
Terlihat dua orang wanita tengah jalan dengan sempoyongan, wanita satunya terlihat tengah kesulitan memapah wanita lainnya.
“Mau kemana kita, Cha?” tanya Lathifa yang tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri sehingga membutuhkan bantuan Chaca agar bisa berjalan.
“Pulang! Kamu kira kita mau kemana lagi dengan kondisi kamu yang seperti ini?” tanya balik Chaca, ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk memapah tubuh Lathifa yang lebih tinggi darinya.
“Hehe, kenapa semuanya berputar-putar, Cha?”
“Diam! Jangan banyak gerak! Lo pikir tubuh lo gak berat apa?” Chaca mendengus kesal.
Mereka berdua terus berjalan sampai di tempat parkir, Chaca memapah Lathifa menuju mobil Honda HRV berwarna merah tak jauh dari tempat mereka berada.
Chaca membuka pintu belakang dan mendorong tubuh Lathifa masuk ke dalamnya.
“Tugas gue sudah selesai, sisanya lo urus sendiri!” ucap Chaca kepada seorang pria yang duduk di belakang kemudi.
“Siap, thanks, Cha.”
“Oh ya, gue sudah kirim pesan menggunakan ponsel dia kepada madunya kalau malam ini dia tidak akan pulang ke rumah. Jadi nikmati waktu lo bersamanya!” jelas Chaca.
“Hebat lo, kapan-kapan gue traktir, lo.”
“Santai saja, gue tunggu! Gue cabut dulu, bye.”
__ADS_1
Brak!
Chaca menutup pintu mobil dengan cukup keras, sedangkan pria di dalam mobil tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Chaca berjalan menuju mobil miliknya terparkir, ia lalu masuk kedalamannya dan duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.
“Ck! Dasar kampungan, masa cuma gue masuki sedikit obat saja sudah teler lo, Tif!” Chaca mengeluarkan bungkusan kecil dari dalam tasnya dan tersenyum mengerikan lalu mencium bungkusan tersebut.
“Selamat datang di gerbang kehancuran kamu, Lathifa! Akan gue buat lo dibenci oleh suami lo yang sok suci itu!”
“Hahahaha!”
**
Mobil HRV merah yang membawa Lathifa terlihat memasuki ruang parkir bawah tanah sebuah hotel mewah di kota itu.
“Cepat keluar!” Pria itu sedikit kesusahan karena Lathifa bergerak tidak mau diam.
“Ayo jalan!” ajak pria itu setelah menutup pintu mobilnya.
“Hah, kamu siapa? Sepertinya kamu bukan Alwi si om-om kulkas itu deh,” racau Lathifa.
“Diam! Jangan berisik!”
__ADS_1
Sesampainya di lobi hotel, pria itu meminta kunci kepada resepsionis yang berjaga. Sebelumnya ia sudah memesan kamar terlebih dahulu.
“Ini kuncinya Tuan, kamar nomor 730 atas nama Bryan Kusuma,” ucap resepsionis tersebut sembari memberikan kunci kepada Bryan.
“Hmm, makasih cantik.”
Bryan kembali memapah tubuh Lathifa yang menurutnya sangat pas di pelukannya.
“Hmm, kita mau kemana, Cha? Kenapa sejak tadi tidak sampai-sampai di rumah?” tanya Lathifa dengan suara kacau.
“Sebentar lagi kita sampai, Baby. Apa kamu sudah tidak sabar tidur bersamaku?” bisik Bryan tepat di telinga Lathifa.
“Tidur?” tanya ulang Lathifa. “Ya ... cepat, Cha! Aku mau tidur, kepalaku terasa pusing sekali seperti akan meledak.”
“Ok, sabar baby. Itu kamar kita sudah terlihat di depan sana.”
Bryan sedikit kesusahan memapah Lathifa, bisa saja ia membopong tubuh Lathifa namun Lathifa terus memberontak ketika ia membopongnya sehingga Bryan hanya bisa memapahnya agar tidak menimbulkan kecurigaan dari orang-orang yang melihatnya.
Bruk!
“Sorry!” ucap seorang pria yang tanpa sengaja menyenggol tubuh Bryan.
“Ok, tidak masalah.”
__ADS_1
Bryan melanjutkan langkahnya santai. Namun berbeda dengan pria yang menabraknya tadi, pria itu diam mematung menamati Lathifa yang familier baginya namun terlihat aneh di matanya.
“Siapa gadis itu? Tidak mungkin dia Lathifa, kan?” tanyanya pada diri sendiri.