dengan kesehatan kamu dulu. Nanti kita bisa bertemu dengan Lathi-”
“Aku mau hari ini, Mas. Kamu jemput Lathifa untukku ya...”
Alwi terdiam tak sanggup berkata-kata, ia tidak tega melihat wajah istrinya yang memelas.
“Mas...”
Alwi menatap lekat wajah istrinya, terpaksa ia mengiyakan permintaan kekasihnya itu meskipun ia tahu bahwa diri ya tidak akan bisa memenuhinya.
“Iya, nanti aku jemput dia ya, sekarang kamu makan lagi.”
“Berjanjilah, Mas. Setelah aku menghabiskan bubur ini kamu akan pergi untuk menjemputnya.”
Alwi hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia lalu mengambil mangkuk bubur yang ditaruhnya tadi dan kembali menyuapkan sesendok demi sesendok kepada istrinya.
Banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya membuatnya merasakan pening di kepalanya. ‘Kemana aku akan mencarinya, Nis? Selama ini keluarga kita sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan mereka, bisakah aku membawanya ke hadapanmu hari ini?’
__ADS_1