
Seorang lelaki dengan penampilan tak terurusnya, rambut yang tak lagi tersisir rapi serta rambut-rambut halus yang dibiarkannya tumbuh begitu saja di sekitar rahangnya tengah berdiri di depan jendela dengan pandangan kosongnya.
Matanya yang sendu terus saja menatap lurus ke luar sana, memandang rintik hujan yang kian lebat diiringi gemuruh guntur serta kilatan cahaya yang saling bersahutan.
Ia pandangi gumpalan awan hitam yang bergerombol di atas sana, alam seakan mewakili isi hatinya yang tengah bersedih. Ia pejamkan mata sembabnya itu lalu perlahan ia pun menarik napas panjang mengisi rongga dadanya yang terasa semakin sesak.
Lama ia berdiri mematung di sana, mungkin lebih dari satu jam lamanya. Hingga sebuah tepukan pelan dibahuya menyadarkannya dari lamunan panjangnya.
“Makan dulu, Al! Setidaknya isilah perut kamu walau beberapa suap agar kamu tidak jatuh sakit,” ucap umi Hanifa lembut, tergambar jelas raut kesedihan di wajah tuanya itu melihat penampilan putranya yang sangat kacau.
“Nanti saja, aku belum lapar, Umi.” Alwi selalu menolak jika disuruh untuk makan, membuat semua orang menghawatirkan keadaannya.
“Al, apa kamu ingin melihat Anisa sedih ketika melihatmu?” tanya Umi Hanifa membuat Alwi mengalihkan pandangannya menatap sosok yang tengah terbaring lemah di atas ranjang di ruangan itu.
“kamu jangan mengabaikan kesehatan kamu, Al. Jika kamu sakit, siapa yang akan merawat istri kamu?” umi Hanifa memperingatkan putranya yang keras kepala itu.
“Aku baik-baik saja, Umi. Umi tidak perlu mencemaskan aku,” jawab Alwi lirih, ia lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah istrinya berbaring.
Derasnya air hujan malam itu sama sekali tak mampu meleburkan dingin dan lenggang di relung hatinya, wajah pucat Anisa serta beberapa kerutan karena sudah jarang mendapatkan perawatan semakin memangkas kebahagiaannya.
Alwi merapikan rambut Anisa yang sedikit menyembul keluar dari penutup kepalanya, ia belai wajah tirus putih itu. Betapa menyedihkan hidupnya kini, belum sempat ia menemukan keberadaan Lathifa, Alwi dikejutkan dengan kebenaran akan penyakit Anisa yang selama ini disimpan rapat oleh wanita itu.
6 bulan lalu,
Seminggu setelah kepergian Lathifa, Anisa semakin gencar mencari keberadaan madunya itu. Ia menyalahkan dirinya sendiri, ia merasa berdosa kepada Lathifa, tidak seharusnya ia menyeret wanita muda itu ke dalam masalahnya dan menghancurkan masa depannya.
Karena pencariannya tak membuahkan hasil apa pun, baik tuan Akbar dan Abi Husein keduanya pun turut mengarahkan orang-orang mereka untuk mencari keberadaan Lathifa dan ibunya.
“Bagaimana, Pa? Apa ada kabar tentang keberadaannya?” tanya Anisa setelah menunggu hampir sebulan lamanya.
Tuan Akbar hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan, sekuat tenaga beliau mencari keberadaan Lathifa ke seluruh penjuru. Namun bak hilang ditelan bumi, Lathifa dan ibunya sama sekali menghilang tanpa meninggalkan jejak apa pun.
Anisa beralih menatap ke arah ayah mertuanya, saat ini mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga rumah Alwi.
“Maafkan Abi, Nis. Orang-orang suruhan Abi sama sekali tidak bisa melacak keberadaan Lathifa,” ucap Abi Husein penuh sesal.
“Astaghfirullah, Mas! Dimana lagi kita harus mencari Lathifa?” tanya Anisa frustrasi.
__ADS_1
“Kita pasti akan menemukannya, Sayang,” ucap Alwi menenangkan, meskipun ia juga sama khawatirnya dengan istrinya. Namun, Alwi berusaha untuk terlihat tegar di depan istrinya itu.
Disaat semua orang tidak ada yang bersuara, mbok Ijah masuk dari arah luar memberitahukan bahwa ada orang yang mencari Alwi dan Anisa.
“Siapa, Mbok?” tanya Alwi dan Anisa bersamaan.
“Tidak tahu, Den, Mbak. Seorang lelaki datang katanya membawa kabar dari mbak Lathifa,” jawab mbok Ijah membuat semua orang bergegas keluar menemui menuju ruang tamu.
Di ruang tamu, seorang pria sekitar 40 tahunan sudah duduk menunggu tuan rumahnya. Pria dengan setelan jas rapi lengkap dengan dasi menggantung di lehernya, layaknya seorang pekerja kantoran.
“Assalamualaikum,” sapa pria tersebut sopan menyambut kedatangan tuan rumah.
“Wa’alaikummussalam,” jawab semua orang bersamaan.
“Dimana Lathifa, Pak?” tanya Alwi tak sabar setelah semua orang duduk di kursi masing-masing.
“Maaf, apa Anda Bapak Alwi Husein Ibrahim dan ibu Anisa Putri Akbar?” tanya pria tersebut menatap ke arah Alwi dan Anisa bergantian.
“Iya benar, Pak. Ada perlu apa Anda mencari kami? Apa benar Lathifa yang mengutus Anda untuk datang kemari?” tanya Anisa sopan.
Semua orang terdiam mendengar pria itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang pengacara, Alwi merasa waswas dan mulai gelisah dalam duduknya.
“Ibu Lathifa mengirimkan ini untuk kalian.” Pak Bambang menaruh sebuah map coklat di atas meja dan menyodorkannya untuk sepasang suami istri muda di depannya itu.
“Apa ini, Pak?” tanya Anisa dengan wajah bingung, ia meraih map coklat itu.
“Ibu Lathifa sudah mengirimkan surat gugatan cerai ke pengadilan agama untuk bapak Alwi Husein Ibrahim,” ucap pak Bambang membuat Anisa seketika menjatuhkan map tersebut dari tangannya.
“A-apa maksud Bapak?” tanya Alwi tak kalah terkejutnya.
Alwi mengambil map tersebut dan langsung membukanya tak sabar, ia mengeluarkan lembaran kertas yang tercetak jelas bahwa kertas tersebut adalah surat pemberitahuan untuknya.
“I-ini tidak mungkin-” Alwi yang sebelumnya berusaha bersikap tenang di depan semua orang, seketika ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya memucat dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Melihat anak dan menantunya sama-sama terkejutnya, tuan Akbar meraih kertas tersebut. Sedangkan Abi Husein mengambil map yang tergeletak di atas meja.
“Apa ini?” tanya Abi Husein setelah mengeluarkan amplop tebal entah apa yang ada di dalamnya.
__ADS_1
“Untuk apa uang sebanyak ini?” tanya Abi Husein bingung melihat uang dengan jumlah yang tidak sedikit itu.
“Dalam keterangan ibu Lathifa, beliau ingin mengembalikan uang yang dulu sempat diterimanya sebagai mahar pernikahan ibu Lathifa dengan bapak Alwi,” jelas pak Bambang membuat semua orang melebarkan bola mata mereka.
“I-ini-” Anisa menatap tak percaya tumpukan uang itu. “Dari mana Lathifa mendapatkan uang sebanyak ini?”
“Ibu Hana menjual restoran keluarganya, dan meminta saya untuk mengembalikan uang ini dan sisanya untuk memenuhi gaji para karyawan.”
“Dimana mereka sekarang?” tanya Alwi emosi, ia tak bisa mengontrol amarahnya jika saja tidak ada ayah dan ayah mertuanya di sana.
“Maaf, Pak. Saya juga tidak tahu keberadaan ibu Lathifa dan ibu Hana. Saya hanya beberapa kali bertemu mereka,” jelas pak Bambang membuat Alwi semakin frustrasi.
Alwi tersadar ketika mendengar lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan oleh ibunya, Alwi menatap sosok wanita yang dihormatinya itu tengah duduk di sofa sembari membaca mushaf milik Anisa.
...لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ...
Sesaat Alwi merasa tenang, ketakutan dan kekalutannya akan kehilangan Anisa sedikit memudar karena mendengar ayat yang dibaca oleh ibunya.
Ayat yang menjelaskan bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar kesanggupannya. Ayat yang mengandung doa kepada Sang Pencipta Semesta Alam, ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.’
Umi Hanifa menyudahi bacaannya, sedari tadi beliau menyadari jika Alwi tengah mengamatinya.
...فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا...
“Kamu ingat ayat tersebut, Al?” tanya Umi Hanifa lembut.
Alwi pun menganggukkan kepalanya pelan. “Surah Al Insyirah ayat 5-6, Umi.”
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulkuasa Allahitan itu ada kemudahan. Percayalah akan , Al,” ucap Umi kepada Alwi memberi semangat kepada putranya.
Setelah memastikan putranya lebih membaik, Umi Hanifa berpamitan kepada Alwi.
“Umi pulang dulu, Al. Besok pagi umi akan datang lagi, jangan lupa kamu habiskan makanan ini!” perintah Umi Hanifa sebelum meninggalkan putranya.
Alwi menatap kepergian ibunya yang menghilang di balik pintu, sepeninggal ibunya, Alwi kembali memandangi wajah Anisa lagi dan lagi tanpa jeda. Tak pernah bosan ia memandangi wajah istrinya itu.
“Syafakillah, yaa zauwjatii.” Alwi mengecup kening Anisa. “Ana uhibbuki fillah,” bisik Alwi tepat di telinga Anisa yang masih tertidur.
__ADS_1