Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Perjanjian Sepihak


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Lathifa mendengar suara ketukan pintu yang membuatnya mengurungkan niat untuk merebahkan tubuhnya.


Tok! Tok! Tok!


Lathifa melihat ke arah pintu dan meraih jilbab yang tadi ia  taruh ditepi ranjang lalu memakainya asal.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan itu semakin cepat temponya. Lathifa melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 23.30.


"Iya sebentar!" teriaknya.


"Siapa sih tengah malam ketuk pintu nggak sabaran banget? Enggak tahu apa waktunya orang untuk tidur." Lathifa berlari kecil ke arah pintu sambil ngedumel.


"Ada apa Mbak-" Lathifa terkejut ketika membuka pintu mendapati orang yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Eh Pak Al, ada apa ya?" tanya Lathifa masih memegangi daun pintu.


Tanpa kata, tanpa permisi, Alwi menerobos masuk ke dalam kamar meninggalkan Lathifa yang terpaku di depan pintu.


"Cepat masuk dan tutup pintunya!" titah Alwi melirik sekilas istri mudanya dan berjalan ke arah sofa.


"Hah? Kenapa harus ditutup, Pak?" Lathifa menautkan alisnya bingung.


"Cepat! Jangan malah bengong di depan pintu," ucap Alwi sedikit meninggikan suaranya karena merasa kesal harus meninggalkan Anisa tidur sendirian di kamarnya.


"Eh i-iya, Pak." Lathifa tergagap karena kaget dengan nada suara Alwi.


"Duduk!" perintah Alwi.


Lathifa duduk di pinggir kasur, tanpa mengeluarkan suara dan terus menundukkan kepala. Entah mengapa Lathifa yang biasanya cerewet dan pemberani kini diam tak berkutik dihadapan Alwi.


"Dengar baik-baik ya, aku menikahi kamu bukan karena keinginanku," ucap Alwi tanpa menatap lawan bicaranya. "Aku hanya menuruti permintaan Anisa." lanjutnya.


Mendengar suara berat Alwi membuat mata Lathifa berkaca-kaca. Sesakit inikah rasanya tidak dianggap? Apakah dia salah telah mengambil keputusan ini?


"Jangan pernah berharap aku akan menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami secara keseluruhan. Dan aku pun tidak akan menuntut hakku kepadamu!" tegas Alwi.


"Aku hanya akan memberimu nafkah berbentuk materi saja, tidak lebih," imbuhnya.


"Jangan coba-coba untuk masuk dan merusak rumah tanggaku dengan Anisa, apalagi melukai hatinya, mengerti?"


Lathifa tetap diam tanpa suara, mati-matian ia menahan sesak di dalam dadanya.


"Hei! Kamu mengerti tidak?" tanya Alwi masih enggan menatap istri mudanya.


Lathifa berjengit kaget akan nada suara Alwi yang kembali meninggi. "Me-mengerti, Pak."


"Aku bukan bapak kamu ya! Jangan panggil aku dengan sebutan Pak!"


"I-iya Pak, eh Om," ucap Lathifa bingung harus memberi panggilan apa kepada suaminya itu.


"Apa? Om? Kamu pikir aku om-om apa?" Alwi mengeraskan rahangnya menahan emosi.


"i-iya."


"Kamu ya!" Alwi mengurungkan niatnya untuk memarahi Lathifa ketika melihat gadis di depannya  yang duduk diam di tepi kasur dengan menundukkan kepalanya.


"Ingat satu hal! Jangan pernah beritahu tentang pembicaraan kita malam ini kepada Anisa!" Alwi bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar Lathifa.


"Oh ya, tidurlah! Malam ini aku akan tidur di kamar ini," ucap Alwi sebelum menutup pintu kamar mandi.


Lathifa menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


'Ya Allah, perdalam lagi rasa sabarku. Perluas lagi rasa syukurku, perkuat lagi hati dan bahuku. Jadikanlah aku seikhlas-ikhlasnya atas segala rencana-Mu. Aku percaya segala yang terjadi hari ini, esok dan nanti adalah kehendak-Mu yang terbaik untukku.' ucap Lathifa dalam hati sebelum ia terlelap.


Alwi keluar dari kamar mandi mendapati istri mudanya itu meringkuk di dalam selimut. Ia memandang sekilas lalu mengambil bantal dan berjalan menuju sofa untuk membaringkan tubuhnya.


...*****...


Lathifa terbangun ketika mendengar suara Azan dari ponselnya. Ia bergegas bangun dari tidurnya, mengedarkan pandangan ke seluruh kamar.


"Hah, pak Al eh om Al semalam tidur di sofa? Aku kok enggak sadar saat dia mengambil bantal ya? Mungkin aku tertidur saat kelelahan menangis semalam." gumam Lathifa.


Lathifa melangkah ke arah sofa untuk membangunkan suaminya itu. Namun ia ragu dan mengurungkan niatnya ketika teringat perkataan Alwi semalam.


Lathifa mengambil bathrobe dan baju ganti lalu bergegas ke kamar mandi, ia ingin berendam air hangat, merilekskan tubuhnya yang terasa pegal karena acara semalam.


30 menit berlalu, namun ketika Lathifa keluar dari kamar mandi, ia tidak menemukan keberadaan Alwi di dalam kamarnya.


"Ke mana perginya om kulkas itu? Masa bodo, bukan urusanku."


Usai menunaikan kewajibannya, Lathifa keluar dari kamarnya, siapa tahu dia bisa bantu-bantu membuat sarapan di dapur.


Lathifa berjalan menuju dapur dan benar saja, Anisa dan mbok Ijah terlihat sedang sibuk menyiapkan sarapan.


"Pagi Mbak Nisa, pagi juga Mbok," sapa Lathifa.


"Loh, kenapa kamu di sini? Ini masih terlalu pagi, Fa?" Anisa mengangkat kepalanya ketika menyadari kehadiran Lathifa.


"Saya mau bantu masak, Mbak. Masa sudah numpang tidur terus nggak bantu-bantu. Itu namanya kurang ajar, Mbak." Lathifa terkekeh.


"Jangan bicara begitu, Fa. Anggap rumah ini sebagai rumah kamu sendiri!" perintah Anisa, tangannya sibuk memotong sayuran.


"Tapi Mbak-"


"Udah enggak perlu dibahas, ayo sini katanya mau bantuin kita," ucap Anisa mengalihkan pembicaraan.


"Mas Al sudah bangun kan, Fa? Soalnya Mas Al kalau kecapekan susah banget dibangunin."


"Tadi juga sholat bareng, Mbak." Lathifa berbohong agar Anisa tidak mencurigainya.


Deg.


Mendengar pernyataan Lathifa, Anisa tidak bisa berbohong kepada hati kecilnya. Ada rasa sakit di dadanya, apalagi ia mencium semerbak bau wangi khas shampoo dan terlihat jilbab yang Lathifa kenakan sedikit basah.


'Tahan Nis, kamu tidak boleh cemburu. Mas Al juga suaminya Lathifa. Kamu yang menginginkan ini, Nis!' ucap Anisa dalam hati.


"Mbak, apa yang bisa saya bantu?" tanya Lathifa yang berdiri di samping Anisa.


Suara Lathifa mengejutkan Anisa dan tanpa sengaja ia memotong jarinya sendiri.


"Akh! Astaghfirullah," desis Anisa.


"Astaghfirullah, Ya Allah, Mbak Nisa nggak apa-apa?" tanya Lathifa panik.


"Ada apa ini?" tanya Alwi dengan suara beratnya yang baru saja masuk dari taman belakang.


"I-itu tangan Mbak Nisa terluka," ucap Lathifa takut mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.


"Aku nggak apa-apa kok, Mas. Hanya luka kecil, ini juga karena kecerobohanku sendiri, jangan diperbesar deh," lerai Anisa ketika merasakan ketegangan antara suami dan madunya itu.


Alwi berjalan mendekati Anisa melewati Lathifa begitu saja, ia meraih jari Anisa yang terluka memasukkannya ke dalam mulut dan menghisap darahnya.


"Kamu nggak apa-apa, kan? Apa masih sakit? Ayo aku obati lukanya."


Tubuh Lathifa membeku, matanya berkaca-kaca menatap kepergian Alwi yang dengan mesranya menuntun Anisa meninggalkan dapur tanpa menganggap kehadirannya.


"Mbak Lathif kalau mau istirahat ke kamar aja nggak apa-apa, biar mbok yang menyelesaikan masakannya," ucap mbok Ijah menyadarkan Nyonya mudanya yang terlihat sedikit pucat.

__ADS_1


"Eh nggak perlu Mbok, saya baik-baik saja. Kita selesaikan masakannya sama-sama ya, biar cepat selesai."


...*****...


Suasana di meja makan sangatlah sunyi, tak seorang pun yang mengeluarkan suaranya. Bahkan, sendok dan piring pun ikut serta meredam suaranya.


Anisa menautkan alisnya melihat wajah suaminya yang terlihat begitu dingin, dan juga wajah madunya yang terlihat gelisah seperti sedang menahan takut.


'Ada apa dengan mereka? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?' tanya Anisa di dalam hati.


"Kapan kamu mulai masuk kuliah, Fa?" tanya Anisa memecah keheningan.


"Lusa Mbak, hari ini saya masih ada cuti."


"Rencana mau ke mana?"


"Emh, apa boleh saya pergi ke restoran ibu, Mbak?" tanya Lathifa sedikit takut.


"Minta izin sama Mas Al, Fa. Dia suami kamu, dia yang lebih berhak untuk memberikanmu izin."


Mendengar perkataan Anisa, Lathifa melirik sekilas pada Alwi, namun seketika ia mengurungkan niatnya ketika melihat wajah dingin suaminya itu.


Anisa melihat Lathifa yang hanya diam, lalu ia menatap lekat suaminya., "Boleh kan, Mas? Nanti biar aku yang mengantarkannya sekalian aku berangkat ke kampus."


Alwi hanya diam tak merespon permintaan istrinya lalu pamit untuk segera berangkat ke kantor.


"Aku sudah selesai makan, kamu lanjutkan saja makannya. Aku buru-buru ada meeting pagi ini."


Alwi bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Anisa memberikan tangan kananya dan mencium kening Anisa.


"Aku berangkat dulu, Sayang. Assalamu’alaikum," pamitnya kepada Anisa tanpa menoleh sedikit pun kepada Lathifa.


"Tunggu, Mas!" cegah Anisa.


Alwi menghentikan langkah kakinya dan memutar tubuhnya. "Ada Apa?"


"Mas tidak lupa, kan? Bukan hanya aku istri, Mas!" tegas Anisa.


Alwi melirik Lathifa dan menyuruhnya untuk mendekat. "Kesini kamu!"


Lathifa menuruti perintah suaminya, dan mencium tangan yang diberikan Alwi kepadanya. Alwi mengecup sekilas kening Lathifa.


"Sudah," ucapnya dan bergegas meninggalkan kedua istrinya.


Anisa tersenyum mengantar kepergian suaminya dan diikuti Lathifa yang berjalan di belakangnya.


Anisa mengantar Lathifa pergi ke Hafa Resto, sepanjang perjalanan mereka saling bertukar cerita dan pengalaman.


'Mbak Nisa begitu cantik, pintar, ramah dan baik hati, pantas saja om kulkas begitu mencintainya,  dia bahkan tidak menganggap dan begitu membenci aku yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan istri pertamanya itu.' Lathifa memandang Anisa yang duduk dibalik kemudi.


Setibanya di depan restoran, mereka disambut oleh Hana yang kebetulan sedang merapikan tanaman hias di halaman restoran.


Lathifa turun dari mobil diikuti oleh Anisa. Mereka berjalan menghampiri Hana dan bergantian menyalami tangan Hana.


"Assalamu’alaikum ... Buk. Lathif kangen," ucap Lathif memeluk manja ibunya.


"Wa’alaikummussalam ... kamu itu ya, sudah menjadi seorang istri masih saja seperti anak kecil," ucap Hana memberikan tepukan kecil di bahu putrinya.


"Hehe, kan manja sama ibu sendiri tidak ada salahnya, Buk."


Hana menggelengkan kepalanya dengan kelakuan putrinya itu. "Baru juga tadi malam berpisah, Thif."


"Oh ya sampai lupa sama Mbak Nisa. Kenalkan Buk ini Mbak Nisa. Mbak Nisa ini ibu saya. Kalian belum sempat berkenalan, kan?"


"Saya Hana ibunya Lathif, Nak Nisa." Hana mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.

__ADS_1


"Saya Anisa, Buk." Anisa mencium punggung tangan Hana sebagai tanda hormatnya. "Istri pertamanya Mas Alwi," lanjutnya.


Tubuh Hana menegang. Apakah ia tidak salah mendengar? Istri pertama? Apa maksudnya?


__ADS_2