
Untuk menenangkan suasana, Abi Husein membawa Alwi dan Anisa ke ruang keluarga diikuti oleh semua orang. Mereka semua tidak teringat untuk mengisi perut kosong mereka, Abi dan Umi serta Raiyan pun belum sempat mengisi perut mereka karena tidak jadi sarapan di luar.
Abi Husein menuntut penjelasan dari putranya tersebut. Alwi dan Anisa menceritakan semuanya dari awal, mulai dari permintaan Anisa dengan alasan ia tak bisa memberikan keturunan untuk keluarga suaminya hingga alasan kenapa Lathifa memilih pergi dari rumah mereka.
Usai menjelaskan permasalahannya, Alwi hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak berani menatap wajah ayahnya, meskipun wajah paruh baya itu sama sekali tidak memperlihatkan kemarahan dalam raut wajahnya, Alwi justru lebih takut akan diamnya sang ayah.
“Jadi ... dengan kata lain kamu menuduh istrimu itu selingkuh?” tanya Abi Husein dengan suara beratnya, namun Alwi hanya terdiam tanpa berani mengiyakan pertanyaan ayahnya.
“Abi sangat kecewa dengan kamu, Al! Abi merasa gagal mendidik anak abi, Abi tidak menyalahkan perihal kamu yang berpoligami, karena dalam agama kita pun memperbolehkannya dengan syarat-syarat yang harus dipenuhinya.” Abi Husein menghela napasnya berat.
“Apa kamu sudah memenuhinya, Al?” tanya Abi Husein menatap Alwi tajam, dan sekali lagi Alwi hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, mulutnya terkunci tak mampu untuk mengeluarkan suaranya hanya sekedar untuk berkata ya atau tidak.
“Memiliki keturunan dalam pernikahan itu penting, tapi tujuan dari sebuah pernikahan bukan hanya tentang anak.” Abi Husein memberikan petuah kepada sepasang suami istri muda yang duduk di depannya itu.
Abi Husein tidak menyalahkan siapa pun dalam masalah ini, beliau tidak ingin gegabah dan terburu-buru dalam memberikan penilaiannya.
“Umi, maafkan Anisa,” ucap Anisa pelan sembari mendekati ibu mertuanya yang tidak berhenti menangis sedari tadi.
Anisa duduk tepat di depan ibu mertuanya, dan memeluk lutut umi Hanifa. Air mata yang sempat mengering kini ia kembali membasahi pipi mulus Anisa.
“Jangan menyalahkan Mas Alwi, Anisa yang memaksa Mas Alwi untuk menikahi Lathifa, Umi,” ucap Anisa disela tangisannya.
“Sayang, bangunlah!” Umi Hanifa menuntun menantunya itu untuk duduk di sebelahnya.
“Kamu tidak bersalah, anak itu yang sudah keterlaluan!” ucap Umi Hanifa melirik kesal ke arah Alwi. Beliau tidak pernah mendidik putranya untuk memperlakukan wanita dengan buruk, beliau juga tidak membenarkan perbuatan putranya itu.
"Jika memang tidak siap untuk berpoligami, kenapa harus menyetujui permintaan Anisa?"
“Umi, maafkan Alwi, Umi!” Alwi juga ikut bersimpuh di depan ibunya, ia sangat menyesali perbuatannya. Tidak hanya satu, bahkan ia berhasil membuat tiga hati wanita yang berharga dalam hidupnya terluka secara bersamaan.
__ADS_1
Umi Hanifa memalingkan wajahnya, beliau tidak sanggup melihat wajah putranya karena teringat akan sosok Lathifa.
“Umi-”
“Atas dasar apa kamu menuduh istrimu selingkuh, Al?” tanya umi tanpa menatap wajah putranya.
“Umi ... dia hamil-”
“Lalu apa masalahnya?” potong Umi Hanifa merasa gemas.
“A-aku tidak pernah menyentuhnya, Umi.”
“Kamu yang salah disini, Alwi!” tegas Umi Hanifa cepat “Kamu sebagai seorang suami yang tidak memenuhi hak-hak dia sebagai seorang istri!”
“U-umi ....” Alwi menggantung kalimatnya, ia sadar bahwa dirinyalah yang bersalah. Ia tidak memungkirinya, namun disisi lain Alwi juga tidak menerima jika istrinya bermain api di belakangnya.
“Kamu ingat kejadian malam itu?” Raiyan terdiam sejenak memberikan Alwi waktu untuk kembali mengenang malam kelam itu.
“Apa kamu yakin Anisa yang mengobati luka-lukamu?” tanya Raiyan memastikan.
“Memang Anisa yang mengobati aku, Rai,” jawab Alwi yakin.
Alwi dan Raiyan menatap ke arah Anisa untuk memastikan kebenaran dari jawaban Alwi. Sedangkan para orang tua hanya menyimak karena tidak mengerti arah pembicaraan keduanya.
Anisa terdiam karena bingung, ia mulai teringat malam itu ketika pulang dari luar kota dan mendapati keadaan kamarnya yang terlihat kacau. “Ya, memang aku yang mengobatinya.”
“Apa kamu tidur bersama Anisa?” tanya Raiyan membuat semua mata kembali menatap ke arahnya.
“Apa maksud kamu?” tanya Alwi dan Anisa bersamaan.
__ADS_1
“Aku curiga malam itu kamu bersama Lathifa.” Raiyan menjeda kalimatnya, ia menatap satu persatu wajah di depannya memastikan jika ia tidak akan salah dalam berbicara.
“Kamu masih ingat bukan, waktu pagi itu aku bertanya siapa yang mengobati kamu? Sebenarnya malam itu, sebelum pulang aku meminta tolong kepada Lathifa untuk merawat kamu.”
Alwi terdiam kembali mengingat kejadian malam itu, namun sayangnya ia tidak bisa mengingat apa pun.
“Apa kamu yakin Lathifa tidak masuk ke dalam kamar kamu dan juga tidak terjadi sesuatu ....” Raiyan tidak melanjutkan kalimatnya, ia tidak berani menduga-duga lebih jauh.
“Mas!” panggil Anisa membuyarkan lamunan suaminya.
“Malam itu aku pulang sekitar jam 3 subuh,” ucapnya tertahan, ia mulai memahami situasinya. “Dan ketika aku masuk kamar ....” Anisa mengatur pernapasannya dan juga mengatur gemuruh di dalam dadanya.
“A-aku masuk dan kamar sudah berantakan juga ada kotak obat disana ... dan ka-kamu tidak memakai pakaian, Mas,” ucap Anisa tercekat, dadanya terasa sesak membayangkan ketika suaminya tidur bersama wanita lain di ranjang milik mereka. Biar bagaimanapun Anisa tetaplah seorang wanita yang tak luput dari fitrah dasar seorang wanita, yaitu rasa cemburu.
Semua orang dibuat tercengang dengan penuturan Anisa, terlebih Alwi yang merasa tertampar dan tersadar atas kesalahannya.
“Mau kemana, Al?” tanya Abi Husein melihat Alwi tanpa berkata apa pun langsung berlari keluar meninggalkan semua orang yang masih terdiam mencerna apa yang tengah terjadi di depan mata mereka.
Alwi tak menghiraukan pertanyaan ayahnya itu, ia terus berjalan cepat keluar rumah.
“Kejar dia, Rai!” perintah umi Hanifa takut jika putranya melakukan sesuatu yang membahayakan keselamatannya.
Dengan cepat Raiyan mengejar Alwi, namun Anisa segera berteriak memanggilnya.
“Tunggu, Rai! Aku ikut!” seru Anisa dan berlari menyusul kedua pria itu.
.Terima kasih sudah mendukung karya ini 🤗
.jangan lupa like, komen, vote serta giftnya ya 🥰
__ADS_1