Lihatlah Aku Sekali Saja

Lihatlah Aku Sekali Saja
Warna Favorit Suami


__ADS_3

Alwi membenarkan posisi duduknya, mencari kenyamanan dan menyiapkan hatinya untuk mendengarkan pencerahan dari guru mengajinya dan menjawab pertanyaan dari beliau.


“Secara materi saya rasa sudah bersikap adil, pun secara batin, pembagian malam kami tidur bersama. Tapi masalah hati ....”


Ustaz Hamdan menatap iba ke arah Alwi. Ia memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya pelan.


“Dalam surah An-Nisa ayat 129 dijelaskan ‘Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan) maka sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang’. Kamu masih mengingat tafsir dari surah tersebut, Al?” tanya ustaz Hamdan.


Alwi menganggukkan kepalanya pelan.


“Apakah bentuk keadilan yang tidak bisa ditegakkan oleh suami kepada istri-istrinya?” tanya ustaz Hamdan.


“Bentuk keadilan yang tidak dapat di tegakkan oleh suami mana pun terhadap istri-istrinya, yaitu keadilan dalam cinta di hati dan sikap serta perlakuan di dalam hubungan seksual.” Alwi menjawab pertanyaan tersebut dengan suara yang sangat pelan, ia merasakan sesak di dadanya, seakan ada sesuatu yang meremas kuat di dalamnya.


“Menurut Syekh Mustafa Al-Adawi, beliau menafsirkan dalam surah An-Nisa ada dua kata Adil. Yang pertama adalah adil dalam konteks materi dan lahiriah. Maka dalam hal ini seorang suami yang berpoligami memang dituntut untuk adil dan itu sesuatu yang bisa dan mungkin untuk dilakukan. Apa kamu sudah menjalankannya, Al?”


Alwi menganggukkan kepalanya.


“Sedangkan keadilan kedua adalah keadilan dalam bentuk perasaan dan termasuk perlakuan seksual yang sudah dipastikan tidak seorang suami pun yang bisa membagi perasaan dan perlakuan seksual yang sama terhadap istri-istrinya. Maka keadilan yang kedua ini bukanlah keadilan yang dituntut yang menjadi syarat boleh tidaknya berpoligami. Ada tapinya Al ....”


“Apa Bi?”


“Walaupun demikian, kecondongan tersebut tidak terlalu mencolok dan berlebihan sehingga mengabaikan istrinya yang lain. Oleh karena itu, janganlah kamu terlalu cenderung kepada yang kamu cintai sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.”


Alwi diam tidak tahu harus berbuat apa, ia merasa tertampar mendengar penjelasan dari ustaz Hamdan. Seburuk inikah dirinya?


“Seorang suami yang berpoligami tidak boleh karena sangat cintanya kepada salah satu istrinya, kemudian istri lainnya dibiarkan terkatung-katung tanpa kepastian dalam hubungan pernikahan itu.”


...*****...


Waktu menunjukkan pukul 01.30, Alwi memasuki rumahnya dan mendapati Anisa yang duduk di sofa dengan mata yang terpejam di ruang keluarga.


Alwi melangkahkan kakinya ke arah istrinya tertidur. Ia tatap lekat wajah cantik yang terlihat sedikit kurusan.


Alwi mengulurkan tangan hendak mengangkat tubuh istrinya tanpa berniat untuk membangunkannya.


“Emm, Mas sudah pulang?” tanya Anisa yang terbangun karena merasakan tubuhnya melayang.


“Sudah mas bilang, kan. Jangan menunggu mas pulang.” Alwi melangkahkan kakinya sambil memandang wajah istrinya.


“Kamu sudah makan malam, Mas?” tanya Anisa mengalihkan pembicaraan dan melingkarkan tangannya di leher suaminya.


“Ini sudah pagi, tentu saja sudah, Sayang. Kamu sudah makan malam, kan?” tanya Alwi.


“Sudah, Mas.”


“Alhamdulillah kalau begitu,” ucap Alwi dengan perasaan lega.


Kruyuk... Kruyuk...


Alwi menghentikan langkahnya tepat ketika kakinya hendak menaiki anak tangga.


Alwi dan Anisa terdiam saling bertukar pandang.

__ADS_1


“Kamu lapar?” tanya Alwi kepada istrinya.


Anisa tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya, kemudian membenamkan wajahnya yang bersemu merah karena malu ke dalam dada suaminya.


“Ya Allah, Sayang! Kamu belum makan?” tanya Alwi khawatir.


Anisa hanya menggelengkan kepalanya masih dengan menyembunyikan wajahnya.


“Ya sudah, ayo kita makan dulu.” Alwi memutar langkahnya menuju dapur.


“Nggak usah, Mas. Aku tidak terlalu lapar.”


“Mas juga lapar,”


Anisa menatap wajah suaminya. “Mas belum makan malam?”


Alwi hanya menggelengkan kepalanya.


“Turunkan aku, Mas!” pinta Anisa, namun Alwi mengabaikannya.


“Mas masih kuat, Sayang. Kenapa tadi kamu berbohong sama mas?”


“Maaf, Mas. Mas juga kenapa berbohong?”


Keduanya pun tertawa bersama.


Sesampainya di dapur, Alwi menurunkan tubuh istrinya dan membantu Anisa untuk memanaskan makanan kemarin malam yang belum sempat tersentuh.


Alwi terdiam sejenak. “Mas panggil dia dulu.”


Alwi berjalan menuju kamar Lathifa, sesampainya di depan pintu ia merasa ragu. Lalu dia mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Perlahan Alwi membuka pintu kamar istri mudanya, dan ia semakin merasa bersalah ketika mendapati tubuh mungil istrinya masih duduk di lantai dengan posisi memeluk lututnya dengan pakaian yang sama ketika ia meninggalkannya semalam.


Alwi mendekat ke arah Lathifa, dengan pandangan yang sulit diartikan, ia menatap lekat punggung istrinya yang bergerak pelan naik turun seirama dengan tarikan napasnya.


Ada rasa sesak yang Alwi rasakan di dalam dadanya, lalu dengan hati-hati diangkatnya tubuh Lathifa ke atas kasur, Lathifa sama sekali tidak merasa terganggu dan membuat Alwi tidak tega untuk membangunkannya.


“Lathif ingin ikut Bapak dan Mas Hafiz, Lathif capek ....” lirih Lathifa dalam tidurnya.


Deg.


Alwi mematung di tempat, satu buliran air mata menetes membasahi pipinya, ia teringat perkataan ustaz Hamdan.


“Perbaikilah semuanya, Allah akan memaafkan segala kekhilafan hamba-Nya. Namun, Jika kamu merasa tidak sanggup untuk berbuat adil dan membahagiakannya, maka lepaskanlah dia. Jika kamu tidak kehendaki hadirannya, kembalikanlah dia kepada orang tuanya. Jangan kamu mengikatnya terlalu kuat jika tidak ingin melukainya,” ucap ustaz Hamdan sebelum Alwi pamit pulang.


Alwi pandangi wajah istrinya yang terlihat sayu memerah dengan mata sembab karena menangis. Dengan ragu ia membuka jilbab yang masih melekat di kepala Lathifa dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Mata Alwi terhenti ketika mendapati memar kemerahan di pergelangan tangan Lathifa, tangannya terulur dan mengusapnya pelan. Ia lalu meraih kotak obat di dalam laci nakas didamping ranjang, dan duduk di tepi kasur sambil mengoleskan salep ke tangan Lathifa.


“Maaf. Aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu.”


Alwi bangkit dan mengecup kening Lathifa, mengembalikan kotak obat ke dalam laci lalu pergi meninggalkan kamar Lathifa.

__ADS_1


...*****...


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alwi sudah berangkat ke kantor, bukan karena ada pekerjaan, namun dia merasa belum siap untuk bertemu langsung dengan istri mudanya.


Sepulang dari kampus, Anisa mengajak Lathifa pergi ke butik untuk membeli pakaian karena permintaan suaminya.


Lathifa melihat-lihat pakaian yang ada di dalam butik, ia terlihat kebingungan.


“Kamu pilih saja mana yang kamu suka, Fa.”


“Tapi Mbak, saya tidak terbiasa memakai gamis,” ucap Lathifa takut.


Anisa mendekat ke arah Lathifa dan menepuk pundaknya pelan.


“Pelan-pelan, Fa. Perlahan kamu pasti akan terbiasa, semua butuh waktu dan tidak ada yang instan.”


“Boleh saya memakai rok saja, Mbak?” tanya Lathifa dengan wajah memelas.


Anisa terlihat berpikir sejenak. “Boleh, beberapa saja ya! Tapi, atasannya harus tunik panjang, jangan memakai kaos.”


“Terima kasih, Mbak.” Lathifa tersenyum, setidaknya ada Anisa yang dengan tulus selalu mendukungnya.


“Jangan membenci mas Al, Fa. Percayalah, mas Al melakukan ini demi kebaikan kamu.”


Lathifa sibuk memilih beberapa rok dan tunik panjang lalu mencobanya di depan kaca. Sedangkan Anisa sibuk memilihkan gamis yang cocok untuk Lathifa, hampir semuanya berwarna abu-abu, dongker dan hitam.


Anisa memberikan gamis berwarna stone grey kepada Lathifa dan menyuruhnya mencobanya. Sedangkan Anisa mencoba gamis yang serupa dengan warna coklat.


“Kenapa Mbak Nisa memberikan gamis ini kepada saya? Bukannya Mbak Nisa menyukai warna ini?” tanya Lathifa bingung.


“Itu untuk kamu saja, Fa. Gamis ini hanya ada dua.”


“Tapi ini kan, warna favorit Mbak Nisa?”


Anisa menggelengkan kepalanya. “Bukan, Fa.”


“Lalu, apa warna favorit, Mbak. Bukannya hampir semua pakaian Mbak Nisa berwarna abu-abu, hitam, atau dongker?”


Anisa tersenyum dan menatap lekat wajah Lathifa. “Warna kesukaan saya merah maroon, Fa.”


Lathifa menautkan alisnya semakin merasa bingung.


“Warna-warna pakaian yang saya pakai semua adalah warna favorit mas Al.”


“Tapi, saya tidak pernah melihat suami Mbak memakai pakaian dengan warna itu, lebih sering memakai pakaian hitam atau maroon.”


“Suami kamu juga, Fa. Kamu ini!”


“Hehe.” Lathifa menyengir memperlihatkan deretan giginya.


“Karena hitam dan maroon adalah warna favorit saya. Ayo kita coba gamis ini,” ucap Anisa berlalu menuju fitting room dan meninggalkan Lathifa yang mematung di tempat.


‘Bahkan, kalian memakai pakaian sesuai dengan warna favorit pasangan kalian. Siapalah aku ini?’

__ADS_1


__ADS_2