Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Kedatangan Abi dan Umi


__ADS_3

Di saat Alwi dan Lathifa sibuk mencari alasan atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Anisa, terdengar suara bel rumah yang berbunyi disertai suara salam dari luar rumah.


Alwi dan kedua istrinya saling melempar pandang, mereka bertanya-tanya siapa yang bertamu sepagi ini?


"Assalamu'alaikum ...."


Alwi yang merasa familier dengan suara tersebut segera bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ke ruang tamu diikuti Anisa yang mengekor di belakangnya.


Lathifa melanjutkan pekerjaannya, ia membersihkan meja makan, lalu mencuci piring-piring kotor bekas sarapan mereka.


Meskipun ada mbok Ijah yang bekerja di rumah tersebut, bukan berarti semua pekerjaan harus dikerjakan oleh mbok Ijah. Selagi Anisa dan Lathifa masih bisa mengerjakannya, mereka pasti tidak akan minta bantuan kepada mbok Ijah.


"Wa'alaikummussalam," seru Alwi dan Anisa dari dalam rumah.


Sesampainya di ruang tamu Alwi mendapati kedua orang tuanya berdiri di depan pintu. Dengan langkah lebar Alwi mendekati dua orang paruh baya tersebut lalu mencium tangan mereka bergantian.


Anisa pun melakukan hal yang sama, kemudian Anisa dan ibu mertuanya itu saling berpelukan erat melepas rindu.


"Mari masuk, Abi, Umi," ucap Alwi lalu membawa kedua orang tuanya untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Bagaimana kabar Abi dan Umi?" tanya Alwi.


"Alhamdulillah abi sama umi kamu sehat Al," jawab Abi Husein.


"Kabar kalian baik-baik saja, kan?" tanya Umi Hanifa.


"Alhamdulillah kami baik-baik saja, Umi. Kapan Abi dan Umi datang dari Mesir?" tanya Anisa.


"Semalam pukul 23.30 Nis. Abi kamu mengajak untuk menginap di Hotel, tidak ingin mengganggu istirahat kalian," jelas umi Hanifa.


"Nisa ke belakang sebentar ya, Umi." Melihat ibu mertuanya menganggukkan kepalanya, Anisa bergegas meninggalkan ruang tamu.


Anisa memasuki dapur dan melihat Lathifa masih sibuk dengan piring-piring kotor di tangannya.


"Apa masih banyak, Fa?" tanya Anisa berjalan ke arah pantry.


"Sedikit lagi, Mbak. Siapa yang datang, Mbak?"


"Abi dan uminya Mas Al datang. Kamu keluar untuk menemui mereka, ya!" ajak Anisa sambil sibuk menyiapkan minuman untuk kedua mertua mereka.


Tiba-tiba Lathifa merasa deg-degan mendengar kedatangan orang tua suaminya, pasalnya ia belum pernah bertemu dengan kedua mertuanya itu. Acara pernikahannya dulu tanpa dihadiri oleh keluarga dari suaminya, karena hampir seluruh keluarga suaminya tinggal di Luar Negeri.


'Apakah mereka baik? Apakah mereka akan menerimaku? Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?' begitu banyak pertanyaan di benak Lathifa, ia menyelesaikan cuciannya dan menghampiri Anisa.


"Mbak, Apakah orang tua Mas Al akan menerimaku dengan baik?"


"Tentu saja, Fa. Abi dan Umi pasti akan menerimamu, mereka orang-orang yang baik."


Lathifa mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ayo sekarang kita ke luar! Kamu bantu saya membawa minuman ini ,ya! Saya akan mengambil kue kering terlebih dahulu."


Anisa memakai gamis lengkap dengan kerudung syar'inya berjalan menuju ruang tamu dengan membawa nampan berisi beraneka kue kering diikuti Lathifa di belakangnya yang membawa nampan berisi minuman.

__ADS_1


Lathifa memakai setelan celana kulot coklat dengan hoodie berwarna putih dan kerudung coklat senada dengan celananya. Tampak sekali perbedaan di antara kedua wanita itu.


"Silakan dinikmati, Abi... Umi..." ucap Anisa setelah semua hidangan tersaji di atas meja, lalu ia duduk di sebelah Alwi.


Lathifa berjalan mendekat ke arah ibu mertuanya, meraih tangannya dan menciumnya. umi Hanifa membalas dengan senyuman hangat.


Namun, saat Lathifa akan meraih tangan ayah mertuanya, ia menariknya kembali karena laki-laki di depannya hanya menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Lathifa pun ikut menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum canggung merasa malu.


"Ini siapa, Nak?" tanya Umi Hanifa sambil menunjuk ke arah Lathifa, gadis cantik yang datang bersama menantunya.


Alwi merasa gugup, ia belum memberitahukan tentang pernikahannya dengan Lathifa kepada keluarganya.


"Ehm, itu Umi-" Alwi bingung harus mengatakan apa, haruskah dia berkata jujur kepada orang tuanya?


Anisa melirik sekilas ke arah suaminya lalu ke arah Lathifa. "Umi, perkenalkan namanya Lathifa. Sebenarnya dia ada-" ucapan Anisa terpotong oleh suara dering dari ponselnya.


Anisa meraih ponselnya dari dalam saku gamisnya dan terlihat nama 'Pak Ali Rektor' di layar ponselnya. Anisa lalu pamit untuk menerima panggilan tersebut.


"Mbok Ijah ada di mana? Kok tidak kelihatan? Kamu bantu-bantu mbok ijah di sini, ya?" tanya umi Hanifa sesaat setelah kepergian Anisa.


"Sebenarnya saya-" Lathifa melirik Alwi yang sedang menatapnya tajam. "Sa-saya mahasiswa di universitas tempat bu Putri mengajar, Bu. Dan saya ikut bantu-bantu di rumah ini," bohong Lathifa.


Alwi mengajak abinya pergi ke ruang kerjanya untuk membahas masalah pekerjaan.


"Duduklah, Nak! Temani umi mengobrol sebentar," pinta umi Hanifa.


Lathifa duduk di sebelah ibu mertuanya, ia semakin merasa gugup.


"Kamu masih kuliah? Umur kamu berapa, Nak?"


"Panggil umi saja! Kamu tinggal di rumah ini?"


"Iya, Bu- Eh ehm, U-Umi," gagap Lathifa.


Anisa datang sudah rapi dengan tas di tangannya.


"Umi, Nisa pamit dulu, ya. Maaf tidak bisa menemani Umi. Nisa ada jadwal seminar di luar kota."


"Iya tidak apa-apa, Nis. Ada yang lebih penting untuk kamu pertanggung jawab kan," jawab umi. "Sudah pamit dengan suamimu?" lanjut umi Hanifa.


"Sudah tadi Umi, Nisa pamit dulu, ya." Nisa mencium tangan ibu mertuanya, lalu bersalaman dengan Lathifa.


"Assalamu’alaikum," salam Anisa.


"Wa'alaikummussalam," jawab umi Hanifa dan Lathifa bersamaan.


Sepeninggal Anisa, Lathifa dan umi Hanifa berbincang membahas banyak hal. Umi Hanifa bercerita bahwa keluarga besar mereka masih memegang erat tradisi perjodohan antar anak-anaknya. Begitupun yang terjadi kepada putranya, Alwi dan Anisa yang menikah karena perjodohan.


"Kamu tahu, dulu Alwi sangat menentang perjodohan ini. Bahkan sebulan lamanya dia kabur dari rumah," jelas umi Hanifa.


Lathifa berusaha menjadi pendengar yang baik untuk ibu mertuanya tersebut. Meskipun ada perasaan aneh dihatinya, namun ia mencoba untuk menepisnya.


"Umi teringat awal pernikahan mereka, betapa sikap Alwi yang sangat dingin dan cuek kepada istrinya. Tapi sekarang umi bersyukur, semuanya kini telah berubah. Umi melihat begitu besar cinta yang terpancar dari mata Alwi ketika memandangi istrinya," ucap umi Hanifa tanpa mengetahui bahwa ada hati yang hancur bersamaan dengan rasa syukur yang ia utarakan lewat ucapannya.

__ADS_1


"Semoga kelak kamu akan menemukan seorang laki-laki yang mencintaimu dengan tulus, menjagamu dengan sabar serta dapat membimbing kamu dengan kelembutannya menuju Jannah-Nya." Doa umi Hanifa tulus untuk Lathifa lalu menggenggam tangan Lathifa.


"I-iya Umi." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Lathifa, fokusnya hilang bahkan sekedar untuk mengaminkan doa ibu mertuanya saja ia tidak mampu.


'Ya Allah, jika ditakdirkan bukan untuk bersama, biarkanlah rasa ini mengalir menemukan pemilik sejatinya. Jangan Engkau biarkan dia menetap dengan harapan yang sudah digenggam pemiliknya. Jika kelak Engkau mengizinkan aku untuk jatuh cinta, kumohon jatuhkanlah hatiku kepada seseorang yang juga mencintaiku karena-Mu.' ucap Lathifa dalam hati.


"Kamu masih muda, umi ingin kamu jangan bekerja dulu, fokuslah dengan pendidikan kamu saja!"


"Insya Allah Umi," jawab Lathifa.


"Masalah biaya ataupun tempat tinggal, nanti biar umi suruh Alwi untuk mengurusnya. Kamu sebaiknya tinggal di asrama, bukankah universitas tempat kamu kuliah menyediakan asrama?" tanya umi Hanifa.


Lathifa terenyak, ia menatap wajah wanita paruh baya di depannya itu. Bukannya ingin menolak, tetapi Lathifa bingung harus menjawab apa. Lathifa paham arah pembicaraan mereka.


"Maaf, Nak. Bukannya umi mau mengusir kamu. Tapi di rumah ini ada laki-laki yang bukan mahram kamu, ada juga seorang istri yang harus dijaga perasaannya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, umi takut keberadaan kamu akan menimbulkan fitnah nantinya."


Deg.


Tubuh Lathifa membeku, bagaikan ada sebilah pisau tajam menyayat hatinya.Hanya satu kata yang ingin Lathifa ungkapkan. Sakit.


*****


Lathifa duduk di depan meja belajarnya. Ia terlihat sibuk dengan laptopnya, sesekali tangannya sibuk mencoret-coret sesuatu di atas kertas yang berserakan di meja.


Mungkin orang mengira dia sedang mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, namun yang terjadi sebenarnya Lathifa sedang mengetik naskah novel karyanya.


Lathifa sebenarnya adalah salah seorang novelis online terpopuler di dunia maya. Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui pekerjaan sampingannya itu, iya pekerjaan sampingan. Karena di kartu identitasnya ia terdaftar sebagai mahasiswa.


Namun bagi Lathifa, menulis sebuah novel adalah sebuah hobi yang ia sukai. Sejak SD ia sudah sering mengikuti berbagai lomba menulis baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.


Dengan menyalurkan hobinya tersebut, setidaknya Lathifa bisa menghilangkan kegelisahannya tentang pembicaraannya dengan ibu mertuanya tadi pagi.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu, tanpa membukanya Lathifa sudah bisa menebak siapa orang dibalik pintu kamarnya.


"Masuk! Pintunya tidak dikunci!" seru Lathifa.


Ceklek.


Alwi membuka sedikit pintu itu, ia hanya memasukkan kepalanya dari luar.


"Jika kamu ingin tidur, tidurlah dulu dan jangan menungguku! Aku akan tidur di kamarku, Anisa tidak pulang malam ini," ucap Alwi lalu menutup pintunya kembali tanpa mendengar tanggapan dari lawan bicaranya.


Lathifa hanya melirik sekilas ke arah pintu, lalu matanya kembali fokus ke layar laptopnya.


"Ck, dikira ini bukan kamarnya apa? Sana tidur di kamar Anda, aku bebas untuk begadang malam ini." Lathifa tersenyum, karena biasanya jika suaminya tidur di kamarnya, dia tidak bisa begadang untuk melanjutkan menulis novelnya.


Waktu menunjukkan pukul 00.30. Lathifa merasakan matanya mulai berat untuk dibuka, ia beberapa kali menguap. Lathifa berdiri untuk membuat kopi di dapur.


"Huft, capeknya! Akhirnya bebas setelah hampir seminggu ada si pengganggu. Dasar suami kulkas!" ucap Lathifa lalu membalikkan tubuhnya.


Deg.

__ADS_1


"Siapa yang kamu sebut kulkas?" ucap suara berat seseorang.


__ADS_2