Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Bertahan


__ADS_3

"Saya Anisa, Buk." Anisa mencium punggung tangan Hana sebagai tanda hormatnya. "Istri  pertamanya mas Alwi," lanjutnya.


Tubuh Hana menegang. Apakah ia tidak salah mendengar? Istri pertama? Apa maksudnya?


Setelah melepaskan tangannya, Hana melirik ke arah Lathifa yang terlihat gugup.


Mengerti jika ibunya akan mengeluarkan berbagai pertanyaan, Lathifa segera mengalihkan topik pembicaraan.


"Ibuk, hari ini aku libur loh, nanti aku bantu-bantu di restoran ya. Oh ya, Mbak Nisa katanya ada rapat ya pagi ini? Ya sudah sana cepat berangkat! Takutnya nanti terlambat. Tahu sendiri, kan jalanan sering macet," terang Lathifa panjang lebar.


Bukan maksud Lathifa untuk mengusir Anisa, tapi ini demi menghindari kesalahpahaman antara ibunya dan Anisa. Lathifa tidak ada niat untuk menyembunyikan statusnya yang hanya sebagai istri kedua itu.


Setelah mengantar kepergian Anisa, Hana menarik lengan putrinya masuk ke dalam kamarnya. Ruangan yang dulunya adalah ruang kerja mendiang suaminya, kini dijadikan kamar oleh Hana setelah kehilangan rumah mereka.


Hana mendudukkan putrinya di tepi kasur lalu Hana duduk di sebelahnya. Hana menatap tajam putrinya itu, ia menuntut penjelasan dari Lathifa.


Sunyi.


Lathifa masih enggan untuk membuka suaranya, ia takut jika salah berbicara dan akan membuat ibunya marah.


Hana yang merasa jengah karena menunggu terlalu lama, memutuskan bersuara lebih dulu. "Jelaskan!"


"Ibuk tenang ya ... Lathif tidak bermaksud untuk membohongi, Ibu." Lathifa menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat wajah ibunya yang menunjukkan kekecewaan.


"Lalu ini apa Thif? Kamu ingin mempermainkan ibumu?" suara Hana sedikit bergetar.


"Aku bisa jelaskan semuanya Buk." Lathifa bangkit dan bersimpuh di kaki ibunya.


Hana tampak bergeming, ia begitu kecewa karena Lathifa menyembunyikan hal yang begitu besar darinya.


"Maafkan Lathif Buk." Lathifa tak dapat lagi menahan tangisnya, ia membenamkan wajahnya di pangkuan ibunya sambil terisak.


"Buk, sumpah bukan maksud Lathif untuk berbohong. Lathif hanya takut Ibuk tidak akan menyetujui pernikahan ini. Lathif menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahukannya kepada Ibuk."


"Kamu tidak menganggap ibu sebagai orang tuamu, Thif?" tanya Hana. "Ibu kecewa padamu."


"Ibu-"


"Biarkan ibu sendiri dulu, Thif!" titah Hana.


Lathifa mendongakkan wajahnya, dengan berat hati Lathifa keluar dari kamar ibunya dan memberikan ibunya waktu untuk menenangkan diri.


Seharian Hana mendiamkan putrinya, berbagai cara Lathifa lakukan untuk mencari perhatian ibunya, mulai dari menanyakan berbagai hal-hal kecil, melakukan kesalahan kecil, namun tak sedikit pun membuat Hana mengalihkan perhatiannya.


Hana bukannya membenci putrinya, dia hanya ingin  memberikan sedikit pelajaran kepada putrinya.


Hingga sore tiba, Anisa sengaja mampir ke Hafa Resto untuk mengajak Lathifa pulang bersamanya. Anisa dan Lathifa meninggalkan restoran setelah sebelumnya mereka berpamitan kepada Hana.


"Kamu kenapa, Fa? Kok wajahnya ditekuk gitu?" tanya Anisa yang mendapati Lathifa hanya duduk diam dengan wajah yang sayu.


"Fa!" panggil Anisa sekali lagi.


"Eh i-iya, Mbak Nisa memanggil saya?" gagap Lathifa tersadar dari lamunannya.


"Apa ada masalah? Kenapa kamu melamun?"


"Ti-tidak ada, Mbak," bohong Lathifa.

__ADS_1


Namun Anisa tidak percaya begitu saja, "Jangan bohong, Fa. Yang saya lihat tidak sesuai dengan tutur katamu."


Lathifa semakin gelisah, bingung apakah harus jujur kepada Anisa.


"Bukannya kita keluarga? bukankah kamu sudah menganggap saya sebagai kakakmu?"


Namun Lathifa tetap bertahan untuk diam.


"Huft ...." Anisa menghembuskan napasnya kasar. "Jika ada masalah jangan dipendam sendirian, Fa! Ceritalah kepada saya, saya akan berusaha menjadi pendengar yang baik untukmu."


Lathifa menatap wajah Anisa dari samping, lalu Lathifa pun menceritakan semuanya kepada Anisa.


Anisa menepikan mobilnya, dan menatap lekat wajah Lathifa yang tampak frustrasi. Anisa juga merasa bertanggung jawab atas masalah ini, Bagaimanapun ia juga bersalah karena tidak dari awal menjelaskan statusnya kepada Hana.


Anisa melajukan mobilnya kembali dan tanpa berkata ia memutar arah laju mobilnya kembali menuju Hafa Resto.


"Loh, Mbak kita mau ke mana?" tanya Lathifa dengan wajah bingung.


"Kembali ke restoran, Fa. Saya akan menjelaskan semuanya kepada ibumu."


"Tapi Mbak-"


"Tenang, Fa. Percayalah semua akan baik-baik saja."


Sesampainya di restoran, Anisa menghampiri Hana dan mengatakan ingin menjelaskan sesuatu.


Hana mengajak mereka untuk berbicara di dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar Anisa pun menjelaskan semuanya kepada Hana.


"Benar putriku bukan pelakor?" tanya Hana kepada Anisa.


"Bukan, Bu. Lathifa hanya memenuhi permintaan saya, dia tidak pernah mengganggu rumah tangga saya dan mas Alwi," jelas Anisa. "Saya yang seharusnya berterima kasih kepada Lathifa."


"Lathif hanya ingin membantu Mbak Nisa, Buk."


"Ibu merasa sangat buruk sebagai orang tua. Ibu seperti menjual putri ibu sendiri." Hana terisak lalu memeluk tubuh Lathifa.


"Jangan bicara seperti itu, bagi Lathif Ibuk sudah menjadi orang tua yang baik dan sempurna," ucap Lathifa lalu membalas pelukan ibunya.


"Insya Allah saya ikhlas lahir dan batin, Bu. Semua ini sudah menjadi garis takdir Lathifa dan saya. Ibu jangan khawatir, saya akan menjaga dan menyayangi putri Ibu selama sisa hidup saya." Anisa menenangkan Hana.


"Terima kasih, Nak. Sungguh mulia hatimu. Tapi sudahkah kalian mengetahui konsekuensi dari pernikahan poligami ini?"


"Insya Allah Bu," jawab Anisa dan Lathifa hampir bersamaan.


"Ibu berharap tidak akan ada hati yang tersakiti di antara kalian bertiga. Karena tidak mudah untuk menjalankan sebuah pernikahan, apalagi sebuah pernikahan poligami."


...*****...


Satu bulan sudah Lathifa hidup dengan status barunya sebagai seorang istri. Selama satu minggu Alwi akan tidur di kamar Anisa. Satu minggu selanjutnya Alwi tidur di kamar Lathifa, begitu seterusnya. Alwi berusaha untuk berlaku seadil mungkin kepada kedua istrinya.


Ya, berlaku adil di depan mata Anisa. Namun, kenyataannya Alwi dan Lathifa tidur dengan tempat tidur yang terpisah. Diam-diam Alwi membeli singgle bed untuk diletakkan di dalam kamar Lathifa.


Seperti yang ia ucapkan di malam pengantinnya, Alwi hanya memberikan nafkah materi saja kepada istri keduanya tanpa sedikit pun memikirkan perasaan istri mudanya tersebut.


Meski merasakan sakit di hatinya, Lathifa berusa untuk tidak memikirkan masalah pernikahannya itu. Lathifa hanya ingin fokus kepada pendidikannya.


Pagi itu, seperti biasa Alwi akan duduk di antara kedua istrinya. Anisa di sebelah kanan, Lathifa di sebelah kiri.

__ADS_1


Meja makan bundar di dekat dapur yang setiap harinya selalu memperlihatkan keharmonisan sebuah keluarga bahagia dengan berbagai macam makanan tersaji di atasnya.


Begitu hebatnya Alwi dan Lathifa memerankan sandiwara tersebut di depan Anisa.


"Fa, nanti kamu berangkat ke kampus diantar Mas Al saja ya! Saya harus menghadiri seminar di luar kota," ucap Anisa setelah menyelesaikan makannya.


"Tapi, kan jarak kantor dan kampus jauh, Sayang. Apalagi jalannya tidak searah," tolak Alwi dengan halus.


"Mas, kan bisa mengantar Lathifa terlebih dahulu, toh Mas pemilik kantor tersebut. Telat sedikit tidak masala, kan?" bujuk Anisa.


Alwi melirik Lathifa, karena tidak ingin disalahkan suaminya, Lathifa segera membuat alasan. "Mbak, saya bisa berangkat sendiri. Saya mau mampir dulu ke toko dekat restoran, ada beberapa barang yang harus saya beli. Takutnya akan membutuhkan waktu lebih lama."


"Naik motor?" tanya Anisa.


"Iya Mbak," jawab Lathifa sembari membereskan piring kotor.


"Kapan-kapan kita pergi ke car showroom ya, Mas. Kita beli mobil untuk Lathifa," ucap Anisa.


"Terserah kamu saja, Sayang. Lakukan yang kamu inginkan selagi itu masih dalam kebaikan," jawab Alwi.


Lathifa hanya bisa menggigit bibirnya, betapa dia merasa iri akan perlakuan suaminya kepada istri pertamanya itu. Sedangkan kepadanya?


Mengajak bicara saja tidak pernah, apalagi memanggil dengan panggilan 'sayang'.


Lathifa memejamkan matanya sejenak. mencoba menguatkan hatinya, ia harus kuat. Ia harus bertahan demi janjinya untuk membantu Anisa, setidaknya sampai ia lulus S-1.


"Tidak perlu, Mbak. Saya lebih suka jika naik motor dari pada mobil," tolak Lathifa dengan halus.


"Kamu kan suka ikutan balap liar, wajar saja jika kamu lebih suka naik motor," ketus Alwi.


"Mas-"


"Enggak apa-apa, Mbak. Benar apa yang dikatakan Mas Al, memang itulah faktanya." Lathifa memotong perkataan Anisa yang ingin menegur Alwi.


"Tapi lebih aman jika naik mobil, Fa. Pokoknya lusa kita pergi ke showroom!" tegas Anisa memberi tahukan bahwa ia tidak mau dibantah.


"Tapi Mbak, saya tidak bisa mengemudi." Lathifa masih berusaha untuk menolak dengan halus.


"Itu mah mudah, Mas Al bisa mengajari kamu mengemudi. Kamu bisa kan, Mas?" tanya Anisa menatap lekat suaminya.


Alwi hanya diam lalu meraih gelas yang berisi air di depannya dan meminumnya.


"Apalagi ketika nanti kamu hamil, Fa. Akan lebih nyaman bagimu jika memakai mobil," lanjut Anisa.


"Uhuk ... Uhuk ...." Alwi tersedak mendengar pernyataan Anisa.


"Pelan-pelan, Mas!" ucap Anisa sembari menepuk-nepuk punggung suaminya.


Lathifa yang merasa canggung dengan topik pembicaraan itu, ia memilih menghindar dan berjalan membawa tumpukan piring kotor menuju wastafel.


"Apa sudah Ada tanda-tanda kamu hamil, Fa?" tanya Anisa sedikit mengeraskan suaranya karena jarak mereka agak jauh.


"Ehm, be-belum Mbak," jawab Lathifa yang baru kembali dari dapur.


"Tidak apa-apa, Fa. Berdoa saja semoga akan segera dihadirkan janin di dalam perut kamu," harap Anisa. "Mungkin kamu dan Mas Al harus berusaha lebih keras, berbulan madu sepertinya boleh juga," lanjutnya.


'Bagaimana aku bisa hamil? tempat tidur kami saja terpisah' ingin sekali Lathifa mengatakannya, tapi ia urungkan ketika mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.

__ADS_1


"Assalamu’alaikum ...." terdengar ucapan salam dari ruang tamu, membuat ketiga orang  tersebut bertanya-tanya siapakah yang bertamu sepagi ini?


__ADS_2