
Hari minggu pun tiba, sesuai ucapannya Lathifa tidak ikut Anisa dan suaminya menghadiri acara di pesantren. Dengan malas-malasan ia harus menyiapkan sarapan seorang diri karena kedua orang yang biasanya makan bersama satu meja dengannya sudah berangkat sejak subuh tadi.
“Hah, sepi sekali rumah ini,” ucap Lathifa tak semangat.
Rumah besar dua lantai itu hanya dirinya seorang yang menghuninya, bahkan mbok Ijah dan suaminya yaitu pak Ahmad tengah ijin pulang ke kampung halaman mereka untuk satu bulan ke depan.
Sambil meracik bahan dan perlengkapan tempurnya, bibir mungil Lathifa dengan sendirinya menyenandungkan lagu lawas era 90-an berjudul ‘Angka Satu’ yang dipopulerkan oleh Caca Handika. Lagu yang populer bahkan sebelum dirinya terlahir di dunia ini.
Masak masak sendiri
Makan makan sendiri
Cuci baju sendiri
Tidurku sendiri ...
Cinta aku tak punya
Kekasih pun tiada,
Semuanya telah pergi
Tak tahu kemana ...
Hidup serasa kaku
Bagaikan angka satu
Meranalah kini merana
“Duh, apaan sih Fa? Ngaco kamu!” oceh Lathifa merasa geli menyadari dirinya menyanyikan lagu dangdut, padahal ia tidak terlalu suka dengan lagu dengan genre tersebut.
“Memang sih liriknya sangat menggambarkan diriku saat ini, di rumah sendiri apa-apa sendiri,” gerutu Lathifa sembari tangannya sibuk dengan bahan-bahan masakan.
Tak!
Lathifa memukulkan spatula kayu di tangannya ke atas meja dapur dengan cukup keras.
“Huh! Bahkan tepat sekali aku tidak punya kekasih,” kesal Lathifa merasa lagu tersebut tengah mengolok-olok dirinya.
“Ada sih suami, tapi apa orang itu bisa disebut kekasih?” tanya Lathifa dengan wajah murung.
“Oh, sungguh malang nian nasib kamu anak muda ...,” ucap Lathifa dengan lesu, ia meletakkan kembali alat masaknya dan memutuskan untuk membeli sarapan di luar saja.
Lathifa merasa kalau suasana hatinya pagi ini sangat tidak nyaman. Lathifa merasa kesal dengan sikap Alwi, karena sikap suaminya yang mulai sedikit menghangat entah kenapa beberapa hari terakhir kembali dingin terhadapnya.
__ADS_1
Lathifa bergegas kembali masuk ke kamarnya, tanpa menunggu lama Lathifa keluar dengan setelan berwarna navy dengan corak abu-abu menghiasinya. Dengan menenteng sling bag kecil berwarna hitam, ia pun menaiki motornya meninggalkan rumah suaminya.
**
Suasana di pesantren terlihat sangat ramai, pagi tadi diselenggarakan acara walimatul ursy pernikahan tuan Harun ayah kandung Zahran.
Meskipun hanya perayaan sederhana, namun tamu yang hadir cukup banyak hingga memenuhi halaman pesantren dan berhasil menambah kesibukan para santri di sana.
Di ruang keluarga, semua keluarga pesantren tengah berkumpul, meskipun tanpa kehadiran kedua orang tua Anisa yang tidak bisa ikut hadir karena pekerjaan mereka, namun Anisa sudah merasa cukup bahagia.
Apalagi ini kali pertamanya ia berjumpa dengan saudara sepupunya yang sebelumnya tak pernah diketahui keberadaannya oleh seluruh keluarga pesantren.
“Bagaimana, Mbak. Benar apa yang aku katakan, bukan?” tanya Zahran antusias kepada Anisa yang duduk tak jauh dari tempatnya duduk.
“Bukankah Zahra sangat mirip dengan Mbak Nisa?” lanjut Zahran.
“Iya, Dek. Kamu pasti bahagia memiliki adik secantik Zahra,” balas Anisa sembari menatap ke arah wanita yang duduk di seberangnya.
Anisa belum sempat mengobrol banyak dengan sepupunya, Zahra. Karena sejak acara belum dimulai, suaminya selalu menempel dan mendominasi keberadaan Zahra.
“Tapi aku sih lebih suka sama Mbak Nisa, Mbak Nisa lebih cantik!” celetuk Zahran membuat sosok pria kekar yang duduk di samping Zahra melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
“Kenapa? Memang kenyataannya lebih cantik Mbak Nisa, istri kamu saja tidak bisa pakai jilbab dengan benar,” ejek Zahran, “Kalau tidak suka ya sudah, jangan menatapku seperti itu!”
Zahra yang mendengar sindiran dari kakaknya itu tidak merasa marah, justru ia merasa malu karena teringat peristiwa kemarin yang membuatnya menjadi bahan tontonan santri yang tengah beraktivitas di depan Ndalem.
“Hehe, maaf,” cicit Zahra merasa bersalah.
“Haha, dasar kamu ya.” Zahran mengacak ujung kepala adiknya namun langsung ditepis oleh Zain, suaminya Zahra.
“Dih, dasar pelit! Posesif banget sih suami kamu, aku kan kakaknya!” protes Zahran kesal.
“Sayang, malu ih dilihat banyak orang,” bisik Zahra pelan kepada suaminya.
“Kenapa? Mereka juga tidak merasa terganggu,” elak Zain, “Aku kan suami kamu, jadi tidak ada masalah, bukan?”
“Tapi, kan-”
“Apa perbuatan saya salah, Pa, Abi?” tanya Zain kepada ayah mertuanya dan juga Ustaz Hamizan yang hanya dijawab dengan senyuman dan geleng kepala dari keduanya.
“Ya ... ya ... beras dunia milik berdua, yang lain cuma numpang doang,” celetuk Zahran membuat semua orang tertawa karena ucapannya itu.
“Oh ya, Zahra. Usia kamu baru 19 tahun bukan?” tanya Anisa.
“Iya, Mbak.”
__ADS_1
“Kebetulan sekali, lain waktu saat kalian berkunjung kemari saya akan ajak Lathifa juga, mungkin saja kalian berdua cocok karena seumuran.”
“Siapa Lathifa Mbak?” tanya Zahran cepat, ia langsung teringat gadis yang dulu tak sengaja bertabrakan dengannya. “Apa wanita yang dulu datang bersama kalian?”
“Ya, kamu pernah melihatnya, Dek?” tanya balik Anisa.
“Pernah sekali.”
“Dimana? Kamu bertemu dengan seorang gadis Gus?” selidik Umi dengan menatap lekat ke arah Zahran.
“Eh, jangan berpikiran aneh Umi. Aku hanya tak sengaja bertemu dengannya di jalan belakang ketika dia sedang mencari toilet,” jelas Zahran.
“Oh, kirain. Awas kamu ya kalau berani macam-macam!” ancam Umi, meskipun diucapkan dengan nada lembut namun berhasil membuat Zahran merasa ketar ketir.
“Iya, Umi.”
Anisa yang melihat tingkah Zahran hanya tersenyum, sedangkan Alwi tengah sibuk dengan perbincangannya bersama Ustaz Hamizan dan Tuan Harun.
Setelah menjalankan sholat Ashar berjamaah di pesantren, Alwi dan Anisa berpamitan kepada Ustaz Hamizan, dan Umi Maryam serta keluarga lainnya.
Sepanjang perjalanan, wajah sepasang suami istri itu terlihat memancarkan cahaya kebahagiaan, ketenangan tanpa sedikit pun raut kesedihan.
Alwi sibuk dengan kemudi, namun tangan kirinya sibuk menggenggam tangan sang istri.
“Bulan depan papa dan mama rencana akan pulang ke Indonesia, Mas.”
“Baguslah, nanti kita berkunjung ke rumah mereka,” jawab Alwi tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
“Abah dam Umi sepertinya juga akan berkunjung ke Indonesia, benar?” tanya Anisa memastikan.
“Iya, cuma mereka tidak mengatakan tanggal dan harinya.”
“Ya sudah, nanti aku tanya lagi kepada Umi untuk memastikannya.”
Tak berselang lama, mobil yang membawa mereka berdua sampai di perumahan. Alwi menghentikan mobilnya di depan gerbang dan mencegah Anisa ketika wanita itu hendak keluar ingin membukakan gerbang untuk mobil mereka agar bisa masuk.
“Kamu tunggu di sini saja, Sayang. Biar aku yang membuka gerbangnya.”
Alwi dan Anisa masuk ke dalam rumah, namun rumah tersebut sangat sepi dan gelap tanpa satu lampu pun yang menyala.
“Kemana Lathifa?” tanya Anisa sembari berjalan menuju dinding untuk menelan skalar lampu.
“Kebiasaan bocah itu! Sudah besar juga masih suka sekali main, kamu bilangin sama dia untuk mengurangi kebiasaan buruknya itu, Nis!” ucap Alwi dengan nada sedikit kesal.
“Mas-” Anisa tidak melanjutkan kalimatnya ketika mendapati wajah suaminya seketika berubah, apalagi suaminya memanggilnya dengan namanya, bukan sayang yang menjadi panggilannya selama ini.
__ADS_1
“Aku ke atas dulu, mau mandi gerah,” ucap Alwi sebelum berlalu meninggalkan Anisa yang menghela napas berat menatap kepergian suaminya.