
Beberapa hari berlalu, namun Lathifah belum juga membuka mulutnya tentang kabar kehamilannya kepada Alwi dan Anisa.
Tentu saja Lathifa tidak berencana mengatakan langsung kepada suaminya, alasan utamanya karena ia belum siap menghadapi suaminya itu. Dan setiap ingin mengutarakannya kepada Anisa, selalu saja ada hal yang menghalanginya.
Hingga suatu malam disaat Latifah dan Anisa tengah sibuk menyiapkan makan malam di dapur tanpa bantuan Mbok Ijah karena masih berada di kampung halamannya.
Kebetulan malam ini giliran Alwi untuk tidur di kamar Lathifa, Alwi masuk ke dalam kamarnya bersama Lathifa. Ia berjalan dan mengamati seisi ruangan itu, lalu tanpa sadar kakinya melangkah ke arah meja belajar istri mudanya ketika matanya melihat sebuah buku yang menarik perhatiannya, ia mengulurkan tangannya dan meraih sebuah buku yang tergeletak di atas meja.
“Panduan Lengkap untuk Ibu Hamil by dr. Riani Limoa, SpOG.” Alwi mengernyitkan keningnya ketika membaca judul buku tersebut.
Alwi membolak-balikkan buku tersebut dengan wajah kebingungan. “Kenapa ada buku seperti ini di mejanya?”
Dilihatnya lagi benda-benda milik istri mudanya yang tertata rapi, ia dikagetkan kembali ketika menemukan buku lain yang juga mengusiknya, buku yang serupa dengan buku yang sebelumnya ia lihat, buku yang berjudul ‘Strong as a Mother karya Kate Rope’.
‘Kenapa Lathifa memiliki buku semacam ini? Apakah Anisa yang membelikan buku-buku ini untuk Lathifa?’ tanya Alwi dalam hati.
“Begitu besarnya kamu menginginkan seorang anak, Nis?” tanya Alwi dengan wajah murung. “Tapi maaf, aku belum siap untuk menerima wanita pilihanmu itu.”
Alwi tidak mengambil pusing dengan buku-buku tersebut, iya kembali meletakkan kedua buku tersebut ke tempat semula. Lalu ia pun berjalan menjauh dari meja belajar Lathifa, ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur miliknya.
Namun tanpa sengaja ia melihat ada sesuatu yang terselip di bawah bantal Lathifa. Karena rasa penasarannya dan juga beberapa pikiran serta kecurigaannya terhadap istri mudanya tersebut, Alwi mengambil amplop di bawah bantal itu lalu membukanya.
Deg.
Betapa terkejutnya Alwi melihat isi di dalam amplop tersebut, ia menemukan sebuah foto USG atas nama Lathifatunnisa lengkap dengan secarik kertas kuitansi registrasi pembayaran RS. serta terdapat 3 buah alat tes kehamilan di dalamnya.
“Lathifa hamil?” tanya Alwi terheran.
“Astaghfirullah! Dia hamil 5 minggu!” pekiknya tak percaya.
Di saat bersamaan terdengar suara pintu terbuka dari luar diikuti kemunculan Lathifa.
“Mbak Anisa menyuruh Anda untuk makan,” ucap Lathifa dari ambang pintu.
“Apa ini?” tanya Alwi dengan nada tinggi.
Lathifa yang belum menyadari benda yang ada di tangan Alwi ia pun terlihat bingung mendapati kemarahan suaminya. “Apa?”
Alwi mengangkat amplop di tangannya dan menunjukkannya pada Lathifa, membuat wanita itu seketika terkejut dan kembali teringat akan kehamilannya.
Alwi berjalan mendekati Lathifa yang masih mematung di depan pintu, lalu ia menutup pintu kamar dengan cukup kencang dan menguncinya dari dalam.
“Apa maksud semua ini?” tanya Alwi dengan rahang mengeras.
“I-itu aku ....” Lathifa tergagap menjawab pertanyaan suaminya, bahkan mulutnya kaku tak sanggup ia gerakkan.
__ADS_1
“Jelaskan!” bentak Alwi semakin membuat Lathifa bergetar ketakutan.
“A-aku hamil-”
“Siapa ayah anak itu?” tanya Alwi cepat memotong kalimat Lathifa karena terbayang beberapa kejadian sebelumnya dimana ia mendapat beberapa lembar foto istrinya bersama pria yang tak diketahui juga ketika ia melihat Lathifa makan berdua dengan pria lain di restoran.
Deg.
Tubuh Lathifa tersentak kaku mendengar pertanyaan yang terucap dari mulut suaminya. Bagaikan petir di siang bolong, pertanyaan tersebut terdengar sangat tajam seakan ada ratusan pisau menusuk jantungnya dan meninggalkan rasa sakit yang begitu menyiksa.
Sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan berkali lipat dibandingkan rasa sakit yang ia rasakan ketika tragedi malam itu menimpa dirinya.
“A-apa maksud Anda?” tanya Lathifa dengan bibir bergetar, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak menembus benteng pertahanannya.
“Laki-laki mana yang telah tidur bersamamu? Teman kuliahmu? Atau pria yang makan bersama di restoran waktu itu?” tanya Alwi menuduh Lathifa.
Melihat Lathifa masih terdiam, Alwi semakin merasakan gejolak kemarahan dari dalam dadanya.
“Atau jangan-jangan ... laki-laki bernama Zidan yang kamu bilang teman kakak kamu itu?” tuduh Alwi sinis.
“Siapa di antara mereka yang merupakan ayah anak yang kamu kandung itu?”
Plak!
“Jaga mulut Lo! Jangan asal ngomong kalo gak tahu kebenarannya!” teriak Lathifa penuh amarah, ia tidak peduli dengan ucapannya yang kasar itu.
“Kamu!” Alwi menggeram menahan amarahnya agar tidak semakin meledak.
“Anisa salah memilih kamu, kamu sangat jauh berbeda dengan Anisa!”
“Gue bukan Mbak Anisa, istri Lo yang sempurna bagaikan bidadari yang turun dari surga! Gue Lathifa, ingat itu! Dan jangan sekalipun membandingkan Gue dengan dia!”
“Lathifa!” Alwi berteriak dan mengangkat tangannya hendak melayangkan pukulan namun ia urungkan ketika menyadari bahwa perbuatannya ini tidak dibenarkan.
“Astaghfirullah!” Alwi mengusap wajahnya frustrasi, sekuat tenaga ia mengendalikan amarahnya agar tidak melampaui batas.
Tanpa berkata, Alwi memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu meninggalkan Lathifa yang sudah tak bisa menahan air matanya.
“Jika Anda tidak bisa melihat keberadaan ku disini, kenapa dulu Anda menerima permintaan Mbak Anisa untuk menikah dengan aku?” tanya Lathifa dengan suara parau, ia sudah merasa sedikit tenang tidak seemosi sebelumnya.
Mendengar pertanyaan tersebut, Alwi yang sudah memegang kenop pintu menghentikan langkahnya. Pertanyaan yang sama sekali tak bisa ia berikan jawabannya kepada istri mudanya tersebut.
“Ceraikan aku, Pak Alwi Husein Ibrahim!” seru Lathifa karena tidak mendapat jawaban dari suaminya.
Deg!
__ADS_1
Tubuh Alwi membeku, ada sekelebat perih yang menjalar ke dalam rongga dadanya.
Setelah terdiam beberapa saat, Alwi kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Lathifa yang masih menatapnya tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Sepeninggal Alwi, Lathifa tersungkur ke lantai dan ia menangis sejadi-jadinya. Tangisan yang terdengar sangat menyayat hati bahkan Alwi yang masih berdiri di depan pintu kamar yang tertutup juga bisa merasakan sakit dihatinya.
Setelah menenanggakan dirinya, Alwi menghampiri Anisa yang tengah menunggunya di ruang makan.
“Mari makan, Mas.” Anisa menyambut kedatangan suaminya, namun ia terlihat mengedarkan pandangannya mencari sesuatu ke arah belakang suaminya.
“Mana Lathifa, Mas?”
“Biarkan saja dia!” ucap Alwi dingin.
Anisa yang melihat hal itu hanya bisa diam tidak berani bertanya lebih, ia tahu suasana hati suaminya sedang buruk.
Sebenarnya tadi ia sempat mendengar suara Lathifa yang meninggi, namun Anisa tidak bisa berbuat apa pun. Ia hanya bisa berpura-pura tidak tahu apa pun dari pada nantinya bisa memperkeruh keadaan.
Keduanya makan dalam keheningan tanpa kehadiran Lathifa, namun baik Alwi dan Anisa terlihat tak berselera memakan menu yang tersaji di meja makan tersebut.
“Kamu mau kemana, Mas?” tanya Anisa ketika melihat suaminya bangkit dari duduknya.
“Aku sudah selesai, kamu lanjutkan saja makannya, Nis.”
“Tapi kamu baru makan beberapa suap saja, Mas.”
“Aku sudah kenyang, maaf ya. Tidurlah lebih awal, bukankah bakda subuh kita harus ke bandara menjemput papa dan mama kamu?”
“Apa kamu bertengkar dengan Lathifa, Mas?” tanya Anisa dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak ingin membahas masalah ini, Nis.”
“Jatuhkan talak padaku, Mas. Mulai besok aku akan keluar dari rumah ini,” ucap Anisa tegas namun diiringi buliran air mata yang menetes ke pipi mulusnya.
“Sayang!” Alwi tersentak kaget, ia tak pernah sekalipun membayangkan akan mengucap atau mendengar kata-kata terkutuk itu keluar dari mulutnya ataupun mulut Anisa.
“Jika kamu menceraikan Lathifa, maka saat itu juga kamu harus menjatuhkan talak untukku, Mas!”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Anisa pergi meninggalkan suaminya yang terdiam di ruang makan. Anisa berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia tidak sanggup menahan perih yang sedari tadi sekuat tenaga ia tahan.
Brak!
Anisa menutup pintu kamarnya keras, ia bersandar di balik pintu tersebut. Tangis yang sedari tadi ia bendung langsung pecah seketika.
Anisa merosotkan tubuhnya jatuh ke lantai, ia tekuk kedua lututnya lalu memeluknya erat, ia benamkan wajahnya dan menangis pilu dalam keheningan malam.
__ADS_1