Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Berserah kepada Allah


__ADS_3

Untuk memenuhi permintaan istrinya, terpaksa Alwi harus meninggalkan Anisa meskipun hatinya terasa berat. Ia menunggu kedatangan ibunya untuk menggantikannya menjaga Anisa. Namun sebelum pergi meninggalkan rumah sakit, Alwi memutuskan untuk pergi ke masjid rumah sakit untuk menenangkan kekalutannya.


Alwi menempelkan kening pada sajadah yang membentang di depannya, bulir-bulir air mata telah menetes deras beriringan dengan tetes air bekas wudu dari wajah dan rambutnya.


Setelah mengucapkan salam, Alwi menengadahkan kedua tangannya tinggi-tinggi tanda kesungguhan hatinya, ia membuka doa pada sholat Dhuhanya dengan memohon ampun terlebih dahulu kepada Robnya.


“Ya Allah, Ya Jabbar ... ini hamba-Mu, salah satu dari miliaran jutaan pendosa paling tidak tahu diri, yang hanya datang kepada-Mu ketika sedang membutuhkan sesuatu. Pendosa nomor satu dalam hal berkeluh kesah, pendosa yang selalu Engkau tutupi aibnya dari penglihatan mata manusia lainnya.”


“Ya Allah, yang Maha Pengasih dan Penyayang. Hamba memohon ampunan atas segala dosa, hamba memohon ampun atas ketidaksempurnaan diri sebagai suami dan ayah untuk istri dan anak hamba.”


“Ya Allah ... untuk apa pun yang telah terjadi kemarin dan hari ini, lapangkanlah hati hamba untuk menerimanya. Jika esok hari keadaannya tak kunjung membaik, tolong cukupkan diri ini untuk tidak menyalahkan siapa pun. Karena hamba percaya segala sesuatu yang terjadi berkat campur tangan-Mu dan untuk segala bahagia yang masih diselimuti tanda tanya, hamba percayakan ada sesuatu yang lebih besar dan lebih baik yang telah Engkau persiapkan untukku.”


“Ya Allah ... Engkau adalah Sang Maha Cinta. Hamba tidak pernah tahu kalau kecelakaan waktu itu akan membawa hamba pada takdir pernikahan yang demikian pelik.” Alwi sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak semakin menjadi, ia teringat kejadian kecelakaan lima tahun lalu.


“Tetapi menduakan istri yang sangat hamba cintai karena alasan janji sangat tidak dapat masuk di akal, Ya Rob. Hamba tidak bisa memaksakan perasaan untuk berbagi hati. Ya Allah Engkau mengenalku melebihi diriku sendiri. Aku hanya laki-laki biasa yang memiliki nafsu, aku tidak berniat untuk menyakiti hati siapa pun.”


“Hamba segan berhadapan dengan istri hamba bahkan seluruh keluarga hamba, bahkan hamba tak mengetahui keberadaan Lathifa. Wanita yang tengah mengandung anak hamba di dalam rahimnya. Apa yang harus hamba lakukan, Ya Allah? Kemana lagi hamba harus mencari keberadaannya?”


“Ya Allah hamba yakin takdirmu jauh lebih indah dari semua rencana-rencana yang telah hamba rencanakan, kuserahkan seluruh hidup dan matiku pada-Mu, Ya Allah. Hasbunallah wanikmal wakil ... Hasbunallah wanikmal wakil ... Hasbunallah wanikmal wakil.”


Disaat Alwi tengah fokus dengan zikir yang diucapkannya, ia merasakan tepukan pelan di bahu kanannya.


Alwi menoleh ke belakang dan mendongakkan kepalanya, ia terkejut melihat seseorang yang sangat ia kenal dan ia hormati, yaitu gurunya. “Ustadz.”


“Boleh saya duduk disebelah kamu?” tanya ustadz Hamdan dengan wajah tenangnya.


Alwi menganggukkan kepalanya dan menggeser posisi duduknya memberikan ruang untuk gurunya duduk.


“Saya datang ke Masjid sebelum menjenguk keponakan saya, tapi malah melihat seorang pemuda tengah merengek kepada Tuhannya, terlihat sangat menyedihkan,” ucap ustadz Hamdan membuat Alwi menundukkan kepalanya dalam-dalam mengetahui siapa yang dimaksud oleh gurunya itu.


“Aku seperti melihat orang lain pada diri Alwi Husein Ibrahim, santri yang pernah mondok di pesantren Athaillah milik Abah dulu.” Ustadz Hamdan menatap lekat Alwi yang tak berkutik di hadapannya.


“Semua orang punya masalah, bukan hanya kamu saja yang punya masalah.” peringat ustadz Hamdan lembut.


“Iya, Bi,” jawab Alwi lirih.


“Allah menciptakan kehidupan ini untuk menguji kita, bersabarkah kita dalam menghadapi segala yang ada? Bersyukurkah kita menerima nikmat yang Allah berikan kepada kita?” ustadz Hamdan menggelengkan kepalanya melihat penampilan Alwi yang terlihat menyedihkan.


“Bacakan surah Ali Imran ayat 139!” perintah ustadz Hamdan kepada Alwi yang masih terdiam.


“Audzubillahiminasyaitonirojim, bismillahirohmanirohim ....” Alwi membaca taawudz sebelum memulai membacakan ayat yang diminta oleh sang guru.


"وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ"


(Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.)

__ADS_1


“Abi yakin kamu tahu arti ayat tersebut,” ucap ustadz Hamdan dan dibalas dengan anggukan oleh Alwi.


“Kamu tahu, kesedihan itu letaknya di hati dan kelemahan itu letaknya di badan." Ustadz Hamdan menunjuk dadanya dna tubuhnya bergantian. "Coba saja, pernah kan kita dengar orang menasihati kita luar dan dalam. Biasanya mereka mengatakan, sabar ya ... kuat ya.”


“Dalam ayat tersebut pun  Allah mengatakan ‘wa la tahinu wa la tahzanu’ karena Allah tahu ketika kita sedih bukan hanya hatinya saja, tapi pasti ke badanya juga lemah. Dan Allah bilang, yang dikuatin itu hatinya supaya di luar tidak kelihatan lemah.” Ustadz Hamdan melirik sekilas ke arah Alwi yang takzim mendengarkan.


“Kenapa demikian? Boleh saja sedih, tapi jangan sampai di luar kita terlihat menyedihkan. Karena musuh kita bakalan senang melihatnya jika kita lemah.”


“Kenapa tidak boleh sedih berkepanjangan? Allah teruskan dalam ayat tersebut, 'wa antumul-a'launa ing kuntum mu`minīn' Seorang mukmin yang derajatnya tinggi dia akan mengharapkan rahmat dan pahala dari-Nya.”


“Bahkan bukan hanya di dunia saja tapi di akhirat juga, cuman kadang tidak kelihatan dan tidak kita sadari saja.”


Alwi terdiam merasa tertampar dengan penjelasan dari gurunya, selama ini ia terpuruk atas cobaan yang tengah melanda ruang tangganya.


“Masa begitu saja harus dijelaskan!” sindir ustadz Hamdan diiringi dengan tawa renyahnya.


“Sepanjang apa pun malam, pagi pastilah akan tiba. Dan sepanjang apa pun usia, pada akhirnya pasti akan masuk ke dalam liang lahat. Kehidupan itu hanya menunggu waktu, Al! Segala sesuatu pasti ada waktunya meski dengan sebab yang berbeda. Serahkan semuanya kepada Allah semata.”


Usai berpamitan dengan gurunya Alwi bergegas mengemudikan mobilnya menuju tempat yang sering ia datangi.


Sesampainya di depan restoran, Alwi langsung memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam restoran. Beberapa karyawan yang sudah mengenalnya menyapanya dengan ramah, meskipun hanya dibalas dengan anggukan oleh Alwi.


“Assalamualaikum, Pak.” Seorang karyawan bergegas menghampiri Alwi ketika melihatnya datang.


“Wa’alaikummussalam, bagaimana? Apa ada kabar darinya?” tanya Alwi kepada karyawan tersebut yang tidak lain adalah Maya.


Alwi menghela nafasnya kasar. “Astaghfirullah, Ya Allah ....”


“Ya sudah, jika ada kabar dari Lathifa langsung beritahu saya,” pinta Alwi cepat. “Saya permisi dulu, assalamualaikum.”


“Wa’alaikummussalam,” jawab Maya dan beberapa karyawan yang berada di sekitar.


“Apa mbak Lathifa benar-benar menghilang tanpa kabar, Mbak?” tanya salah seorang karyawan kepada Maya.


“Entahlah, jangan ikut mencampuri masalah orang lain!” tegur Maya.


“Kasihan sekali pak Alwi, hampir setiap hari datang ke tempat ini mencari keberadaan mbak Latifah. Namun selalu pulang dengan kekecewaan,” celetuk karyawan lainnya mental punggung bos baru mereka yang masih terlihat di balik pintu kaca.


“Katanya mbak Anisa juga sedang sakit keras, padahal beliau orang baik. Bahkan rela membeli kembali restoran ini dengan harga dua kali lipat dari pembeli sebelumnya,” oceh karyawan lain.


“Hust! Kalian ini, suka sekali bergosip! Cepat kembali bekerja! Apa mau dipecat!” gertak Maya merasa kesal.


Maya diberikan kepercayaan oleh Anisa untuk memegang Hafa resto selama kepergian Lathifa, mereka percaya suatu saat Lathifa dan ibu Hana pasti akan kembali ke tempat ini, bagaimanapun juga restoran ini satu-satunya peninggalan dari almarhum ayahnya.


Maya menatap mobil Alwi yang perlahan menjauh meninggalkan halaman restoran, ia merasa prihatin dengan keadaan yang tengah menimpa atasannya tersebut. Setelah memastikan semua karyawan kembali bekerja dan tidak bergosip lagi, Maya kembali melakukan aktivitasnya.

__ADS_1


Di tempat lain, Alwi sudah berada di depan sebuah warung sederhana tempat anak muda nongkrong. Di seberang jalan ada sebuah gedung yang terlihat biasa saja biasa saja, namun di dalamnya ada banyak pemuda-pemudi bersatu menyalurkan hobi masing-masing.


“Bapak mau masuk ke sana lagi?” tanya pemilik warung yang melihat Alwi terus menatap gedung tersebut.


“Apa ibu yakin tidak pernah melihat Lathifa masuk ke dalam sana?” tanya Alwi sopan.


“Bagaimana cara saya untuk membuat Bapak percaya dengan ucapan saya?” tanya pemilik warung tanpa menghentikan aktivitasnya yang sedang memberikan beberapa piring kotor di atas meja.


“Kalau Bapak ingin membuktikannya, silakan saja masuk ke dalam! Tapi siap-siap saja Bapak keluar dengan tubuh babak belur,” ucap pemilik warung membuat Alwi teringat kejadian beberapa bulan lalu ketika dirinya diamuk oleh Zidan ketika mencari keberadaan Lathifa di markas mereka.


“Kalau suatu saat ibu melihat Lathifa datang kesini, tolong segera hubungi saya ya, Bu,” pinta Alwi sebelum meninggalkan tempat tersebut.


Alwi menatap lekat bangunan di depannya sebelum kembali mengemudikan mobilnya, entah sudah berapa kali ia datang ke tempat itu. Namun sama saja, ia tidak mendapatkan sedikit saja kabar tentang Lathifa.


“Kalau gak mau poligami, kenapa tidak tolak saja terang-terangan sama istri Lo itu! Jadi cowok gak tegas, ujung-ujungnya mau juga istri dua! Dasar brengs*k!”


“Astaghfirullah!” Alwi kembali beristigfar, ia kembali teringat makian Zidan yang terus terdengar di telinganya.


Alwi tidak bisa menceritakan dan menjelaskan semua hal, Alwi tidak mungkin menjawabnya dengan mengatakan bahwa ia tidak mungkin menolak permintaan Anisa karena satu dan hal lainnya. Meski akhirnya Alwi juga yang harus menanggung beban perasaan.


Bahkan sampai detik ini, Alwi tidak ada keinginan untuk berpoligami. Tetapi sampai detik ini juga ia harus menjalankan amanah dan janjinya untuk selalu membahagiakan Anisa, termasuk menuruti semua pintanya.


Selama enam bulan terakhir, Alwi juga menyisihkan waktunya untuk mencari keberadaan Latifa di dalam kota, ia tidak mungkin pergi keluar kota meninggalkan Anisa yang terbaring di rumah sakit.


Dddrrtt...


Suara dering ponsel menyadarkan Alwi dari lamunannya, ia menepikan mobilnya lalu meraih ponsel miliknya yang berada di kursi penumpang di sebelahnya.


“Umi,” ucap Alwi ketika melihat nama yang tertulis di ponsel yang menyala.


“Assalamualaikum, Umi,” ucap Alwi setelah menerima panggilan tersebut.


TIIIIIINNNN


TIIIIIINNNN


Suara klakson kencang dari arah berlawanan membuat Alwi terkejut dan menjatuhkan ponselnya, tanpa sempat melihat apa yang terjadi, sebuah kecelakaan tak dapat dihindarinya.


BRAK


TIIIIIINNNN


‘Allahuakbar.’


“Innalilah!

__ADS_1


 


__ADS_2