
Sejak kejadian malam itu, Lathifa menjadi lebih pendiam. Ia hanya akan mengeluarkan suaranya ketika seseorang menyapa atau bertanya kepadanya saja.
Seperti pagi ini, ketika Anisa dan Lathifa tengah sibuk menyiapkan menu sarapan di dapur. Anisa yang merasa aneh melihat perubahan madunya itu merasa cemas dan menyangka jika Lathifa sedang sakit.
“Fa, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Anisa cemas.
“Baik, Mbak.” Lathifa menjawabnya dengan singkat sambil sibuk membawa piring-piring berisi lauk ke meja makan.
“Apa kamu sakit?” Anisa mencoba bertanya lebih dalam lagi.
“Tidak.”
Anisa menaruh panci di tangannya ke dalam wastafel cuci piring lalu mengangkat mangkuk berisi nasi menyusul Lathifa yang sudah berada di ruang makan.
“Kamu ada masalah?” tanya Anisa setelah berada si samping Lathifa.
“Tidak ada, Mbak,” jawab Lathifa datar membuat Anisa menatap lekat ke arahnya.
“Fa,” panggil Anisa pelan.
“Ya?” Lathifa menjawabnya tanpa menolehkan kepalanya.
Hal itu membuat Anisa semakin merasa ada yang salah dengan madunya itu, tidak biasanya Lathifa bersikap dingin seperti itu kepadanya.
‘Kenapa Lathifa seperti menghindar dariku? Apa aku membuatnya marah?’ Anisa bertanya-tanya dalam hati.
“Apa aku membuat kesalahan sama kamu?” tanya Anisa memastikan, berharap semoga ia tidak melakukan sesuatu yang membuat madunya itu marah kepadanya.
“Tidak, Mbak.” Lagi-lagi Lathifa menjawabnya dengan singkat dan cepat membuat Anisa semakin menekuk kedua alisnya bingung.
Anisa ingin bertanya lagi namun ia urungkan karena ia bisa melihat jika suasana hati Lathifa sedang tidak baik dan ia takut jika Lathifa merasa tidak nyaman karena terus mendesaknya.
Pagi itu mereka menghabiskan sarapan dalam keheningan, saling diam sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing.
Dua hari terakhir Alwi tengah sibuk dengan proyek barunya dan lebih banyak menghabiskan waktu di kantornya, bahkan ia tidak merasakan sesuatu yang terjadi di malam itu.
Alwi juga berhasil membungkam tuan Sanjaya yang datang ke kantornya penuh amarah tidak terima dengan keputusan sepihak yang Alwi lakukan.
Tuan Sanjaya mengancam akan membawa kasus tersebut ke pengadilan, namun Alwi tidak tinggal diam begitu saja. Ia mengancam balik tuan Sanjaya bahwa ia akan melaporkan putrinya yang mencoba menjebaknya.
Alwi telah mengantongi semua bukti yang bisa dipastikan dapat menjerat Chaca dengan hukuman yang cukup berat, terpaksa tuan Sanjaya harus mengalah karena tidak ingin nama putrinya tercemar dengan kasus tersebut.
Siang harinya, Alwi dan Raiyan sedang menikmati makan siang mereka di dalam ruang kerja Alwi. Mereka makan bekal yang dibawa Alwi dan disiapkan oleh Anisa untuk mereka berdua.
“Besok biar aku saja yang akan menghadiri peresmian hotel A di luar kota, Rai.” Alwi mengutarakan niatnya untuk menggantikan Raiyan yang seharusnya mendatangi acara tersebut.
__ADS_1
“Hah, tumben?” tanya Raiyan heran, ia tahu atasannya itu paling menghindari perjalanan bisnis di luar kota apalagi harus bermalam di sana.
“Mau atau tidak?” tanya Alwi dengan nada mengancam.
“Ok! Terserah kamu saja!” jawab Raiyan cepat lalu kembali fokus dengan makanan di depannya.
“Pergilah berkencan, Rai! Sampai kapan kamu akan terus sendiri seperti ini? Menyedihkan!” ejek Alwi membuat Raiyan mencebikkan bibirnya kesal.
“Diam saja kamu, Al! Mentang-mentang ada dua bidadari cantik yang selalu menemani kamu setiap hari! Awas saja jangan sampai kamu kehilangan keduanya!” peringat Raiyan membuat Alwi mendaratkan pukulannya tepat dikepala sahabatnya itu.
Plak!
“Akh! Sakit tahu!” omel Raiyan.
“Makanya kalau punya mulut difilter jangan asal bicara!” tegur Alwi merasa terganggu dengan perkataan Raiyan.
“Bercanda, woi!”
Alwi dan Raiyan kembali melanjutkan makan siang mereka dalam diam, Raiyan memakan makanannya dengan begitu lahap berbeda dengan Alwi yang hanya sedikit menyentuh makanannya.
Banyak hal yang memenuhi pikiran Alwi, ia merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia ini.
Alwi merasa bersalah kepada Lathifa, ia menyadari bahwa sebagai seorang suami Alwi belum bisa bersikap adil dengan istri mudanya itu. Bahkan sengaja atau pun tidak disengaja, ia sering berbuat zalim kepada Lathifa.
Alwi sempat memutuskan untuk memperbaiki dan memulai hubungan baru dengan istri mudanya itu. Namun, baru saja ia mencobanya ada saja masalah yang menghalangi niat baiknya itu.
Minggu ini memang jadwal Alwi untuk tidur di kamar Lathifa dan ia ingin mendinginkan pikirannya terlebih dahulu sebelum ia kembali berhadapan dengan istri mudanya itu.
Disisi lain, usai jam kuliahnya selesai, Lathifa tidak langsung pulang ke rumah. Ia memilih untuk menghabiskan waktunya di perpustakaan kampus hingga sore hari.
Karena terlalu fokus mengerjakan tugas-tugasnya, Lathifa tidak menyadari waktu telah menunjukkan pukul 15.50 dan sebentar lagi perpustakaan itu akan segera ditutup.
Lathifa menoleh ketika seseorang menepuk bahunya pelan.
“Permisi, Mbak. Maaf, sebentar lagi perpustakaannya akan ditutup,” ucap salah seorang penjaga perpustakaan itu.
“Eh ... maaf, Bu. Saya tidak sadar hari sudah sore,” jawab Lathifa menyadari dirinya terlalu fokus dengan pekerjaannya.
“Tidak apa-apa, Mbak.” Petugas perpustakaan itu tersenyum ramah kepada Lathifa. “Lekas rapikan barang-barang Anda, pelan-pelan saja jangan terburu-buru. Masih ada waktu sekitar 10 menit,” lanjutnya pelan.
“Terima kasih, Bu.”
Setelah kepergian petugas tersebut, dengan cepat Lathifa membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tas hitam miliknya.
Tas hitam yang warnya sudah sedikit memudar, namun Lathifa enggan untuk menggantinya dengan yang baru karena tas tersebut merupakan kado terakhir yang diberikan oleh kakaknya.
__ADS_1
Lathifa keluar dari perpustakaan setelah berpamitan dengan penjaga perpustakaan tadi ketika berpapasan di pintu keluar.
Lathifa melajukan sepeda motornya membelah kerumunan kendaraan lainnya yang hilir mudik memenuhi jalanan kota di sore itu.
Lathifa merasa enggan untuk pulang ke rumah suaminya, ia memutuskan untuk mengunjungi ibunya di restoran.
“Cil, tumben lo datang ke sini?” tanya Zidan yang memang sengaja datang ke restoran untuk menunggu kedatangan Lathifa.
“Oh, memangnya aku tidak boleh mengunjungi ibuku?” tanya Lathifa tanpa semangat.
“Akh! Kakak ngapain?” Lathifa terkejut ketika Zidan tanpa permisi menarik tangannya dan membawanya menjauh dari keramaian di dalam restoran.
“Katakan sejujurnya sama gue!” tegas Zidan sesampainya mereka di taman belakang restoran tanpa melepaskan genggamannya di tangan Lathifa.
“Apa sih, Kak! Apa yang harus aku katakan?” tanya Lathifa kesal, ia lalu menyibakkan tangan Zidan dari tangannya.
“Apa lo baik-baik saja?” tanya Zidan cemas.
“Apaan sih?” Lathifa memutar bola matanya jengah, kenapa hari ini semua orang bertanya kepadanya apa dia baik-baik saja? Jelas-jelas Lathifa merasa baik-baik saja dan tidak sakit.
“Kakak lihat sendiri, kan! Aku berdiri di sini dan baik-baik saja,” jawab Lathifa lalu ia berbalik hendak kembali masuk ke dalam restoran.
Langkah Lathifa terhenti ketika mendengar pertanyaan yang diucapkan Zidan dan itu cukup sensitif terdengar di telinganya.
“Apa suami lo memperlakukan lo dengan baik?” tanya Zidan sinis.
“Tentu saja!” Lathifa menjawabnya dengan cepat, ia lalu kembali berbalik menghadap Zidan. “Apa maksud Kakak bertanya seperti itu?” tanya Lathifa tidak suka.
“Jika dia benar baik sama lo, lalu kenapa lo datang ke Cafe milik Ana?” selidik Zidan.
Latifa sedikit terenyak, ia lupa jika Zidan dan Ana masih sering berhubungan. Pasti Ana akan memberitahu Zidan tentang keputusannya untuk ikut bernyanyi di Cafenya.
Sebenarnya sejak dulu ayah dan ibu Lathifa tidak suka jika Lathifa bergabung dengan band di Cafe, dengan alasan bahwa dia seorang wanita. Namun hanya itu satu-satunya cara agar ia bisa mendapatkan penghasilan sendiri di sela-sela kesibukan kuliahnya.
Dulu Lathifa sering ikut kakaknya tampil di Cafe milik Ana, bahkan tak jarang ia ikut bernyanyi bersama tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Namun Lathifa hanya ikut bernyanyi jika ada kakaknya saja, itu pun juga dilakukan siang atau sore hari saja.
“Apa salah jika aku ingin mencari uang sendiri? Toh, aku tidak merepotkan orang lain.”
“Tapi-”
“Please, Kak ... rahasiakan ini dari ibu. Aku hanya bernyanyi di akhir pekan itu pun hanya sampai jam 8 malam, tidak lebih.” Lathifa memohon dengan wajah memelasnya membuat Zidan tidak tega melihatnya.
“Hmm, baiklah. Tapi ingat, jika lo memerlukan bantuan, kapan pun itu, gue selalu ada untuk lo!” janji Zidan tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Terima kasih, Kak.”
__ADS_1
Lathifa meninggalkan Zidan yang masih berdiri menatap kepergian Lathifa.
‘Gue gak suka melihat lo sedih, Cil. Sampai kapan pun gue akan selalu melindungi lo!’