Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Kecewa


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, Lathifa terbangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam retinanya.


“Eugh!” Lathifa merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan mulai mengumpulkan kesadarannya.


Deg!


Tubuh Lathifa membeku ketika matanya menangkap sosok wajah suaminya, wajah yang selama ini ia kagumi. Namun karena kekaguman itu juga berhasil membuatnya jatuh ke dalam jurang yang membuatnya terluka.


Bukan luka fisik yang bisa di lihat oleh mata orang lain, melainkan luka dihatinya yang akan tertanam di dalam kepalanya mungkin untuk seumur hidupnya


“Ssstt! Akh!” rintih Lathifa merasakan sakit di bagian area sensitifnya.


Lathifa mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, ia tersadar bahwa saat ini dirinya tidak berada di kamarnya dan masih berada di dalam kamar suaminya dengan madunya.


Perlahan Lathifa bangkit dari tidurnya dan mulai turun dari atas tempat tidur dengan sangat pelan, takut membangunkan suaminya yang masih tertidur di sampingnya.


Dengan hati hancur dan menahan sakit di seluruh tubuhnya, Lathifa memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai dan memakainya dengan cepat, ia tidak peduli apakah pakaiannya terlihat rapi atau tidak.


Lathifa hanya ingin segera keluar dari dalam kamar itu. Hatinya terasa perih terbayang kejadian yang suaminya lakukan kepadanya beberapa jam lalu.


Brak!


Tanpa sengaja tubuh Lathifa menyenggol dan menjatuhkan kotak obat yang belum sempat ia gunakan itu.


“Ish! Dasar pria dingin, kurang ajar! Aku membencimu!” makinya pada sang suami meski ia tahu Alwi tidak akan mendengarkan makiannya.


Tanpa membereskan kotak obat yang beberapa isinya berceceran di lantai, Lathifa segera menyeret kakinya meninggalkan tempat itu tanpa menoleh kembali ke arah suaminya. Ia tak memusingkan kondisi kamar itu yang terlihat sedikit berantakan.


Lathifa menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa meskipun harus menahan sakit, dengan langkah yang terseok ia berjalan menuju kamarnya.


 


Ceklek!


Lathifa membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalamnya setelah menutup dan mengunci pintu itu kembali. Tanpa menyalakan lampu kamarnya, Lathifa berjalan menuju kamar mandi dan masuk ke dalamnya.


Lathifa berdiri di bawah shower lalu menyalakan airnya hingga mengguyur membasahi tubuhnya yang masih terbungkus pakaian yang baru saja ia kenakan.


Tubuh Lathifa merosot ke lantai begitu saja seakan tak ada tulang yang menyangga tubuhnya. tak membutuhkan waktu lama tangisnya pecah begitu saja tanpa bisa ia tahan lebih lama lagi.


Lathifa menangis meraung menumpahkan semua rasa sakit, marah, benci, kecewa yang bercampur menjadi satu. Kamar mandi dan guyuran air dingin dari shower di atasnya menjadi saksi betapa rapuh dan hancurnya dirinya saat ini.


“Aku membenci kamu, Alwi! Benci! Sangat benci!” racau Lathifa dalam sela tangisnya lalu ia menjambak rambutnya berharap bisa mengurangi rasa sakit di hatinya.


‘Aku mencintai kamu, Anisa.’


“Akh! Brengs*k! Dasar bajing*n!” maki Lathifa saat suara Alwi terngiang-ngiang di telinganya.


Wanita mana yang akan merasa baik-baik saja ketika mendengar prianya menyebut nama wanita lain ketika mereka tengah bersama, meskipun wanita lain itu adalah istri lain dari suaminya.


“Aku tidak membencimu karena kamu tidak membalas perasaan ini, Tapi aku kecewa karena kamu melihat aku sebagai orang lain, bukan diriku sendiri!” rintih Lathifa masih dengan tangisnya.


“Selamat, kamu berhasil menghancurkan hatiku! Orang bilang, untuk menyembuhkan luka kita harus berhenti menggaruk luka itu agar tidak semakin memperparah lukanya. Dan aku akan melakukan hal itu, mulai sekarang dan seterusnya, aku berjanji akan berusaha untuk menghapus rasa ini untukmu!”

__ADS_1


Lathifa berdiri dan mengambil handuk yang tergantung didinding kamar mandi, ia mulai menenangkan diri dan membersihkan pikirannya lalu menjalankan kewajibannya untuk membersihkan diri setelah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang istri yang sesungguhnya yang telah tertunda lebih dari 9 bulan lamanya.


Memang Lathifa mengakui bahwa tanpa ia sadari dirinya telah terjerat cinta yang tak pernah diinginkan oleh suaminya itu, namun Lathifa tidak bisa mengendalikan perasaannya yang tumbuh begitu saja.


“Ya Allah, salahkah jika aku mencintai milik orang lain? Tapi rasa ini bukan aku yang memintanya, bahkan jika bisa aku ingin memilih untuk tidak bertemu dengannya.” Lathifa berdoa setelah menyelesaikan sholat malamnya.


“Bantulah aku Ya Rob ... hilangkan lah rasa yang cukup menyiksa ini dari dalam hatiku. Jika Engkau tidak ingin menghilangkannya, maka cukup berikanlah kekuatan lebih untukku, agar aku bisa mencintainya dalam hati tanpa harus memiliki hatinya.”


Lathifa menyeka air matanya, ia lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya tanpa melepaskan mukenanya dan perlahan ia jatuh masuk ke dalam alam mimpinya.


02.30 dini hari.


Terlihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Alwi, tak lama kemudian seseorang keluar dari dalam mobil tersebut dengan menenteng sebuah koper kecil ditangannya.


“Terima kasih sudah mengantar saya sampai di rumah. Maaf telah merepotkan kalian,” ucap Anisa kepada sang pemilik mobil.


“Sama-sama, Mbak. Kami tidak merasa direpotkan, malah kami merasa sangat senang bisa mengobrol dengan Mbak Putri lebih lama, lagian rumah kita juga satu arah,” balas rekan Anisa dari dalam mobil.


“Sekali lagi terima kasih, Mbak. Lain kali mampir ke rumah saya, ya.” Anisa tersenyum ke arah lawan bicaranya.


“Iya, Mbak. Kami pasti akan mampir ke rumah Mbak Putri. Kalau begitu kami pamit dulu, ya.”


“Hati-hati di jalan, Mbak, Mas.”


Setelah memastikan mobil rekan kerjanya menjauh, Anisa bergegas masuk ke dalam rumah. Anisa dan rekan satu timnya tidak jadi menginap di luar kota karena ada kendala di tengah acara yang ditunda hingga beberapa bulan ke depan.


Karena tidak ingin merepotkan suaminya, Anisa berencana untuk bermalam di kampus. Namun salah satu temannya dijemput oleh suaminya dan kebetulan rumah mereka satu arah lalu mereka menawarkan tumpangan untuk Anisa, jadi Anisa pulang bersama mereka meskipun awalnya ia sempat menolak karena merasa tidak enak karena merepotkan mereka.


Tanpa mengeluarkan bunyi apa pun, Anisa berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya. Lalu ia mendorong pelan koper miliknya dan melangkah pelan dalam kegelapan menuju kamarnya di lantai atas.


“Kenapa bisa seberantakan ini, Mas? kenapa juga ada kotak obat segala di dalam kamar?” tanya Anisa kepada suaminya yang masih terlelap.


“Tumben sekali kamu sejorok ini, Mas!” omel Anisa sambil merapikan pakaian suaminya lalu ia melirik ke arah suaminya yang sama sekali tidak merasa terganggu dengan kedatangannya. Biasanya Alwi sangat peka terhadap suara sekecil apa pun.


 


Setelah merapikan kamarnya, Anisa masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia merasa tubuhnya sangat lengket karena kemarin malam belum sempat mandi di Hotel tempat mereka akan menginap.


20 menit kemudian Anisa keluar dari dalam kamar mandi sudah berganti dengan setelan piyama tidurnya.


Anisa berjalan menuju tempat tidur hendak membangunkan suaminya agar menjalankan tahajud bersama.


“Mas, bangun sudah jam tiga.” Anisa mengguncang pelan tubuh Alwi yang tidur membelakanginya masih terbungkus selimut tebal.


“Mas, ayo bangun. Tumben kamu susah dibangunkan.” Anisa dengan sabar membangunkan suaminya itu.


Namun merasa tak ada pergerakan sedikit pun dari Alwi, Anisa menyibakkan selimutnya dan ia terkejut melihat tubuh suaminya yang tidak memakai baju dengan beberapa luka yang sudah setengah mengering di lengannya serta bercak darah di atas seprei dan selimut yang sudah mengering.


“Astaghfirullah, Mas! Apa yang terjadi sama kamu?”


Anisa merasa panik dan mengurungkan niatnya untuk membangunkan suaminya itu, ia mengambil kotak obat yang tadi sempat ia bereskan dan mengambil anti septik untuk membersihkan luka-luka di tangan suaminya.


Setelah selesai membantu memakaikan piyama tidur untuk suaminya, Anisa memutuskan untuk sholat tahajud sendiri tanpa ditemani oleh suaminya.

__ADS_1


Ia bertanya-tanya kenapa suaminya bisa mendapatkan luka tersebut, luka yang ia duga seperti terkena serpihan kaca. ‘Apa mungkin kemarin Mas Alwi bertengkar lagi dengan Lathifa?’


Anisa merasa cemas karena sebelum ia pergi suaminya sedang ada masalah kepada madunya itu.


“Besok saja aku tanya kepada mas Alwi atau Lathifa langsung,” ucap Anisa lalu ia membaringkan tubuhnya dan ikut tidur di samping suaminya.


Alwi terbangun ketika mendengar suara qiraah dari Masjid tak jauh dari rumahnya. Ia mengumpulkan kesadarannya dan merasakan kepalanya yang terasa masih pusing.


“Ssst!”


“Astaghfirullah.” Alwi beristigfar lirih mengingat kejadian kemarin yang menimpanya di Swiss Resto, dan kejadian selanjutnya ia mengingatnya samar-samar.


Saat melihat istri pertamanya terlelap di sampingnya, Alwi tersenyum merasa lega mengira bahwa semalam ia tidak bermimpi bahwa Anisa lah yang menolongnya dari pengaruh obat setan yang diberikan kepada Chaca untuk menjebaknya.


 


Alwi mengusap pelan wajah Anisa yang terlihat damai dalam tidurnya. “Terima kasih, Sayang.”


Cup!


Alwi mengecup kening Anisa sebelum beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum pergi ke Masjid untuk berjamaah menjalankan sholat subuh.


Pagi harinya Anisa tengah sibuk menyiapkan sarapan di meja makan sambil menunggu kedatangan suaminya yang sedang bersiap di kamarnya. Namun ia terlihat gelisah karena tidak menemukan keberadaan madunya, ia takut terjadi sesuatu kepada Lathifa.


“Mbok, apa kemarin terjadi sesuatu di rumah selama saya pergi?” tanya Anisa hati-hati kepada mbok Ijah yang sedang membantunya.


“Tidak terjadi apa pun di rumah, Mbak. Setelah mengantar Mbak Nisa pergi, Den Alwi langsung pergi ke kantor dan saya tidak tahu jam berapa Den Alwi pulang ke rumah,” jawab saya pelan.


“Oh,” ucap Anisa merasa lega. “Lalu Lathifa kemana, Mbok? Tumben belum keluar kamar.”


“Oh, kalau mbak Lathifa subuh tadi sudah pergi, Mbak. Saat saya tanya katanya ada sesuatu yang harus Mbak Lathif ambil di restoran ibunya.”


Anisa merasa sedikit aneh, tidak biasanya Lathifa pergi pagi-pagi buta seperti itu bahkan tanpa pamit kepadanya. ‘Mungkin Lathifa tidak tahu kalau aku sudah pulang sejak semalam.’


“Oh ya, Mbak. Kemarin Mbak Lathifa mengurung diri seharian di dalam kamarnya, bahkan melewatkan makan siang dan malamnya,”  ucap mbok Ijah bukan karena ingin mengadukannya tetapi merasa khawatir dengan keadaan Lathifa.


“Terima kasih sudah memperhatikan Lathifa dan sudah memberitahukan kepada saya, Mbok. Mungkin memang Lathifa sedang sibuk dengan tugas-tugasnya.”


“Saya sudah menganggap Mbak Nisa dan Mbak Lathif seperti anak saya sendiri, Mbak.”


Anisa tersenyum mendengar perkataan tulus dari saya yang telah menemaninya sejak pertama kali masuk ke rumah ini.


“Dimana bocah itu?” tanya Alwi yang baru saja tiba di ruang makan dan tidak melihat keberadaan istri mudanya.


“Sudah pergi sejak tadi, Mas. Mungkin Lathifa buru-buru dan tidak sempat berpamitan,” ucap Anisa tenang melihat wajah suaminya yang masih terlihat kesal.


“Selalu saja melakukan sesuatu sesuka hati!” kesal Alwi.


“Mas....” Anisa menatap suaminya penuh kasih sayang, ia tidak ingin jika Alwi dan Lathifa selalu saja bertengkar.


“Lindungi saja dia terus.”


Anisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang terlihat kekanak-kanakan, hal yang tak pernah ia lihat sebelum kehadiran Lathifa ditengah-tengah keluarga kecilnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2