
Lathifa berjalan dengan langkah lebar menelusuri lorong menuju tempat parkir, walaupun kini penampilannya lebih feminin ia tidak bisa menghilangkan sifat tomboinya.
Lathifa ingin segera pulang sebelum kedatangan Bryan yang selalu menghadangnya di jalan.
Selama dua bulan terakhir, Bryan sering kali menemuinya, bahkan sering mengajaknya untuk sekedar menemaninya mengopi ataupun mengobrol.
Meskipun Lathifa selalu berhasil menghindar dengan berbagai alasan bahkan mengatakan bahwa dirinya sudah bersuami, namun Bryan tidak pernah mempercayainya, dia menganggap Lathifa hanya bercanda
“Lathifa!”
Lathifa semakin berlari kencang, mengabaikan orang yang memanggilnya.
Lathifa sampai di tempat parkir, tangannya sibuk mencari kunci mobil di dalam tasnya dengan posisi masih berlari.
Ketika Lathifa hendak membuka pintu mobilnya, seseorang menahan tangannya dan menariknya, membuat Lathifa membalikkan tubuhnya menghadap orang tersebut.
“Lathifa, Kenapa lo selalu menghindar dari gue?” tanya orang itu.
“Maaf, aku buru-buru harus pulang.” Lathifa mencoba melepaskan tangannya dari genggaman orang itu namun tidak berhasil.
“Sebentar saja! Gue hanya ingin membicarakan sesuatu sama lo, ikut gue!”
“Maaf, Bryan. Sudah aku bilang aku enggak bisa.” Lathifa memberontak mencoba melepaskan tangannya.
“Sebentar saja, Fa!” seru Bryan meninggikan suaranya.
“Maaf Bry, aku sudah bilang kan sama kamu, aku sudah menikah.”
“Jangan bohong lo! Gue nggak akan percaya, mana buktinya kalo lo sudah nikah?”
Bryan mendorong tubuh Lathifa hingga punggungnya menempel di pintu mobil, lalu Bryan memepet tubuh Lathifa dan mengurungnya dengan kedua tangan Bryan yang menempel di badan mobil.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Lathifa, tangannya menahan tubuh besar Bryan dengan sekuat tenaga.
“Jangan sok jual mahal! Berapa yang lo butuhkan?” Bryan semakin mendekatkan wajahnya kepada Lathifa.
“Aku bukan wanita seperti itu ya!” seru Lathifa membuat beberapa mahasiswa menoleh ke arah mereka.
Keberaniannya muncul di depan pria itu, tidak seperti ketika berhadapan dengan suaminya. Lathifa terus berusaha mendorong tubuh Bryan agar menjauh darinya, namun tenaganya tak sebanding dengan tenaga Bryan.
“Gue nggak akan pernah melepaskan lo!”
Bryan menepis jarak di antara mereka, Lathifa memberontak dengan memukul-mukul tubuh Bryan, namun pria itu sama sekali tidak merasa terganggu.
Bryan semakin menggila, ia hendak mendaratkan bibirnya kepada Lathifa namun seseorang menariknya dengan kasar.
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat di pipi Bryan.
“Sialan! Brengs*k! Siapa lo?” kesal Bryan dengan wajah memerah dan menghapus cairan merah di sudut bibirnya.
“Lo yang brengs*k, jaga sopan santun lo! Ini kampus bukan tempat untuk menyalurkan hasrat lo!”
__ADS_1
“Jangan ikut campur urusan gue!”
Bryan hendak melayangkan pukulan ke wajah orang yang mengganggu aktivitasnya, namun seorang security menahan tangannya.
“Tolong jangan membuat keributan di sini!” tegur security tersebut.
“Ck! Sial! Ganggu aja!” marah Bryan.
“Silakan Anda pergi dari sini selagi kami masih melakukannya dengan cara yang baik.”
Terpaksa Bryan pergi dari sana karena sudah ada banyak orang yang berkerumun di sekitar tempat itu.
Bryan berjalan ke arah mobilnya dan menghubungi seseorang setelah duduk di belakang kemudi.
“Gimana?”
‘Beres.’
“Gue nggak mau tahu, lo harus atur rencana supaya gue bisa mendapatkan cewek itu!”
‘serahkan semuanya sama gue.’
“Okay. Gue percaya sama lo. Jangan sampai lo membuat gue kecewa!”
‘Tenang Bro, akan gue lakukan apa pun untuk lo.’
“Kirimkan semua foto tadi kepada gue!”
Sedangkan di tempat Lathifa, semua orang membubarkan diri dari kerumunan begitu pun security yang melerai tadi.
Kini hanya tersisa Lathifa dan pria yang menolongnya tadi.
“Kamu baik-baik saja?” tanya pria itu.
“Terima kasih, Kak.” Lathifa membenarkan jilbabnya yang sedikit berantakan.
“Sama-sama, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong, bukan?”
“Kalau tidak ada kak Yoga, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku,” ucap Lathifa dengan perasaan lega.
“Kebetulan tadi aku lewat di sekitar sini dan melihat kamu diganggu pria itu. Dan aku menghubungi security. Kamu mau pulang?”
“Iya, Kak.”
“Bisa pulang sendiri?” tanya Yoga yang terlihat khawatir karena melihat wajah Lathifa yang sedikit pucat.
“Insya Allah bisa, kak. Sekali lagi terima kasih ya,” ucap Lathifa lalu masuk ke dalam mobilnya.
Yoga berdiri mematung menatap kepergian mobil yang dikemudikan oleh Lathifa, wanita yang selama ini diam-diam mengisi hatinya.
...*****...
Alwi duduk di sofa di dalam kamarnya dengan istri mudanya, tangannya sibuk menari di atas keyboard laptop dalam pangkuannya. Sesekali ia melirik Lathifa yang duduk di meja belajar sibuk dengan laptopnya.
__ADS_1
Sudah 2 bulan sejak kejadian itu hubungan mereka tidak ada perbaikan. Alwi semakin merasa canggung berhadapan dengan istrinya, apalagi melihat perubahan sikap Lathifa yang selalu menghindar dan cuek kepadanya. Hanya berbicara jika ditanya saja.
“Kamu belum selesai?” tanya Alwi menutup laptopnya dan membereskan kertas-kertas di atas sofa.
“Belum,” jawab Lathifa singkat.
“Lanjutkan besok saja, sudah malam sebaiknya kamu tidur.”
“Kalau Anda ingin tidur, tidurlah terlebih dahulu,” ucap Lathifa menoleh ke arah suaminya.
“Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini?” Alwi berdiri dan menyimpan laptopnya di atas nakas.
“Kamu bukan anak kecil lagi, Lathifa.” Alwi berjalan mendekat ke arah Lathifa yang tetap fokus dengan laptopnya.
“Cukup Lathifa! Jika aku punya salah padamu, katakan apa kesalahanku? Jangan kamu mendiamkan aku seperti ini.”
Lathifa tidak menghiraukan suaminya yang berdiri di sampingnya, ia tahu bahwa sikapnya salah. Tapi egonya menginginkan dirinya untuk melakukan ini.
Alwi menghela napasnya kasar, mencoba menambah pasokan sabarnya untuk menghadapi istrinya yang sedang merajuk.
“Ayo bangun, besok lagi kamu lanjutkan menulis novelmu!”
Tanpa permisi, Alwi menutup laptop Lathifa membuat pemiliknya memutar bola mata jengah lalu berdiri melangkah menuju kamar mandi.
Alwi menatap punggung istrinya yang berbalut gamis tidur lengkap dengan jilbabnya.
“Maafkan aku, Lathifa. Mungkin terlalu besar luka yang aku torehkan di hatimu. Aku akan berusaha lebih keras untuk memperbaiki hubungan kita,” lirih Alwi, kemudian duduk di tempat tidurnya.
Lathifa keluar dari kamar mandi dan bergegas naik ke atas tempat tidurnya tanpa sedikit pun menoleh ke arah suaminya.
“Kamu marah kepadaku?”
“Tidak.”
“Lalu ini apa? Kamu tahu? Haram hukumnya seorang istri mendiamkan suaminya lebih dari tiga malam.”
“Aku tidak pernah mendiamkan Anda.”
Alwi menatap tubuh Lathifa yang terbungkus selimut membelakanginya.
“Lathifa, Bersediakah kamu bersabar terhadapku? Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita.” Alwi menjeda kalimatnya, ia menatap punggung istrinya yang bergerak teratur.
“Lupakanlah kejadian dimasa lalu, kita mulai semuanya dari awal.”
Lathifa tetap diam, tidak menanggapi perkataan suaminya.
“Kamu sudah tidur?” Alwi menunggu beberapa saat, namun tetap tidak ada tanggapan dari istrinya. Lalu ia membaringkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Selamat malam, semoga Allah selalu melindungimu, Lathifa.” Alwi memejamkan matanya dan terlelap dalam tidurnya.
Di ranjang sebelah Lathifa menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya, ia menggigit bibir bawahnya berharap bisa menahan agar isaknya tidak tidak lolos dari mulutnya, walaupun air matanya sudah berjatuhan membasahi bantal.
‘Maaf, aku sudah berusaha menjadi wanita yang baik untuk Anda, aku mengerti keadaan Anda, aku berusaha memahami sifat Anda. Namun hatiku selalu bertanya, pantaskah aku bersanding dengan Anda sedangkan di hati Anda tersimpan seseorang yang begitu sempurna, wanita yang begitu Anda cintai. Jika bisa, aku tidak ingin perasaan ini hadir dalam hatiku, jangan salahkan aku jika aku selalu menghindari Anda, bukan aku membenci Anda, tapi ada hati yang harus aku jaga agar tidak terlalu terluka jika rasa ini akhirnya tak terbalas. Biarkan rasa ini tumbuh dalam diamku.’
__ADS_1