Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Memilih Pergi


__ADS_3

Di bawah sinar lampu kota subuh itu, seorang wanita muda berjalan dengan pandangan kosong menyusuri pinggiran kota yang masih sepi dari hiruk pikuk keramaian kota.


Entah sudah berapa lama ia berjalan tanpa arah dan tujuan, hanya dengan memakai pakaian seadanya serta ransel hitam yang menggantung di punggung kecilnya.


Wanita itu tidak lain adalah Lathifa, setelah menangis semalaman ia memutuskan untuk keluar dari rumah mewah yang hampir setahun ini menjadi tempat tinggalnya.


Dengan wajah kusut serta mata sembab dan memerah, Lathifa terus berjalan tanpa menghiraukan beberapa orang yang menatap aneh ke arahnya.


Hingga langkahnya terhenti tepat di depan halaman ‘Hafa Resto’ milik keluarganya.


Melihat restoran tersebut masih gelap dan tertutup rapat, Lathifa memutuskan untuk duduk di lantai tepat di depan pintu masuk tanpa ada niat untuk memanggil ibunya yang pastinya sudah terbangun dan tengah sibuk bersiap bersama karyawan lainnya.


Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi hari, baru beberapa menit Latifah termenung dengan pandangan kosongnya, terdengar suara kunci diputar dan seseorang membuka pintu resto tersebut dari dalam.


“Astaghfirullah! Allah hu Akbar!”


Bu Hana yang membuka pintu langsung terkejut mendapati seseorang duduk membelakanginya.


“Thif,” panggil Bu Hana yang mengenali tubuh putrinya walaupun dari belakang, apalagi Bu Hana mengenali ransel yang dipakai oleh Lathifa, ransel pemberian almarhum putranya, Hafiz.


Bu Hana kembali memanggil putrinya itu karena tak mendapati jawaban. “Lathif!”


Masih belum mendapatkan jawaban, Bu Hana mendekat ke arah Lathifa dan betapa terkejutnya beliau ketika melihat wajah putrinya putih pucat dengan mata sembab.

__ADS_1


“Ya Allah, Lathifa kamu kenapa, Nak?” tanya Bu Hana khawatir.


Bu Hana mengguncang pelan tubuh putrinya untuk menyadarkan Lathifa dari lamunannya.


“Lathif, sadar Nak!”


“Ibu ...,” panggil Lathifa lirih, seketika tangisnya pecah ketika melihat wajah ibunya tepat berada di depannya.


Tanpa bertanya lagi, Ibu Hana langsung menarik putrinya ke dalam pelukannya. Seketika tangis Lathifa semakin menjadi, Ibu Hana pun semakin mengencangkan pelukannya.


Beberapa jam sebelumnya.


Lathifa yang masih tertidur meringkuk dalam duduknya, terbangun ketika mendengar suara berisik dari luar kamarnya. Ia melihat jam di atas meja belajar pukul 04.15 dini hari.


Samar-samar Lathifa mendengar percakapan dari luar kamarnya.


‘Aku mau membangunkan Lathifa dulu, Mas.’


‘Tidak perlu, nanti dia juga bangun sendiri.’


‘Aku mau pamit dulu, Mas. Nanti Lathifa kebingungan mencari kita.’


‘Dia kan sudah tahu kalau kita mau menjemput orang tua kamu di bandara. Jangan mengganggunya, biarkan dia istirahat.’

__ADS_1


‘Ya sudah, aku pamit lewat WA saja. Sekalian bilang agar dia tidak perlu membuat sarapan, nanti kita beli saja sarapannya.’


Lathifa kembali fokus dengan kertas di depannya, ia mengabaikan suara percakapan di luar kamarnya tersebut.


Dengan tangan gemetar, Lathifa mulai menorehkan tinta di atas kertas putih itu, ia mulai menyusun kata per kata menjadikannya sebuah kalimat, dan ia lanjutkan lagi hingga menjadi sebuah paragraf.


Usai menyelesaikan tulisannya, Lathifa meraih ransel hitam miliknya. Ia keluarkan dompet dari dalam tas beserta kunci motor dan mobil yang ada padanya.


Lathifa mengeluarkan isi dompetnya, ia keluarkan semua kartu pemberian suaminya, termasuk beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya, lalu ia letakkan di atas kertas berisi pesan yang ia tulis tadi.


Lathifa mengambil laptop miliknya dan memasukkannya ke dalam ransel, ia juga memasukkan beberapa buku yang ia butuhkan termasuk kedua buku tentang kehamilan miliknya.


“Maafkan aku, Mbak. Aku memilih pergi,” ucap Lathifa menatap potret dirinya bersama Anisa. Potret yang sempat mereka ambil sewaktu pergi bersama, Lathifa mengambil bingkai foto tersebut dan satu-satunya foto yang ia pajang di kamarnya lalu memasukkannya ke dalam ranselnya.


Lathifa semakin membulatkan tekatnya, ia tidak ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga wanita yang sangat ia hormati, yaitu Anisa.


Meskipun ia menyesali keputusannya dulu untuk menerima permintaan Anisa, namun Lathifa berpikir, kini belum terlambat untuk menyudahi kesalahan ini.


Setelah memastikan tidak terdengar lagi suara Alwi dan Anisa, Lathifa bergegas meraih ransel dan ponselnya tak lupa ia mengambil amplop yang masih berserakan di lantai semalam.


Lathifa meninggalkan rumah tersebut tanpa membawa satu pun barang pemberian Alwi dan Anisa.


Lathifa berhenti tepat di depan gerbang rumahnya, ia pandangi rumah besar yang menyimpan sebagian memori kehidupannya. Rumah yang mungkin tidak akan pernah ia datangi lagi, rumah yang mungkin akan ia rindukan ke depannya.

__ADS_1


“Maafkan aku, Mbak. Aku berharap Mbak Anisa akan hidup bahagia, damai bersama Mas Alwi,” ucap Lathifa lirih diiringi setetes air mata yang jatuh membasahi pipinya.


__ADS_2