
“Mas Al ....” panggil Anisa dengan suara parau, matanya masih terpejam rapat.
“Belum waktunya sholat subuh, Sayang. Tidur lagi saja,” ucap Alwi sembari membelai pipi istrinya yang masih terpejam.
“Rambut aku rontok terus,” adunya pada suami tercinta.
“Tidak apa-apa, Sayang. Jangan memikirkan yang aneh-aneh, ya ... fokuslah dengan kesembuhan kamu.”
“Aku sudah tidak cantik lagi, ya, Mas?” tanyanya sedih.
“Ssstttt, Sayang, kamu selalu cantik di mata dan hati aku.” Alwi mengucapkannya walaupun ada kepedihan dalam lubuk hatinya terdalam.
Anisa meraih tangan suaminya, ia genggam jemari tangannya. “Apa sudah ada kabar tentang Lathifa?”
Alwi hanya terdiam tak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya itu, Anisa yang tidak mendapat jawaban ia pun perlahan membuka kelopak matanya.
“Mas ....” panggil Anisa pelan.
“Maafkan, Mas, Sayang. Mas belum bisa menemukan keberadaan Lathifa,” jawab Alwi tertunduk, ia tidak sanggup melihat mata istrinya yang selalu mengharapkan kabar dari Lathifa.
“Malam ini aku mau tahajud bersama kamu, Mas.”
Alwi menatap nanar wajah istrinya yang semakin kurus itu, pipi chubby yang dulu terlihat sangat menggemaskan kini hanyalah tinggal kenangan belaka.
Alwi membantu Anisa untuk bertayamum, tidak memungkinkan bagi Anisa untuk berwudhu di kamar mandi karena kondisi tubuhnya yang lemah serta beberapa alat medis yang menempel pada tubuhnya membuat Anisa tidak bisa untuk bergerak sesuka hatinya.
Alwi juga membantu istrinya itu untuk memakai mukena, meski selalu membantu keperluan Anisa, namun sedikit pun Alwi tak pernah merasa terbebani dengan keadaan istrinya itu, Alwi dengan sabar dan ikhlas merawat Anisa sepenuh hati.
“Allahu Akbar.” Alwi mengucap takbir dan memulai tahajudnya, diikuti sang istri yang menjadi makmumnya.
Meskipun tubuhnya terbaring lemah di atas berangkat rumah sakit, Anisa tidak pernah meninggalkan kewajibannya kepada Robnya.
Meskipun sakit yang ia rasakan, ditambah efek bermacam obat yang masuk ke dalam tubuhnya. Sekalipun Anisa tak pernah mengeluh akan semua penderitaannya, sebisa mungkin Anisa menyimpannya sendiri, ia tidak ingin menambah kekhawatiran orang-orang yang selama ini berada di sampingnya.
Dalam keheningan malam, sepasang suami istri itu khusus melajukan ibadah semata karena Allah.
__ADS_1
“Assalamualaikum warahmatullaah ....” Alwi mengucap salam tanda ia telah menyelesaikan sholatnya.
Tak lupa Alwi memanjatkan doa penyempurna sholat malamnya, ia memuji atas Kebesaran dan Keagungan Tuhan pencipta semesta alam, tempat memohon dan meminta ampunan dan perlindungan serta Yang Maha Mengetahui segala hal.
Di ranjangnya, Anisa juga mengaminkan setiap doa yang dipanjatkan oleh suaminya.
‘Ya Allah, Ya Rob ... hilangkanlah rasa sakit pada tubuh istri hamba. Sembuhkanlah ... Engkau dzat Yang Maha Penyembuhan, tak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, Ya Rob ... Berikan kesembuhan yang tak meninggalkan rasa sakit untuk Anisa, angkatlah penyakitnya.’ Alwi dengan khusyuk berdoa dalam hatinya, air mata tak luput membasahi pipinya yang semakin kurus itu.
‘Ya Allah, berikan petunjuk-Mu, tunjukkan kuasa-Mu. Pertemukanlah kami dengan Lathifa dan ibu Hana, jaga dan lindungilah dimana pun mereka berada. Beri kesempatan kepada hamba untuk menebus semua kesalahan hamba, Ya Allah ....’
Anisa memejamkan matanya, hatinya merasa pilu mendengar suara isakan suaminya. Meskipun ia tak pernah melihat suaminya menangis di depannya, namun Anisa sering mendengar suara Alwi sesenggukan menahan tangisnya di malam hari.
‘Ya Allah, Ya Tuhan kami ... ampunilah segala dosa kami, aku memohon kepada-Mu. Aku bersaksi bahwa Engkau Allah Tuhan seluruh umat, tiada Tuhan selain Engkau Yang Maha Esa. Kabulkanlah segala dosa yang suami hamba panjatkan kepada-Mu, aamiin.’
Usai sholat, Alwi melipat sajadahnya DNA mengembalikannya ke tempat semula, lalu ia berjalan mendekat ke arah brankar istrinya.
“Besok kamu harus ke kantor, Mas.” Anisa membujuk suaminya agar kembali mengurusi perusahaannya.
“Ada Abi dan Raiyan yang mengurusnya, Sayang,” jawab Alwi dengan santainya, jawaban yang sama setiap kali Anisa memintanya untuk kembali bekerja.
“Sudah 5 bulan lebih kamu meninggalkan kantor, Mas. Apa kamu tidak merasa kasihan sama Abi? Beliau sudah berumur dan seharusnya beristirahat di rumah, bukannya-”
“Ssstt, sudah ya, kamu kan tahu aku hanya ingin menemani kamu di sini,” jawab Alwi cepat memotong kalimat yang sering diucapkan oleh istrinya.
“Kenapa aku tidak meninggal saja, Mas?” celetuk Anisa membuat Alwi seketika kehilangan ketenangannya yang baru saja ia rasakan sesat setelah menjalankan sholat malam bersama.
“Sayang!” tegur Alwi tidak suka, hatinya seakan tercubit dengan ucapan istrinya itu.
“Aku tidak suka merepotkan semua orang, Mas,” ucap Anisa lirih.
“Tidak ada yang merasa direpotkan, Sayang. Semua orang sayang sama kamu, semalam umi berkunjung dan mendoakan kesembuhan kamu.
Anisa terlihat murung, ia bisa menahan rasa sakit di tubuhnya namun tidak dengan melihat kesedihan di wajah orang-orang yang ia sayangi.
Semenjak Anisa tidak diperbolehkan rawat jalan, Alwi dengan setia merawat istrinya. Bahkan ketika Anisa koma hampir sebulan lamanya, ia harus melewatkan beberapa panggilan sidang mediasi atas gugatan yang Lathifa ajukan kepadanya.
__ADS_1
Lathifa pun tidak pernah menghadiri persidangan tersebut, sehingga tepat sebulan lalu pengadilan mengesahkan perceraiannya dengan Lathifa. Namun semua itu masih dirahasiakan dari Anisa, takut jika kesehatan Anisa kembali menurun.
“Tidur lagi, ya ... nanti kalau sudah subuh aku bangunkan.” Alwi membenarkan selimut di tubuh istrinya, ia belai kepala Anisa sambil menatap wajahnya tanpa berpaling.
Alwi kini sudah sedikit terbiasa dengan keluhan istrinya yang merasa merepotkan banyak orang, meskipun tidak pernah mengatakan sakit, Alwi sering memergoki Anisa menyembunyikan rintihan kesakitannya.
Tidak mudah menjadi Anisa, penyakit kronis yang dideritanya, kanker yang menyerang lambungnya kini telah menggerogoti dan menjalar ke organ lainnya dan tentunya sangat menyulitkan hidupnya.
Alwi tak mengizinkan siapa pun membantu membersihkan tubuh istrinya setiap hari, bahkan ibu atau ibu mertuanya sekalipun. Alwi sendirilah yang melakukan semua itu seorang diri.
...****************...
Di tempat lain, di sebuah desa jauh dari keramaian kota. Terlihat seorang wanita muda dengan kondisi perut yang sudah membesar tengah sibuk meracik sayuran di sebuah dapur sederhana.
Meskipun pergerakannya terhambat dengan kondisi tubuhnya, ia sama sekali tidak mengeluh bahkan wajahnya sudah dipenuhi keringat yang membasahi dahinya.
“Istirahat dulu, Thif. Jangan terlalu capek, biarkan ibu yang menyelesaikan semua itu,” ucap ibu Hana yang baru saja masuk ke dalam dapur.
“Tidak, Bu. Aku tidak mau hanya diam dan aku juga masih bisa membantu,” jawab Lathifa tersenyum tanpa mengenal lelah.
“Ya sudah, tapi ingat jangan terlalu capek ya, ingat bayi kamu juga butuh istirahat.”
“Iya, Bu. Nanti kalau aku capek aku akan istirahat.”
“Kamu sudah berada di dapur sejak subuh tadi, Thif. Jangan memaksakan diri,” ucap Bu Hana.
“Aku baik-baik saja, Bu.” Lathifa tersenyum kepada ibunya, memberi tanda bahwa dirinya memang baik-baik saja.
Bu Hana menatap sosok putrinya dengan perasaan sedih, ia pandangi gadis muda di depannya. Penampilan yang bisa dikatakan jauh dari kata layak untuk anak seusianya.
Gamis sederhana yang warnanya bahkan sudah memudar, gamis miliknya yang terpaksa dipakai oleh anaknya yang malang itu.
‘Maafkan ibu, Thif. Ibu belum bisa membahagiakan kamu.’
...****************...
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like, koment, vote dan giftnya ya ,🥰🤗