
Ting!
Perlahan pintu elevator bergeser terbuka, Alwi mendorong keluar kursi roda yang menopang tubuh lemah istrinya menyusuri lobi rumah sakit.
Kedua orang tua mereka pun ikut serta mendampingi keduanya, ada juga dua orang perawat yang memantau kondisi Anisa selama perjalanan.
Cukup sulit mendapatkan izin dari dokter untuk membawa Anisa keluar dari rumah sakit, Alwi tanpa lelah terus memohon kepada tim dokter yang menangani istrinya.
Setelah diamati beberapa hari, kondisi Anisa semakin stabil dan Dokter pun mengizinkannya untuk melakukan perjalanan dengan syarat harus ada perawat yang terus mengawasi Anisa.
Meskipun harus menggunakan selang oksigen di hidungnya, Anisa terlihat lebih ceria dari pada hari-hari sebelumnya. Sudah lama ia merindukan suasana bebas di luar sana, lima bulan lebih Anisa terpenjara dalam tabir gedung rumah sakit yang memisahkannya dengan alam.
Raiyan sudah menunggu dengan mobilnya di depan pintu lobi, tanpa berlama-lama mereka bergegas menuju tempat tujuan.
“Kamu baik-baik saja, Sayang?” tanya Alwi lembut, ia merasa cemas melihat istrinya sejak awal hanya terdiam sepanjang perjalanan.
“Aku baik-baik saja, Mas. Jangan khawatir,” jaman Anisa pelan, matanya masih terfokus memandang gedung-gedung tinggi dari balik kaca mobil.
“Sudah lama aku tidak melihat keindahan kota, Mas.”
“Apa kamu sangat bosan berada di rumah sakit? Lain kali kita jalan-jalan lagi ya,” ajak Alwi menghibur hati istrinya meskipun hal itu sangat sulit untuk ia wujudkan.
“Apa mungkin ada lain kali?” tanya Anisa tanpa menolehkan kepalanya.
Mendengar pertanyaan istrinya seketika hati Alwi terasa sakit, seakan ada benda tajam yang menyayat hatinya. “Sayang, yakinlah Allah akan mengangkat sakit ditubuh kamu.”
“Aku percaya, Mas. Allah Zat Yang Maha Menyembuhkan segala penyakit.”
Usai mengatakan kalimat tersebut, suasana di dalam mobil kembali hening. Anisa kembali menikmati pemandangan di luar sana, sedangkan Alwi terus menggenggam erat tangan istrinya sembari berzikir di dalam hatinya.
Dengan berbekal alamat yang diberikan oleh Maya, serta sedikit arahan dari Anisa, tibalah mereka di area pemakan, rumah terakhir ayah serta kakak Lathifa berada.
Raiyan memarkirkan mobilnya di depan pintu pemakaman tersebut, semua orang satu persatu turun dari mobil. Begitu pun dengan Anisa yang dibantu oleh suaminya.
“Pelan-pelan, Al!” perintah Umi Hanifa saat melihat Alwi tengah menggendong istrinya untuk dipindahkan ke kursi roda.
“Iya, Umi.”
__ADS_1
“Assalamu’alaikum ‘ala ahlid diyaar.” Semua orang mengucap salam untuk makhluk penghuni perumahan tersebut.
*(semoga keselamatan terlimpah kepada para penghuni kubur)
Alwi mendorong kursi roda Anisa pelan, mereka berjalan masuk lebih dalam menuju keberadaan makam yang dituju.
Karena sebelumnya Anisa pernah berziarah ke sana bersama Lathifa dan ibu Hana, mereka tidak kesusahan mencari keberadaan makam tersebut.
Alwi berjongkok di samping gundukan tanah yang dipenuhi rerumputan liar dan dedaunan kering di atasnya, ia pandangi nama yang terukir di atas batu nisan di depannya, ‘Kusuma Hadi bin Ahmad’.
“Assalamualaikum, Pak. Saya datang bersama keluarga Saya, maaf baru sempat berziarah ke makam bapak,” ucap Alwi sembari mengusap batu nisan dengan jemarinya.
Pandangannya beralih ke gundukan tanah di sebelahnya, keadaannya sama. Banyak rerumputan tak terawat dan daun kering di atasnya, Hafiz Kusuma Hadi bin Kusuma Hadi, itulah nama yang terukir jelas di atas batu nisan marmer tersebut.
Umi Hanifa yang melihat kesedihan di wajah putranya berjalan mendekat dan menepuk bahu Alwi pelan. “Doakan mereka, Al.”
Setelah membersihkan dedaunan kering dan membiarkan rumput liar yang tumbuh di atas dua gundukan tersebut, Alwi dan keluarga membacakan surat Yasin serta berdoa untuk kedua almarhum.
Mereka sengaja tidak mencabut atau membersihkan rerumputan liar tersebut karena rumput yang tumbuh di atas kuburan itu senantiasa berdzikir, memintakan ampun untuk mayyit yang ada di dalam kubur tersebut, sehingga hal itu akan dapat meringankan siksa kubur.
Namun berbeda halnya jika rumputnya tumbuh sangat banyak semisal sampai menutupi fisik kuburan, maka merapikannya untuk tujuan perawatan itu tidaklah mengapa.
Usai berdoa, mereka bergegas kembali ke rumah sakit karena takut kondisi Anisa akan menurun jika terlalu lama berada di luar.
“Anisa bilang, dulu Lathifa sering sekali berkunjung ke makam ayah dan kakaknya. Bahkan hampir tidak pernah absen, setiap Minggu ia menyempatkan waktu untuk berkunjung,” ucap Alwi sembari mengusap kepala istrinya yang tertidur di sampingnya, ia teringat kondisi makam keduanya yang terlihat tak terurus.
“Tadi papa sempat berbincang dengan penjaga makam, beliau mengatakan jika sudah lama tidak ada yang menjenguk kedua makam tersebut,” timpal papa Akbar.
“Apa mereka tidak ingin bertemu lagi dengan aku?” tanya Alwi lirih, terdengar kepedihan dari suaranya.
“Kita masih berusaha mencari keberadaan mereka, Al. Kamu fokus saja dengan kesehatan Anisa dan diri kamu sendiri.” Abi Husein ikut bergabung, beliau juga tidak tega melihat kondisi putranya yang semakin terlihat menyedihkan.
“Berdoa saja agar Lathifa dan ibunya serta bayi kalian baik-baik saja, Allah akan melindungi mereka dimana pun mereka berada. Kita pasrahkan semuanya kepada Allah, Al,” ucap umi Hanifa memberi semangat kepada putranya.
“La haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil azhimi ....”
“Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung,” lanjut umi Hanifa.
__ADS_1
...****************...
Di tempat lain, Ibu Ida duduk berhadapan dengan Lathifa dan ibu Hana di dalam rumah kontrakan mereka.
Lathifa hanya terdiam tidak banyak bersuara, sedangkan ibu Ida dan ibu Hana tengah berdiskusi masalah warga yang memprotes keberadaan mereka di desa tersebut.
“Kalian pindah saja ke kota, Han. Ada anakku disana, dia bisa membantu kalian berdua,” ucap Bu Ida pelan, ia baru saja pulang dari pertemuan warga di rumah pak lurah.
Banyak warga yang menginginkan Lathifa dan ibunya diusir dari desa mereka sebelum Lathifa melahirkan, agar tidak memberikan aib pada desa tersebut.
Meskipun Bu Ida maupun Bu Hana telah menjelaskan bahwa Lathifa tidak hamil di luar nikah, namun tetap saja banyak warga yang tidak mempercayai hal tersebut dan menganggap Bu Hana dan Lathifa berbohong untuk kepentingan diri sendiri dan menutupi aib mereka.
“Aku ngikut bagaimana Lathifa, Da. Tapi entah anak itu mau diajak ke kota” tanya Bu Hana sembari melirik ke arah putrinya.
“Tidak ada cara lai lagi, Han. Aku takut jika kemarahan warga akan membuncah dan terjadi apa-apa dengan kalian.”
Kedua wanita paruh baya itu menatap ke arah Lathifa bersamaan. Keduanya terdiam menunggu reaksi yang akan Lathifa berikan.
“Apa harus ke kota?” tanya Lathifa dengan tatapan kosong.
“Iya, Nduk. Bukankah lebih baik jika kamu tinggal di kota, kamu bisa memeriksakan kandungan kamu. Selama ini kamu hanya memeriksanya di bidan desa, itu tidak cukup. Kamu perlu periksa ke rumah sakit, setidaknya ke klinik di kota, Nduk.” Bu Ida membujuk Lathifa, ia sudah menganggap Lathifa seperti putrinya sendiri.
“Bidan desa pun sudah cukup, Bu. Di kota pasti biayanya jauh lebih mahal,” ucap Lathifa memberi alasan.
“Jika kamu memikirkan masalah biaya, jangan khawatir. Insya Allah ibu ataupun anak ibu bisa membantu kalian.” Ibu Ida terus meyakinkan Lathifa.
“Tapi, Bu-”
“Ssstt, sudah tidak perlu dipikirkan lagi,” ucap ibu Ida cepat memotong kalimat Lathifa. Ia sudah bisa menebak jika Lathifa akan mengeluarkan seribu satu alasan untuk menolak niatannya tersebut.
“Lusa anak ibu akan berkunjung, sekalian kalian ikut ke kota. Pikirkan bayi dalam kandungan kamu, Nduk. Di kota kamu akan mendapatkan perawatan yang jauh lebih baik.”
“Biar Lathifa pikirkan lagi, ya, Bu.”
“Jangan terlalu banyak berpikir, Nduk. Ibu sudah berbicara dengan anak ibu jika lusa kalian akan ikut bersamanya ke kota.”
‘Apa tidak ada jalan lain, apa aku harus kembali?’
__ADS_1