Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Ternoda


__ADS_3

“Fa!”


“Fa!”


“Hei! Lathifatunnisa!” seru Anisa tepat di dekat telinga Lathifa.


“Eh, i-iya ada apa?” Lathifa menoleh ke arah Anisa dengan wajah bingungnya.


“Cepat potong kuenya! Sudah pada nungguin dari tadi kamu malah melamun.” Anisa menuntun tangan Lathifa yang memegang sebuah pisau roti yang sedari tadi hanya menggantung di udara.


Lathifa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ia mencari dua sosok laki-laki yang sangat dirindukannya.


“Kamu mencari siapa, Thif?” tanya Hana.


“Eh, ti-tidak cari siapa-siapa, Buk.”


Lathifa memejamkan matanya, ia menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian mengeluarkannya secara perlahan.


‘Ternyata hanya khayalanku saja! Bapak, Lathif kangen! Mas Hafiz, Fafa kangen sama Mas ....’ Lathifa segera menghapus air matanya sebelum ada yang melihatnya.


Matanya menangkap keberadaan suaminya yang berdiri agak jauh darinya. Lathifa merasakan sesak di dalam dadanya, ternyata tadi hanyalah sebuah angan-angannya saja. ‘Sungguh malang sekali nasibmu, Lathifatunnisa.’


Latifa mengalihkan fokusnya ke kue di depannya, ia memotong kue itu dan memberikan potongan pertamanya kepada ibunya, namun ditolak oleh Hana.


“Bukan ibu yang berhak atas kue ini, Thif. Kamu sudah menikah, dan suami kamulah yang harus kamu dahulukan di atas segalanya. Prioritaskan suamimu di dalam hidup kamu.” Hana tersenyum memandangi wajah Lathifa.


“Mas, ayo sini! Ngapain jauh-jauh di sana?” tanya Anisa, lalu ia menarik Alwi agar mendekat ke Lathifa.


 “Cepat Fa, kamu suapkan potongan kue pertamanya untuk mas Al!”


Anisa terlihat sangat bersemangat dalam hal ini, berbeda dengan Lathifa yang kaku terlihat bodoh di dalam acaranya sendiri.


Lathifa mengangkat tangannya untuk menyuapkan kue ke dalam mulut Alwi, namun tangannya gemetaran karena mendapat tatapan tajam dari suaminya, apalagi dengan jarak sedekat ini.


“Cielah, pake malu-malu segala. Biasa kalo berduaan pasti hilang tuh malunya,” ucap Andre.


Plak.


“Akh, apaan sih Lo, Dan.” Andre mengusap kepalanya karena mendapat pukulan dari Zidan.


“Jaga tu mulut!” peringat Zidan.


“Ck.” Andre berdecak kesal, ia merasa Zidan kini telah berubah. Bahkan sangat aneh, dia terlihat pendiam dan menjaga perilakunya. Padahal, dulu Zidan adalah orang yang paling usil di antara teman-temannya.


Setelah acara potong kue, atas permintaan Anisa, mereka mengambil beberapa pose, dari foto bersama seluruh karyawan Hafa Resto, Foto berdua Anisa dan Lathifa, foto bertiga Anisa, Lathifa dan Hana, Zidan, Andre bahkan Raiyan pun tidak malu-malu ikut berpose bersama.

__ADS_1


Alwi? Mana mau dia berpose di depan kamera. Katanya sih, lebay, buang-buang waktu. Tidak tahu saja dia, bahwa dengan adanya foto, kita bisa menjadikannya sebuah kenangan. Kenangan jika suatu saat nanti, kita merindukan orang yang kita sayang, namun kita tidak dapat berjumpa lagi dengannya, dengan memandang fotonya mungkin bisa mengurangi sedikit rasa rindu kita kepada orang tersebut.


Alwi duduk disalah satu kursi di sudut ruangan, ia tidak menyadari kehadiran Anisa yang sudah berdiri di sampingnya. Matanya fokus menatap ke arah laptop di depannya.


“Mas, ayo kita foto bersama,” ajak Anisa.


Alwi mengangkat kepalanya. “Kalian saja, mas tidak suka, Sayang.” Ia kembali fokus ke laptopnya.


“Mas, ayolah ... kali ini saja, ya! Aku ingin kita foto bertiga bersama Lathifa.” Anisa duduk di sebelah suaminya.


“No. Mas sedang sibuk, Sayang,” tolak Alwi tak sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari laptopnya.


“Mas, aku mohon .... mau, ya! Mungkin, ini akan menjadi momen kita bertiga untuk yang pertama dan terakhir kalinya.”


“Apa maksudmu, Nis?” Alwi menatap tajam wajah istrinya.


“Kita foto bertiga, Mas! Kali ini saja, janji! Tidak akan ada yang ke dua kalinya.” Anisa menampilkan senyum terindahnya, berharap suaminya akan menuruti permintaannya.


Alwi tampak berpikir sejenak. Ia ingin menolak permintaan istrinya itu, namun disisi lain Alwi tidak ingin membuat istrinya kecewa. Apalagi menurutnya, wajah istrinya terlihat sangat menggemaskan.


“Baiklah. Kali ini saja, ya.” Alwi menutup laptopnya.


Anisa dan Alwi berjalan dengan bergandengan tangan mendekat ke arah orang-orang sedang berfoto-foto.


Alwi berdiri di tengah, di antara Anisa dan Lathifa. Tangan kananya menggenggam erat tangan Anisa, sedangkan tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celananya.


Alwi memutar mata jengah. ‘Awas nanti kamu Rai!’


Setelah berbagai pose mereka lakukan, tetap saja Alwi dan Lathifa masih terlihat kaku dan canggung.


“Masya Allah ... gantengnya pak Al. seperti pangeran Arab,” ucap salah satu karyawan.


“Aku pun mau dijadikan istri ke tiganya,” ceplos salah satu karyawan sambil menatap Alwi dan ke dua istrinya berpose di depan kamera.


“Mbak Anisa cantik banget. Memang keturunan Arab Masya Allah, cantik dan ganteng,” celetuk karyawan lainnya.


“Produk lokal juga tak kalah cantik. Tuh, lihat!” ucap Maya sambil menunjuk ke arah Lathifa.


 “Iya, mbak Lathif memang cantik, imut, apalagi ketika tersenyum. Masya Allah, sungguh manisnya.


“Beruntung sekali pak Alwi mendapatkan dua bidadari secantik mereka.”


Tanpa mereka sadari, ada hati yang tergores mendengar obrolan para karyawan itu.


Ya, Zidan yang duduk di dekat karyawan Hafa Resto merasakan sesak di dalam dadanya, ia sudah berusaha untuk melupakan Lathifa. Namun, sulit baginya untuk menghilangkan perasaan yang sudah terlanjur tertanam lama di hatinya.

__ADS_1


Setelah acara selesai, satu persatu dari mereka berpamitan pulang, kecuali karyawan yang menginap di restoran.


“Bu, saya pamit dulu. Ibu jaga kesehatan baik-baik, ya.” Alwi berpamitan kepada ibu mertuanya.


“Hati-hati di jalan, Nak. Pesan ibu, jagalah ke dua istri kamu! Sayangi mereka, jaga hati ke dua istrimu! Sebaik-baiknya lelaki adalah yang paling baik kepada keluarganya dan istrinya.”


“Iya, Bu.”


“Ibu , percayakan putri ibu kepadamu, Nak. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, warahmah. Semoga  kalian cepat diberikan keturunan.”


“Aamiin,” ucap Anisa dengan semangat. Sedangkan Alwi dan Lathifa hanya diam membisu.


Setelah bergantian menyalami Hana, mereka pulang ke rumah dengan mengendarai mobil Alwi, sedangkan mobil Anisa dikemudikan oleh Raiyan.


“Sayang, kamu kenapa duduk di belakang?” tanya Alwi ketika membuka pintu mobil dan mendapati Anisa duduk di kursi belakang bersama Lathifa.


“Aku ingin menemani Lathifa, Mas.”


“Aku merasa seperti seorang sopir saja,” gerutu Alwi.


“Sesekali, Mas.” Anisa tertawa pelan. “Sudah ayo jalan, Mas! keburu malam nanti.”


Alwi dengan perasaan dongkol, terpaksa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang terlihat masih ramai walaupun hari sudah larut malam.


Sesampainya di rumah, mereka segera membersihkan diri masing-masing. Sedangkan Raiyan langsung pamit pulang ke apartemennya.


Lathifa keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk yang menutup tubuhnya hingga sebatas paha. Dengan handuk di kepalanya membungkus rambutnya yang basah.


Lathifa berjalan dengan santainya menuju lemari pakaian di samping tempat tidurnya, tadi ia lupa membawa baju ganti karena terburu-buru. Lathifa tidak menyadari kehadiran seseorang di dalam ruangan tersebut yang sedari tadi menatapnya tapa berkedip.


“Akh!” Lathifa menjatuhkan pakaian di tangannya ketika melihat suaminya duduk di sofa.


“Se-se-jak kapan Anda berada di sini?” tanya Lathifa dengan gugup. Ia menyilangkan ke dua tangan di depan dadanya.


“Ck, aku tidak tertarik dengan tubuhmu, anak kecil. Aku hanya ingin memberikan ini.” Alwi menunjuk sebuah kotak kado yang ia letakkan di sebelahnya. “Besok Anisa ingin mengajakmu ke pesantren.”


Alwi berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Bagaimana pun, ia adalah laki-laki normal hanya saja egonya masih memenuhi hati dan pikirannya. Alwi hanya ingin setia kepada Anisa.


Lathifa tersadar setelah mendengar suara pintu tertutup, ia segera memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai.


“Oh ya, besok ke pesantren pakailah baju itu!” seru Alwi yang kembali memasukkan kepalanya di ambang pintu, lalu menutupnya kembali.


“Ck, dasar kulkas! Bikin kaget saja,” omel Lathifa memegangi dadanya karena terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba.


“Cowok mesum! Huwaa... Ibuk! Anakmu sudah ternoda.”

__ADS_1


Setelah mengganti pakaiannya, Lathifa meraih kotak kado dari suaminya. Ia penasaran dengan isinya dan segera membukanya.


“Aahh! Apa-apaan ini?” Lathifa mengernyitkan dahinya sambil memutar-mutar benda yang sudah berpindah di tangannya. “Katanya pemilik perusahaan besar? Kasih kado istrinya saja barang seperti ini! Enggak niat banget! Dasar kulkas!”


__ADS_2