Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Kado dari Alwi


__ADS_3

“Kamu kenapa, Fa? Pagi-pagi sudah cemberut saja,” tegur Anisa ketika melihat madunya memasak dengan wajah yang ditekuk.


“Enggak apa-apa, Mbak. Cuma merasa sebal saja,” ucap Lathifa sembari tangannya fokus dengan bahan masakan di depannya.


“Sebal? Sebal kepada siapa?” tanya Anisa penasaran.


“Suami Mbak Nisa.”


Anisa menautkan alisnya bingung. “Mas Al maksud kamu?”


Lathifa mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun lawan bicaranya tidak dapat melihatnya, karena posisi mereka yang saling membelakangi.


“Dia kan, suami kamu juga, Fa.” Anisa terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


Anisa merasa heran dengan madunya yang sering kali menyebut Alwi sebagai suaminya. Padahal dia sendiri juga istrinya.


Seakan-akan Lathifa ingin menegaskan bahwa Alwi hanyalah suami Anisa. Anisa merasa curiga, mungkinkah ada sesuatu yang Lathifa sembunyikan darinya? Namun dengan cepat Anisa membuang pikiran negatifnya.


“Kapan kita berangkat ke pesantren, Mbak? Tanya Lathifa mengalihkan topik pembicaraan.


“Selesai sarapan kita langsung berangkat, ya. Takut pengajiannya sudah di mulai.”


“Iya, Mbak.”


“Memang kamu sebel kenapa sama mas Al, Fa?” tanya Anisa masih penasaran.


“Ih! Sebel pokoknya, Mbak. Dasar kulkas! Nyebelin!” Lathifa mencebikkan bibirnya.


“Husst! Fa, tidak baik menggerutu di belakang suami kamu. Memangnya apa yang telah mas Al lakukan padamu?”


“Habisnya dia menyebalkan, Mbak. Kalau tidak berniat memberi hadiah ya enggak perlu memberi. Daripada memberi tapi isinya barang tidak jelas.”


“Emang apa isi kadonya?” tanya Anisa semakin penasaran. Setahu dia, tidak mungkin suaminya memberi sesuatu yang tidak bermanfaat.


“Baju belum jadi, Mbak.”


“Hah, maksudmu bajunya belum selesai dijahit?” tanya Anisa bingung.


“Mungkin. Masa aku disuruh pakai baju itu ke acara pengajian nanti. Gila apa? Baju tipis, bolong-bolong lebih tepat disebut jaring ikan, Mbak. Mau di taruh di mana wajahku?” ucap Lathifa menggebu-gebu.  


Anisa melebarkan matanya. “Apa maksud kamu lingerie, Fa?”


“Apa itu lingerie Mbak?


“Baju tidur.”


“Hah. Mana ada baju tidur model begitu. Siapa juga yang ingin memakainya, bisa-bisa masuk angin semalaman tidur dengan pakaian seperti itu.”


Anisa dan mbok Ijah tertawa mendengar ucapan Lathifa. Apa Lathifa sepolos itu hingga tidak tahu apa itu lingerie.


...*****...


Di meja makan, mereka bertiga sarapan dengan tenang. Alwi mengamati penampilan Lathifa yang memakai setelan celana kulot abu-abu dengan hoodie putih besar lengkap dengan pashmina yang ujungnya ia lilitkan di lehernya dengan warna senada dengan celananya.


Lathifa yang merasa ditatap oleh suaminya merasa tidak nyaman, seakan ia sedang di interogasi oleh suaminya. “Anda kenapa melihat saya seperti itu?”

__ADS_1


Alwi tetap diam, matanya masih menatap lekat ke arah Lathifa.


“Ada yang salah dengan saya?” tanya Lathifa, namun Alwi masih enggan untuk mengeluarkan suaranya.


Lathifa mengalihkan pandangnya ke arah Anisa. Namun, Anisa hanya mengedikkan bahunya.


“Apa susahnya menuruti permintaanku? Kenapa kamu masih memakai pakaian seperti itu?” tanya Alwi.


Lathifa menautkan alisnya bingung. “Apa yang salah dengan pakaianku?”


“Rubahlah cara berpakaianmu yang seperti itu!” Alwi menyilangkan sendoknya di atas piring, tanda ia sudah selesai dengan makanannya. “Pakaian yang menyerupai laki-laki,” lanjutnya dengan nada datar.


“Memangnya kenapa? Aku memakai celana yang longgar tidak ketat. Bahkan di luar sana banyak yang berpakaian seperti ini. Ini kan, tren masa kini,” sergah Lathifa.


“Aku tidak peduli dengan wanita di luaran sana, kamu adalah istriku! Tanggung jawabku! Cara berpakaianmu juga menjadi tanggung jawabku.” Alwi kembali menatap Lathifa yang berani menjawab ucapannya.


“Lihatlah kerudungmu!” perintahnya.


“Kerudungku?” tanya Lathifa sembari menamati penampilannya. “Apa yang salah? Jilbabku sudah rapi, cantik, dan simpel.”


“Lathifa!” seru Alwi membuat kedua istrinya terlonjak kaget.


“Mas!” Anisa menyentuh lengan suaminya, mencoba menahan emosi Alwi yang hendak meledak. Tangan satunya memegang dadanya sendiri.


“Cantik dari mana? Selembar kain yang kamu gunakan tak pantas disebut hijab jika masih memperlihatkan area pundak dan dadamu,” ucap Alwi dengan nada suara yang tidak enak untuk didengar.


“Lalu, apa aku harus berpakaian seperti mbak Anisa? Aku tidak memiliki gamis dan khimar seperti itu.” Lathifa mencari alasan matanya mulai berkaca-kaca.


 Lathifa merasa tidak bisa memakai gamis serta jilbab syar’i, karena menurutnya akan merepotkan dan susah beraktivitas. Apalagi dengan sifat tomboinya itu. Lagi-lagi, suaminya membandingkannya dengan madunya.


“Loh. Aku kan, ditanya. Aku jawab dong, masa harus diam saja. Enggak sopan,” jawab Lathifa tanpa menatap ke arah suaminya.


“Lathifa! Apa susahnya memakai pakaian syar’i? Semalam aku menyuruhmu untuk memakai pakaian dariku. Jadi, jangan memakai alasan bahwa kamu tidak memiliki pakaian syar’i.”


Lathifa mengangkat wajahnya, matanya terbuka lebar menatap lekat wajah suaminya. Ia mengeratkan genggaman sendok yang masih berada di tangannya.


“Baru saja Anda menceramahi pakaian yang aku kenakan, dan sekarang masih menyuruhku memakai pakaian dari Anda?” Lathifa semakin menatap wajah suaminya dengan nyalang. “Ck, Anda sudah gila?”


“Lathifa!” Alwi mengeraskan rahangnya, matanya memerah. Jika saja tangannya tidak ditahan oleh Anisa, mungkin emosinya sudah meledak sedari tadi.


Lathifa meletakkan sendoknya dengan sedikit keras, menimbulkan bunyi dentingan yang yang cukup keras. “Aku sudah kenyang.”


Lathifa berdiri dan membereskan piring kotornya. Ia menggigit bibir bawahnya dan membawa piringnya ke tempat pencucian piring.


Anisa dengan cepat mencegah suaminya yang hendak memarahi Lathifa kembali dengan mengeratkan genggaman tangan mereka.


“Mas ... tenang dulu, minumlah!” Anisa meraih gelas berisi air putih di depannya dan memberikannya kepada suaminya.


“Lihatlah gadis pilihanmu itu!” Alwi menatap wajah Anisa, tangannya yang bebas menunjuk ke arah Lathifa.


“Minumlah, Mas! Apa kamu yakin ingin Lathifa memakai pakaian pemberian dari mas?” tanya Anisa pelan.


“Ya,” jawab Alwi singkat, lalu meraih gelas dari tangan Anisa dan meminumnya.


“Yakin?” ulang Anisa, Alwi hanya mengangguk.

__ADS_1


“Apakah Mas menyuruh Raiyan untuk membelikan hadiah buat Lathifa?” selidik Anisa, sekali lagi Alwi mengangguk.


Anisa tersenyum sekilas, ia mulai paham akan titik masalah di antara suami dan madunya. Hanya kesalahpahaman dari keduanya.


“Mas yakin menyuruh Lathifa memakainya di acara pengajian nanti?” selidik Anisa sekali lagi.


Anisa ingin memastikan bahwa tebakannya benar. Bahwa, suaminya tidak tahu akan isi kado yang ia berikan kepada Lathifa. Dan lagi-lagi Anisa mendapat jawaban anggukan kepala dari suaminya itu, Anisa semakin melebarkan senyumnya.


“Mas, kalau Lathifa memakainya di acara nanti ... aku rasa, Mas yang akan rugi.”


Alwi hanya melirik ke arah Anisa seakan bertanya ‘apa maksudnya?’. Alwi masih meneguk minuman dari gelasnya.


“Mas mau Lathifa menghadiri pengajian dengan memakai lingerie?”


“Uhuk! Uhuk!” Alwi menepuk-nepuk dadanya, matanya berair karena ucapan Anisa berhasil membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk.


Anisa menepuk-nepuk punggung suaminya, sedangkan Lathifa yang mendengar percakapan Anisa dan suaminya hanya melihat sekilas, ia ingin tertawa tetapi juga merasa kasihan melihat Alwi yang kesakitan.


“Kamu tidak tahu isi kadonya?” tanya Anisa setelah batuk suaminya mereda.


Alwi menganggukkan kepalanya membuat Anisa terkekeh dan Lathifa terpingkal karena tidak bisa menahan tawanya melihat wajah suaminya yang memerah.


Alwi menatap tajam ke arah Lathifa membuat gadis itu seketika menghentikan tawanya dan berlari memasuki kamarnya.


Setelah merasa baikkan, Alwi pamit berangkat ke kantor. Anisa menghampiri Lathifa di kamarnya dan menawarkan pakaian syar’i miliknya untuk di pakai Lathifa dan tentunya masih baru.


Setelah berpamitan kepada mbok ijah, mereka berangkat menuju pesantren dengan mengendarai mobil Anisa.


Sedangkan Alwi, sesampainya di kantor ia meminta sekretarisnya untuk memanggil Raiyan agar segera menghadapnya.


“Wan, pak Alwi memanggil saya ada apa, ya?” tanya Raiyan kepada sekretaris Alwi yang berada di meja depan pintu ruangan Alwi.


“Saya kurang paham, Pak. Pak Alwi hanya menyuruh saya untuk memanggil Anda ke ruangannya,” jawab Iwan, sekretaris Alwi.


Alwi memang tidak memperkerjakan karyawan wanita yang tugasnya berhubungan langsung dengannya.


‘Ck, Ada apa ya? Tumben banget pagi-pagi Alwi memanggilku. Apa ada masalah penting?’ gumam Raiyan di depan pintu ruangan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


Tok! Tok! Tok!


“Masuk!” ucap suara dingin dari dalam ruangan.


Ceklek.


“Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?” tanya Raiyan sopan.


Alwi duduk di kursi kebesarannya, matanya fokus menatap kertas-kertas di atas meja kerjanya, enggan untuk mengalihkan perhatiannya ke arah asistennya tersebut.


Raiyan semakin gelisah, apalagi cukup lama ia berdiri di depan meja atasannya. Mereka memang bersahabat, namun jika berada di kantor serta masih berhubungan dengan pekerjaan, mereka sepakat untuk bersikap profesional.


Alwi mengangkat kepalanya. Menatap tajam asistennya. “Kamu tahu apa kesalahanmu?” tanya Alwi dengan suara dinginnya.


Glek.


Raiyan menelan ludahnya, apalagi melihat bosnya memasang wajah dingin dengan tatapan membunuh ke arahnya  

__ADS_1


__ADS_2