Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Lathifa Hamil?


__ADS_3

Alwi duduk di kursi utama dengan pandangan kosong menatap ke depan. Tangannya sibuk mengetuk-ngetuk pena di atas meja dengan ritme tak beraturan.


Pikirannya sibuk berkelana entah ke mana. Sesekali, ia terlihat tersenyum-senyum sendiri, mengabaikan orang di depannya yang sedang mempresentasikan laporan pekerjaan mereka.


Bayangan kedua istrinya tadi pagi masih terlihat jelas di depan matanya. Wajah cantik dua bidadari yang akan membuat setiap pria terlena hanya dengan menatapnya.


Wajah sayu dan kelelahan terlihat jelas di wajah cantik istri pertamanya. Di sebelahnya, istri mudanya terlihat manis dengan rambut hitam panjangnya yang terurai menutupi bantal. Rambut yang selama ini selalu ia sembunyikan dengan selembar kain panjang bernama pashmina. Baru kali ini Alwi melihatnya, sangat indah.


Ayat Alquran yang terus menerus diulang hingga 31 kali dalam surah Ar-Rahman terngiang-ngiang di telinganya.


Fabi ayyi aalaaa’i Rabbikumaa tukazzibaan.


‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, Al? Mengapa kau sia-siakan makhluk ciptaan Allah yang datang dalam hidupmu?’ gejolak hati Alwi, namun selalu ia tepis pikiran itu.


“Bagaimana menurut Anda, Pak Al?” tanya salah satu kepala divisi meminta tanggapan dari atasannya.


Semua pasang mata menatap ke satu arah. Namun, tampaknya atasan mereka masih sibuk dengan dunianya sendiri.


“Pak!” panggil Raiyan.


Semua mata yang ada di dalam ruangan saling melempar pandang. Baru kali ini mereka mendapati Alwi tidak fokus di saat meeting sedang berlangsung.


Beberapa kali Raiyan memanggil Alwi untuk menyadarkannya. Namun sia-sia, membuat Raiyan merasa geram.


“Alwi!” seru Raiyan tepat di dekat telinga Alwi.


Semua orang terkejut dan menatap ke arahnya dengan bermacam ekspresi. Berani sekali asisten itu memanggil atasannya hanya dengan menyebut namanya saja.


Tuk!


Alwi yang terkejut karena ulah asistennya, refleks memukul kepala Raiyan dengan pena yang ada di tangannya.


“Apa?” tanya Alwi melotot ke arah Raiyan.


“Fokus,” ucap Raiyan tanpa suara. Ia menunjuk orang-orang di depan Alwi dengan ekor matanya. Tangannya sibuk mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit.


“Ekhem.” Alwi berdehem menetralkan pikirannya. “Sampai di mana tadi?”


Semua orang kembali fokus ke topik utama, meeting pun kembali berjalan dengan lancar.


Sorenya, Alwi mengemudikan mobilnya memasuki gerbang kampus, ia ingin menjemput Anisa karena istrinya tidak membawa mobil.


Alwi melangkahkan kakinya memasuki lobi kampus dan duduk di salah satu kursi tunggu yang tersedia di sana. Menunggu kedatangan Anisa.


10 menit kemudian, Anisa datang menghampiri Alwi. Anisa mencium tangan suaminya dibalas dengan kecupan singkat di keningnya dari sang suami.


Kemudian mereka berjalan meninggalkan lobi kampus dengan saling bergandengan mesra menuju mobil mereka.


Tanpa disadari, ada sosok wanita yang melihat keromantisan sepasang suami istri itu dari arah jauh dengan senyum devil di wajahnya.


‘Ternyata istrinya adalah Bu Putri, akan mudah bagiku membuat Anda berpaling kepadaku.’ Ucap wanita itu dalam hati.


...*****...


Di rumah, Lathifa yang sudah merasa tubuhnya lebih sehat memutuskan untuk membantu mbok Ijah memasak makan malam.


Hari ini dia tidak ada kelas, jadi seharian hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah. Anisa tidak mengizinkannya untuk pergi ke restoran.


Di saat Lathifa menyajikan masakannya di atas meja makan, ia mendengar suara Anisa dan suaminya mengucapkan salam dari luar rumah.


“Wa’alaikummussalam,” jawab Lathifa dan mbok Ijah bersamaan.

__ADS_1


“Mbak Nisa bawa apa?” tanya Lathifa yang melihat Anisa memasuki dapur dengan menenteng sekantung keresek di tangannya.


“Kemarin kamu bilang ingin makan durian, Fa. Ini aku belikan spesial untuk kamu.” Anisa meletakkan durian itu di atas meja makan.


“Wah! Kelihatannya enak Mbak. Aku tidak sabar untuk mencicipinya,” ucap Lathifa dengan wajah berbinar.


“Mau mencicipi sekarang?” tanya Anisa tersenyum melihat binar di mata Lathifa.


Lathifa menganggukkan kepalanya antusias, sudah lama sekali ia tidak merasakan manisnya salah satu buah favoritnya itu.


Semerbak bau khas dari raja buah tersebut seketika menguar memenuhi ruangan ketika Anisa berhasil membelahnya.


Lathifa menutup mulut dengan kedua tangannya dan berlari ke kamar mandi di dekat dapur.


Huek. Huek.


Lathifa merasakan mual dan perutnya yang teras diaduk-aduk. Ia berjongkok di depan closed mencoba mengeluarkan isi perutnya namun tidak ada apa pun yang keluar, hanya cairan kental yang membuat tenggorokannya terasa pahit.


Anisa yang baru saja menyusul, bergegas mendekat dan memijat tengkuk madunya itu.


“Kamu baik-baik saja, Fa?” tanya Anisa khawatir.


“Aku baik-baik saja, Mbak. Nggak tahu kenapa setelah mencium bau durian dari dekat tiba-tiba perutku terasa mual.”


Anisa terus memperhatikan Lathifa yang berdiri di depan wastafel sedang membersihkan mulutnya. Sebuah senyuman terbit menghiasi wajah Anisa.


“Fa!” panggil Anisa dengan mata berbinar.


“Hmm. Ada apa, Mbak?”


“Tunggu di sini sebentar!”


Anisa berlari menuju kamarnya, meninggalkan Lathifa yang terlihat kebingungan.


“Apa ini, Mbak?” Lathifa meneliti benda pipih yang terasa asing di tangannya.


“Coba dulu, Fa!” desak Anisa.


“Tapi, Mbak-”


“Jangan khawatir, ada petunjuk pemakaiannya, kamu ikuti saja langkahnya, saya tunggu di luar.”


Anisa menunggu di depan pintu kamar mandi dengan harap-harap cemas.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Anisa antusias setelah Lathifa keluar dari kamar mandi.


Seketika raut wajah Anisa berubah murung ketika melihat satu garis merah yang muncul dari benda itu. Lathifa yang melihatnya merasa bersalah dan tidak enak hati.


“Mbak-”


“Tidak apa-apa, Fa. Lain kali kita coba lagi ya.”


Lathifa memandangi punggung Anisa yang berjalan menuju meja makan, ia semakin merasa bersalah kepada Anisa.


Di meja makan Alwi mengernyitkan alisnya mendapati Anisa murung tidak seperti biasanya.


“Kamu kenapa, Sayang.”


“Tidak apa-apa, Mas.”


Alwi menatap lekat ke arah Anisa, tentu ia tidak percaya begitu saja. Ia bahkan sudah hafal luar dalam sifat istri pertamanya itu.

__ADS_1


“Iya.” Anisa pasrah, tidak bisa berbohong kepada suaminya apalagi mendapat tatapan seperti itu. “Lathifa belum hamil, Mas. Sudah lima bulan kalian menikah.”


“Sayang, kamu jangan sedih ya. Mungkin Allah belum mempercayakan anak untuk dititipkan kepada kita.”


Alwi mengusap punggung tangan Anisa yang berada di atas meja. Lathifa cuek dengan percakapan sepasang suami istri di depannya dan berpura-pura fokus dengan makanannya.


“Nanti mas akan berikhtiar lebih agar Allah segera mengabulkan keinginan kamu.” Alwi mencoba menenangkan istri pertamanya.


“Lathifa.” Alwi berganti menghadap ke arah istri mudanya.


“Hmm,” jawab Lathifa masih menunduk sibuk dengan makanannya.


“Kamu beneran belum hamil?”


Uhuk. Uhuk.


Seketika Lathifa tersedak dan menatap nyalang ke arah suaminya yang entah berpura-pura bodoh atau apa.


‘Dasar tuan Kulkas gila!’ umpat Lathifa dalam hati.


...*****...


Sebulan berlalu, Echa semakin mencari celah untuk mendekati Alwi. Ia selalu ikut dalam setiap pertemuan perusahaan ayahnya dengan perusahaan Alwi.


Sebenarnya Alwi maupun Raiyan merasa tidak nyaman dengan kehadiran putri dari kliennya tersebut. Namun, mereka harus bersikap profesional.


Tuan Sanjaya mengatakan bahwa putrinya membantunya menggantikan tugas sekretarisnya selama ia mengambil cuti melahirkan.


Siang itu, Alwi menghadiri pertemuan dengan Sanjaya Group tanpa didampingi Raiyan, karena asistennya itu sedang bertugas di luar kota.


Alwi terpaksa menerima ajakan tuan Sanjaya untuk makan siang bersama, karena tuan Sanjaya sedikit memaksanya.


“Saya permisi ke toilet sebentar, Tuan Al.” Tuan Sanjaya berpamitan dan meninggalkan Alwi berduaan dengan putrinya.


Sebenarnya tidak benar-benar berduaan, mereka berada di dalam restoran dan banyak orang di sekeliling mereka. Namun, bagi Alwi tetap saja hal ini tidak dibenarkan olehnya.


“Tuan, seperti apa tipe wanita idaman, Anda?” tanya Echa degan suara yang dibuat semerdu mungkin.


“Tuan, apa Anda tidak tertarik dengan saya?” Echa yang melihat Alwi acuh tak acuh kepadanya, semakin menggencar Alwi dengan berbagai pertanyaan.


Alwi merasa risi dengan perlakuan Echa, namun ia merasa tidak sopan jika harus pergi tanpa berpamitan kepada tuan Sanjaya.


“Tuan, jika tuan bersama saya, saya bisa memberikan anak yang banyak untuk Anda. Bukankah Anda menginginkan seorang anak?”


Alwi memicingkan matanya, merasa pembicaraan wanita di depannya terlalu mengganggu privasinya.


Echa semakin semangat meyakinkan Alwi. “ Saya bisa memuaskan Anda.”


“Maaf. Bisakah Anda diam dan jangan berbicara lagi.” Alwi berusaha menahan emosinya.


“Apakah saya tidak menarik di mata, Anda?”  Echa mengabaikan peringatan dari Alwi.


“Bukankah istri Anda sedang mencarikan sorang istri untuk Anda?” Echa memegang punggung tangan Alwi membuat Alwi terkejut dan langsung menepisnya.


“Saya mau menjadi istri kedua Anda, menjadi ibu dari anak Anda yang tidak akan bisa di lakukan oleh istri Anda.”


Brak!


Alwi menggebrak meja dengan keras, dia tidak lagi peduli dengan sopan santun. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.


“Maaf, pertemuan kita sampai di sini, saya permisi. Ingat! Saya tidak akan melupakan sikap kurang ajar kamu. Dan jangan pernah kamu ulangi perbuatanmu kepada saya maupun laki-laki lain! Hargailah dirimu sendiri sebelum orang lain menilaimu rendah, kata-katamu adalah kualitas dirimu.”

__ADS_1


Alwi berlalu dengan wajah menahan amarah meninggalkan Echa yang duduk dengan wajah tenangnya.


‘Oke. Sekarang kamu bisa berkata demikian. Lihat saja nanti akan aku buat kamu menyembah cintaku.’ Echa bersumpah dalam hatinya dan tersenyum menyeringai.


__ADS_2